Mencegah Stress pada Istri
Nisa' May 3rd, 2007 

Apa Itu Stres

Stress merupakan reaksi tubuh pada diri seseorang akibat berbagai persoalan 
yang dihadapi. Gejala-gejalanya mencakup mental, sosial dan fisik; bisa berupa 
kelelahan, kemurungan, kelesuan, kehilangan atau meningkatnya nafsu makan, 
sakit kepala, sering menangis, sulit tidur atau malah tidur berlebihan. 
Perasaan was-was dan  frustrasi juga bisa muncul bersamaan dengan stress.


Menurut penelitian Baker dkk (1987), stress pada diri seseorang akan mengubah 
cara kerja sistem kekebalan tubuh. Para peneliti ini juga menyimpulkan bahwa 
stress bisa menurunkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit berupa 
menurunnya jumlah fighting desease cells. Akibatnya, orang tersebut mudah 
terserang penyakit, dan sulit sembuh karena tubuh tidak banyak memproduksi 
sel-sel kekebalan tubuh, atau sel-sel antibodi banyak yang kalah. Stress yang 
sudah berjalan sangat lama akan membuat letih health promoting response dan 
akhirnya melemahkan penyediaan hormon adrenalin dan daya tahan tubuh. Banyak 
penelitian yang menemukan adanya kaitan sebab-akibat antara stress dengan 
penyakit seperti jantung, gangguan pencernaan, darah tinggi, maag, alergi, dan 
beberapa penyakit lainnya. Oleh karenanya, perlu kesadaran penuh setiap orang 
untuk mempertahankan tidak hanya kesehatan dan keseimbangan fisik saja, tetapi 
juga psikisnya agar tidak mudah dihinggapi stess.  


Mengenali Sumber Stress 

Penyebab stress kadangkala mudah untuk dideteksi, tetapi seringkali sulit untuk 
diketahui. Ada yang mudah untuk dihilangkan, ada yang sulit atau bahkan tidak 
bisa dihindari. Tiga sumber utama stess adalah faktor lingkungan, fisik dan 
pikiran. Khusus tentang stress yang menimpa para istri biasanya menyangkut 
persoalan ekonomi, kesehatan, anak, keluarga besar (orangtua, mertua, ipar dan 
lain-lain), lingkungan kerja dan tempat tinggal, suami, dan masalah pergaulan 
(tetangga, teman dan sebagainya).

Harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik, misalnya, sementara 
penghasilan suami yang tidak mengalami perubahan, membuat para istri bingung 
bagaimana mengatur keuangan rumah tangga. Belum genap satu bulan uang belanja 
yang diberikan suami sudah tidak cukup lagi untuk menutupi kebutuhan 
sehari-hari sampai akhir bulan. Padahal bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan 
pokok saja, tetapi uang juga diperlukan untuk biaya pendidikan dan kesehatan 
anak-anak. Relasi sosial yang sehat hanya dapat terbentuk jika kebutuhan dasar 
masyarakat mulai dari sandang, pangan dan papan serta kesehatan, pendidikan 
dasar terpenuhi, serta tersedianya ruang publik yang memungkinkan orang 
berinteraksi secara normal. Tidak terpenuhinya semua kebutuhan dasar 
menyebabkan orang mudah frustasi dan putus harapan karena merasa tidak memiliki 
masa depan. Seseorang cenderung  kecil hati dan cepat menyerah menghadapi 
realitas hidup yang dirasakan makin berat itu. 

Menurunnya kesehatan selaras dengan bertambahnya usia juga bisa menjadi sumber 
stress pada diri para istri. Konsumsi makanan yang kurang gizi, kurang tidur 
dan olah raga juga akan mempengaruhi respons terhadap stress. Anak juga dapat 
menjadi penyebab potensial munculnya stress istri. Mendidik anak pada masa 
sekarang ini memang tidak mudah. Repot dan capek adalah dua hal ini yang sering 
terucap pada para istri ketika sudah merasa jenuh dengan anak-anak. Apalagi 
jika anak sudah mulai cenderung bertindak semaunya, susah tidur dan tidak mau 
makan, mengacak-acak apa saja yang ada di rumah. Rumah sudah ditata rapi akan 
kembali bagaikan kapal pecah. Apalagi jika anak-anak berantem satu sama lain 
hanya karena persoalan sepele. 

