Tentang Fatwa Rokok Haram Bisnis Indonesia, Jumat, 20 Februari 2009
MUI telah mengeluarkan fatwa baru. Salah satunya adalah fatwa bahwa rokok itu haram. Namun, dilihat dari sisi mana? Saya perempuan mantan perokok berat yang merokok selama hampir 17 tahun ingin sedikit berkomentar mengenai fatwa tersebut. Jujur, saya orang awam yang tidak paham permasalahan akidah agama (halal/haram). Namun, saya hendak sharing pengalaman dan urun rembuk seputar rokok ini. Rokok bagi masyarakat sebenarnya bukan barang langka. Pada zaman sekarang banyak perempuan merokok. Itu hal biasa. Bahkan tren menganggap perempuan tanpa rokok itu kurang gaul. Namun, memang tidak semua pihak berpendapat demikian. Mereka merokok lebih cenderung untuk sosialisasi, sehingga bisa mendapat banyak teman. Tak hanya di kalangan remaja, orang tua banyak juga yang merokok. Bagi kaum Adam, merokok sudah menjadi kebutuhan, seperti halnya makan dan minum. Dan, kebutuhan rokok di sini ibarat candu, identik dengan kecanduan minum kopi dan lain sebagainya. Akan tetapi pada hemat saya, yang namanya kecanduan terhadap apa pun tidaklah baik. Semua orang sepakat bahwa merokok itu buruk bagi kesehatan. Sudah pasti mengeluarkan uang (boros), dan malah menyebabkan penyakit pula. Sehingga pabrik rokok pun selalu menulis di setiap bungkus, 'Merokok dapat menyebabkan kanker, impotensi, gangguan kehamilan dan janin." Pokok permasalahannya ialah tidak semua perokok bisa menerima fatwa haram dari MUI. Kenapa tiba-tiba rokok diharamkan? Walau memang lebih banyak ruginya daipada untungnya, tetapi karena fatwa itu mendadak justru membuat masyarakat merasa gusar dan bertanya-tanya, "Ada udang di balik batukah?" Seyogianya, pembatasan rokok dilakukan secara bertahap. Yakni dengan memberikan masukan informasi sebanyak mungkin mengenai bahaya rokok itu sendiri. Sehingga masyarakat menjadi lebih sadar. Orang akan dengan sendirinya meninggalkan rokok karena memang minim manfaatnya. Misal dengan menambahkan gambar yang nasty, seperti gambar tenggorokan memerah, memar dan bengkak. Saya menyaksikan hal itu saat membeli rokok di luar negeri. Itu membuat saya merasa was-was untuk menghisap rokok banyak-banyak. Pola semacam ini bisa diterapkan pula di Indonesia. Tina M Yogyakarta Sumber: BISNIS INDONESIA URL: http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/1id104451.html Mencari semua teman di Yahoo! Messenger? Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/
