Wah bagus sekali mas artikelnya, karena alloh tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak merubahnya, dari sini Kita bisa tarik kesimpulan bahwa perubahan harus ada tindakan bukan menunggu emas jatuh dari langit. salam Norman -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Reddy H Sent: 29 Nopember 2006 12:29 To: [email protected] Subject: [stikom_tk] buaya... lumpur..hehhehehe..
Ati-2 buat para buaya…. :-) Rgds -Reddy- BAGAIMANA BUAYA MATI ??? BAGAIMANA BUAYA MATI ??? kalau kita pikir, seekor buaya yang begitu ganas, begitu kuat mana mungkin kalah? ngga ada matinya. ternyata kebanyakan buaya itu mati bukan karena dibunuh lawan... lho kok bisa? mati tua? bukan bahwan matinya waktu muda... kenapa begitu? nah, biasanya buaya itu suka di sungai dan lumpur.. dia suka diam saja, dan menunggu mangsa. dia pikir, kamuflase dan nyaman menunggu mangsa datang. memang kebiasaannya begitu. kebiasaannya itu yang membunuhnya, karena waktu dia menunggu mangsa di lumpur rawa-rawa, dia tidak sadar bahwa lumpur mengering perlahan-lahan. hingga dia stuck, terjepit didalam lumpur kering, dan tidak berdaya. kaku, terjepit didalam lumpur kering. bayangkan kekuatan seekor buaya kalah oleh kekuatan alam, yaitu lumpur kering. maka matilah dia. sama dengan kita yang merasa nyaman di dalam comfort zone, sibuk setiap hari, bekerja rutin, tanpa terasa, sinar matahari akan membuat lumpur kering, dan baru kita sadar.. bahwa rejeki harus dicari di dunia luas, bukan ditungguin setiap hari.. bahwa di sebelah sana air lebih banyak, bahwa di sebelah sana ada sungai, di tempat kita mati mengering terjepit lumpur kering. -- Internal Virus Database is out-of-date. Checked by AVG Free Edition. -- Internal Virus Database is out-of-date. Checked by AVG Free Edition.
