Halo bu siti. Alhamdulillah, ibu suka dengan artikel yang saya kirimkan mengenai bersahabat dengan mertua di mailing list ini. Kalo ibu berkenan, nanti saya kirimkan lagi artikel-artikel islamiah dari mailing list KPII (keluarga pelajar islam indonesia) sydney ke email pribadi ibu. Cheers, Dhita Alumni ykpn angkatan 2002
----- Original Message ---- From: Siti Al Fajar <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Wednesday, August 27, 2008 7:59:24 PM Subject: [STIE YKPN Mailing List] Re: Bersahabat dengan mertua? Yuuukk Mbak Dhita! Artikel yang Mbak muat bagus sekali,saya sampai menitikkan airmata. Mengapa? Waktu mertua saya masih hidup kami adalah dua sahabat yag saling curhat tentang pasangannya. Ibu mertua saya ceritakan tentang Bapak mertua n saya bercerita tentang kekurangan suami saya. Beliau tidak marah dan juga tidak merasa jengkel, padahal saya mengeluh tentang putranya. Beliau malah berpesan, " baik-baik dengan suami ya, ingat anak2". Itulah kalimat yang selalu saya ingat sampai sekarang dan beliau sangat menyayangi saya seperti ibu kandung saya sendiri. Salam dari Siti Al Fajar Dosen STIE YKPN --- On Wed, 8/20/08, Ajeng Dhita Melati <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Ajeng Dhita Melati <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [STIE YKPN Mailing List] Bersahabat dengan mertua? Yuuukk To: [email protected] Date: Wednesday, August 20, 2008, 10:49 PM Halo temen-temen semua, Saya dhita.. Berikut ini ada email forward an dari temen sesama anggota kpii australia.. Mudah2 an artikel di bawah ini bermanfaat bagi yang sudah menikah, yang mau menikah dan yang belum menikah.. Amin... O iya, menginjak bulan ramadhan yang sebentar lagi akan tiba.. Dhita mau ngucapin "Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, buat rekan-rekan semua yang menunaikan nya dan Mohon Maaf Lahir Batin" Cheers, Dhita Bersahabat dengan Mertua? Yyuuuuk! 16 mar '8 Sebelum menikah, saya sering mendengar banyak orang bercerita tentang mertua mereka. Setelah menikah, makin banyak lagi cerita-cerita seperti itu saya dengar. Ya, apalagi kalau bukan soal interaksi antara menantu dan mertua! Seorang ibu yang masih kerabat jauh pernah bercerita pada saya tentang menantunya. “Dulu waktu belum dapat anak saya, dia baiiiiiik sekali. Ramah, suka senyum, suka cerita. Kalau datang selalu ada saja yang dibawa. Bukannya saya mengharap, tapi dia betul-betul perhatian. Dia juga rajin telepon, memperhatikan saudara-saudara…,” cerita si Ibu. Saya mendengarkan seksama. “Eh pas udah dapat anak saya, dia berubah! Kalau ngomong ketus, nyelekit. Terus kalau anak saya beliin saya apa-apa, dia juga ngotot minta dibelikan. Anak saya harus ngumpet-ngumpet kalau mau kasih uang sama saya. Dia juga tidak mau kalau saya tinggal bersama mereka….” Cerita Tiwik, teman saya, lain lagi. “Mertua saya itu orangnya dominan. Maunya menguasai. Jadi meski kami sudah menikah sekian lama, semuanya Ibu mertua saya yang mengatur. Kami mau tinggal dimana, ngontrak atau beli rumah juga dia yang menentukan. Saya jadi kesal. Suami seolah tak berdaya kalau di hadapan ibunya. Pokoknya ibunya bilang apa, dia nurut. Ibunya juga turut campur dalam mendidik anak kami. Apa yang saya larang, ia perbolehkan. Apa yang saya perbolehkan untuk anak-anak, ia larang. Kan kasihan anak-anak saya jadi bingung. Udah itu saya merasa ia benar-benar nggak percaya sama saya…. Pokoknya yang paling bagus dan mengerti apa saja di dunia ini ya cuma dia!” “Kalau saya lain lagi,” tutur Ira, teman saya yang juga sahabat Tiwik. “Ibu mertua saya sangat perfeksionis tapi pelitnya luar biasa. Udah gitu, dia selalu bilang saya pelit. Di depan anaknya ia ngomong gini, tuh kan nak, coba kalau kamu belum menikah, kamu bisa lebih memperhatikan dan membiayai ibu dan adik-adikmu…, sedih kan?” Mata Ira memerah. “Kalau yang saya alami lebih gila,” kata Indah dengan suara serak. “Kalau di depan anaknya, mertua sangat baik pada saya. Tapi begitu di belakang suami, waduh ampun deh. Kata-katanya nyelekit dan suka sekali menyindir. Ia suka mengadu domba saya dan suami. Ia juga sering mengobral cerita apa saja yang memalukan tentang saya. Padahal saya kan menantunya sendiri. Kok tega ya?” Saya jadi teringat masa-masa awal saya bertemu Mas Tomi. Saya tahu ia pasti sangat mencintai ibunya. Dan bagi saya, mencintai Mas Tomi berarti mencintai Ibu, adik-adik, keluarga besarnya.... “Ceritakan pada saya tentang Ibu…,” pinta saya. Sambil terenyum ia menceritakan banyak hal tentang Sang Ibu. Seorang perempuan tradisional yang lembut, sangat perasa dan betul-betul menikmati peran sebagai ibu rumah tangga. Beliau jago memasak, pintar menjahit, ahli dalam mengurus taman dan kebun di belakang rumah mereka. “Ibu punya koleksi anggrek yang cantik, juga beternak gurame kecil-kecilan di rumah,” kata Mas. Hmmm menarik, pikir saya. Perempuan hebat. “Ibu sangat njawani,” tambah Mas. Dalam hati, saya menambahkan: Itu berarti saya harus memperhatikan perbedaan kultur di antara kami. Saya yang Sumatera, Ibu yang sangat Jawa (Ibu dari Yogyakarta, Bapak Mas dari Solo, namun sudah meninggal ketika Mas kuliah tingkat III). Saya bertekad, dalam pertemuan pertama dan selanjutnya, saya akan menampilkan diri saya sebagaimana adanya, dengan tetap menghormati kultur beliau. Apalagi nih, Mas Tomi itu anak pertama, tulang punggung keluarga. Pasti banyak harapan ibu bertumpu padanya. Begitulah. Sebelum bertemu untuk pertamakalinya dengan Ibu Mas Tomi, saya sudah mulai menitipkan salam. Saya kirimkan bahan yang saya pilih sendiri untuk beliau. Kadang oleh-oleh lainnya. Ketika akhirnya bertemu, kami berdua tahu bahwa kami adalah dua pribadi yang sangat bertolak belakang. Tetapi apakah itu membuat kami tak bisa cocok? “Ibu baik, tapi bukan tipe orang yang mudah mengekspresikan perasaannya. Bahkan bila ia menyayangi seseorang,” kata Mas pada saya. Karena Ibu Mas Tomi memang cenderung pendiam, maka saya mencoba lebih aktif mendekati beliau. Pada pertemuan pertama misalnya, saya merangkulnya sambil berkata, “Ibu, nanti kalau aku nikah sama Mas, aku tidak akan menganggap ibu sebagai mertuaku….” Ibu mengerutkan keningnya. “Kenapa?” Tanya beliau tak mengerti. “Saya rangkul beliau lebih erat, “Ya, sebab aku akan menganggap Ibu sebagai ibuku sendiri! Pokoknya, Ibu bertambah anak, aku bertambah Ibu!” Kami berdua tersenyum. Setelah saya dan Mas menikah, saya berusaha memberi atensi sebisa saya pada Ibu. Mulai dari hal-hal kecil membawakannya sesuatu setiap kami mengunjunginya (bukan soal harga, tapi perhatian), hingga mengingat momen-momen penting dalam hidup Ibu. Saya pun berinisiatif membenahi semua album keluarga mereka—terutama saat bersama almarhum Bapak---agar tersusun lebih rapi dan terhindar dari jamur. Ibu sering sekali memberi masukan, terutama soal kepiawaian sebagai istri dan bagaimana mendidik anak. Tahu sendiri, saya sama sekali tak pintar masak seperti ibu. Barangkali saya juga tak setelaten beliau dalam mengurus anak dan semacamnya. Setidaknya