Daftar berita terlampir: * Banjir dan Kerusakan DAS Ciliwung * Benang Kusut dari Gunung Mas * Menneg LH Nabiel Makarim: Jakarta Memang Kota Banjir * Mata Air Sungai Brantas Terendam Lumpur * Kondisi Sungai Musi Kritis * Pantai Indah Kapuk Penyebab Banjir ? * Empat Waduk di DKI Jakarta Hilang
Kliping tematik lainnya dapat diperoleh di http://www.terranet.or.id/terramilis.php http://www.terranet.or.id/berita.php TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan http://www.terranet.or.id ================================================================ Banjir dan Kerusakan DAS Ciliwung http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3207 BANJIR hebat yang merendam 168 kelurahan di 42 kecamatan wilayah Jakarta, bukanlah peristiwa yang tiba-tiba. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) jauh-jauh hari sebelumnya sudah memperingatkan, curah hujan di sekitar Ibu Kota serta kawasan Bogor, Puncak, dan Cianjur sekitar Januari-Februari akan sangat tinggi, bahkan di atas normal. Meski demikian, peringatan dini ini dianggap angin lalu. Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso tak pernah memperingatkan warganya secara serius untuk bersiap-siap menghadapi banjir besar. Apalagi mempersiapkan tempat evakuasi warga dan perahu karet untuk evakuasi warga jika terjadi banjir. (Kompas, 2002-02-11) Benang Kusut dari Gunung Mas http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3209 KEBANYAKAN orang hanya melihat areal perkebunan tanaman teh yang menghijau di Dataran Tinggi Puncak sebagai tempat rekreasi. Mereka bisa melakukan tea walk, menyusuri jalan setapak bersama keluarga atau sahabat seraya menikmati udara segar pegunungan. Puncak memang indah. Dengan ciri khas hamparan tanaman teh di Perkebunan Gunung Mas, Puncak selama ini jadi daya tarik yang luar biasa sebagai tempat rekreasi dan peristirahatan. Udaranya sejuk dan segar dan pemandangannya menawan. Namun, siapa sangka dibalik keindahan alam yang menawan itu, kawasan tersebut sekaligus bernasib rawan mengingat fungsinya sebagai pelestari sumber air (hidroorologi) di bagian hulu daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung. Salah satunya adalah perkebunan teh Gunung Mas. (Kompas, 2002-02-11) Menneg LH Nabiel Makarim: Jakarta Memang Kota Banjir http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3211 Menteri Negara Lingkungan Hidup (Menneg LH) Nabiel Makarim mengatakan, Jakarta memang kota banjir. Dari sejarahnya saja, Jakarta memang tidak bisa mengelak jika dikepung air sungai.Nabiel mengungkapkan hal itu kepada pers di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (9/2), usai menutup Seminar Nasional bertajuk "Pelaksanaan Otonomi Daerah di Tengah Krisis Ekonomi Global". Ia dimintai penjelasannya tentang kebijakan pemerintah menangani tata lingkungan pencegah banjir, khususnya di Jakarta. Nabiel menjelaskan, sebelum Pelabuhan Sunda Kelapa (Jakarta) menjadi besar, Belanda memperbesar fungsi Pelabuhan Banten. Pelabuhan Banten dipindahkan ke Jakarta karena muncul masalah lingkungan. Dari sejarahnya saat itu, permintaan bumbu dapur, seperti daun sereh, bagi Eropa sangat besar. (Kompas, 2002-02-11) Mata Air Sungai Brantas Terendam Lumpur http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3214 Daerah perbukitan di lereng Gunung Arjuno di sekitar kawasan mata air Sungai Brantas makin gundul dan bahkan digunakan petani untuk menanam sayuran dataran tinggi. Akibatnya, ketika turun hujan terjadi erosi tanah pada bukit tersebut, dan kawasan mata air Sungai Brantas terendam lumpur hingga 0,25 meter. "Bukit di lereng Gunung Arjuno kini makin gundul, sehingga ketika turun hujan, banyak lumpur yang mengalir ke kawasan mata air Sungai Brantas. Ketinggian lumpur yang menutup jalan di kawasan mata air Sungai Brantas mencapai 25 sentimeter," kata Kepala Sub-Divisi Air dan Sumber Air (ASA) Perum Jasa Tirta I Musono, kepada Kompas, Sabtu (9/2), di Batu. (Kompas, 2002-02-11) Kondisi Sungai Musi Kritis http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3239 Sedimentasi (pendangkalan) alur Sungai Musi di Sumatera Selatan sudah kian kritis. Pada 11 titik yang diteliti PT Pelindo, pendangkalan itu sudah mengancam keselamatan pelayaran kapal-kapal besar ke luar masuk Pelabuhan Boom Baru Palembang. Menurut Asisten II Pemprov Sumsel Amiruddin Inoed, 11 titik yang mengalami pendangkalan itu antara lain di C1, C2, Payung Utara, Payung Selatan, Penyeberangan Upang, Muara Jaran, dan Sungai Lais. Sedimentasi di titik-titik tersebut, bahkan sudah mencapai 5,5 meter LWS (low water spring). (Sinar Harapan, 2002-02-11) Pantai Indah Kapuk Penyebab Banjir ? http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3215 JAKARTA boleh banjir besar, namun kawasan perumahan Pantai Indah Kapuk aman dari musibah yang telah menyebabkan puluhan nyawa melayang itu. Kini, keberadaan kawasan perumahan yang berada di Teluk Jakarta itu ditunding sebagai penyebab banjir di Jakarta. Ketua Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jakarta Achmad Safrudin, kepada Media, Kamis (7/2) menyebutkan bahwa keberadaan perumahan Pantai Indah Kapuk (PIK) telah melanggar Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah No 5 Tahun 1984 tentang RUTR DKI Jakarta dari 1984-2005. Sebelum RUTR itu dibuat sekitar 1980, pihak pemda telah menginstruksikan Kepala Dinas Kehutanan Pemda DKI Jakarta untuk melakukan penelitian soal areal tanah PIK itu. (Media Indonesia, 2002-02-10) Empat Waduk di DKI Jakarta Hilang http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3224 Seiring dengan pesatnya pembangunan Kota Jakarta yang ditandai dengan bertambahnya kawasan permukiman penduduk, industri, dan pusat perekonomian, empat rawa dan satu waduk rawa di DKI Jakarta menghilang. Keempat waduk atau rawa itu ialah Rawa Ulujami, Rawa Kendal, Rawa Rorotan, dan Rawa Penggilingan. Sementara dua situ, yakni Situ Babagan dan Situ Mangga Bolong, mulai menyusut. Dari Bogor dilaporkan, dari 93 situ (danau kecil) yang ada di Kabupaten Bogor, 56 di antaranya atau sekitar 60,2 persen dalam kondisi rusak ringan dan rusak berat. Kerusakan ini membuat kemampuan situ dalam menampung air berkurang hingga sekitar 60 persen. Sampai saat ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor belum melakukan langkah berarti untuk memperbaiki situ-situ tersebut. (Kompas, 2002-02-09) --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] TerraNet: Portal Lingkungan Hidup Indonesia: http://www.terranet.or.id
