Rindukan Sosok Negarawan
Suara Pembaruan, Rabu, 6 Mei 2009

Menjelang Pilpres 2009, ingar-bingar situasi politik semakin memanas, tingkah 
laku para politikus semakin kentara, siapa yang sekadar politisi dan siapa yang 
berjiwa negawaran. 

Rakyat bisa menilai sifat dan maksud dan tujuan para politisi yang hanya 
mengejar kekuasaan semata, sedangkan negarawan tujuan utamanya untuk 
kepentingan bangsa dan negara, serta kemakmuran rakyat. 

Rakyat sudah bisa menilai siapa tokoh yang pantas menjadi pemimpin nasional 
mendatang. Rakyat berharap pada pilpres mendatang muncul politisi berjiwa 
negarawan di Indonesia.

Mencermati panggung politik nasional yang dipertontonkan petinggi partai 
politik saat ini kian tereduksi menjadi sekadar perebutan kekuasaan. Perolehan 
suara dalam pemilu legislatif dan pemilu presiden jadi kepentingan tertinggi. 

Visi dan kepentingan jangka pendek, serta sikap pragmatis untuk meraih 
kekuasaan, itu menandai politisi kita masih belum berjiwa negarawan.

Sebaliknya, negarawan menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas 
kepentingan pribadi dan golongan. Moralitas tinggi yang dipunyai politisi 
berjiwa negarawan akan membuat dirinya tetap terhormat, baik saat menang maupun 
kalah dalam pemilu legislatif atau pemilu presiden (pilpres).

Mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Ma'arif mengatakan, 
sekarang ini elite politik menunjukkan kepentingan tertinggi adalah pemilu dan 
pilpres. 

Seharusnya politisi belajar menjadi negarawan. Politik yang bermartabat dan 
bermoral, bukanlah ajang rebutan dan permainan kekuasaan, tetapi selalu 
mengarah pada kepentingan yang lebih besar daripada kepentingan golongan, yakni 
kepentingan bangsa. Negeri ini bukan sedang dalam kondisi serba baik. Korupsi, 
krisis ekonomi global, bahkan ancaman disintegrasi masih menjadi tantangan 
serius.

Peradaban politik bangsa ini masih berada pada tingkat rendah. Hal itu antara 
lain terlihat dari tingkah pemimpin politik yang mempertahankan sikap feodal 
dan larut dalam pragmatisme. Mereka tak sungkan mendorong lahirnya generasi 
politisi "penyusu". 

Generasi penyusu ini menumpang popularitas orangtua atau keluarga dekat untuk 
mendapat posisi politik meskipun mereka belum memiliki apa pun untuk ditawarkan 
kepada bangsa dan negara. Jadilah anak pejabat negara dan petinggi parpol 
terpilih meski pernyataan politik sekalipun belum ia sampaikan, bahkan di atas 
panggung kampanye.

Kita berharap pada pilpres 2009, tumbuh para negarawan baru yang bisa menerima 
kekalahan dan kemenangan dengan lapang dada, tidak ada dendam dan permusuhan. 

Pribadi Santosa
Taman Pagelaran, Padasuka, Ciomas, Bogor 1661


Sumber: SUARA PEMBARUAN
URL: http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=7868




      Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk 
Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka 
browser. Dapatkan IE8 di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer


------------------------------------

http://www.SuratPembaca.net
Komunitas Surat Pembaca IndonesiaYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/surat-pembaca/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/surat-pembaca/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke