Rekan-rekan di milis,
Di bawah ini ada sebuah percakapan menarik mengenai Psikotes, yang dimulai
dari respon seseorang bernama samaran Ganggang Merah. Mungkin lewat
percakapan ini anda sekalian yang membaca dan juga Ganggang Merah sendiri dapat
memetik sesuatu.
GM:
Nama saya Ganggang Merah. Tentu, itu bukan nama asli saya. Tapi untuk
sementara ini marilah mengenal saya hanya sebagai si Ganggang Merah.
A:
Silahkan saja. Anda mau menggunakan nama samaran Ganggang Merah, Ganggang
Kuning, Ganggang Hijau atau Ganggang Loreng terserah anda.
BTW, buat rekan-rekan milis yang lain, terutama di milis Psikologi
Transformatif, dengan munculnya respon dari Ganggang Merah terhadap tulisan
saya ini, bertambahlah deretan model orang dengan nama samaran yang merespon
tulisan saya. Setelah sebelumnya Try Dis atau Dede (si penikmat psikologi)
sekarang muncul Ganggang Merah. Menariknya dua-duanya membantah kritikan saya
terhadap psikologi.
GM
Saya baru saja bergabung dengan milis ini. Sebuah milis yang (saya kira pada
awalnya) akan meningkatkan pemahaman saya tentang apa yang tidak saya ketahui.
Namun, dari beberapa artikel pertama yang dikirim sebagai welcome files untuk
anggota baru, sudah begitu banyak yang saya ingin pertanyakan.
Mengapa saya ingin mempertanyakan?
Karena, menurut saya yang bodoh ini, artikel itu berisi banyak jargon-jargon
hebat, tapi tidak mengikuti logika yang paling sederhana sekali pun (maaf untuk
penulisnya).
A:
Anda tak perlu memproklamasikan kalau diri anda bodoh, sebenarnya kebodohan
anda sudah terlihat dari cara anda mempertanyakan. Bahkan saya rasa ada skala
yang jauh lebih tepat menggambarkan kondisi anda, yaitu:GOBLOK.
Mengapa goblok lebih pantas untuk anda? Bisa Kita lihat berdasarkan data.
GM:
Pada artikel ini, misalnya. Sang penulis bicara dengan hebatnya mengenai
Foucault, Bourdieu, Derrida, dengan mengutip pendapat-pendapat mereka. Namun
sayang sekali, latar belakang permasalahan yang diajukannya untuk menguak
kebenaran ini lemah. Sang penulis lebih senang mengumbar semua kalimat hebat
dari bacaan hebatnya, namun lupa mendalami masalah yang sesungguhnya: validitas
(atau istilah beliau: kebenaran) psikotes yang ingin diangkat sebagai masalah.
A:
Inilah data pertama dari GOBLOK-nya anda. Anda seenak udel dengan
mempertukarkan validitas dengan kebenaran. Besar kemungkinan amda ini [seperti
yang sudah-sudah yang berdebat soal psikologi] sebenarnya tidak tahu apa yang
anda bicarakan.
Dari sini saja, saya sudah mempertanyakan apakah ketika anda ngomong tentang
logika dalam kalimat anda: tidak mengikuti logika yang paling sederhana
sekali pun anda ini benar-benar tahu yang namanya logika? Besar kemungkinan
berdasar data yang ada dalam tulisan anda ini (yang bisa diakses semua yang
baca posting ini), bahwa ANDA SAMA SEKALI TIDAK TAHU APA ITU LOGIKA.
Data kedua yang menunjukkan betapa GOBLOK anda, bisa dilihat pada kalimat
anda: Sang penulis bicara dengan hebatnya mengenai Foucault, Bourdieu,
Derrida,....
lalu kalimat anda: Sang penulis lebih senang mengumbar semua kalimat hebat
dari bacaan hebatnya, namun lupa mendalami masalah yang sesungguhnya: validitas
(atau istilah beliau: kebenaran) psikotes yang ingin diangkat sebagai masalah
Mungkin rekan-rekan yang membaca posting ini bisa memperhatikan bahwa
sebenarnya SI GANGGANG GOBLOK ini TIDAK TAHU SAMA SEKALI MENGENAI FOUCAULT,
BOURDIEU, DERRIDA. Dalam sebuah sanggahan, mereka yang tahu tidak akan ngomong:
Sang penulis lebih senang mengumbar semua kalimat hebat. Tapi menyanggah
teori-teori itu, entah dari sudut pandang dia sendiri dalam membaca para tokoh
itu atau dengan antitesis teori dari para tokoh tersebut. CARA MENJAWAB SEPERTI
DILAKUKAN GANGGANG INI BUKAN BENTUK DISKUSI YANG MENCERMINKAN DIA MENGUASAI APA
YANG MAU DISANGGAHNYA. Justru di sini yang terlihat mengumbar jargon itu ya
Ganggang ini sendiri, dengan melebih-lebihkan melalui term-term seperti:
bicara dengan hebatnya serta kalimat hebat
GM:
Coba kutip paragraf-paragraf awal yang lazimnya menjadi latar belakang
masalah:
Sekitar tahun 1985, ketika kelas 1 SMP, saya mengikuti psikotes yang
diwajibkan bagi semua siswa kelas 1. Dalam psikotes itu, ada beberapa
pertanyaan yang saya ingat, antara lain: "Di manakah Brazilia?", "Di Manakah
Buenos Aires?", "Apakah Vatikan itu?". Ketika saya kelas 1 SMA, sekitar tahun
1988, saya menemui lagi pertanyaan-pertanyaan itu ketika mengikuti psikotes
yang wajib diikuti oleh semua anak kelas 1. Selang beberapa tahun kemudian,
ketika saya masuk Fakultas Psikologi, saya menemukan pertanyaan-pertanyaan itu
pada salah satu tes ketika mengikuti sebuah mata kuliah yang mengajarkan
berbagai tes. Saat ini, di tahun 2005, saya masih menemukan
pertanyaan-pertanyaan itu pada sejumlah tes psikologi yan dilakukan di sejumlah
sekolah maupun institusi lain. Bagi saya, itu sebuah ironi yang menyedihkan,
orang-orang yang menggunakan tes itu seolah menganggap bahwa sang waktu telah
membeku. Lebih menyedihkan lagi orang orang yang mengerjakan tes itu,
kemanusiawian mereka
terpasung oleh pertanyaan yang dianggap mampu mengukur kemampuan mereka,
padahal itu adalah pertanyaan yang sama dalam kurun waktu 20 tahun .
Fakta ini membawa kita pada sejumlah pertanyaan. Seberapa
pertanyaan-pertanyaan itu masih memiliki valliditas untuk mengukur kemampuan
seseorang? Bagaimana orang-orang yang menggeluti psikologi itu bisa menafikkan
perkembangan dunia?. Siaran langsung pemakaman Paus, Maradona, bintang-bintang
sepakbola dari Brazilia dan Argentina; bahkan telenovela adalah hal-hal yang
jelas-jelas akan merubah validitas pertanyaan-pertanyaan itu. Lalu, bagaimana
pertanggungjawaban hasil dari tes itu?. Padahal kita tahu bahwa psikotes tak
jarang menentukan "nasib" seseorang. Dalam dunia kerja, seseorang bisa tidak
diterima, dimutasi atau bahkan dikeluarkan akibat hasil psikotes. Seorang siswa
bisa dikategorikan bodoh, terbelakang, dan berbagai label lain, karena hasil
psikotes.
Validitas hasil psikotes bisa makin runyam jika kita memperhitungkan telah
begitu banyak diterbitkan buku yang memberi petunjuk cara menjawab psikotes.
Sementara kita juga mulai bisa mempertanyakan validitas alat berbasis kemampuan
menghitung yang terdapat pada tes Pauli, Kraeplin [dan yang secara parsial juga
ada di beberapa tes IQ]; ketika di masyarakat bermunculan kursus-kursus seperti
Sempoa dan Mental Aritmetika. Psikotes sendiri, sebelum sampai pada semua
permasalahan ini, masih menyimpan problem internal berkaitan dengan adaptasinya
pada budaya Indonesia. Sebagian alat-alat yang digunakan sebagai psikotes,
masih menyimpan bias budaya. Alat-alat yang menggunakan gambar seperti TAT
misalnya, sebagian menggunakan latar situasi (bangunan, pakaian, pemandangan)
yang asing untuk Indonesia .
Betul! Dunia sudah berubah sejak 20 tahun yang lalu. Sejak tes itu ditemukan,
Maradona sudah terkena kasus narkoba, anak emas Brazil sekarang bernama Messi,
Paus asal Polandia sudah mangkat dan digantikan oleh Paus asal Jerman. Betul!
Sudah banyak informasi baru yang muncul.
A:
Ini lagi sebuah data yang membuat kelihatan GOBLOK-nya si Ganggang ini. Sejak
kapan Messi menjadi anak emas Brazil????
Lionel Messi adalah pemain Argentina yang saat ini bermain di Barcelona.
Ini adalah data lagi yang menunjukkan kalau orang yang bernama samaran
Ganggang ini memang tidak tahu apa yang tengah dibicarakannya sendiri. Dan
tentu saja itu makin mengonfirmasi data bahwa dia memang GOBLOK. Jadi bukan
sekedar bodoh. Berikut ini ada yang lebih GOBLOK lagi
GM:
Tapi sang penulis lupa: dalam kurun 20 tahun ini Brazilia masih di Brazil,
Buenos Aires masih di Argentina, Vatikan masih menjadi pusat agama Katholik di
jantung kota Roma.
A:
Kalimat di atas menunjukkan lagi bahwa dia SAMA SEKALI TIDAK TAHU APA YANG
TENGAH DIBICARAKANNYA.
Pada bagian mana dari tulisan saya yang mengatakan Brazilia sudah pindah dari
Brazil, Buenos Aires sudah pindah dari Argentina, atau Vatikan sudah bukan
menjadi pusat agama Katolik di jantung kota Roma?.
Lalu, dengan sok tahu dia mengatakan tapi sang penulis lupa:... lha ini
sudah goblok malah sok tahu...apa gak tambah berlipat GOBLOK-nya?
Berikut ini ada respon yang lebih menarik yang memperlihatkan kalau si
Ganggang ini memang betul-betul parah GOBLOK-nya
GM
Dengan demikian, apakah itu mengubah validitas tes psikologi? Saya rasa
tidak. Ada beberapa alasannya:
Manusianya berubah, tapi satuan pengukurannya tetap. Mungkin, di masa lalu,
orang tidak butuh kecerdasan yang tinggi untuk mengetahui Brazilia ada di
Brazil. Sekarang, dengan informasi yang makin banyak, mungkin hanya orang2
dengan kecerdasan tinggi, dengan kemampuan menyimpan informasi yang banyak,
yang masih bisa menyimpan informasi Brazilia ada di Brazil dalam LTM-nya, dan
mampu me-retrieve-nya saat ditanya. Dengan demikian, menurut saya tidak ada
yang salah dengan satuan pengukurannya. Yang harus diubah adalah normanya.. ;-)
A:
Ha..ha..ha..Di sini ada sejumlah ke-GOBLOK-an menarik. Sekalian para pembaca
yang mungkin belum tahu seluk beluk apa itu tes psikologi bisa belajar dari
respon si GOBLOK ini. (karena bisa jadi cara berpikir seperti ini yang membuat
tes-tes itu masih bertahan dan diajarkan terus hingga kini, dan anda-anda yang
tak tahu inilah korbannya)
PERTAMA: coba perhatikan dua kalimat penting dari ucapan Si Ganggang ini.
Pertama dia menulis: Apakah itu mengubah validitas tes psikologi? Saya rasa
tidak lalu Kedua adalah kalimat dia berikut: Yang harus diubah normanya
Sekedar saya share saja ya, buat teman-teman lain yang baca juga perlu tahu.
Bahwa saya belajar yang namanya TES INTELEGENSI ketika kuliah di Fakultas
Psikologi dulu, adalah tahun 1996. Dan terakhir saya tahu anak-anak psikologi,
hingga semester terakhir yang baru berakhir kemarin, BELUM PERNAH ADA PERUBAHAN
NORMA SAMA SEKALI. Dan ini berarti sudah 10 tahun. Jujur saja, saya sendiri
ngeri membayangkan kalau tes itu memang belum pernah diadaptasi ulang normanya
sejak pertama kali diadaptasi (dari Barat tentunya) pada sekitar tahun 1975.
Tapi jangan juga kaget, menurut kabar memang benar demikian adanya.
Lalu apa yang anda maksud yang harus diubah adalah normanya??? ANDA INI
TAHU APA ENGGAK YANG TENGAH ANDA BICARAKAN??
Silahkan pembaca menilai sendiri dan saya tunggu juga argumen dari Ganggang.
KEDUA: Saya akan hadirkan sebuah pertanyaan buat ganggang mengenai: Apa itu
norma?
Saya akan singkap bahwa si Ganggang ini sebenarnya tidak tahu apa itu yang
dinamakan norma.
Norma sebenarnya erat dengan kata Normal. Artinya; ada semacam kriteria atau
patokan untuk melihat seberapa seseorang normal dalam suatu kelompok tertentu.
