Daftar berita terlampir:
* Limbah Domestik Jadi Penyebab Banjir
* Jambangan Jadi Proyek Brantas Bersih
* Pendangkalan Saluran, Penyebab Utama Banjir 
* Dilanjutkan, Pelurusan Sungai Citanduy 
* Surabaya Utamakan Drainase 


Kliping tematik lainnya dapat diperoleh di
http://www.terranet.or.id/terramilis.php
http://www.terranet.or.id/berita.php

TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan
http://www.terranet.or.id
================================================================



Limbah Domestik Jadi Penyebab Banjir
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1861
Limbah domestik yang banyak dibuang ke saluran drainase kota menjadi salah satu 
penyebab terjadinya banjir. Pembuangan air limbah domestik memberi dampak yang berat 
pada saluran drainase karena akan menyebabkan endapan.
Dosen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Surabaya (ITS) Ir Gogh Yoedihanto MSc, 
menguraikan hal tersebut dalam Seminar Nasional "Water Front and Water Born City", 
Senin (27/8). Surabaya, sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta, seperti 
dipaparkan Yoedihanto, ternyata belum memiliki pengelolaan limbah domestik terpadu. 
Akibatnya, pada musim kemarau, saluran drainase berubah fungsi untuk pembuangan air 
limbah domestik. 
(Kompas, 2001-08-30)



Jambangan Jadi Proyek Brantas Bersih
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1862
Desa Jambangan, Surabaya, terpilih menjadi desa binaan Proyek Kali Brantas Bersih. 
Pencanangan proyek tersebut akan dilakukan oleh Menteri Lingkungan Hidup Habiel 
Makarim, di Desa Jambangan, Kamis (30/8). Terpilihnya Desa Jambangan, sebagai desa 
binaan, karena hampir seluruh wilayah desa tersebut berbatasan dengan bantaran Sungai 
Brantas, atau Kali Surabaya.
"Proyek ini masih tahap awal dan disponsori oleh PT Unilever. Tidak tertutup 
kemungkinan desa lainnya di Kelurahan Jambangan, akan menjadi desa binaan PT Unilever 
juga," kata Gunarto, Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemerintah Provinsi Jatim, di 
Surabaya, Rabu (29/8).
(Kompas, 2001-08-30)



Pendangkalan Saluran, Penyebab Utama Banjir 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1863
Banjir di Surabaya makin parah akibat hampir 80 persen saluran air mengalami 
pendangkalan. Maka, untuk mengatasi banjir setiap tahunnya butuh dana sebesar Rp 130 
milyar, selama sepuluh tahun berjalan. Selain dana, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya 
juga berupaya melibatkan masyarakat untuk mengatasi banjir.Pengamatan di lapangan, 
saluran Wonorejo saat ini tidak bisa difungsikan, karena selain pendangkalan, 
sepanjang saluran juga penuh sampah dan enceng gondok. Padahal, saluran ini satu dari 
tiga saluran menuju laut bebas untuk meng-cover genangan air di kawasan Surabaya 
Timur. 
Pendangkalan bukan hanya terjadi di saluran, tetapi juga di sungai. Pendangkalan bukan 
saja di Kalimas, Kedungcowek, Margomulyo, Jatipurwo, Pakis, Banyuurip, Petemon, dan 
Asemrowo, tetapi terpantau pula pada sungai-sungai kecil yang melintas di berbagai 
wilayah, antara lain, sungai yang melintas di kawasan Kalikepiting, Mulyorejo, 
Sutorejo hingga Kalisari. Sungai kecil lain yang mengalami pendangkalan terdapat pula 
di kawasan Menurpumpungan, malahan kondisi sungai di kawasan ini selain kian 
menyempit, sebagian tanggulnya pun jebol dan rusak berat.
(Kompas, 2001-08-30)



Dilanjutkan, Pelurusan Sungai Citanduy 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1866
Setelah tertunda sekitar dua tahun, rencana penyudetan (pelurusan) Sungai Citanduy, di 
Ciamis, Jawa Barat sebagai upaya penyelamatan Laguna Segara Anakan (SA) di Kabupaten 
Cilacap, Jawa Tengah akhirnya akan dilanjutkan. Masyarakat Ciamis yang akan terkena 
proyek ini setuju dengan rencana ini, sementara Bank Pembangunan Asia (ADB) akan 
segera mengucurkan sebagian dana bantuan yang dijanjikan.
Dengan pelurusan alur Citanduy sepanjang 2,5 kilometer, sungai terbesar di Jawa Barat 
yang sebelumnya bermuara di perairan Segara Anakan akan dialihkan ke laut lepas di 
wilayah Nusawere sekitar 3,5 kilometer dari muara yang sekarang. Dengan dilanjutkannya 
rencana penyudetan Citanduy tersebut, perairan SA di Kecamatan Kawunganten yang 
sebelumnya dikhawatirkan hilang dari peta Kabupaten Cilacap akibat sedimentasi 
Citanduy dan beberapa sungai yang bermuara di Laguna SA, akan terselamatkan.
(Kompas, 2001-08-30)



Surabaya Utamakan Drainase 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1864
Penataan kota Surabaya lebih mengutamakan konsep Surabaya Drainage Master Plan (SDMP) 
dibanding konsep Water Front City atau Kota di Atas Air (KDA) sebagaimana yang 
diramaikan dalam seminar di Universitas Airlangga belum lama ini. 

Konsep SDMP lebih bertumpu pada pembenahan sistem drainase di beberapa sektor kota 
yang memprioritaskan penanggulangan banjir. Untuk kota-kota yang sudah memiliki sistem 
pengalihan aliran air hujan hingga ke laut, bisa ditindaklanjuti dengan membangun KDA. 

(Republika, 2001-08-29)




---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
TerraNet: Portal Lingkungan Hidup Indonesia: http://www.terranet.or.id


Kirim email ke