Wa'alaykum salam wr.wb

aku setuju dengan pendapat pak zulfadhli
kita tidak perlu memasung intelegensi dan kreatifitas sesorang dalam
berdiskusi, karena tidak semuanya arugementasi "perlu" melampirkan
dalil, karena biasanya, hasil keputusan akal yg baik tidak akan
bertentangan dengan wahyu. hmm..karena biasanya wahyu selalu
beriringan dengan hasil kerja akal yg baik, dan akal harusnya
(fitrahnya) tidak menentang wahyu. walau ada saat2 tertentu wahyu
lazimnya selalu berada diposisi membelakangi akal, dan sringkali
beriringan dengan akal. dan tidak boleh berada dibelakang akal.
nah..disinilah kita harus jeli, selama argumentasi tanpa dalil itu
kita ketahui tidak bertentangan dengan wahyu, dan masih bisa diterima
oleh akal yg baik, maka kenapa kita harus menolaknya dengan alasan
mana dalil?kecuali jika memaksakan argumentasi berdasarkan
pemahamannya sendiri yg sudah masuk dalam wilayah akidah, maka dalil
itu menjadi perlu sekali dan satu keharusan.

hanya saja memang..untuk hal2 yg sifatnya provokasi pada perpecahan
umat yg sama2 ingin mencari kebenaran, moderator berhak untuk mendelete.

tidak perlulah menganggap pemahamannya paling benar dari kelompok
lain, karena bila pijakannya atas nama kelompok maka hasilnya akan
relative, namun bila argumentasi itu tidak bertentangan dengan wahyu
dan tidak sedang mengatasnamakan ajaran Rasulullah (tidak lakukan
bid'ah), hanya beda pemahaman aja, nda perlulah mencari2 pembenaran
dan kesalahan yg memang tidak lakukan kesalahan hanya berupa
khilafiyah saja.

contoh :
spt kita ketahui, penisbatan diri atas nama salafi dan aku rasa banyak
 mengerti dan tahu, kalau ajaran mereka tidak ada yg menyalahi sunnah
Rasul dan mereka yg aku tahu berusaha konsekuen dan menjaga ajaran
Rasul dari kemurniannya, lalu apakah itu salah??apakah kita harus muak
dan mengatakan sok suci pada orang2 tsb?ataukah kita mau katakan
orang2 yg menisbatkan nama tsb sebagai kelompok yg paling benar?

harusnya tidak begitu cara pikir kita? biarkan mereka dengan
keyakinannya dan pemahamannya, selama mereka tidak sedang mengkudeta
ajaran islam dan tidak sedang membuat sunnah2 baru, maka tidak
perlulah mencari2 kesalahan mereka dan meminta mereka untuk sepaham
dgn kita. 

ATaupun..yg aku tahu..ajaran salafy, tidak pernah juga memaksakan
orang lain untuk sepaham dgn ajarannya koq?bagi mereka silahkan ini
sudah disampaikan, mau ikut or nda itu bukan urusan. dan andaikan ada
orang mengatasnamakan ajaran salaf, namun bersikap memaksa dan marah
pada saat tidak mengikutinya, maka aku curiga itu hanya ngaku2 aja.
padahal yg aku tahu..prinsip mereka adalah dakwah dengan ilmu dan
bukan dengan nafsu.

Namun..kalau orang mampu mematahkan argumentasi orang lain, lalu orang
tsb dianggap maksa, itu juga jadi aneh bagiku. Karena orang diskusi
itu tidak sedang maksa dan meminta orang lain untuk mengikuti
pendapatnya, dan andai dia tidak punya bahan untuk mematahkan kembali
argumentasi orang lain, ya..nda perlulah berdalih dan merasa dipaksa:) 

kalau kata guruku "mereka aja yg bodoh, tidak bisa mematahkan
argumentasi, lalu berdalih maksa"

benar juga sich..kita yg tidak mampu mematahkan argumentasi orang lalu
berdalih maksa, itu hanya sikap seorang anak yg sedang merajuk untuk
dibenarkan pendapatnya:)

sudah ah..aku lagi pingin lewat aja nich..
prinsipnya aku stuju dgn pendapat pak zulfadhli ini. yg benar dari
Allah yg salah dariku

salam
hana
 

--- In [email protected], "Zulfadhli," <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Assalamu 'alaikum w.w.,
> 
>  
> 
> Saya setuju seleksi email dilakukan jk mengacu pd parameter yg
jelas, sbg parameter misalnya dibuat suatu aturan komunikasi baku yg
wajib diikuti oleh seluruh anggota, sehingga email² berupa; iklan
komersil (bkn utk tujuan dakwah), email² yg berisi umpatan/ makian/
hinaan/ arogansi, serta spam & junk email dicekal agar tidak masuk ke
mailis.
> 
> Tapi saya kurang setuju jk seleksi email dilakukan berdasarkan ada
atau tidaknya dalil yg jelas dalam suatu email yg dikirim oleh anggota
krn penilaiannya sangat bias dan pasti akan bersifat subyektif, kalo
mau diterapkan jg sebaiknya dibentuk tim penilai yg independen. Spt
email saya ini kan gak ada dalil yg mendukungnya, apakah saya perlu jg
mencantumkan nash² syar'i utk email sederhana spt ini?
> 
>  
> 
> Saya pikir lebih baik mengendalikan tingkah laku seseorang drpd
<s>membunuh</s> memasung intelegensi & kreatifitas, bukankah bergabung
dgn masyarakat termasuk masyarakat mailis adlh sarana utk pendidikan
komunikasi jg? Saya jg sama spt rekan² yg mengaku msh baru belajar
tentang Islam, saya bergabung dgn mailis ini jg utk belajar ttg Islam.
Lagi pula siapa sih yg berani mengaku sudah cukup belajar tentang
Islam? Tapi belajar tentang Islam kan gak cukup dgn membaca
materi-materi yg sudah tersusun rapi dlm bentuk tulisan sj. Belajar
tentang Islam jg perlu membaca & mendengar pendapat org lain dlm
sebuah diskusi yg sehat yg bertujuan mencari kebenaran dan bukan utk
tujuan mencari kemenangan. Selain itu belajar tentang Islam jg perlu
belajar lapang dada menerima pendapat org lain yg ternyata dasarnya
lebih kuat dibanding pendapat kita atau guru kita, terlepas apakah
kita mau mengikuti pendapat tsb atau tetap bertahan dgn pendapat sendiri.
> 
>  
> 
> Persoalan bhwa ada 1-2 org member mailis yg mengeluh krn mailbox mrk
penuh akibat byknya email yg masuk tentunya tidak relevan dijadikan
sbg landasan utk membatasi email yg masuk. Mail groups Yahoo sudah
menyediakan fasilitas yg sesuai bg mrk yg tdk ingin menerima semua
email (individual emails) dr grup mailis yg diikuti yaitu cukup
menerima 1 email sj perhari yg memuat semua email yg masuk pd hari itu
(daily digest) atau bs jg memilih "no email" yaitu tdk menerima email
sama sekali tp  punya akses membaca semua email yg masuk ke grup dgn
login ke situs grup tsb. Jadi bagi anggota yg memiliki akses internet
dan ingin membatasi jumlah email yg masuk silahkan memilih setting
daily digest atau no email tsb atau meminta bantuan moderator utk
mengubah setting penerimaan emailnya.
> 
> Lagi pula setiap anggota seharusnya dpt melakukan sendiri seleksi
email tanpa harus membebankan tugas itu pd moderator. Bukankah tidak
terlalu sulit menghapus email² yg masuk ke mailbox kita berdasarkan
subyek email yg tampil di daftar email. Jika diyakini subyeknya tdk
menarik atau tdk akan menambah wawasan, cukup di-klik atau di-sort dr
atas sampai bawah email² tsb, terus di delete sj. Tidak baik terlalu
manja pd moderator meskipun saya yakin P'Nizami tipe org yg suka
membantu & memudahkan kesulitan org lain.
> 
>  
> 
> Jadi solusi yg lebih tepat dibanding pembatasan/ seleksi email (yg
pasti akan menguras energi & waktu bapak moderator dan menggerus
intelegensi & kreatifitas anggota mailis) adalah masing² anggota
memperbaiki metode penyampaian materi & hujjah, sdgkan moderator
bertugas mengawal tingkah laku anggota berdasarkan rule atau aturan
komunikasi yg dibuat sedemikian rupa mengacu ke visi & misi mailis.
Bagi anggota yg melanggar aturan main yg telah dibuat dpt dikenakan
sangsi administratif yg toolsnya jg sdh disediakan oleh Yahoogroups,
tentunya setelah sblmnya diberi peringatan. 
> 
>  
> 
> Mohon maaf jika ada hal yg tidak berkenan
> 
>  
> 
> Salam,
> 
> Zulfadhli
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
> ________________________________
> 
> From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Thursday, May 10, 2007 5:01 PM
> To: A Nizami
> Cc: [email protected]
> Subject: Re: [syiar-islam] Keluar dari Milis dan Pembatasan Jumlah Email
> 
>  
> 
> Wa'alaikumsalam Aa Nizami,
> 
> Saya setuju dengan adanya pembatasan jumlah email per hari per member.
> Agar yang baru belajar tidak dibuat pusing dan bingung dengan email yang
> panjang dan cenderung ( maaf ) mengajak berdebat.
> 
> Saya ( terus terang ) dalam inbox tidak pernah penuh, karena saya
selektif 
> memilih
> untuk dibaca dan seterusnya untuk difile/simpan sebagai bahan kajian.
> 
> Kalau tidak berkenan dan cenderung berhujah tanpa dasar Al-Quran dan 
> As-Sunnah
> yang jelas dan kuat, langsung saya delete saat itu juga.
> 
> Yang enak adalah isinya singkat, padat, dasarnya Al-Quran dan
As-Sunnah, 
> tidak
> menghujat golongan dan bisa mendorong kemantapan Iman dan Islam,
> 
> Salam,
> 
> I w a n Rauf
> 
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke