Pulau Sikuai

Di tahun 60'an biduan terkenal Erni Djohan pernah terkenal dengan salah satu
lagunya, Teluk Bayur. Saat kecil dan dibuai dengan lagu itu saya tidak
pernah membayangkan sampai dimana keindahan Teluk Bayur. Minggu lalu saya
diajak klien ke kota Padang untuk sebuah pertemuan. Kebetulan pertemuan itu
diadakan disebuah Pulau kecil yang letaknya tidak jauh dari Teluk Bayur.
Pada saat naik mobil dalam perjalanan menuju pelabuhan Bungus, tak hentinya
saya terkagum oleh keindahan alam disekeliling saya. Luar biasa sekali.

Dari pelabuhan Bungus kita naik speed-boat menuju pulau Sikuai. Jaraknya
pendek saja hanya sekitar 30 menit. Pulau Sikuai luasnya 40 ha. Dan resor
ini sekarang dikelola oleh group Pusako dan memiliki 53 bungalow
sederhana.Ketika turun dari kapal, kita disambut oleh "welcome drink", yaitu
air kelapa muda. Wah, kejutan lagi. Rupanya pulau tersebut memiliki pohon
kelapa cukup banyak. Rasanya segar dan manis sekali. Pulau Sikuai masih
nampak sangat asri dan bersih. Karena turis yang berkunjung disana masih
terbilang sangat sedikit sekali. Dan memiliki hutan serta alam yang belum
terusik. Di tengah Pulau ada perbukitan kecil, hal ini membuat Sikuai lebih
menarik. Di puncak bukit ada sebidang tanah lapang, dan diberi nama Sunset
Plaza. Disini setiap sore anda bisa menonton matahari tenggelam. Sungguh
romantis sekali.

Ketika menjelang tengah malam, saya sempat berjalan-jalan ditepi pantai.
Suara ombak berdesir lembut, menjadi musik alam yang menyejukan jiwa. Angin
bertiup sepoi-sepoi, dan pikiran saya melayang dalam echo suara Erni Djohan
melantunkan lagu Teluk Bayur yang merdu menawan itu. Menikmati itu semua
tiba-tiba ada segumpal kedamaian yang luar biasa menyulut jiwa saya. Juga
saya mersakan rahmat yang begitu besar. Karena setiap kali saya berpergian,
kemana saja, setiap sudut, setiap jengkal tanah yang saya kunjungi, di bumi
Pertiwi yang saya cintai ini, selalu saja ada kejutan baru. Sebelum tidur,
saya berdoa, mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa, atas
tanah air yang begitu elok, indah, dan kaya terhadap sumber alam.

Esok pagi sehabis sarapan, saya sempat bertemu dengan pengurus dan manajemen
resor itu. Ia minta saya mempromosikan Sikuai kepada teman-teman saya. Konon
ialah yang bersusah payah membangun Sikuai sejak dahulu hingga bisa
dinikmati seperti sekarang ini. Beberapa tahun yang lalu, Sikuai pernah
merana ditangan manajemen yang berbeda. Sikuai pernah terabaikan dan hanya
dijadikan objek eksplotasi belaka. Akhirnya ketika manajemen Sikuai
dikembalikan lagi, barulah Sikuai dibangun kembali sedikit demi sedikit.

Kebanyakan obyek-obyek wisata di Indonesia memiliki masalah yang sama.
Sebuah obyek wisata seindah Sikuai memerlukan proteksi. Pertama
pengelola-nya harus pula seorang pecinta lingkungan yang paham keseimbangan
lingkungan dan tahu menjaga ke-asrian lingkungan. Obyek wisata yang
terlampau terkenal, dan terlalu banyak dikunjungi turis, dalam waktu singkat
kehilangan daya dukung lingkungannya. Percaya atau tidak, obyek wisata
Sikuai perlu diberi pagar, misalnya harga yang lebih mahal. Agar jumlah
wisatawan dapat terfilter. Tapi kalau jumlah wisatawan terbatas, pendapatan
pengelola juga terbatas. Jadi serba susah.

Masalah selanjutnya, obyek wisata seindah Sikuai, juga sulit bertahan hanya
mengandalkan keindahan alamnya. Ia memerlukan kombinasi antara kenyamanan,
makan enak, dan atraksi lainnya. Ia memerlukan kelengkapan produk yang terus
berevolusi sehingga mampu memberikan pengunjungnya sebuah pengalaman yang
tak terlupakan. 

Saya prihatin dengan Sikuai, karena menurut pengelolanya, ia masih butuh
promosi. Namun saya tidak rela pula kalau Sikuai rusak lingkungannya,
sehingga tidak bisa kita wariskan kepada cucu kita. Percaya atau tidak
kadang-kadang pemasaran memerlukan keseimbangan. Antara keuntungan, dan
idealisme tertentu. Yang berbahaya apabila pemasaran dirasuk nafsu serakah.
Maka apapun yang kita pasarkan akan hancur dalam waktu singkat. Seorang
pemasar sejati mirip dengan seorang petani. Ia harus tahu manajemen
pertanian, seperti manajemen tanah, jenis tanaman yang harus ditanam, dan
sekaligus memilihara tanaman hingga tuntas bisa berbuah baik saat dipanen.

Dilain pihak, petani sejati harus tahu pula membaca tanda-tanda jaman.
Seperti misalnya, waktu menanam. Siklus musim. Dan perubahan cuaca. Melihat
kelengkapan persyaratan seperti itu, seorang pemasar sejati, harus memiliki
nurani pula. Jadi pemasaran bukan lagi semata laris atau tidak. Terkenal
atau tidak. Tapi seutuhnya memerlukan kemanusiaan yang dalam. 

Silvia F. Junaidi wrote:

Pulau Sikuai pulau yang akan menyaingin pulau dewata bali.
Tempat liburan yang menyenangkan di Sumatera Barat....nggak kalah koq ama
Bali..he3x.

Caranya menuju kesana gampang aja :
Dari Batam to Padang... dari Jakarta to Padang or dari Medan ke Padang......
pokoknya kekota Padang dulu. Terus sampai dikota Padang, ada Speed Boat atau
kapal yang akan mengantar anda ke Pulau Sikuai....nggak lama koq 1 jam-an
sudah nyampai deehh... 
. 
 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke