Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Makan. Itu kebiasaan kita setiap hari. Bahkan kita melakukannya 
lebih dari satu kali dalam sehari. Tetapi, adakah `nilai lebih' dari 
proses makan yang kita lakukan itu? Bagi anda yang berkecukupan, 
fungsi makan bisa ditingkatkan dengan cara `memberi makan' kepada 
orang yang membutuhkan. Dengan begitu anda digelari sebagai sang 
dermawan. Posisi si pemberi derma selalu berada lebih tinggi 
daripada si penerima. Sehingga timbul ungkapan; `tangan diatas jauh 
lebih baik daripada yang dibawah'. Oleh karenanya pula, tidak heran 
kalau kita sering merasa `lebih mulia' setiap kali memberi. Bahkan, 
ketika menyerahkan pemberian itu pun tidak jarang wajah kita 
mendongak keatas. Pertanda kemuliaan kita - rasanya - lebih tinggi 
dari si fakir itu. Karena melalui ungkapan itu kita meletakkan 
posisi sang penerima derma ditempat terbawah. Memang; `Tangan diatas 
jauh lebih baik daripada yang dibawah'.

Ada sebuah model lain yang saya temukan. Model dimana posisi sang 
pemberi dan sang penerima itu sama. Sederajat. Tanpa sekat. Tidak 
berbeda martabat. Ketika itu, saya dalam perjalanan untuk berkunjung 
ke rumah salah seorang famili kami. Tiba-tiba saja perut saya 
keroncongan. "Aku pengen makan ketoprak nih," Saya bilang. Kemudian, 
istri saya yang duduk disebelah kiri bertugas untuk melihat-lihat; 
siapa tahu disepanjang jalan yang kami lalui ada gerobak penjual 
ketoprak. Makanan favorit saya. Tak lama kemudian, kami menemukan 
gerobak penjual makanan. Tidak hanya satu gerobak, melainkan dua. 
Yang satu gerobak ketoprak. Dan yang satu lagi, mie ayam. Anda boleh 
berpikir; `ngapain sih kok yang beginian aja diomongin? Bukankah 
gerobak mie ayam dan ketoprak sudah biasa saling berdampingan?' 
Memang betul. Itu pemandangan yang biasa kita temukan. Tetapi, yang 
menjadikannya begitu luar biasa adalah moment ketika tengah 
berlangsung adegan pertukaran makanan diantara kedua penjualnya. 
Tukang ketoprak menyediakan sepiring penuh ketoprak dan 
menyerahkannya kepada tukang mie ayam. Sedangkan, tukang mie ayam 
menyajikan semangkuk mie ayam untuk disantap si penjual ketoprak....

Pernah menyaksikan adegan itu? Bagi saya, itu bukan adegan yang 
biasa. Ketika seseorang bersedia menyerahkan sesuatu yang 
dimilikinya bagi orang lain, dan tindakan itu berlangsung secara dua 
arah; maka saya kira, kita sudah mencapai nilai kemanusiaan kita 
yang paling tinggi. Coba perhatikan, bagaimana mereka meletakkan 
diri mereka sendiri relatif terhadap orang lain. Meskipun mereka 
berada pada posisi sebagai `sang pemberi derma', namun mereka sama 
sekali tidak menunjukkan tanda-tanda keangkuhan yang sering menempel 
dalam diri kita setiap kali kita menyodorkan pemberian kepada orang 
lain. Mereka tetap berada dalam kesetaraan. 

Anda boleh saja mengatakan bahwa mereka bisa begitu karena ketika si 
tukang ketoprak memberikan ketopraknya, dia juga akan menerima mie 
ayam dari temannya. Anda benar. Tetapi, bukankah itu merupakan 
isyarat bagi kita untuk terbebas dari distorsi tangan yang diatas 
lebih baik daripada yang dibawah? Anda boleh protes; "Gue kan kalau 
ngasih kagak dapat imbalan apa-apa dari dia. Ya wajar donkszt, kalau 
dia berhutang budi sama gue! Toh gue memberi sama dia bukan 
mengharapkan imbalan apapun dari dia. Apa sih yang bisa dia lakukan  
buat gue? Nothing!"

Anda benar lagi. Mungkin, dia tidak akan bisa membalas budi anda. 
Bagaimanapun juga caranya. Tidak mungkin. Lagipula, anda tidak 
membutuhkan apa-apa dari dia. Tetapi, tidakkah anda meyakini bahwa 
untuk setiap kebaikan yang anda lakukan; Tuhan akan selalu 
menyediakan balasannya? Seandainya kepada anda dikatakan: Tuhan 
tidak akan membalas kebaikan apapun yang anda lakukan kepada orang 
lain; apakah anda masih bersedia melakukannya? See? Ada trade-off 
disitu. Dan anda melakukannya untuk trade-off, itu. Baiklah, anda 
boleh berkata: "gue tidak butuh pahalanya!" Oh ya? Bukankah ketika 
anda menolong orang lain, lalu hati anda merasa lega. Anda bahagia. 
Lalu anda terpicu untuk memberi lebih banyak lagi, kepada lebih 
banyak orang lagi. Dan hati anda semakin senang. Lalu, anda terpicu 
lagi, dan anda merasa nyaman dengan suasana hati anda? Sadarkah anda 
bahwa hati yang tenang itu adalah bayaran kontan yang Tuhan berikan 
atas kebaikan anda? Jika setelah memberi hati anda menjadi gundah; 
apakah anda akan melakukannya lagi? Begitulah Tuhan memberi pahala 
kepada kebaikan anda. Apapun hitungannya, memberi itu, selalu 
membawa keuntungan bagi sang pemberi. Namun, sekedar perasaan nikmat 
itu saja bisa menjebak kita kedalam perasaan `lebih tinggi' dari 
orang yang menerima  kebaikan kita. Well, `Tangan diatas jauh lebih 
baik daripada yang dibawah'. 

Tapi, itu tidak terjadi pada tukang ketoprak dan mie ayam. Mereka 
tetap memposisikan diri dan hatinya dalam kesetaraan. Dan ternyata;  
pertukaran tidak hanya terjadi diantara mereka berdua. Melainkan 
juga dengan tukang lontong sayur. Tukang gado-gado. Tukang cuanki. 
Tukang baso. Tukang es buah. Dan dengan tukang-tukang lainnya. 
Begitulah cara mereka menikmati pengalaman memakan beragam jenis 
makanan. Tanpa harus terbebani oleh pikiran; bagaimana cara 
membayarnya.  

Dengan cara itu, mereka tidak sekedar berhasil meningkatkan nilai 
dari sebuah tindakan yang kita sebut sebagai `makan'.  Mereka juga 
telah secara alami berhasil meningkatkan nilai hidup mereka sendiri. 
Nilai hidup? Ya, nilai hidup. Masih ingat bahwa manusia ini adalah 
mahluk sosial? Maka apa yang bisa dilakukannya untuk orang lain 
itulah yang menentukan nilai hidupnya sendiri. Jika dia tidak 
berguna bagi orang lain, maka sebagai mahluk sosial dia sudah gagal 
membawakan fungsinya. Jika begitu, dia tidak menjadi apapun selain 
perwujudan perilaku para benalu.

Tidak hanya itu; mereka juga telah secara alami berhasil 
meningkatkan kemuliaan diri mereka sendiri dihadapan Tuhannya. 
Tuhan? Apa hubungannya dengan Tuhan? Mengapa segala sesuatu yang 
kita lakukan dalam hidup ini harus selalu dikait-kaitkan dengan 
Tuhan? Karena Tuhan sudah berjanji untuk memberikan imbalan kepada 
manusia-manusia yang bersedia memberikan manfaat kepada orang lain. 
Kepada yang memberi makan orang lapar, Tuhan berjanji untuk tidak 
membiarkannya kelaparan. Dan janji Tuhan adalah benar. Ketika si 
Tukang ketoprak menyerahkan ketoprak jatah makan siangnya kepada 
tukang mie; dia bisa saja kelaparan. Tapi, ternyata tidak. 
Sebaliknya, malah dia mendapatkan mie ayam tanpa harus mengeluarkan 
uang sepeserpun. Begitu pula sebaliknya dengan tukang mie ayam. Coba 
perhatikan. Kedua orang itu saling memberi makan, tanpa harus takut 
akan kelaparan karenanya. 

Kita, jika makan. Ya..., makan saja. Kalaupun ada pahala didalamnya, 
itu karena kita makan yang baik-baik dari rejeki yang halal. Tetapi, 
tukang ketoprak dan mie ayam itu; ketika mereka makan, mereka 
mendapatkan pahala dari Tuhan. Karena, setiap kali mereka tahu bahwa 
temannya sedang lapar; mereka dengan sukarela memberinya satu porsi 
dagangannya. Tanpa menghitung berapa temannya itu harus membayar. 
Tanpa terbersit dihatinya ungkapan `Tangan diatas jauh lebih baik 
daripada yang dibawah'. Karena, faktanya memang demikian, bukan?

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/

Catatan Kaki:
Mungkin kita perlu berhenti melakukan sesuatu untuk orang lain, 
hingga kita benar-benar terbebas dari perasaan lebih terhormat dari 
orang itu.

Untuk Update Artikel Terbaru Dari Dadang Kadarusman Melalui Email, 
klik disini: http://www.dadangkadarusman.com/contact-us/email-alert/ 


Kirim email ke