Hidrologi Karst : Memahami Karakteristik Sungai Bawah Tanah       Aliran 
air akibat hujan lebat itu mengalir deras masuk ke dalam sebuah goa vertikal, 
membentuk air terjun dengan suara bergemuruh. Film dokumentasi itu memperjelas 
potensi bahaya penelusuran goa di musim hujan. Penelusur goa dipastikan tidak 
bisa keluar karena mulut goa dikepung air terjun. 


*************************************************
Milis ini disponsori juga oleh Penerbit Boki Cipta Media
Penerbit buku best seller dan kontroversial berjudul: 
JANJI & KOMITMEN SBY-JK TERNYATA HANYA ANGIN?
Penulis: Rudy S. Pontoh
Lihat videonya dan bukunya di: http://janjisbyjk.blogspot.com/
Simak  testimoni dari : Musdah Mulia, Sys NS, Usman Hamid,
Ratna Sarumpaet, Farhat Abbas, Ratih Sanggarwati
Wimar Witoelar, dan tokoh terkenal Indonesia lainnya.

INFO BUKU: Ketik di Google keyword: Janji SBY. 

Beli bukunya di toko buku terdekat, buruan sebelum kehabisan!!
ATAU PESAN SEKARANG VIA SMS KE: 0811 185 929.-
*************************************************


  Film dokumentasi itu diputar oleh Tjahyo Nugroho Adjie MScTech, pakar 
hidrologi karst dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Senin (20/3). 
Data visual itu digunakannya untuk mengawali penjelasan tentang karakteristik 
hidrologi sungai bawah tanah. Sumber air sungai bawah tanah bisa berasal dari 
berbagai sumber, sungai permukaan yang masuk ke dalam tanah, rekahan batuan, 
maupun mulut goa vertikal seperti dalam film tersebut. Sumber-sumber air itu 
akan bermuara para satu aliran utama dan memengaruhi debit airnya. 
  Adjie mencontohkan sungai bawah tanah di Goa Gremeng, Dusun Belimbing, 
Umbulrejo, Ponjong, Gunung Kidul. Pada dasarnya, Sungai Gremeng adalah sungai 
permukaan yang numpang lewat di Goa Gremeng. Hulu sungai ini berasal dari 
perbukitan nonkarst yang disebut Panggung Masif. Batuan di hulu sungai adalah 
berksi (batuan) vulkanik. Batuan vulkanik menyebabkan air hujan banyak yang 
menjadi aliran permukaan. Jika hujan datang, debit air Sungai Gremeng akan 
cepat naik dan menjadi banjir. 
  Karakteristik Sungai Gremeng itu sudah diteliti oleh Drs Eko Haryono MSi, 
pakar karst dari Fakultas Geografi UGM. Data debit aliran enam sungai di Gunung 
Kidul ia tampilkan dalam bentuk grafik. Debit Sungai Gremeng dan sumber air 
Selonjono sangat responsif pada suplai air hujan, yang ditunjukkan pada grafik 
puncak banjir yang cepat. Sedangkan sumber air Teleng, Ponjong, Bendungan, dan 
Gedaren, memiliki jeda waktu antara hujan dan puncak aliran air. Jeda waktu 
bervariasi dari dua hingga enam bulan. 
  "Sungai bawah tanah yang berada di perbatasan antara batuan karst dan batuan 
vulkanik, kenaikan airnya cenderung cepat. Sedangkan sungai bawah tanah yang 
sistemnya ada di batuan karst cenderung lambat. Karakteristik sungai inilah 
yang harus dipahami oleh para penelusur goa," tutur Adjie. 
  Kunci utama untuk mengetahui karakteristik sungai bawah tanah adalah banyak 
membaca hasil penelitian. Kalau tidak mampu, sediakanlah waktu untuk diskusi 
dengan para pakar hidrologi karst di perguruan tinggi maupun 
komunitas-komunitas pemerhati karst dan speleologi. Sistem Sungai Gremeng 
sebenarnya sudah dibahas dalam buku Stasiun Nol Teknik-teknik Pemetaan dan 
Survei Hidrologi Goa karya Erlangga Esa Laksmana, peneliti pada Acintyacunyata 
Speleological Club (ASC) Yogyakarta. Sungai Gremeng merupakan muara dari Sungai 
Banyu Sumurup, Jelok, Seropan, Plalar, Kedung Pengaron, dan aliran dari Goa 
Tlogo. 
  "Peta jaringan sungai bawah tanah itu bisa digunakan sebagai bekal pemahaman 
karakteristik sungai. Juga, relatif memudahkan untuk melakukan penyelamatan 
melalui lorong-lorong goa yang sudah dipetakan. Dalam kasus di Gremeng, 
evakuasi yang relatif aman melalui Goa Tlogo," ujar Bagus Yulianto, petualang 
penelusuran goa pada ASC. 
  Peta jaringan sungai bawah tanah itu menunjukkan bahwa sumber air Sungai 
Gremeng berasal dari daerah yang jauh. Meskipun daerah di sekitar goa tidak 
hujan, banjir sangat mungkin terjadi jika di daerah hulu turun hujan. 
  "Berdasarkan pengalamanku, sungai bawah tanah yang akan banjir airnya menjadi 
hangat, arus bertambah deras, dan air keruh. Kalau memungkinkan, penelusur goa 
sebaiknya segera ke luar atau mencari cerukan-cerukan yang aman dari aliran 
air. Lokasi yang aman biasanya tempat itu bersih dari sampah," ucap Bagus. 
  Pengetahuan tentang karakteristik sungai bawah tanah, lanjut Bagus, sebaiknya 
lebih ditekankan saat pendidikan dan latihan dasar para penelusur goa. 
Mempelajari ilmu-ilmu pendukung dalam speleologi memang tidak menarik kalau 
pendekatannya akademis. Ilmu hidrologi akan lebih menarik bila disampaikan 
melalui studi kasus musibah banjir di dalam goa.

  sumber : http://kompas.com/

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke