Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Dalam kehidupan kita, ada banyak orang baik yang bersedia memberikan
penghargaan atas kontribusi orang lain. Dalam konteks pekerjaan, ini
diwujudkan mulai dari sekedar ucapan terimakasih dari atasan. Bonus
dan insentif dari perusahaan. Atau, mungkin namanya disebutkan dan
dituliskan dalam sebuah acara atau media yang bergengsi. Tetapi,
tidak semua orang mendapatkan penghargaan, meskipun sesungguhnya
mereka memiliki andil. Misalnya, jika perusahaan memberikan
penghargaan atas kinerja saya, maka sesungguhnya, bukan hanya saya
yang layak mendapatkan penghargaan atau pujian itu. Melainkan, semua
orang yang turut berkontribusi pada pencapaian itu.

Tidak jarang, ketika sebuah penghargaan diberikan kepada seseorang,
kita mendengar beberapa orang lainnya berbicara dibelakang. "Gue
heran, kenapa hanya dia yang dapat penghargaan itu. Padahal yang
kerja kan bukan cuma dia...!!!" Untuk alasan apapun, kalimat itu
benar adanya. Sebab, tidak ada seorangpun mahluk dimuka bumi ini
yang bisa melakukan segala sesuatu sendirian. Bukan hanya rekan
kerja di kantor yang berjasa pada kita, melainkan juga orang-orang
yang mungkin sama sekali tidak kita kenali.


*************************************************
Milis ini disponsori juga oleh Penerbit Boki Cipta Media
Penerbit buku best seller dan kontroversial berjudul:
JANJI & KOMITMEN SBY-JK TERNYATA HANYA ANGIN?
Penulis: Rudy S. Pontoh
Lihat videonya dan bukunya di: http://janjisbyjk.blogspot.com/
Simak  testimoni dari : Musdah Mulia, Sys NS, Usman Hamid,
Ratna Sarumpaet, Farhat Abbas, Ratih Sanggarwati
Wimar Witoelar, dan tokoh terkenal Indonesia lainnya.

INFO BUKU: Ketik di Google keyword: Janji SBY.

Beli bukunya di toko buku terdekat, buruan sebelum kehabisan!!
ATAU PESAN SEKARANG VIA SMS KE: 0811 185 929.-
*************************************************


Begitu banyak orang yang telah berjasa pada saya, hingga berhasil
meraih semua pencapaian ini. Misalnya, ketika saya hendak menghadiri
sebuah pertemuan penting. Sebelum berangkat, istri saya menyiapkan
pakaian. Tentu saja, pembantu kami yang mencuci dan menyetrikanya
terlebih dahulu. Dijalan, tukang tambal ban mengganti ban mobil yang
bocor dengan ban serep. Tukang bensin, menyediakan bahan bakar.
Sedangkan tukang jualan nasi uduk menyelamatkan saya dan istri,
pembantu saya, tukang tambal ban, dan tukang jualan bensin dari
bahaya kelaparan. Sementara itu, tanpa petani di pedesaan; tukang
nasi uduk itu tidak bisa jualan. Tukang jual pupuk berjasa pada
petani. Sopir truk membantu tukang pupuk untuk mengirimkan barang
dagangannya. Dan seterusnya. Tiba-tiba saja, saya menyadari bahwa
semua orang dimuka bumi ini berkontribusi kepada pencapain-
pencapaian saya! Lantas, mengapa yang mendapatkan penghargaan di
forum itu hanya saya sendiri?!

Jika anda berpikir ilustrasi saya itu berlebihan; baiklah, mari kita
sedikit menginjak bumi. Mungkin anda pernah merasa begitu berjasa
kepada seseorang. Tanpa peran anda dalam organisasi, orang itu pasti
tidak bisa menjalankan proyeknya. Pokoknya tanpa anda, orang itu;
tidak akan bisa mewujudkan gagasan-gagasannya untuk perusahaan.
Faktanya: Anda berjasa pada orang itu. Tapi, kenapa hanya dia yang
mendapatkan tepuk tangan? Sedangkan anda? Nama anda disebutpun
tidak. Anda dilupakan. Seolah-olah tidak ada peran anda sama sekali
didalamnya. Seolah-olah, anda itu diposisikan sebagai si no body.
Seolah-olah, anda tidak pernah ada. Bagaimana perasaan anda? Marah?

Tunggu dulu. Itu belum seberapa. Suatu saat anda berdiskusi dengan
teman di kantor. Kepada orang itu anda membeberkan sebuah gagasan
penting yang bisa menghasilkan keuntungan berlipat ganda bagi
perusahaan. Dan anda bilang, gue akan membuat proposal kepada
manajemen supaya proyek ini bisa dijalankan. Dan anda juga tahu
bahwa; jika proyek itu berhasil, anda akan mendapatkan kenaikan
jabatan, atau bonus tambahan. Tapi, apa yang terjadi? Sebelum anda
benar-benar mengajukan proposal itu kepada manajemen; teman anda itu
melakukannya duluan! Dan gilanya lagi, dia sama sekali tidak
mencantumkan nama anda dalam proposal itu. Bahkan, dia mengklaim itu
sebagai gagasannya yang brilian! Hah, rasanya anda ingin menendang
bokong bajingan itu! Iya, kan?

Pada suatu ketika, seseorang memforward saya sebuah email yang dia
dapat dari orang lain; karena seseorang lainnya memforward email itu
kepada orang-orang yang lainnya. Semacam email berantailah. Judulnya
menarik perhatian saya. Lalu saya buka dan baca. Lho? Ini kan
artikel yang saya tulis beberapa waktu lalu? Tapi tampaknya,
sekarang kepemilikannya sudah berpindah tangan kepada sang pengirim
email. Bukan saya. Saya harus apa? Menulis email yang menyatakan
bahwa orang itu telah mencuri artikel saya dan dikirim kepada semua
orang? Tidak. Saya tidak mau melakukan itu. Atau,...membuat iklan
pengumuman di koran? Tidak. Itu hanya akan menjadikan orang-orang
tahu bahwa aslinya saya ini manusia norak. Bagaimana dengan...hmmmh;
labrak saja orang itu?! Hah, jangan-jangan badan dia lebih kekar
dari saya yang kerempeng ini. Lantas, bagaimana?

Lantas, saya menemukan sebuah penyadaran bahwa itu bukan artikel
saya. Melainkan milik Tuhan. Sedangkan saya hanyalah tukang ketik
yang dipilih Tuhan untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan yang
bisa dibaca orang. Lantas, jika gagasan dalam artikel itu milik
Tuhan; mengapa saya harus marah kepada orang yang dipilih Tuhan
untuk menyebarkan artikel itu kepada orang lain sehingga mereka
mendapatkan manfaat dari gagasan positif yang dikandungnya? Tuhanlah
yang berhak mengklaim nilai artikel itu. Bukan saya. Jadi, saya
biarkan saja Tuhan berbuat sesuka hati atas artikel itu.

Lantas, saya dapat apa? Hah, pertanyaan macam apa itu? Saya dapat
apa. Itu adalah bibit sebuah sifat yang kita sebut sebagai pamrih.
Tidak selamanya salah. Tetapi, tidak selalu betul. Dalam konteks
bekerja, lalu mendapat upah. Atau memberi pelayanan, lalu
mendapatkan bayaran. Atau menjual barang, lalu menerima sejumlah
uang. Hal itu bisa dimengerti. Tetapi, jika kita masih
bertanya; `apa yang akan saya dapatkan jika saya berbuat kebaikan' -
  mungkin kita perlu lebih banyak merenung.

Lagi pula, bukankah Tuhan tidak pernah salah hitung? Jika Tuhan
merasa perlu untuk memberikan penghargaan, maka penghargaan itu akan
sampai kepada orang yang berhak menerimanya. Dan untuk itu; Tuhan
tidak pernah keliru. Berbeda dengan kita para manusia. Mata kita
kadang silap. Mengira si A yang berjasa, padahal si B-lah orangnya.
Mengira si X yang memiliki gagasan, padahal si Y-lah yang kepalanya
bermuatan. Jadi, ketika kita memberikan pujian kepada si A atau si
X, bukan saja telah salah alamat; melainkan juga bertindak tidak
adil. Meskipun tidak disengaja. Tetapi, siapa sih yang bisa benar-
benar adil dimuka bumi ini? Hanya Tuhan yang bisa begitu, bukan?
Sebab, perbuatan apapun yang kita lakukan, pasti ada hitung-
hitungannya. Dan Tuhan, tidak pernah sembarangan melakukannya.

Bukan hanya orang lain yang kurang menghargai kontribusi dan jerih
payah kita. Bisa jadi kita juga begitu. Setidaknya, kita juga pernah
melupakan kebaikan dan jasa orang lain. Meskipun mungkin kita tidak
bermaksud begitu. Betapa banyak orang yang berbicara di podium
kehormatan, kemudian mengucapkan terimakasih kepada teman-temannya
di organisasi. Orang yang tahu diri ini sudah berusaha sebisanya
untuk mengapresiasi kebaikan semua; dengan menyebutkan nama mereka
satu demi satu. Ketika mengakhiri pidatonya yang tulus itu, dia
tidak sadar bahwa ada satu temannya yang dia lupa menyebut namanya.
Dia tidak sadar. Ratusan orang di ruangan itu juga tidak sadar. Sama
sekali tidak ada yang menyadari hal itu, kecuali satu orang saja.
Anda tahu siapa orang itu? Dia adalah sang pemilik nama itu. Hatinya
berdegup kencang ketika mendengar orang baik itu menyebut nama
sahabat-sahabatnya satu demi satu. Namun, ketika sampai akhir pidato
nama dirinya tidak pernah disebut; ada sesuatu yang mengganjal
dihatinya. "Kok bisa sih, dia melupakan saya......"

Percayalah, itu bisa terjadi kepada setiap orang. Kepada saya juga,
tentu saja. Ada kalanya orang lupa pada kontribusi kita. Namun, pada
kesempatan lain, kitalah yang melupakan jasa-jasa mereka. Tetapi,
Tuhan. Pasti tidak akan pernah lupa. Karena untuk setiap kebaikan
yang kita lakukan bagi umat manusia. Meskipun sangat
kecccciiiiiiiil..... sekali. Tuhan akan mencatatkannya dengan
teramat sempurna. Dan, jika kita masih bertanya: apa yang akan saya
dapatkan dari kebaikan yang saya lakukan?. Maka, marilah kita
menghibur diri dengan sebuah keniscayaan, bahwa; energi itu abadi.
Energi yang terpancar dari dalam diri kita, akan selalu menjadi
milik kita. Hanya saja, kita mesti belajar bersabar untuk bertemu
kembali dengan energi itu; kelak. Pada saat kita berhadapan dengan
Sang Maha Menilai. Yaitu saat dimana, semua perbuatan kita
diperhitungkan. Dan dipertanggungjawabkan. Sekecil apapun itu.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/

Catatan Kaki:
Lakukanlah kebajikan sebisamu, tanpa harus menghitung-hitung
balasannya untukmu. Sebab, logikamu tidak akan pernah mampu
menampung penghargaan yang Tuhan persiapkan bagi dirimu.

Untuk Update Artikel Terbaru Dari Dadang Kadarusman Melalui Email,
klik disini: http://www.dadangkadarusman.com/contact-us/email-alert/


Kirim email ke