ALIRAN MISTERI LUMBINI

  Oleh:
  AUDIFAX
  (Penulis Buku “IMAGINING LARA CROFT”, 2006, Jalasutra)

  Lumbini adalah nama sebuah tempat suci di wilayah Nepal. Para penganut Buddha 
barangkali tak asing dengan nama Lumbini. Di tempat inilah Sang Buddha Gautama 
dilahirkan. Spirit Sang Buddha yang ada pada Lumbini inilah yang agaknya coba 
diangkat oleh Kris Budiman dalam karya novel pertamanya yang diberi judul 
“Lumbini”. Novel “Lumbini” adalah juga kelahiran Kris Budiman sebagai penulis 
novel, setelah sebelumnya ia lebih banyak dikenal sebagai penulis buku praktis 
tentang semiotika.

  Dalam ajarannya, Sang Buddha memandang kehidupan sebagai rangkaian proses 
mental dan fisik tak terputus yang membuat seseorang terus-menerus berubah. 
Bayi tak sama dengan orang dewasa; aku hari ini tak sama dengan aku kemarin. 
Bahkan aku saat ini tak sama dengan aku satu jam lalu. Dalam kondisi demikian 
tak ada sesuatu yang dapat aku nyatakan ‘ini milikku’ atau ‘inilah aku’, oleh 
karenanya ‘Tiada aku’.

*************************************************
Milis ini disponsori juga oleh Penerbit Boki Cipta Media
Penerbit buku best seller dan kontroversial berjudul:
JANJI & KOMITMEN SBY-JK TERNYATA HANYA ANGIN?
Penulis: Rudy S. Pontoh
Lihat videonya dan bukunya di: http://janjisbyjk.blogspot.com/
Simak  testimoni dari : Musdah Mulia, Sys NS, Usman Hamid,
Ratna Sarumpaet, Farhat Abbas, Ratih Sanggarwati
Wimar Witoelar, dan tokoh terkenal Indonesia lainnya.

INFO BUKU: Ketik di Google keyword: Janji SBY.

Beli bukunya di toko buku terdekat, buruan sebelum kehabisan!!
ATAU PESAN SEKARANG VIA SMS KE: 0811 185 929.-
*************************************************


  Kehidupan yang mengalir menurut ajaran Buddha ini, pernah juga dikemukakan 
Heraklitus dalam aforismenya yang terkenal “Panta Rhei”. Menurutnya manusia 
tidak bisa turun dua kali dalam sungai yang sama, juga tidak bisa menyentuh dua 
kali dengan kondisi yang sama. Ini karena hidup selalu mengalir dalam 
perubahannya. Novel ini merupakan ajakan pada pembacanya untuk merenungkan 
sesuatu yang ada di balik hidup yang mengalir.

  Sungai ‘Ada’ dalam Lumbini
  Novel Lumbini menarasikan petualangan Ratna dan Niko. Penulisnya mencoba 
menawarkan suasana yang melingkungi percakapan dan peristiwa demi peristiwa 
pada kedua tokoh utama tersebut. Dari sisi alur cerita, novel ini terkesan 
datar. Ibarat sungai, arus yang tampak bisa dikatakan tenang-tenang saja; namun 
ketika kita mencoba menjejakkan kaki masuk ke dalam sungai itu, ada suatu 
tawaran ‘kedalaman’ yang coba dilarung dalam arus yang dari luar tampak 
mengalir tenang itu. Ajakan Martin Heidegger untuk melihat kedalaman pada 
hal-hal yang sifatnya permukaan, mungkin terasa pas menggambarkan novel ini.

  Di balik jalan cerita yang terkesan tenang-tenang saja, terdapat kedalaman 
filosofis yang kental nilai-nilai filosofi Timur. Tema-tema filosofis yang 
hadir pada hal-hal seperti “meditasi”, “aliran”, “tetes air”, serta 
“pencarian”, adalah kunci untuk memasuki kedalaman dalam novel ini. Penulisnya 
membangun nuansa kedalaman itu, menggunakan simbol-simbol yang dipaparkan 
detilnya dalam eksotisme Kathmandu dan Nepal serta vihara-vihara. Nuansa 
misteri yang dibalut eksotisme India-Nepal itu turut membangun suasana yang 
memungkinkan pembaca untuk mampu melakukan ‘pembacaan Yang-Lain’ 
[Other-reading], yaitu pembacaan yang mencoba menangkap filosofi apa yang coba 
dipaparkan penulisnya di sini. Pembacaan terhadap ‘Lumbini’ dengan demikian 
adalah sebuah pembacaan ganda (double reading).

