Huuaaa..... huuaaa ....... huuuaaaa ......

*********** REPLY SEPARATOR ***********

On 7-5-96, at 16.56, 0ci wrote: 

>Mbah Jo dirawat di rumah sakit. Menurut dokternya, asmanya sudah kronis
>hingga perlu di pasangi selang oksigen. Sudah beberapa hari dia tidak
>bicara dan seperti orang koma.
>
>Dikira sudah menjelang ajal, anaknya memangilkan seorang mudhin (tukang
>do'a) agar di doakan.
>Selagi pak mudhin asyik berdoa, tiba-tiba mbah Jo menggap-menggap tidak
>bisa bernapas, mukanya pucat, tangannya bergetar. Dengan bahasa isyarat
>mbah Jo minta diambilkan kertas dan alat tulis.
>Dengan sisa-sisa tenaganya mbah Jo menulis surat dan diberikan ke
>mudhin.
>Sambil terus berdoa pak mudhin langsung menyimpan surat tersebut tanpa
>membacanya karena pikirnya tidak tega membaca surat wasiat tersebut di
>depan mbah Jo.
>
>Tak lama kemudian mbah Jo meninggal dunia.
>Pada selamatan hari ketujuh meninggalnya mbah Jo, pak mudhin diundang
>untuk datang.
>Selesai memimpin do'a, pak mudhin berbicara :
>
>"Saudara-saudara sekalian, ini ada surat wasiat dari almarhum mbah Jo
>yang belum sempat saya sampaikan, yang sinya pasti nasehat untuk anak
>cucunya
>semua. Mari kita sama-sama membaca suratnya".
>
>Pak mudhin membaca surat tersebut, yang ternyata berbunyi :
>.
>.
>.
>.
>.
>.
>.
>.
>.
>" DHIN JANGAN BERDIRI DI SITU...! JANGAN INJAK SELANG OKSIGEN KU..! "

Kirim email ke