Kehadiran mertua, campur tangan nenek ketika mengarahkan anak-anak dan 
menyelesaikan persoalan rumah tangga, ipar yang tinggal bersama juga bisa 
memicu stress istri. Privasi menjadi tidak terjaga dan kebebasan untuk 
melakukan segala hal di rumah sesuai dengan keinginannya menjadi tidak 
terpenuhi. Jangan salah, suami yang seharusnya menjadi orang terdekat istri 
bisa juga justru menjadi sumber stress utama. Komunikasi yang tidak berjalan 
baik, suami yang tidak makruf memperlakukan istri serta tidak mau mengerti dan 
sebagainya ditambah ketidakmampuan istri untuk mengungkapkan keinginan atau 
pendapat akan menjadi bom waktu yang siap meledak setiap saat.

Lingkungan (masyarakat) juga dapat menjadi penyebab timbulnya stress. 
Masyarakat yang berpaham materialis cenderung individualis. Kepekaan terhadapan 
lingkungan sosialnya sangat rendah. Orang akan bersaing untuk bisa unggul dari 
dari segi materi tanpa peduli dengan kepentingan orang lain. Hubungan 
interpersonal semakin fungsional dan cenderung mengabaikan nilai-nilai 
kemanusiaan seperti keramahan, perhatian, toleransi dan tenggang rasa. 
Akibatnya, tekanan isolasi dan keterasingan kian kuat; orang makin mudah 
kesepian di tengah keramaian. Ini yang disebut lonely crowded, gejala mencolok 
dari masyarakat materialis di mana-mana.  


Mengatasi Stress 

1.     Bantu mengatasi masalah. 

Satu hal penting dalam mengatasi masalah adalah fokus di dalam penyelesaian 
masalah. Bantulah istri jika tidak mampu mencari inti masalahnya. Mungkin bisa 
diawali dengan melakukan analisis kecil dari setiap kejadian yang bisa 
mengakibatkan stress. Bagaimana mungkin penyelesaian masalah akan didapat kalau 
masalahnya sendiri tidak dimengerti. Luangkan waktu khusus bersama istri untuk 
membicarakan banyak hal yang sekiranya bisa menimbulkan stress seperti soal 
anak-anak, keuangan, kehadiran anggota keluarga lain di rumah, keterbatasan dan 
kesibukan suami dan lain-lain.


2.    Hindari perkara yang akan  menimbulkan masalah. 

Jika sudah tahu bahwa ada aktivitas yang akan meninbulkan masalah baru maka 
sebaiknya jangan dilakukan. Misalnya, untuk memenuhi kebutuhan hidup karena 
kesulitan ekonomi dengan berutang. Berutang memang salah satu jalan untuk 
mendapatkan uang dengan mudah. Sejenak masalah mungkin terselesaikan. Namun, 
sesudah itu, akan timbul masalah baru, bagaimana membayarnya. 


3.   Jauhkan diri dari situasi-situasi yang menekan.

Beri kesempatan istri untuk beristirahat walau hanya beberapa saat setiap hari. 
Tubuh yang terlalu lelah sangat mudah sekali untuk mengalami stress. Sesekali 
berikan kebebasan kepada istri untuk melakukan sesuatu sesuai dengan yang 
diinginkan. Pekerjaan rumah dan anak-anak sementara bisa ditangani suami dengan 
mengajak orang-orang terdekat yang bisa diminta bantuannya. 


4.   Cari teman untuk berbagi. 

Teman merupakan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup. Bayangkan jika banyak 
sekali masalah yang dihadapi, tetapi tidak ada teman curhat yang dapat 
dipercaya. Ibarat gelas, jika diisi air terus menerus, akan tumpah meluber 
kemana-mana. Pastikan bahwa teman yang dipilih benar-benar yang bisa membantu, 
bukan yang justru akan menambah masalah baru. Suami tentu saja diharapkan dapat 
menjadi teman (sahabat) terbaik bagi istri untuk menumpahkan segala masalahnya. 
Jadilah suami yang menjadikan istri menemukan rasa aman dan merasa terlindungi. 
Jadilah suami yang sabar menjadi pendengar keluh kesah istri. Dengan begitu, 
istri tidak perlu lagi mencari orang lain sebagai tempat berkeluh kesah. Insya 
Allah, curhat dengan suami menjadikan rahasia lebih terjaga.