Kita bisa secara sederhana memahami norma dari kurve normal. Coba anda
bayangkan bentuk kurve normal. Nah, bentuk itu hanya bisa terjadi ketika yang
AVERAGE atau rata-rata mengumpul di tengah. Yang berada di sebelah kanan adalah
di atas rata-rata, yang sebelah kiri adalah yang di bawah rata-rata.
Nah, sekarang Kita kontekstualisasikan dengan apa yang dikatakan Ganggang:
dalam kurun 20 tahun ini Brazilia masih di Brazil, Buenos Aires masih di
Argentina, Vatikan masih menjadi pusat agama Katholik di jantung kota Roma.
Serta kalimat GOBLOK berikut:
apakah itu mengubah validitas tes psikologi? Saya rasa tidak. Ada beberapa
alasannya:
Manusianya berubah, tapi satuan pengukurannya tetap. Mungkin, di masa lalu,
orang tidak butuh kecerdasan yang tinggi untuk mengetahui Brazilia ada di
Brazil. Sekarang, dengan informasi yang makin banyak, mungkin hanya orang2
dengan kecerdasan tinggi, dengan kemampuan menyimpan informasi yang banyak,
yang masih bisa menyimpan informasi Brazilia ada di Brazil dalam LTM-nya, dan
mampu me-retrieve-nya saat ditanya. Dengan demikian, menurut saya tidak ada
yang salah dengan satuan pengukurannya
Coba Kita bayangkan satu contoh kecil ini saja. Pada tahun 1978 ketika
berlangsung Piala Dunia di Argentina dan kemudian dijuarai Argentina. Teknologi
pertelevisian belum maju. Bahkan di Argentina sendiri stasiun televisi masih
hitam putih dan tak semua disiarkan langsung. Saat Argentina juara itulah
Argentina mulai terkenal dan semakin terkenal setelah ada Diego Maradona dan
sejumlah pemain lainnya seperti Gabrial Batistuta, Diego Simeone, Hernan Crespo
hingga Lionel Messi. Dalam konteks ini, Buenos Aires juga makin sering
disebut-sebut sehingga orang makin familiar. Apalagi setelah teknologi
pertelevisian semakin berkembang. Televisi Kita pun bebrapa kali menayangkan
langsung pertandingan dari Buenos Aires. Jadi Buenos Aires sudah ibarat hafalan
kali-kalian karena begitu seringnya stimulus itu diterima.
Sekarang coba perhatikan kalimat Ganggang: Mungkin, di masa lalu, orang tidak
butuh kecerdasan yang tinggi untuk mengetahui Brazilia ada di Brazil. Sekarang,
dengan informasi yang makin banyak, mungkin hanya orang2 dengan kecerdasan
tinggi, dengan kemampuan menyimpan informasi yang banyak, yang masih bisa
menyimpan informasi Brazilia ada di Brazil dalam LTM-nya, dan mampu
me-retrieve-nya saat ditanya.
Ganggang, dari mana anda bisa berasumsi bahwa di masa lalu orang tidak butuh
kecerdasan tinggi untuk mengetahui Brazilia ada di Brazil? Ini logika yang
muncul dari dasar laut.
Saya tidak tahu dia belajar psikologi di mana kok bisa begitu GOBLOK-nya.
Jangan-jangan dulunya dia juga diajar para DOGOL GOBLOK yang tidak tahu apa itu
kognisi dan memori (Long Term Memory).
Lalu kembali ke masalah norma. Ketika banyak orang sudah bisa menjawab di
mana letak Buenos Aires, apakah kira-kira akan tercipta kurve normal lagi?
Tentu saja tidak. Kurve yang akan muncul adalah juling kanan, alias jumlah yang
menggunung bukan lagi terletak di tengah, tapi di sebelah kanan.
Dari sini saja sudah bisa dilihat apakah tes itu valid atau tidak.
Sebagian yang baca mungkin masih bingung. Akan saya beri contoh sederhana.
Jika anda saat ini membaca posting saya ini, saya asumsikan anda tengah
berada di depan sebuah monitor komputer. Mari Kita umpamakan monitor ini
sebagai alat ukur, bayangkan dengan menunjuk pada monitor lantas anda
menanyakan pada banyak orang: Apakah ini?
Lalu bayangkan jika hampir semua menjawab: Monitor. Apakah benda di depan
anda ini bisa menjadi sebuah alat ukur yang baik? Yang bisa membedakan mana
orang yang lebih cerdas dan yang tidak berdasarkan jawabannya? Tentu saja tidak.
Sebaliknya. Benda di depan anda (monitor) ini bisa menjadi alat ukur yang
baik jika terjadi keragaman jawaban, misalnya ada yang jawab: Itu Televisi!,
Itu Aquarium!. Itu Uleg-uleg!,Itu Monitor!, Itu buat mbandem kepalanya
psikolog Goblok macam Ganggang! dst. Barulah di situ bisa dibuat norma untuk
menentukan mana yang normal, di atas normal, atau di bawah normal.
Sama halnya dengan Buenos Aires. Jika sudah begitu banyak orang bisa menjawab
bahwa letak Buenos Aires ada di Argentina, maka pertanyaan itu sudah tidak bisa
membedakan lagi mana yang cerdas mana yang tidak.
KETIGA: Ada satu contoh pertanyaan menarik dari tes intelegensi jenis IST
yang sampai sekarang masih digunakan. (dan saya tunggu bantahan dari Ganggang)
Ini pertanyaannya:
Mata uang Rp. 50,- garis tengahnya ialah:...........mm
a. 17 b. 29 c.25 d.24 e.15
Saya minta pendapat pembaca dan Ganggang, apakah menurut anda pertanyaan itu
masih valid??. Jelas TIDAK!
Pertama: Sekarang ada dua jenis logam Rp. 50,-. Pertanyaan itu merujuk yang
mana?
Kedua: dalam kurun waktu 30 tahun sejak pertama kali tes itu diadaptasi,
terjadi pergeseran nilai uang. Pada tahun 1980-an, uang Rp. 50,- masih ada
harganya. Mereka yang SD-nya berada di sekitar tahun itu pasti tahu bahwa uang
segitu masih bisa untuk membeli makanan. Sekarang? Mau dibuat beli apa?
Berarti, seberapa uang Rp. 50,- itu akrab dengan kehidupan juga sudah
bergeser, dan tentunya berbeda antara jaman di mana uang Rp. 50,- masih akrab
dengan ketika uang Rp. 50,- sudah hampir tidak pernah dipegang orang lagi. Dan
perbedaan ini, tentunya akan berpengaruh terhadap jawaban.
lalu orang-orang GOBLOK macam Ganggang ini menganggap hal itu tidak ada
pengaruhnya.
Betapa kasihannya orang-orang GOBLOK ini, mereka sudah tertinggal kemajuan
peradaban berpuluh tahun di belakang.
GM
Manusia berubah, tapi satuan pengukurannya tetap. Mungkin, hanya anak SMP
yang berwawasan luas yang tahu Buenos Aires ada di Argentina. Tapi, kalau anak
SMP itu sudah di SMA, atau sudah kuliah, dan masih tidak bisa menyebutkan
Buenos Aires ada di mana, maka beberapa arah interpretasi kita: individu ini
tidak banyak mengembangkan diri, individu ini tidak perduli, dan beberapa
interpretasi lainnya. Oleh karena itu, sekali lagi, menurut saya tidak ada yg
salah dengan pengukurannya.Yang salah adalah kalau kita melihat hasil
pengukuran per se. Tapi, hey, bukankah semua psikolog tahu bahwa raw score
(=nilai yang didapat dari tes prestatif itu) tidak berarti apa-apa tanpa diubah
menjadi standard score (=nilai yang sudah distandardkan sesuai norma). Dan
bukankah setiap psikolog tahu bahwa norma memang harus selalu disesuaikan? .
A:
Kita mungkin bisa mengindikasikan kalau Ganggang ini orang psikologi. Kalau
kita melihat kalimat: maka beberapa arah interpretasi kita. Karena hanya yang
lulusan psikologi lho yang boleh menginterpretasi. Orang macam Juswan, Leo,
apalagi Vincent yang sableng itu...wah mana boleh. Yang sudah lulus macem Bimo
aja, kalo belum ambil profesi (yang sekarang digabung dengan Magister) serta
urus sertifikat di HIMPSI, juga gak boleh lho...haram hukumnya.
Cuma yang bikin saya sedih...lha wong GOBLOK begini kok berani-berani
menginterpretasi?? Wah...betapa malangnya anda-anda yang pernah psikotes dan
diinterpretasi orang macam Ganggang ini. Entah belajar psikologi di mana dulu?
Kok bisa lulus? Jangan-jangan memang dia dari semacam perguruan tinggi yang
isinya membiakkan orang-oang GOBLOK.
Lalu coba Kita lihat apa yang diucapkannya: Tapi, hey, bukankah semua
psikolog tahu bahwa raw score (=nilai yang didapat dari tes prestatif itu)
tidak berarti apa-apa tanpa diubah menjadi standard score (=nilai yang sudah
distandardkan sesuai norma). Dan bukankah setiap psikolog tahu bahwa norma
memang harus selalu disesuaikan? .
Teman-teman yang bukan psikologi yang bingung dengan istilah-istilah raw
score dan standard score akan saya jelaskan sepintas lalu.
Raw Score adalah semacam skoring terhadap jawaban-jawaban. Semacam berapa
jumlah benar, berapa jumlah salah.
Raw Score ini kemudian dikonversikan ke Standard Score, yaitu norma. Jadi
kalo umur anda sekian benernya sekian anda akan memperoleh Standard Score
sekian.
Tetapi masalahnya seperti saya tuliskan di atas. Kalau standart score-nya
sendiri tidak diadaptasi dengan perkembangan jaman, ya jadinya seperti apa yang
saya contohkan dengan monitor.
Inilah sebenarnya LOGIKA PALING SEDERHANA yang orang bukan psikologi saja
semestinya ngerti. Lha sekarang bayangkan bahwa anda-anda ini yang ngerti
tetapi bukan psikolog, terus ikutan psikotes lantas diinterpretasi orang GOBLOK
macam Ganggang, apa ndak kacau to dunia psikotes ini?
Lalu lihat kalimat GOBLOK-nya (dan bayangkan bahwa itu ada di benak seorang
yang menamakan dirinya psikolog): Mungkin, hanya anak SMP yang berwawasan luas
yang tahu Buenos Aires ada di Argentina.
Mari Kita floor saja ke member milis: Seandainya saat ini Kita cari anak-anak
SMP yang yang menggemari tim Argentina (mumpung baru selesai Piala Dunia) dan
tanyakan di mana Buenos Aires. Kira-kira berapa persen yang bisa menjawab?
GM:
Memang betul, sebagian alat masih menyimpan bias budaya dan sebagian lagi
sudah terkontaminasi dengan kebocoran alat tes. Oleh karena itulah seorang
psikolog harus berupa manusia, interpretasi seperti itu tidak bisa dilakukan
dengan mesin. Karena hanya dengan kemanusiaannyalah sang psikolog bisa memilah
mana respons yang valid untuk dianalisa selanjutnya, atau harus divalidasi
ulang karena ada kemungkinan bias budaya, atau bahkan bias dari beredarnya
segala macam panduan cara menjawab psikotes .
A
Nah, disini andalah justru yang mengumbar jargon. Gaya bicara anda itu
seperti pidato Pak RT waktu tujuhbelasan.
Coba jelaskan saja detil praktis dari argumen anda pada poin-poin:
- bias budaya
- terkontaminasi dengan kebocoran alat tes
- hanya dengan kemanusiaannyalah sang psikolog bisa memilah mana
respons yang valid untuk dianalisa selanjutnya
- atau harus divalidasi ulang karena ada kemungkinan bias budaya, atau
bahkan bias dari beredarnya segala macam panduan cara menjawab psikotes
GM
Dari latar belakang ini, saya merasa ironi yang paling besar justru datang
dari sang penulis. Judul artikelnya adalah "Psikotes: Kebenaran, Kekuasaan, dan
Hilangnya Kemanusiawian". Padahal hingga saat ini kemanusiaan itu belum hilang
dari psikologi.
A:
Ha..ha..ha....Dari cara anda (yang psikolog ini) mempertanyakan, membangun
penjelasan, menganggap psikotes di atas masih valid, anda sudah menghilangkan
kemanusiaan. Dengan hadirnya respon anda ini yang seorang psikolog, tulisan
saya itu justru memeroleh afirmasi datanya.
GM:
Yang menghilangkan unsur kemanusiawian di sini justru sang penulis sendiri:
dengan bicara alat tes tanpa menyinggung norma, bicara tentang bias
budaya/kebocoran tanpa menyinggung interpretasi dan triangulasi data. Menurut
saya, sang penulis sudah menganggap psikotes sebagai mesin yang mengeluarkan
hasil apa pun setiap sebuah tombol dipencet. Hasil yang sama persis. Penulis
lupa bahwa hasil tes bahkan tidak pernah tersaji. Yang disajikan hanyalah
psikogram dan konseling, yang sudah melalui tahap verifikasi data oleh seorang
manusia (baca: psikolog).
A:
Justru andalah yang banyak bicara sesuatu yang anda sendiri tidak anda
ketahui. Mulai dari Logika, norma, dan sekarang anda tambah lagi: Triangulasi
data. Dan oleh karenanya anda makin terlihat GOBLOK.
Triangulasi Data? Saya ragu bahwa anda sebenarnya tidak tahu sama sekali
tentang Triangulasi Data tapi berani-berani ngomong dengan membawa-bawa
Triangulasi Data.
Buat rekan-rekan pembaca, ini ada sedikit tentang Triangulasi Data dari
sebuah buku yang sedang saya susun:
Dalam studi kasus dikenal strategi triangulasi . Triangulasi bisa dilakukan
melalui data, investigator, teori, dan bahkan metodologi. Stake (1995)
menjelaskan bahwa protokol yang digunakan untuk memastikan akurasi dan
penjelasan alternatif disebut triangulasi. Kebutuhan akan triangulasi muncul
dari kebutuhan etik untuk mengkonfirmasi validitas proses. Dalam studi kasus,
ini bisa dilakukan menggunakan multiplisitas sumber data. Denzin (1994)
mengidentifikasi empat tipe triangulasi: Data Source Triangulation ,
Investigators Triangulation , Theory Triangulation , dan Methodological
Triangulation.
Data source triangulation, Ketika peneliti melihat data memiliki kesamaan
tertentu yang menetap walaupun berada dalam konteks yang berbeda.
Investigator triangulation, Ketika beberapa investogator menguji suatu
fenomena yang sama.
Theory triangulation, Ketika investigator-investgator dengan sudut pandang
berbeda menginterpretasikan suatu hasil yang sama.
Methodological triangulation, Ketika suatu pendekatan diikuti oleh pendekatan
yang lain, tujuannya untuk meningkatkan tingkat keyakinan akan interpretasi
terhadap temuan.
Silahkan anda jelaskan pada saya, Triangulasi macam apa yang sudah pernah
anda lakukan??
GM
Saya juga ingin mengomentari bagian pertama dari sub-judul kedua:
Ironisnya, psikotes, masih menjadi berhala di sejumlah institusi. Lembaga
pendidikan setara SMP dan SMU selalu melakukan psikotes untuk "mengkategorikan"
kemampuan anak didiknya . Baru-baru ini, saya dengar bahwa jenjang pendidikan
setingkat TK pun melakukan psikotes untuk penerimaan murid. Kita juga bisa
melihat bahwa perusahaan-perusahaan masih menggunakan psikotes untuk menerima,
memutasi atau memberhentikan karyawan. Bahkan, ketika saya menulis artikel ini,
ada berita bahwa pemilihan Kepala daerah (Pilkada) juga menggunakan psikotes
sebagai salah satu tahapan yang harus dilalui para calon kepala daerah. Dengan
begitu banyak kelemahan dalam hal validitas, ternyata psikotes masih juga
ditempatkan sebagai "kebenaran" dalam berbagai hal. Sebuah kebenaran yang
menjadi acuan bagi keputusan akan nasib dan penilaian terhadap kemampuan
manusia. Lebih jauh, kebenaran ini dapat pula mentaksonomi manusia,
menempatkannya dalam hirarki kualitas yang akan menentukan nasib dan
hidupnya
Seperti saya sampaikan di atas, yang paling ironis dari tulisan ini justru
pendapat sang penulis sendiri:
Pertama, sang penulis melupakan bahwa psikotes bukan kuis di majalah
lifestyle, yang tidak jelas siapa penyusun pertanyaannya. Setiap item dalam
psikotes tentu sudah melalu uji reliabilitas dan validitas.
A:
Nah, ini makin keliatan GOBLOK-nya. Dan di situlah anda menjadi sebuah
tragedi ironi paling parah dalam psikologi. Lha wong gak tahu apa-apa tentang
validitas dan reliabilitas kok berani-berani ngomong? Apa bukan ini sudah
GOBLOK juga TAKABUR?? Lha gini kok jadi psikolog? Ironi lebih parah bagaimana
lagi yang bisa dihadirkan setelah anda sendiri menghadirkan ironi yang
melampaui segala ironi??
Akan saya beber ironi anda ini, supaya disaksikan juga oleh member lain.
Validitas secara garis besar adalah bagaimana item suatu tes memang mengukur
apa yang menjadi tujuan pengukuran. Lha kalau sudah kasus seperti pertanyaan
uang Rp. 50,- , Buenos Aires, Vatikan, Brazil dsb apa ya memang bisa membedakan
kecerdasan orang?? Apa ya memang masih mengukur apa yang mau diukur?
Reliabilitas secara sederhana bisa dipahami sebagai keajegan. Artinya: Tidak
ada perbedaan [jauh] ketika diulang. Cuma, melihat kalimat yang pernah ditulis
Ganggang: dalam kurun 20 tahun ini Brazilia masih di Brazil, Buenos Aires
masih di Argentina, Vatikan masih menjadi pusat agama Katholik di jantung kota
Roma. Dikiranya itulah reliabilitas.wah..wah...kalo ada kategori yang lebih
parah dari GOBLOK, anda ini masih pantas mendapatkannya.
GM:
Kedua, sang penulis lupa kalau mengkategorian itu tidak seperti dalam kuis di
majalah lifestyle: kalau skornya segini masuk kategori ini, kalau skornya
segitu kategorinya itu. Pengkategorian itu dilakukan dengan membaca data
keseluruhan, memilah datanya, dan baru menyusun psikogramnya.
A:
Siapa yang tengah membicarakan kuis di majalah lifestyle? BTW, sebaiknya anda
dan juga psikolog-psikolog lainnya tidak serta merta membanggakan psikotes dan
mendikreditkan kuis di majalah lifestyle. Jangan-jangan kuis di majalah
lifstyle justru lebih up to date, karena ia lebih baru dari Psikotes. Dalam
pertanyaan-pertanyaan kuis lifestyle justru ada tema-tema riil yang tidak masuk
psikotes, seperti: TTM, Cewek menembak cowok, dan sebagainya.
GM:
Ketiga, sang penulis lupa bahwa psikotes tidak pernah membuatkan keputusan.
Ibaratnya, psikotes itu hanya tustel, dan psikolog hanya tukang potret yang
memberikan potret psikologis kepada Model Agency. Model Agency itu yang
menentukan batasan fotogenik yang akan dipakai. Psikotes itu hanya sebuah
tools, dan psikolog adalah handyman. Tentu, ada handyman yang ahli, ada yang
kurang ahli, tapi bukan berarti tool-nya yang salah.
A:
Waduuuh...sekarang sudah GOBLOK malah mau jadi penipu pula. Anda ini sudah
berada di puncak kehinaan dari segala kehinaan.
Buat rekan-rekan yang baca, perhatikan bahwa kalimat: sang penulis lupa bahwa
psikotes tidak pernah membuatkan keputusan. Ibaratnya, psikotes itu hanya
tustel, dan psikolog hanya tukang potret yang memberikan potret psikologis
kepada Model Agency. Model Agency itu yang menentukan batasan fotogenik yang
akan dipakai.
Pertama: Makin kelihatan GOBLOK ketika menghadirkan analogi yang tidak
nyambung. Dan kelihatannya, seperti contoh Lionel Messi yang katanya anak emas
Brazil, contoh kali inipun tidak dikuasainya, alias dia tidak tahu tentang
fotografi dan model. Dalam fotografi, batasan fotogenik ya jelas ditentukan
fotografernya. Itu bisa Kita lihat misalnya pada kasus kontroversi foto
Anjasmara. Dan model Agency, ya hanya menyediakan model. Gak ikut-ikutan
menentukan nilai fotogenik yang dibuat fotografer.
Kedua: kalimat itu BOHONG ADANYA. Dalam setiap laporan psikotes, selalu ada
rekomendasi, contohnya: Diterima, Tidak diterima, Diterima dengan
Catatan. Atau Ready Now, Ready for 6 Month, Ready for 12 Month,dan
sejumlah kategori lagi.
Rekomendasi dari psikolog itulah yang dijadikan patokan untuk menentukan
nasib orang oleh perusahaan. Memang yang mengeluarkan surat pernyataan
diterima, ditolak, dimutasi, diberhentikan dsb adalah perusahaan tapi ACUANNYA
ya rekomendasi dari psikolog itu.
Jadi penjelasan Ganggang bahwa bukan psikolog yang membuat keputusan itu
jelas: entah dia ini mencoba menipu atau memang SUPER GOBLOK.
Ya jelas yang mengeluarkan surat keputusan adalah perusahaan yang menjadi
user (kecuali itu perusahaan Mbahmu!...masih mungkin kamu cucunya dilibatkan)
tapi keputusan akan bergantung pada apa yang direkomendasikan psikolognya.
Perusahaan tentu tak mau dituntut dengan membuat keputusan tanpa dasar, lha
dasarnya apa? Yo interpretasi Psikotesmu itu, GOBLOK!
GM:
Keempat, sang penulis lupa bahwa bagaimana pun sebuah tool diperlukan untuk
membantu mengklasifikasikan. Justru karena dunia dipenuhi oleh individu yang
sangat unik, kita harus membuat klasifikasi untuk membuatkan irisan himpunan,
supaya saling bisa menghormati, mengerti, dan menghargai himpunan yang lain.
A:
Lha ini lagi jargon. Memang sih ini sudah deket tujuh belasan, tapi anda
sekarang harus ingat bahwa anda bukan Pak RT yang sedang pidato.
Jadi jabarkan saja teknisnya: kita harus membuat klasifikasi untuk membuatkan
irisan himpunan, supaya saling bisa menghormati, mengerti, dan menghargai
himpunan yang lain.
Bagaimana logikanya kalimat anda di atas? Mana premis mayornya? Mana premis
minornya? Dan bagaimana konklusinya bisa begitu?
GM:
Kelima, sang penulis lupa bahwa klasifikasi bukan berarti menghilangkan
keunikan dan kemanusiawian. Jangan lupa bahwa dalam psikologi kita tidak bicara
all-or-none; bahwa kalau sudah masuk satu klasifikasi berarti terpisah
sepenuhnya dari klasifikasi yang lain. Klasifikasi hanya menunjukkan
kecenderungan terbesar. Kalau sang penulis menganggap bahwa klasifikasi adalah
menghilangkan kemanusiawian, well, tampaknya sang penulis berpikir terlalu
eksakta, hitam atau putih. Sang penulis tidak berpikir seperti yang diharapkan
dalam psikologi: hitam dan putih hanya titik kecil di ujung dikotomi, sementara
sebagian besar ada di gradasi abu-abu: ada unsur hitam (walaupun 1%) atau ada
unsur putih (walaupun hanya 1%)
A:
Ha..ha..ha...ini lagi anda sudah sok tahu tentang apa itu eksakta dan
klasifikasi. Lalu mengaitkan dengan Hitam-Putih segala yang menunjukkan bahwa
anda ini tidak mengerti apa yang anda omongkan. Saya pengen tahu, apa sih yang
anda ketahui tentang eksakta? Dan bagaimana anda mengatakan bahwa saya terlalu
eksakta? Bagaimana pula anda sendiri menjelaskan diri anda yang mengatakan
psikotes masih valid dan reliabel berikut contoh-contoh anda tentang norma,
lalu anda mau menghindar bahwa justru bukan anda yang jauh lebih eksakta dari
saya. Mungkin anda perlu mulai belajar dulu dari sesuatu yang paling mendasar,
yaitu kata dasar dari eksakta itu sendiri, yaitu eksak. Seberapa anda tahu
tentang itu?
Saya tunggu penjelasannya dan silahkan diposting juga di milis Psikologi
Transformatif, supaya orang lain bisa menilai argumen anda dan saya.
GM
Sisa artikelnya tidak saya tanggapi, karena kapstok untuk meletakkan segala
dasar teori yang hebat itu pun masih lemah.
A:
Hwa..ha..ha...berkacalah dulu dari semua kalimat anda sendiri di atas
ganggang!! Jangan-jangan karena stok otak di kepalamu yang tidak cukup untuk
membahasnya?
Salam,
Ganggang Merah
*I am nothing, nobody*dan GOBLOK!!!
Ganggang Merah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Nama saya Ganggang Merah.
Tentu, itu bukan nama asli saya. Tapi untuk sementara ini marilah mengenal saya
hanya sebagai si Ganggang Merah.
Saya baru saja bergabung dengan milis ini. Sebuah milis yang (saya kira pada
awalnya) akan meningkatkan pemahaman saya tentang apa yang tidak saya ketahui.
Namun, dari beberapa artikel pertama yang dikirim sebagai welcome files untuk
anggota baru, sudah begitu banyak yang saya ingin pertanyakan.
Mengapa saya ingin mempertanyakan?
Karena, menurut saya yang bodoh ini, artikel itu berisi banyak jargon-jargon
hebat, tapi tidak mengikuti logika yang paling sederhana sekali pun (maaf untuk
penulisnya).
Pada artikel ini, misalnya. Sang penulis bicara dengan hebatnya mengenai
Foucault, Bourdieu, Derrida, dengan mengutip pendapat-pendapat mereka. Namun
sayang sekali, latar belakang permasalahan yang diajukannya untuk menguak
kebenaran ini lemah. Sang penulis lebih senang mengumbar semua kalimat hebat
dari bacaan hebatnya, namun lupa mendalami masalah yang sesungguhnya: validitas
(atau istilah beliau: kebenaran) psikotes yang ingin diangkat sebagai masalah.