begitulah saya dalam pandangan Ibu. Seringkali saya merasa sudah melakukan sesuatu secara maksimal, namun seolah masih saja “salah” di mata ibu.. Awalnya hal itu membuat saya sedikit “geregetan”, agak tersinggung dan sedih…, sering saya berusaha menyampaikan apa yang sudah saya lakukan yang saya rasakan baik padanya. Saya bahkan memberikan argumen terbaik yang saya miliki hingga Ibu hanya menjawab, “O…begitu….” Namun lama kelamaan, saya pikir kenapa sih saya? Apa sih gunanya “melawan” ibu, menganggap saya sudah melakukan semua dengan baik. Memang apa salahnya kalau Ibu menasehati panjang lebar, lalu saya tinggal tersenyum, berterimakasih dan bilang, “Ya, Ibu. Saya akan coba, atau saya akan melakukan saran Ibu. Terimakasih ya, Bu….” Bukankah kalau ibu menasehati berarti ibu sedang memperhatikan saya. Bukankah memperhatikan berarti bentuk dari sebuah cinta? Akhirnya itu yang saya lakukan, dan ternyata asyik! “Terimakasih, Bu. Saya senang sekali dapat pengetahuan baru.” “Alhamdulillah Ibu memberi tahu, jadi lain kali aku bisa lebih baik….” “Terus, kalau kasusnya begini, baiknya aku bagaimana ya, Bu?” “Wah Bu, saran dari Ibu aku pakai. Alhamdulillah Bu, berhasil!” Saya juga yang selalu mengingatkan Mas bila ia sibuk dan kami lama tak mengunjungi Ibu di Sukabumi. “Mas, minggu depan ke Sukabumi yuk. Kan kita dah kangen sama Ibu….” Selain itu kami sepakat, kalau mau ngasih sesuatu untuk ibu Mas, sayalah yang melakukan, dan kalau mau ngasih sesuatu ke mama saya, Mas yang akan memberikannya. .. Lambat laun saya merasa ibu makin sayang pada saya. Ibu bahkan mulai mengurangi memberi tahu saya apapun dengan gaya para mertua pada umumnya. Ibu mulai menjadikan saya sahabat tempat curhat beliau mengenai apa saja! Kami sering menangis dan tertawa bersama. Alhamdulillah. Saya bahagia sekali. Saya jadi ingat beberapa kali saya mendapat hadiah usai mengisi ceramah di berbagai tempat. Selain uang, kadang saya diberi peralatan rumah tangga, bahan, atau souvenir lain yang menarik. Biasanya kalau ada dua macam, pasti saya minta Ibu mertua saya untuk memilihnya lebih dulu, baru kemudian Mama. Mengapa? “Mama kan masih ada Papa. Papa bisa belikan Mama yang lebih bagus…. Ibu kan sudah nggak ada Bapak? Nggak apa ya, Ma?” kata saya pada Mama. Di luar dugaan, Mama memeluk saya dan mengatakan bangga sekali punya anak seperti saya. Mama bahkan bilang tak akan pernah iri pada apa yang saya lakukan terhadap Ibu. Begitulah. Saya merasa saya memang tak memiliki dan tak memerlukan seorang Ibu mertua. Ibu dari suami saya adalah Ibu, adalah sahabat saya. Dan oh, sungguh kangen, bila sebulan saja tak bertemu beliau setelah 14 tahun perkenalan kami. I love you much, Bu! ________________________________ Win a MacBook Air or iPod touch with Yahoo!7- Find out more. __._,_.___ Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic Messages | Files | Photos | Polls | Calendar Change settings via the Web (Yahoo! ID required) Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe Visit Your Group Need traffic? Drive customers With search ads on Yahoo! Y! Messenger PC-to-PC calls Call your friends worldwide - free! All-Bran Day 10 Club on Yahoo! Groups Feel better with fiber. . __,_._,___ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN Yogyakarta" Google Groups. Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke [email protected] Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/stieykpn?hl=id -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
