SIARAN PERS INVESTIGATIF AMBROLNYA TANGGUL SUNGAI MRUWE Berkenaan dengan ambrolnya talud di sungai Mruwe beberapa waktu lalu, kami S T A (KomunitaS MasyarakaT PerkotAan) pada hari Kamis, 19 April 2001 melakukan investigasii terhadap kemungkinan penyebab ambrolnya talud tersebut. Agar tidak terjadi asumsi-asumsi yang hanya akan menyalahkan masyarakat sebagaimana dilangsir oleh KR (Kedaulatan Rakyat) hari Rabu, 18April 2001 dan hari Kamis, 19 April 2001 atas hasil wawancara dengan RM. H Tirun SH -- Kepala BAPEDALDA - dan HM Jaril - Direktur PT Tirta Segara Biru - mengenai penyebab ambrolnya talud di penggalan S. Mruwe. Dari investigasi yang dilakukan bersama WALHI DIY ditemukan; 1. Terjadi piping di sekitar ambrolnya talud. 2. Ketidakmampuan selokan drainase di sisi Ring Road menuju sungai (sisi utara). 3. Amrolnya talud oleh terjangan air, dari luapan darinase pada no. 2, karena tidak mampu men-draine dengan baik air karena terjadi sedimentasi pada saluran. 4. Sedimentasi yang terjadi karena tergerusnya lahan bekas sircuit oleh air hujan ke saluran drainase. 5. Tidak adanya saluran-saluran untuk memecah/mendistribusikan pergerakkan air di areal 15,2 hektar bekas sircuit tersebut. 6. Kurang lebarnya saluran drainase di sepanjang ring road untuk menampung surface rain off dari areal bekas sircuit. 7. Ada kemungkinan pergerakkan air yang diakibatkan tidak tuntasnya pengeprasan bokong semar. (Sama saja seperti pada saat bokong semar belum dikepras, karena yang penting adalah pengeprasan pada bagian pondasi bukan seperti sekarang ini. 8. Terjadi percepatan arus akibat dari no. 7 di atas, yang menggerus pondasi sisi barat --pondasi yang bersinggungan dengan arus sungai - sehingga mempercepat pengikisan pondasi talud. 9. Tidak adanya sumur resapan - untuk buangan air hujan -- yang cukup di perumahan utara bekas sircuit. 10. Sistem drainase dari perumahan di utara sircuit yang kurang baik. 11. Kualitas talud yang buruk. Analisa Dari beberapa indikator-indikator diatas diambil beberapa rekomendasi dan penelusuran dampak sebagai berikut: 1. Kondisi tanah yang poreous (berpori/pasir) di areal bekas sircuit dan sekitarnya, terbuktik alur-alur tanah yang diakibatkan aliran air hujan. 2. Pergerakkan air semakin deras akibat arus air yang terkonsentrasi pada satu saluran. 3. Terlalu luasnya areal yang harus dilayani oleh saluran drainase. Seharus dalam melakukan striping (perataan areal) dilakukan pembagian lahan yang di ratakan. Setiap lahan yang akan diratakan di buatkan saluran drainase, untuk mendistribusikan surface flow pada areal tersebut (mengingat luasnya lahan dan curah hujan yang tinggi saat ini, terkecuali pada musim kemarau). PT Tirta Marta Segara Biru seharusnya memikirkan hal itu sebelumnya. 4. Tidak adanya perencanaan yang baik dalam tahapan pembersihan lahan. Waton ngresiki, ben murah. 5. Kontribusi pergerakan air dari perumahan di utara lahan sircuit juga memberikan kontribusi juga, namun tidaklah cukup besar. Karena telah ada beberapa drainase, namun pengelolaannya kurang baik. 6. Piping pada talud yang ambrol akibat; kondisi tanah yang poreous dan tertahannya air pada sekitar talud tersebut. 7. Pengikisan badan pondasi karena percepatan arus akibat pembelokan air di bokong semar, akibat tidak bersihnya pembongkaran/pengeprasan bokong semar. Jadi pondasi talud bokong semar menjadi semacam krip yang membelokkan air. 8. Ada kemungkinan terjadi talud ambrol di sisi barat sungai yang diakibatkan pembendungan dan pengalihan air oleh bekas talud yang barus saja ambrol. Arus yang terbelokkan kecepatannya bertambah karena muncul krip baru, dan mengikis badan pondasi talud bagian barat. 9. Ada kemungkinan banjir bandang di daerah Tambak Bayan akibat terbendungnya air oleh talud yang ambrol. Rekomendasi-rekomendasi 1. Areal yang dilakukan pembersihan lahan dibuat petak-petak drainase untuk mengurangii volume air limpasan pada areal tersebut. 2. Buat sumur resapan dengan memperhatikan kondisi tanah tersebut, artinya sumur resapan akan sia-sia kalau tidak terencana dengan baik. Karena akan menimbulkan flow net / aliran bawah permukaan air akibat sumuran pada tebing-tebing sungai yang berakibat longsornya tebing. 3. Mensyaratkan dan mengawasi pembuatan sumur-sumur resapan air hujan pada daerah-daerah perumahan. 4. Dihentikan sementara proses pembersihan lahan sebelum dilakukan pembuatan drainase-drainase yang cukup. Mengingat curah hujan tidak dapat ditebak, ada kemungkinan hujan akan terus turun hingga Agustus 2001. 5. Menuntaskan pembongkaran bokong Semar, agar tidak terjadi pembelokan arus dan menjadikannya krip. 6. Membersihkan dengan segera talud yang telah ambrol, agar kemungkinan banjir bandang di Tambak Bayan tidak terjadi. 7. Menanami tebing-tebing sungai dengan bambu apus dan atau bambu ori untuk menjaga kemungkinan longsornya tebing-tebing sungai, serta dijaga kehidupan dari rumpun banbu tersebut. Yogyakarta, 26 April 2001 M. Rudy Sulaksana Koord. Eksekutif ** Siaran Pers ini telah dimuat oleh Radar Yogya tgl, 20 April 2001 _____________________________________________________________ Dapatkan email gratis dari (get your free email from) <a href ="http://www.yogyamail.com">http://www.yogyamail.com</a> --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] TerraNet: Portal Lingkungan Hidup Indonesia: http://www.terranet.or.id