Coba kutip paragraf-paragraf awal yang lazimnya menjadi latar belakang
masalah:
Sekitar tahun 1985, ketika kelas 1 SMP, saya mengikuti psikotes yang
diwajibkan bagi semua siswa kelas 1. Dalam psikotes itu, ada beberapa
pertanyaan yang saya ingat, antara lain: "Di manakah Brazilia?", "Di Manakah
Buenos Aires?", "Apakah Vatikan itu?". Ketika saya kelas 1 SMA, sekitar tahun
1988, saya menemui lagi pertanyaan-pertanyaan itu ketika mengikuti psikotes
yang wajib diikuti oleh semua anak kelas 1. Selang beberapa tahun kemudian,
ketika saya masuk Fakultas Psikologi, saya menemukan pertanyaan-pertanyaan itu
pada salah satu tes ketika mengikuti sebuah mata kuliah yang mengajarkan
berbagai tes. Saat ini, di tahun 2005, saya masih menemukan
pertanyaan-pertanyaan itu pada sejumlah tes psikologi yan dilakukan di sejumlah
sekolah maupun institusi lain. Bagi saya, itu sebuah ironi yang menyedihkan,
orang-orang yang menggunakan tes itu seolah menganggap bahwa sang waktu telah
membeku. Lebih menyedihkan lagi orang orang yang mengerjakan tes itu,
kemanusiawian mereka
terpasung oleh pertanyaan yang dianggap mampu mengukur kemampuan mereka,
padahal itu adalah pertanyaan yang sama dalam kurun waktu 20 tahun .
Fakta ini membawa kita pada sejumlah pertanyaan. Seberapa
pertanyaan-pertanyaan itu masih memiliki valliditas untuk mengukur kemampuan
seseorang? Bagaimana orang-orang yang menggeluti psikologi itu bisa menafikkan
perkembangan dunia?. Siaran langsung pemakaman Paus, Maradona, bintang-bintang
sepakbola dari Brazilia dan Argentina; bahkan telenovela adalah hal-hal yang
jelas-jelas akan merubah validitas pertanyaan-pertanyaan itu. Lalu, bagaimana
pertanggungjawaban hasil dari tes itu?. Padahal kita tahu bahwa psikotes tak
jarang menentukan "nasib" seseorang. Dalam dunia kerja, seseorang bisa tidak
diterima, dimutasi atau bahkan dikeluarkan akibat hasil psikotes. Seorang siswa
bisa dikategorikan bodoh, terbelakang, dan berbagai label lain, karena hasil
psikotes.
Validitas hasil psikotes bisa makin runyam jika kita memperhitungkan telah
begitu banyak diterbitkan buku yang memberi petunjuk cara menjawab psikotes.
Sementara kita juga mulai bisa mempertanyakan validitas alat berbasis kemampuan
menghitung yang terdapat pada tes Pauli, Kraeplin [dan yang secara parsial juga
ada di beberapa tes IQ]; ketika di masyarakat bermunculan kursus-kursus seperti
Sempoa dan Mental Aritmetika. Psikotes sendiri, sebelum sampai pada semua
permasalahan ini, masih menyimpan problem internal berkaitan dengan adaptasinya
pada budaya Indonesia. Sebagian alat-alat yang digunakan sebagai psikotes,
masih menyimpan bias budaya. Alat-alat yang menggunakan gambar seperti TAT
misalnya, sebagian menggunakan latar situasi (bangunan, pakaian, pemandangan)
yang asing untuk Indonesia .
Betul! Dunia sudah berubah sejak 20 tahun yang lalu. Sejak tes itu ditemukan,
Maradona sudah terkena kasus narkoba, anak emas Brazil sekarang bernama Messi,
Paus asal Polandia sudah mangkat dan digantikan oleh Paus asal Jerman. Betul!
Sudah banyak informasi baru yang muncul.
Tapi sang penulis lupa: dalam kurun 20 tahun ini Brazilia masih di Brazil,
Buenos Aires masih di Argentina, Vatikan masih menjadi pusat agama Katholik di
jantung kota Roma.
Dengan demikian, apakah itu mengubah validitas tes psikologi? Saya rasa
tidak. Ada beberapa alasannya:
Manusianya berubah, tapi satuan pengukurannya tetap. Mungkin, di masa lalu,
orang tidak butuh kecerdasan yang tinggi untuk mengetahui Brazilia ada di
Brazil. Sekarang, dengan informasi yang makin banyak, mungkin hanya orang2
dengan kecerdasan tinggi, dengan kemampuan menyimpan informasi yang banyak,
yang masih bisa menyimpan informasi Brazilia ada di Brazil dalam LTM-nya, dan
mampu me-retrieve-nya saat ditanya. Dengan demikian, menurut saya tidak ada
yang salah dengan satuan pengukurannya. Yang harus diubah adalah normanya.. ;-)
Manusia berubah, tapi satuan pengukurannya tetap. Mungkin, hanya anak SMP
yang berwawasan luas yang tahu Buenos Aires ada di Argentina. Tapi, kalau anak
SMP itu sudah di SMA, atau sudah kuliah, dan masih tidak bisa menyebutkan
Buenos Aires ada di mana, maka beberapa arah interpretasi kita: individu ini
tidak banyak mengembangkan diri, individu ini tidak perduli, dan beberapa
interpretasi lainnya. Oleh karena itu, sekali lagi, menurut saya tidak ada yg
salah dengan pengukurannya.Yang salah adalah kalau kita melihat hasil
pengukuran per se. Tapi, hey, bukankah semua psikolog tahu bahwa raw score
(=nilai yang didapat dari tes prestatif itu) tidak berarti apa-apa tanpa diubah
menjadi standard score (=nilai yang sudah distandardkan sesuai norma). Dan
bukankah setiap psikolog tahu bahwa norma memang harus selalu disesuaikan? .
Memang betul, sebagian alat masih menyimpan bias budaya dan sebagian lagi
sudah terkontaminasi dengan kebocoran alat tes. Oleh karena itulah seorang
psikolog harus berupa manusia, interpretasi seperti itu tidak bisa dilakukan
dengan mesin. Karena hanya dengan kemanusiaannyalah sang psikolog bisa memilah
mana respons yang valid untuk dianalisa selanjutnya, atau harus divalidasi
ulang karena ada kemungkinan bias budaya, atau bahkan bias dari beredarnya
segala macam panduan cara menjawab psikotes .
Dari latar belakang ini, saya merasa ironi yang paling besar justru datang
dari sang penulis. Judul artikelnya adalah "Psikotes: Kebenaran, Kekuasaan, dan
Hilangnya Kemanusiawian". Padahal hingga saat ini kemanusiaan itu belum hilang
dari psikologi. Yang menghilangkan unsur kemanusiawian di sini justru sang
penulis sendiri: dengan bicara alat tes tanpa menyinggung norma, bicara tentang
bias budaya/kebocoran tanpa menyinggung interpretasi dan triangulasi data.
Menurut saya, sang penulis sudah menganggap psikotes sebagai mesin yang
mengeluarkan hasil apa pun setiap sebuah tombol dipencet. Hasil yang sama
persis. Penulis lupa bahwa hasil tes bahkan tidak pernah tersaji. Yang
disajikan hanyalah psikogram dan konseling, yang sudah melalui tahap verifikasi
data oleh seorang manusia (baca: psikolog).
Saya juga ingin mengomentari bagian pertama dari sub-judul kedua:
Ironisnya, psikotes, masih menjadi berhala di sejumlah institusi. Lembaga
pendidikan setara SMP dan SMU selalu melakukan psikotes untuk "mengkategorikan"
kemampuan anak didiknya . Baru-baru ini, saya dengar bahwa jenjang pendidikan
setingkat TK pun melakukan psikotes untuk penerimaan murid. Kita juga bisa
melihat bahwa perusahaan-perusahaan masih menggunakan psikotes untuk menerima,
memutasi atau memberhentikan karyawan. Bahkan, ketika saya menulis artikel
ini, ada berita bahwa pemilihan Kepala daerah (Pilkada) juga menggunakan
psikotes sebagai salah satu tahapan yang harus dilalui para calon kepala
daerah. Dengan begitu banyak kelemahan dalam hal validitas, ternyata psikotes
masih juga ditempatkan sebagai "kebenaran" dalam berbagai hal. Sebuah kebenaran
yang menjadi acuan bagi keputusan akan nasib dan penilaian terhadap kemampuan
manusia. Lebih jauh, kebenaran ini dapat pula mentaksonomi manusia,
menempatkannya dalam hirarki kualitas yang akan menentukan nasib dan
hidupnya
Seperti saya sampaikan di atas, yang paling ironis dari tulisan ini justru
pendapat sang penulis sendiri:
Pertama, sang penulis melupakan bahwa psikotes bukan kuis di majalah
lifestyle, yang tidak jelas siapa penyusun pertanyaannya. Setiap item dalam
psikotes tentu sudah melalu uji reliabilitas dan validitas.
Kedua, sang penulis lupa kalau mengkategorian itu tidak seperti dalam kuis
di majalah lifestyle: kalau skornya segini masuk kategori ini, kalau skornya
segitu kategorinya itu. Pengkategorian itu dilakukan dengan membaca data
keseluruhan, memilah datanya, dan baru menyusun psikogramnya.
Ketiga, sang penulis lupa bahwa psikotes tidak pernah membuatkan keputusan.
Ibaratnya, psikotes itu hanya tustel, dan psikolog hanya tukang potret yang
memberikan potret psikologis kepada Model Agency. Model Agency itu yang
menentukan batasan fotogenik yang akan dipakai. Psikotes itu hanya sebuah
tools, dan psikolog adalah handyman. Tentu, ada handyman yang ahli, ada yang
kurang ahli, tapi bukan berarti tool-nya yang salah.
Keempat, sang penulis lupa bahwa bagaimana pun sebuah tool diperlukan untuk
membantu mengklasifikasikan. Justru karena dunia dipenuhi oleh individu yang
sangat unik, kita harus membuat klasifikasi untuk membuatkan irisan himpunan,
supaya saling bisa menghormati, mengerti, dan menghargai himpunan yang lain.
Kelima, sang penulis lupa bahwa klasifikasi bukan berarti menghilangkan
keunikan dan kemanusiawian. Jangan lupa bahwa dalam psikologi kita tidak bicara
all-or-none; bahwa kalau sudah masuk satu klasifikasi berarti terpisah
sepenuhnya dari klasifikasi yang lain. Klasifikasi hanya menunjukkan
kecenderungan terbesar. Kalau sang penulis menganggap bahwa klasifikasi adalah
menghilangkan kemanusiawian, well, tampaknya sang penulis berpikir terlalu
eksakta, hitam atau putih. Sang penulis tidak berpikir seperti yang diharapkan
dalam psikologi: hitam dan putih hanya titik kecil di ujung dikotomi, sementara
sebagian besar ada di gradasi abu-abu: ada unsur hitam (walaupun 1%) atau ada
unsur putih (walaupun hanya 1%)
Sisa artikelnya tidak saya tanggapi, karena kapstok untuk meletakkan segala
dasar teori yang hebat itu pun masih lemah.
Salam,
Ganggang Merah
*I am nothing, nobody*
On 3 Aug 2006 02:18:35 -0000, psikologi_transformatif Moderator <[EMAIL
PROTECTED] > wrote:
File : Psikotes dan Kebenaran.zip
Description : Psikotes dan Kebenaran
Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/
---------------------------------
Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business.
[Non-text portions of this message have been removed]
REKOMENDASI MILIS:
http://groups.yahoo.com/group/hatihatilah
http://groups.yahoo.com/group/relasimania
http://groups.yahoo.com/group/ebookmaniak
http://groups.yahoo.com/group/agromania
http://groups.yahoo.com/group/katasibijak
http://groups.yahoo.com/group/mobilemaniak
http://groups.yahoo.com/group/indogitar
http://groups.yahoo.com/group/sukasukamu
http://groups.yahoo.com/group/satuXsatu
TIPS PENCARIAN DI GOOGLE: berita (korupsi, kriminal, narkoba, olahraga, seni,
musik), promosi (situs, milis, warnet, forum), konsultasi (kesehatan,
penampilan, masalah, solusi), aktivitas (sekolah, kantor, belanja, fakultas,
toko, wisata, salon, kursus), keluarga (anak, balita, remaja, orangtua, wanita,
pria), penyakit (jantung, diabetes, stroke, flu, kulit, nafsu makan, mandul,
hati, mata, lumpuh), wilayah (Indonesia, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Poso,
Makassar, Riau, Irian, Manado, Palu, Bali, Lampung, dll), teknologi (ponsel,
komputer, internet, PDA, fotografi, kamera), ilmu (manajemen, ekonomi, hukum,
psikologi, pertanian, kedokteran, teknik, politik, sosial, komunikasi),
pasangan (suami, isteri, cinta, jodoh, teman, pacar, mitra, rekan, sahabat,
perkawinan, poligami), hobi (mobil, musik, gitar, piano, biola, koleksi, benda
antik), profesi (wartawan, sekretaris, pengusaha, pengacara, konsultan),
undangan (acara, pameran, seminar, pelatihan, presentasi), media (suratkabar,
buku, majalah, tabloid, radio, televisi), gosip (selebriti, anggota DPR,
pejabat), iklan (waralaba, jual beli, peluang usaha, pemasaran, dagang, pasar,
bursa, wirausaha), karya (budaya, bahasa, sastra, puisi, cerita, desain), tips
(resep, kebugaran, pergaulan, pekerjaan, kepribadian).
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sukasukamu/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/