Semoga bisa menjadi inspirasi. SUS
Bermodalkan Cincin Mas Kawin, Abdurohim Raih Penghargaan UKM Beromzet Di Atas Rp50 Juta Cilegon - Abdurohim, warga Kampung Citangkil, Kota Cilegon, Banten yang menekuni usaha makanan ringan (snack) rumahan (home industri) dengan nama Dewi Mulya Snack, mampu menyabet dua penghargaan sekaligus. Padahal usaha ini diawali dengan modal hasil menjual cincin mas kawinnya seharga Rp 60.000. Penghargaan pertama berasal dari Kementrian Pemuda dan Olahraga karena memenangkan Lomba Inovasi Bisnis Pemuda Bidang Makanan dan Minuman akhir Januari 2005. Penghargaan kedua dari Citibank berkerja sama UNCD atas usaha kecil menengah (UKM) dengan omzet di atas Rp 50 juta per bulan pada tanggal 8 Desember 2005. "Dengan uang penjualan mas kawin sebesar Rp 60.000 pada awal tahun 2001, saya bisa mendapatkan uang Rp 700.000. Saya bilang ke istri, mungkin ini jalan hidup saya setelah mengalami kegagalan di usaha- usaha lainnya seperti pembuatan batako, genteng semen, perkayuan dan sebagainya," kata Abdurohim kepada bantenlink.com di rumahnya di Kampung Citangkil, belum lama ini. Makanan ringan yang dihasilkan Abdurohim antara lain keripik pisang, singkong, ubji (mantang), sukun, keripik bawang dan sebagainya. Makanan ini dikemas dengan plastik yang rapih dan diberi label Dewi Mulya Snack berwarna merah. Label ini sudah merajai di pertokoan yang menjajakan makanan di Cilegon, Serang, Tangerang, Pandeglang, Lampung dan sebagian dikirim ke Jakarta. Kini setiap hari, Abdurohim membeli bahan baku dan bahan penunjangnya sekitar Rp 750.000 per hari. Bahan baku itu berkisar 300 kg per hari yang terdiri dari singkong, pisang, ubi/mantang, sukun dan sebagainya. Dari modal sebesar itu, dia mengaku menghasilan uang rata-rata Rp 1,4 juta - Rp 2 juta per hari. Masih tradisional Dia megaku, pemasarannya masih menggunakan cara tradisional, yaitu diantarkan sendiri ke toko-toko yang sudah menjadi langganannya yang berada di sejumlah kota di Provinsi Banten. Sedangkan di luar Banten, para pelanggan mengambil sendiri ke tempat usahanya. "Perkembangan modal dan orang-orang di sini masih terbatas. Saya dan istri yang mengelola. Saya bertugas mencari bahan baku dan memasarkan, sedangkan istri saya mengawasi pembuatan keripik, mencatat keuangan dan sebagainya," katanya, seraya menunjukan catatan keuangan yang sangat sederhana di sebuah buku tulis yang biasa digunakan untuk anak-anak sekolah. Tempat produksi Dewi Mulya Snack ini sangat sederhana, hanya sebuah rumah di Kampung Citangkil dengan 2 kamar. Tak ada papan nama atau tanda-tanda yang menunjukan rumah itu merupakan produksi makanan ringan. Begitu masuk ke ruangan tengah, baru terlihat tumpukan bermacam-macam keripik, sebuah meja sederhana untuk administrasi. Kedua kamar itu rupanya digunakan untuk keluarga Abdurohim, istrinya bernama Siti Rofiah dan anaknya Dewi Nur Azizah. Suasana home industri itu baru terasa ketika memasuki ruang belakang yang telah diubah sedemikian rupa. Sepuluh pekerja yang dibagi dalam 4 kelompok terlihat sibuk. Kelompok pertama mengupas bahan baku dan memotong-potong hingga tipis, kelompok kedua sibuk membuat adonan untuk keripik bawang, kelompok ketiga tengah menggoreng bahan baku dan kelompok ke-4 tampak mengemas keripik dengan plastik. Hasil gorengan itu ditumpuk di ruang tengah rumah. Mengisahkan hidupnya, Abdurohim yang lahir 1 Januari 1972 di Banyuwangi mengaku telah mencoba berbagai usaha untuk menafkahi istri dan anaknya. Usaha yang sempat digeluti antara lain pembuatan genteng semen, batako, pembuatan kursi kayu dan sebagainya. "Semuanya gagal, sehingga saya nyaris putus asa dalam hidup ini. Tak ada makanan dan sudah tak punya apa-apa," katanya seraya menunjukan cetakan untuk genteng semen yang kini disimpannya sebagai kenangan dalam perjalanan hidupnya. Di tengah keputus-asaannya, lelaki yang pendidikan terakhirnya Madrasah Aliyah Negeri (MAN) atau setingkat SLTA itu mampir ke tetangganya yang punya kebun singkong di Kampung Citangkil. Hasil kebun itu tak dihargai sama sekali oleh pemiliknya karena harga penjualannya hanya Rp 300 per kg pada awal tahun 2001. Bahkan, pemilik singkong itu membolehkan singkongnya diambil dengan pembayaran di belakang hari, atau kapan saja Abdurohim punya uang. Jual Mas Kawin Namun bahan baku itu belum bisa diolah. Pasalnya, dia tak punya uang untuk membeli peralatan untuk menggoreng, minyak goreng dan bahan penunjang lainnya. Istrinya, Siti Rofiah merelakan cincin kawinnya dijual dengan harga Rp 60.000. Maka Abdurohim dan istrinya bekerja keras, memotong tipis, menggoreng dan mengemas sendiri produksi
