Media Indonesia 17 Maret 1999
Berkaitan Rencana Menegur Dirut Telkom, Menhub Minta Maaf kepada Komisi
IV 
EKONOMI 

JAKARTA (Media): Menteri Perhubungan (Menhub) minta maaf kepada Komisi
IV DPR RI atas kelancangan Kepala Biro Humas Departemen Perhubungan
Kalalo Nugroho yang mengeluarkan pernyataan atas nama Menhub untuk
menegur Dirut PT Telkom. Pernyataan dikeluarkan Kalalo berkaitan
keputusan sepihak PT Telkom yang menetapkan tarif telepon Rp 170 per
pulsa. 
''Saya kaget ketika pernyataan Kepala Biro Humas ini dimuat di media
massa. Saya langsung panggil Pak Kalalo dan minta penjelasannya. Menurut
Pak Kalalo, pernyataan dia tidak seperti yang dimuat di media massa.
Namun begitu, saya minta maaf atas sikap yang kurang etis ini,'' kata
Menhub Giri Suseno dalam Rapat Kerja Departemen Perhubungan dengan
Komisi IV DPR RI kemarin di Jakarta. 
Dalam pemberitaan media massa seakan-akan Menteri Perhubungan Giri
Suseno memiliki persoalan pribadi dengan Dirut Telkom AA Nasution. Namun
Giri membantah dan menyatakan antara dirinya dan Dirut PT Telkom tidak
ada persoalan pribadi. 
Keputusan PT Telkom menetapkan secara sepihak billing percakapan telepon
Rp 170 per pulsa, menurut Giri Suseno terpaksa dilakukan karena lamanya
keputusan dari Departemen Perhubungan (Dephub). 
''Jadi ini masalah waktu saja. Tapi kami sudah sepakat dengan Pak
Nasution untuk kembali pada kesepakatan revisi yang dibicarakan dengan
Komisi IV yaitu sebesar Rp 167 per pulsa,'' ujarnya. 
Giri juga memperingatkan Kepala Biro Humas Dephub agar berhati-hati
mengeluarkan pernyataan kepada pers, terutama menyangkut kebijakan
Dephub. 
Batalkan KSO 
Pada kesempatan yang sama Komisi IV mendesak Menhub menghentikan lima
kerja sama operasi (KSO) PT Telkom dengan pihak swasta. Sementara PT
Telkom diminta melaksanakan seluruh kewajibannya akibat dari pemutusan
KSO tersebut. KSO yang sudah berlangsung selama tiga tahun itu dinilai
hanya memperburuk kinerja PT Telkom dan merugikan konsumen. 
''Kesimpulan rapat kerja ini harus dijadikan prioritas pertimbangan bagi
Departemen Perhubungan cq PT Telkom untuk menentukan sikapnya tentang
diteruskan atau tidaknya lima KSO PT Telkom dengan swasta yang akan
dirumuskan pada akhir Maret 1999. Dengan demikian, 1 April 1999 akan
keluar kebijaksanaan baru pemerintah soal KSO PT Telkom,'' kata Ketua
Komisi IV Burhanuddin Napitupulu ketika membacakan kesimpulan rapat
kerja. 
Sikap Komisi IV ini menurut Burhanuddin tidak dapat ditawar-tawar
mengingat dampak negatif yang ditimbulkan oleh KSO tersebut. Menurutnya,
PT Telkom selalu mengambinghitamkan KSO sebagai alasan PT Telkom untuk
menaikkan tarif telepon. Namun akhirnya yang menanggung beban tetap
masyarakat. 
Sejak tahun 1996, ketika dimulainya KSO PT Telkom dengan swasta, Komisi
IV tidak pernah menyetujuinya. Konsistensi sikap yang sama kembali
dikeluarkan pada rapat kerja kemarin. 
''Perlu kami ingatkan bahwa sejak dimulainya KSO PT Telkom dengan
swasta, kami dari komisi ini tidak pernah menyetujuinya. Penolakan ini
kami lakukan karena banyaknya kerugian yang ditanggung PT Telkom dan
masyarakat akibat KSO ini,'' tegas Burhanuddin. 
Berdasarkan data Media, lima perusahaan swasta yang melakukan KSO dengan
PT Telkom adalah PT Primindo Ikat Nusantara untuk kawasan Sumatera,
Cable and Wireless Mitratel untuk Kalimantan, Ariawest Internasional
untuk Jawa Barat, Mitra Global Telekomunikasi untuk Jawa Tengah dan DIY
Yogyakarta, sedangkan Bukaka Singapore International untuk kawasan
Sulawesi dan Indonesia bagian timur lainnya. 
Menanggapi kesimpulan raker tersebut, Menhub berjanji akan
mempertimbangkannya. Namun ia menolak memastikan apakah harus dihentikan
atau dilanjutnya. Yang pasti, selama bulan Maret ini KSO tetap
dilaksanakan dan akhir Maret 1999 akan dihentikan guna mengkaji ulang
kebijaksanaan tersebut. 
''Bila dalam pengkajian ulang ternyata PT Telkom mampu melunasi seluruh
kewajibannya akibat pembatalan KSO ini, mungkin bisa kita hentikan KSO
tersebut. Tapi juga harus dipertimbangkan kesan investor pada
pemerintah. Jangan sampai pembatalan ini menimbulkan image yang buruk
dari swasta pada pemerintah,'' katanya. (Ril/E-3) 

Kirim email ke