  Membaca Tanda dalam Lumbini
  Cerita ‘Lumbini’ pada dasarnya terpusat pada sosok Ratna. Penulisnya 
menggambarkan sosok perempuan ini mirip dengan Lara Croft. Perempuan cantik, 
muda, dan kaya yang menyukai petualangan. Pada beberapa percakapan dan narasi, 
penulisnya bahkan kerap menarasikan rupa penampilan Lara Croft seperti 
diperankan Angelina Jolie dalam kedua filmnya, Lara Croft – Tomb Raider (2001) 
dan Lara Croft – Craddle of Life (2003).

  Jika anda pernah menonton film ‘Lara Croft – Tomb Raider’ (2001), maka 
suasana ketika Lara berada di vihara dan bertemu bhikku yang menyembuhkan 
lukanya secara ajaib, barangkali terasa pas menggambarkan suasana ketika Ratna 
bertemu dengan Bhikku misterius di Taman Suci Lumbini. Di Lumbini, digambarkan 
bagaimana Ratna secara misterius bertemu dengan Bhikku yang mengajaknya bertemu 
kembali di Candi Mendut, saat Waisak. Pertemuan kembali dengan Bhikku itu di 
Candi Mendut, serta sesuatu yang ditemukan Ratna di sana, menjadi penutup 
cerita, sekaligus clue bagi kelanjutan cerita ini, di buku berikutnya.

  ‘Lumbini’ lebih terkesan sebagai sebuah ‘kisah pembuka’ sebelum masuk pada 
jalan cerita selanjutnya. Karakter-karakter tokohnya terkesan masih berupaya 
dibangun melalui sejumlah detil penggambaran, baik penampilan maupun sedikit 
kisah yang melatarinya. Penulisnya bahkan merasa perlu membuat dua bab khusus 
yang diberi judul sesuai tokoh utama dalam kisah ini, yaitu: “Ratna” (bab 3) 
dan “Niko” (bab 4). Pada kedua bab itu, penulisnya mencoba mengajak pembaca 
untuk menyelami secara lebih dalam dinamika kedua tokoh tersebut.

  Sebagai pakar semiotika, Kris Budiman, mengembangkan sebuah permainan 
semiotika yang menarik dalam novel pertamanya. Inilah yang membuat orang tak 
bisa memahami kedalaman Lumbini sebatas membaca teks [tanda/penanda] dengan 
mengabaikan interpretan dan objek. Permainan Indeks, Ikon dan Simbol merupakan 
hal yang dominan sepanjang cerita. Permainan itu terasa kuat intensitasnya 
terutama pada Bab pertama hingga keenam.

  Membaca Lumbini, dengan demikian merupakan proses dekoding tanda, agar pesan 
yang ada di dalamnya bisa terurai. Pesan yang justru diimplisitkan penulisnya 
dalam permainan tanda, membuat tak semua yang membaca buku ini akan mampu 
menjangkau pesan tersebut. Buku ini bisa jadi bukan jenis buku yang “dipilih 
oleh pembaca” melainkan jenis buku yang “memilih pembacanya”.

Kenapa saya katakan buku ini sebagai buku yang “memilih pembacanya”? Secara 
umum, Lumbini mungkin menjadi novel yang membosankan bagi yang mengharapkan 
petualangan ala Indiana Jones atau Lara Croft; tetapi kedalaman kisahnya sangat 
mungkin justru merupakan ‘petualangan pikiran’ yang mengasyikkan bagi mereka 
yang gemar mencari filosofi dalam kisah-kisah yang dibacanya. Membaca Lumbini, 
adalah membaca sebuah aliran yang mengajak kita untuk turut mengalir di 
dalamnya. Dan jika kita telah bisa ‘mengalir’ bersama aliran cerita dalam 
Lumbini ini, maka seperti kata Heraklitus, kita tak akan bisa dua kali turun 
memasuki ‘sungai’ cerita Lumbini ini secara sama.

---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke