----- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Monday, April 16, 2001 9:31 AM Subject: [WalhiNews] KMP - Tanggul Sungai Progo Keropos akibat Tambang Liar > >Senin, 16 April 2001 > > Tanggul Sungai Progo Keropos akibat Tambang Liar > > Yogyakarta, Kompas > Kawasan Sungai Progo yang terletak di perbatasan Kabupaten Kulon > Progo dan Kabupaten Bantul, sangat sulit dikelola kembali untuk > mencegah terjadinya banjir. Pasalnya, kegiatan penambang pasir liar > di sana sulit dihentikan. Padahal, kegiatan mereka bisa mengancam > runtuhnya tanggul sungai. > > Keadaan itu lambat-laun mengancam ratusan jiwa manusia sehingga harus > diantisipasi dengan pembentukan institusi antara Kabupaten Kulon > Progo dan Kabupaten Bantul. Institusi inilah yang diharapkan mampu > menghentikan kegiatan penambang pasir liar dengan berbagai pendekatan > dan mengatur kembali lokasi baru untuk penambangan pasir. > > Demikian dikatakan Pengelola Proyek Sungai Progo Ir Gunadi Sp, dalam > diskusi ilmiah terbuka "Hasil Rekonaisans Tanggul Kritis Kali Progo" > di Yogyakarta, Sabtu (14/4). Selain mengancam lahan-lahan subur milik > penduduk, kritisnya posisi tanggul ini dapat pula mengakibatkan > banjir bandang di sekitar desa itu. > > Sebetulnya, kata Gunadi, pihak irigasi maupun pengelola sumber air > dan penanggulangan banjir sudah mengadakan penelitian tentang tanggul- > tanggul di sekitar Sungai Progo dengan muara dan hilirnya. Pada 6 > April lalu, proyek ini telah mengadakan kontrak untuk menangani > Sungai Progo bagian hulu dari muara sampai jembatan Srandakan. Proyek > itu rencananya akan membuat perbaikan sejumlah krip (tanggul) yang > diawali sekitar 100 meter di sekitar sungai itu. > > Ia mengatakan, penambang-penambang pasir liar sudah lama sekali > melakukan kegiatan penambangan di tempat itu, bahkan keberadaan > mereka sulit dicegah. "Sewaktu datang ke sana saja, pihak proyek > sudah diancam dengan menggunakan senjata-senjata tajam, seperti > arit," ujarnya. > > Keropos > > Tanggul-tanggul itu tampak keropos, posisinya terlihat menggantung > karena para penambang mengambili pasir-pasir di dekatnya. Dari > pengamatan, penggalian itu dilakukan dengan menggunakan peralatan > berat, bahkan sejumlah penambang tidak segan-segan mengambil pasir > dengan cara menyelam. Akibatnya, posisi tanggul semakin menggantung > hingga sangat riskan jika terjadi banjir bandang. > > Ia mengaku, pihak proyek Sungai Progo sudah membuat patok larangan- > larangan agar pasir-pasir di daerah itu tidak lagi diambili. Namun, > patok-patok tersebut dicabut, entah oleh siapa. > > Sebagian besar para penambang tersebut ternyata bukan berasal dari > daerah Progo, melainkan orang-orang luar. Ketika masyarakat diajak > berdemonstrasi agar para penambang tidak semena-mena menambang di > sungai itu, ternyata kegiatan penambangan hanya berhenti dalam waktu > satu minggu. Sesudah itu, katanya, para penambang yang tidak punya > pekerjaan lagi mendatangi rumah-rumah penduduk untuk meminta beras. > "Akibatnya, masyarakat pun merasa terbebani dan takut kalau tidak > memberi sehingga pada akhirnya penambang itu pun mulai menambang > kembali," katanya. > > Mencermati kondisi yang begitu sulit, Kepala Pusat Penelitian > Lingkungan Hidup (KPPLH) Universitas Islam Indonesia (UII) Dr Ir > Dradjat Suhardjo, yang belakangan ini meneliti dari sudut lingkungan > hidup menyatakan, "Sampai kapan pihak proyek Sungai Progo mau > menangani tanggul-tanggul bobol, sementara dananya bisa digunakan > untuk kebutuhan lain di daerah itu." Kalau memang sudah tidak bisa > diatur, tegasnya, biarkan saja masyarakat belajar sendiri dari > bencana banjir yang cepat atau lambat akan mereka alami. (sto) > > > ***[WalhiNews]*** > > Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED] > Pengelola: Divisi Infokom, Eksekutif Nasional WALHI; Email:[EMAIL PROTECTED]; URL://www.walhi.or.id > > > > Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/ > > --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] TerraNet: Portal Lingkungan Hidup Indonesia: http://www.terranet.or.id
