Kisah yang menjadi Sabda Alam
  Oleh:

  Audifax
  Penulis buku “Mite Harry Potter” (2005) dan “Semiotika Tuhan” (2007)




  Sabda alam, menghanyutkan suasanaku
  Kadangkala kebosanan mencekam jiwa
  Sabda alam, berbuah kodrat tak tertahan
  Rasa cinta, rasa nista berpadu satu




  ‘Rasa’ yang berpadu satu dalam lantunan kehidupan. Itulah gambaran perjalanan 
karir musik Chrisye. Perjalanan hidup seorang Chrisye, adalah sabda dari alam, 
karena dari perjalanan hidup beliau, ada begitu banyak hal yang menginspirasi 
dan menguatkan. Chrisye lebih dari seorang seniman yang melantunkan lagu, 
karena ‘Diri’ Chrisye sendiripun adalah sebuah lagu yang keindahannya melampaui 
ruang dan waktu.


  ‘Chrisye-Sebuah Memoar Musikal’ demikian judul dari buku yang mengisahkan 
perjalanan bermusik Chrisye. Buku ini ditulis oleh Alberthiene Endah dan 
diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada Februari 2007. Selain menulis memoar 
musikal Chrisye ini, Alberthiene juga menulis biografi Kris Dayanti, Seribu 
Satu KD, Panggung Hidup Raam Punjabi, Dwi Ria Latifa: Berpolitik dengan Nurani 
dan Venna Melinda’s Guide to Good Living.


  Chrisye dan Rasa
  Di awal Mei 2006, ketika Alberthiene mulai bertemu Chrisye untuk pengerjaan 
buku ini, hal pertama yang disampaikan Chrisye adalah, ia ingin membuat memoar 
musikal, bukan biografi. Hasilnya, membaca buku ini membuat kita masuk dalam 
alam’rasa’. Narasi pada lembar demi lembar, seolah membawa pembaca mendengarkan 
lagu-lagu indah yang biasa dibawakan Chrisye. Namun kali ini, lagu itu adalah 
diri Chrisye sendiri.


  Tentang ‘rasa’, Chrisye mengatakan “Saya murni hanya mengerahkan ‘rasa’ untuk 
berkarya”. ‘Rasa’, meski mendekam dalam diri kita, acapkali justru seperti 
orang asing yang berada nun jauh di sana. Sulit datang. Sulit muncul, terus 
bersembunyi. Hingga Chrisye melatih diri dengan pola yang bisa membangkitkan 
rasa. Tampaknya, kemampuan Chrisye membangkitkan ‘rasa’ tak hanya melalui 
lagu-lagunya, tapi juga melalui perjalanan hidupnya seperti tertulis dalam buku 
ini.


  Chrisye mengajak pembaca kisahnya untuk peka terhadap dirinya sendiri, untuk 
peka terhadap ‘rasa’. Kepekaan ini bukan hal yang mudah, terutama jika 
berkaitan dengan hal yang tidak selaras dengan konstruksi sosial di masyarakat. 
Seperti dituturkan Chrisye ketika ia memutuskan menjadi musisi: “Memercayai 
sesuatu yang dianggap ‘tak meyakinkan’ bagi kebanyakan orang, rasanya seperti 
bercermin di air keruh. Saya tidak melihat bayangan yang jernih, bagusnya sulit 
terlihat, buruknya pun luput dari pandangan”.



*************************************************
Milis ini disponsori juga oleh Penerbit Boki Cipta Media
Penerbit buku best seller dan kontroversial berjudul:
JANJI & KOMITMEN SBY-JK TERNYATA HANYA ANGIN?
Penulis: Rudy S. Pontoh
Lihat videonya dan bukunya di: http://janjisbyjk.blogspot.com/
Simak  testimoni dari : Musdah Mulia, Sys NS, Usman Hamid,
Ratna Sarumpaet, Farhat Abbas, Ratih Sanggarwati
Wimar Witoelar, dan tokoh terkenal Indonesia lainnya.

INFO BUKU: Ketik di Google keyword: Janji SBY.

Beli bukunya di toko buku terdekat, buruan sebelum kehabisan!!
ATAU PESAN SEKARANG VIA SMS KE: 0811 185 929.-
*************************************************


  Kendati demikian, Chrisye tidak mengajarkan untuk menyerah. Seperti 
dituturkannya: “Saya ingin mempertahankan apa yang sudah saya perjuangkan sejak 
kecil. Tidak mudah menapaki jalan walau keyakinan kita begitu solid. Ada begitu 
banyak senjata yang perlu dimiliki ketika kita punya niat bertarung dalam 
hidup.” Begitulah sedikit dari apa yang dipesankan Chrisye kepada pembaca 
kisahnya. Masih ada banyak hal yang bisa menginspirasi diri pembaca ketika 
menyelami perjalanan bermusik Chrisye seperti tertulis di buku ini.


  Dialektika Kita dan Chrisye
  Georg Wilhelm Friedrich Hegel, filsuf Pencerahan Jerman, mengemukakan 
filsafat dialektikanya, yang mampu menjelaskan banyak hal dalam kehidupan. 
Dalam dialektika hegelian, dikatakan bahwa setiap kemenampakan ‘sesuatu’, 
selalu membutuhkan ‘sesuatu-yang-lain’ (Liyan) untuk menegaskan dirinya. Setiap 
‘Diri’ selalu membutuhkan sesuatu di luar diri untuk menegaskan 'Diri' itu 
dalam realita. Sesuatu di luar ‘Diri’ ini, bisa apa saja, termasuk sesuatu yang 
sifatnya ‘spirit’, seperti kisah-kisah. Inilah yang menjelaskan eksistensi 
kisah Chrisye di antara kita.


  ‘Tubuh’ Chrisye memang telah meninggal, namun lantunan kisahnya tetap 
mengalun dan mampu menginspirasi kita. Dalam dialektika hegelian, kisah Chrisye 
adalah sebuah ‘Liyan’ yang hadir di hadapan keterbatasan diri kita sebagai 
pembaca. Dengan kehadiran liyan ini, kesadaran diri pembaca berkembang sebab 
inilah titik dimana sang kesadaran mengenali dirinya sendiri bukan hanya dalam 
dirinya sendiri, melainkan sekaligus dalam kesadaran diri yang-lain (Liyan). 
Saat membaca Chrisye, diri pembaca seolah berada dalam Liyan, yang dalam hal 
ini adalah Chrisye. Seolah pembaca diajak masuk untuk ‘merasakan’ berbagai 
pengalaman dari Chrisye.


  Dalam memoar musikalnya, Chrisye mengajak pembaca ‘merasakan’ berbagai momen 
magis yang memberi daya hidup, seperti: saat pertama kali diberi kesempatan 
bergabung sebagai pemain bas di Gypsy, mendapat kesempatan manggung di New 
York, melantunkan ‘Lilin-lilin Kecil’, ‘Konser Sendiri’ di tahun 1994, Konser 
di Indosiar pada Mei 2006, hingga momen mengharukan ketika Chrisye tak mampu 
melantunkan lirik ‘Ketika Tangan dan Kaki Berkata’.


  Semua momen itu adalah ‘Saat’ di mana realitas kesadaran menjadi sesuatu yang 
menyadari dirinya sendiri. Dalam hal ini, Hegel menjelaskan bagaimana 
terjadinya pengenalan diri itu. Menurut Hegel, pengenalan diri terjadi dalam 
dan melalui kesadaran manusia. Tetapi, kesadaran tanpa sesuatu yang lain dari 
dirinya, tak mungkin muncul. Ketika membaca memoar musikal Chrisye, kesadaran 
pembaca bertemu dengan yang lain dari dirinya, yaitu kisah hidup Chrisye. 
Sebuah Kisah yang barangkali bisa kita sebut sebagai idea atau arche, karena 
adanya mendahului atau melampaui ‘Ada’ itu sendiri.


  Inilah apa yang disebut Hegel sebagai fenomenologi roh (‘Roh’ dalam hegelian 
sekaligus juga bermakna semangat dan pikiran). Kesadaran tak lain adalah ‘roh’ 
yang hadir menjelaskan realitas kesadaran melalui ‘rasa’ akan adanya Sesuatu 
yang berada di luar kesadaran itu. Momen di mana roh itu menampak, salah 
satunya ketika Chrisye berkata pada Alberthiene: “Apa yang kamu lihat sekarang 
Alberthiene? Di hadapan kamu adalah orang yang disebut-sebut khalayak sebagai 
seorang legenda. Tapi lihat, betapa tidak berdayanya saya saat ini”. Chrisye 
terisak. “Pada akhirnya manusia bukanlah apa-apa di hadapan Tuhan”. Dalam 
narasi itu, Chrisye ‘mengajak’ kita untuk melihat ‘Diri’ yang menampak 
sebagaimana ‘Ada’nya, bukan Diri yang diatribusi oleh berbagai macam predikat.


  Narasi ‘Yang Menampak di Sana'
  Alberthiene cukup mampu membuat suatu narasi fenomenologis, sehingga roh 
Chrisye benar-benar hidup di buku itu. Hidup dan menampak di hadapan setiap 
pembacanya. Pada larik-larik narasi itu, kehidupan Chrisye sebagai 
‘yang-ada-di-sana’ (Dasein) terasa begitu kuat. Di sinilah kita bisa 
merenungkan. Bagi sosok seperti Chrisye, ‘tubuh’ sudah tak diperlukan lagi 
untuk membawa roh-nya. Kisah hidupnyalah yang membuat roh itu tak pernah mati. 
Kekuatan kisah hidup Chrisye sudah melampaui ruang dan waktu. Ibarat 
karya-karya seni klasik yang keindahannya tetap terus bisa dinikmati dari jaman 
ke jaman, seperti itu juga kisah hidup Chrisye. Kisah hidup Chrisye adalah 
sebuah karya seni dengan keindahan tersendiri.


  Berbicara mengenai karya, ada sebuah kalimat menarik dari Chrisye: “Tak ada 
yang bisa menghentikan karya, tak juga waktu. Yang bisa menghentikan adalah 
semangat yang mati”. Nah, Chrisye telah membuktikan kalimat yang pernah 
diucapkannya tersebut. Bahwa setelah kematiannya, semangat (spirit, roh, 
pemikiran) Chrisye tak mati. Semangat itu terus hidup melampaui waktu. Kisah 
hidup Chrisye adalah sebuah semangat yang selalu hidup dan mampu menginspirasi 
mereka yang membacanya. Kisah itu telah menjadi sabda alam.Sabda yang 
membangkitkan sejuta rasa.


  Serasa pagi tersenyum mesra
  Tertiup bayu membangkit sukma
  Adakah esok kau senyum jua
  Memberi hangatnya sejuta rasa


---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke