Hal ini harus diwaspadai. 'megawati' seolah-olah menjadi 'nabi' baru,
sehingga pengikutnya rela mati untuk mega. Mungkin memang hal tsb yang
diinginkan para 'pendompleng' nama mega. Saya sendiri betul-betul
heran...........aneh, apa sih jimatnya 'mega'. Kenapa PDIP seolah-olah
mendukung aksi tsb. Saya menyaksikan di SCTV waktu Tarto Sudiro (PDIP) dan
Priyo Budi Santoso (Golkar) membahas hal tsb. Menurut Tarto PDIP sudah
memperingatkan aparat dan Golkar utk tdk melaksanakan acara tsb, sebab
"rakyat" Purbalingga menolak kedatangan Golkar. Jadi kalau tetap kesana
berarti salah Golkar. Seru deh .....Tapi kelihatannya pimpinan PDIP memang
lebih senang mengandalkan otot juga. Contoh : katanya waktu itu Golkar
10.000,  PDIP 500 org (menurut pikiran Tarto harusnya Golkar bisa melawan
sehingga PDIP 500 org yang lari, bukan massa Golkar yang lari).
Sorry  lho buat para pendukung PDIP
Beda partai boleh, asal jangan gontok-gontokan
Ingak-ingak, badaftar rame-rame

Wassalam
-----Original Message-----
From: Dadang Darmawan <[EMAIL PROTECTED]>
To: stttelkom <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]>
Date: Monday, April 05, 1999 1:10 PM
Subject: [divnet] Re: [Kuli Tinta] Pengakuan Wanita Banteng


>Ini salah satu diskusi dari milist kuli tinta
>Any comment ?
>
>Sian Djie Wong wrote:
>
>> Ini lah pengakuan salah satu pelaku yang terlibat dalam acara di
>> Jateng itu. Ybs marah krn kalimat Amien Rais. AR mengatakan yang
>> ribut itu paling kriminal yang pakai atribut pdip.
>> Tentu saja maksudnya AR tak berani nuduh langsung kalau yang bikin
>> onar itu adalah anggota PDIP. Tapi salah satu wanita banteng ini
>> marah-marah pada AR, yang menunjukkan bahwa sebenarnya anggota
>> PDIP memang terlibat.
>>
>> Meski Ketua-ketua yang di Jakarta tak memerintahkan mengganggu,
>> toh pelaku itu anggota PDIP. Ach, jadi mikir lagi nih mau pilih
>> PDIP. Kayaknya enggak jadi deh.
>>
>> _Wong.
>>
>> -----fwd---------------------------
>>
>> Re: Re; Masa PDI Perjuangan mengamuk.
>> From: Ayu Setiarini
>> Date: 04 Apr 1999
>> Time: 11:40:21
>> Remote Name: 195.96.98.222
>>
>> Comments
>>
>> Mas Prayitno hendaknya tidak serta merta mempercayai tudingan Pak Amien
>> bahwa kami ini kriminal. Kami sakit hati dituding begitu.
>> Tidak rela...!!! Enak saja menuding orang kriminal.
>> Saya ada di tengah massa, ikut memperingatkan wanita Golkar supaya
>> kembali dan tidak meneruskan perjalanannya. Kok semena-mena menuding
>> orang sebagai kriminal. Tahu apa Amien Rais di kejauhan sana daripada
>> kami? Kalau berani silakan Amien Rais datang ke Banjarnegara untuk
>> klarifikasi.
>>
>> Peristiwa bentrok itu sudah risiko perjuangan. Kalau tidak bisa
>> menghayati apa makna perjuangan beserta segala risikonya ya maaf
>> saja kalau anda semua salah persepsi terhadap kami.
>>
>> Setiap perjuangan mengandung risiko. Petani mengayunkan sabit dan
>> cangkul berisiko terluka kena sabit atau keterjang cangkul.
>> Para buruh memakai palu juga berisiko terluka kena hantam palu.
>> Tetapi setelah itu kan mereka memetik hasilnya, berupa panen yang
>> menggembirakan hati atau upah yang diterima. Tetapi untuk mencapai hasil
>> panen atau upah itu seseorang harus berjuang dulu. Harus siap terluka,
>> sakit, bahkan mati. Mana ada hasil turun begitu saja dari
>> langit kalau tidak diperjuangkan terlebih dahulu?
>>
>> Bentrok dengan massa Golkar itu sudah risiko politik, sebagaimana petani
>> atau buruh menanggung risiko masing-masing. Kami sudah
>> bertekad bulat untuk memenangkan PDIP di Banjarnegara. Karena itu Golkar
>> yang kami pandang sebagai salah satu hambatan, ya harus
>> disingkirkan.
>>
>> Soal wanita Golkar yang dilepas kaosnya hingga tinggal BH, saya harap
>> tidak usah dibesar-besarkan. Gitu aja kok dibesar- besarkan. Di desa
>> kami ibu-ibu juga terbiasa hanya berkain dan berBH saja ramai-ramai
>> mencuci pakaian di sungai. Lagipula saya ulangi sekali lagi: kalau sudah
>> niat terjun ke politik, ya jangan cengeng. Perjuangan itu keras.
>> Makanya kami bangga dengan ketegaran Mbak Mega. Beliau betul-betul
>> typikal wanita idaman: tidak cengeng, menyadari apa risiko perjuangan,
>> tabah menghadapi segala rintangan.
>>
>> Ini baru dilepas kaosnya saja sudah menangis...Memang dasar wanita
>> Golkar itu manja. Bukti bahwa mereka tidak ditempa oleh perjuangan.
>> Selama ini mereka enak-enak saja menikmati fasilitas tanpa harus
>> berjuang. Makanya baru digituin saja sudah menangis. Sebagai wanita SAYA
>> JUSTRU MALU dengan kualitas wanita yang lembek begini. Karena itu saya
>> katakan, lebih baik di rumah saja, menyusui anak. Bukan bermaksud
>> negatif, tetapi kalau memang tidak siap menghadapi risiko perjuangan ya
>> lebih baik di rumah saja toch?
>>
>> Itulah bedanya kami dengan wanita Golkar. Ini sekaligus sebagai
>> tanggapan untuk posting Mbak Diah. Perjuangan itu keras, Mbak... Sadari
>> itu.
>> Terimakasih,
>> Salam,
>> Ayu Setiarini,
>>
>>
>------------------------------------------------------------------------
>eGroups eLerts!
>Exclusive discounts from the hottest online bookstores
>Join Now! http://clickhere.egroups.com/click/20
>
>
>eGroup home: http://www.eGroups.com/list/divnet
>Free Web-based e-mail groups by eGroups.com
>
>

Kirim email ke