5.   Lakukan relaksasi.

Intinya, istirahat menenangkan pikiran dan tubuh. Banyak aktivitas yang bisa 
dilakukan selama proses relaksasi, misalnya membaca buku-buku ringan, 
mendengarkan musik atau pijat. Pijat merupakan salah satu relaksasi untuk 
melepaskan diri dari stress. Pijatan tidak hanya ampuh untuk menenangkan 
pikiran dan jiwa setelah seharian beraktivitas, tetapi juga dapat membantu 
meregangkan otot-otot yang penat dan menstimulasi peredaran darah. Tidak harus 
dilakukan di SPA dengan aroma terapinya yang cukup mahal. Pijatan lembut dari 
suami tercinta akan membuat lebih rileks, tidur lebih pulas, dan bangun kembali 
dengan badan yang lebih segar.


6.   Sempatkan melakukan olah raga. 

Olah raga sangat efektif untuk membantu mengatasi stress, karena berolah raga 
akan memperlancar peredaran darah dan membuka jantung untuk menerima lebih 
banyak oksigen. Olah raga juga akan membantu supaya bisa tidur lebih nyenyak 
pada malam hari. Energi yang dilepaskan pada saat berolah raga juga akan 
menstimulasi tubuh  untuk memproduksi lebih banyak endorphins yang merupakan 
hormon yang membuat kita merasa bahagia. Latihan pernafasan juga terbukti 
efektif dalam mengendalikan stress. 


7.   Berpikir positif.

Potensi stress utama juga datang dari pikiran yang terus-menerus 
menginterpretasikan isyarat-isyarat dari lingkungan secara negatif. Bagaimana 
seseorang menginterpretasi berbagai peristiwa yang terjadi menentukan apakah ia 
akan mengalami  stress atau tidak. Hal ini sangat dipengaruhi oleh cara 
berpikir seseorang dari yang bersifat sederhana sampai yang filosifis 
menyangkut pandangan hidup. Contoh sederhana, di depan ada gelas berisi air 
setengah, bagaimana seseorang melihatnya? Setengah penuh atau setengah kosong? 
Pikiran- pikiran yang menyebabkan stress sering bersifat negatif, penuh 
kegagalan,  hitam-putih, terlalu digeneralisasi, tidak berdasarkan fakta yang 
cukup, dan terlalu dianggap pribadi. Dalam hidup ini, memang ada berbagai 
masalah.  Pendeknya, ada seribu alasan untuk menjadi cemas kalau kita 
memikirkan masa depan. Namun, ada seribu alasan juga untuk memandangnya dengan 
rasa optimis. Jika pikiran negatif dan positif sama-sama bisa terjadi bisa juga 
tidak, mengapa kita tidak memilih berpikir positif? Dengan berpikir positif, 
jiwa akan menjadi lebih tenang. 


8.   Berprasangka baik.

Tidak sedikit persoalan muncul sebetulnya karena buruk sangka (su’uzhann) yang 
sudah pasti belum tentu sesuai dengan faktanya. Karena itu,  bersikaplah 
husnuzhann (baik sangka). Ketika mendapat kabar tentang suami, orangtua, anak 
atau orang-orang lain yang dekat dengan kita, berbaik sangkalah. Sebab, boleh 
jadi, saat sudah terlanjur kesal, marah-marah yang bisa memicu sterss, ternyata 
apa yang didengar bukan kejadian yang sesungguhnya. 


9.   Tenang.

Tanamkan pada diri, bahwa istri dapat mengatasi segala sesuatu dengan baik, 
daripada hanya memikirkan betapa buruknya segala sesuatu yang terjadi. Bantulah 
istri berpikir dengan jernih ketika menghadapi suatu masalah. Ketenangan akan 
memudahkan mencari solusi yang tepat dalam menghadapi setiap persoalan.


10.  Sabar.

Sabar merupakan cara mengatasi stress yang paling jitu. Jika tidak dengan 
kesabaran, bagaimana mungkin istri akan sanggup menghadapi setiap masalah 
anak-anak dengan baik dari sejak bangun tidur sampai tidur kembali. Sabar 
disertai dengan niatan ikhlas hanya semata-mata untuk mencari ridha Allah akan 
menjadi energi yang luar biasa dalam menjalani kehidupan. Dengan begitu, 
seberat apapun beban yang diemban istri, insya Allah akan dapat dilakukan 
dengan ringan. 


11.  Tawakal.

Tak ada masalah yang tidak ada penyeselesaian. Bertawakallah kepada Allah, 
insya Allah, Allah akan memberi kita jalan yang kadang di luar perkiraan. Saat 
ada kebutuhan sangat mendesak, rasanya sudah tidak ada jalan keluar, tanpa 
diduga ada yang mengantarkan rezeki ke rumah untuk memenuhi kebutuhan. 
Kepasrahan puncak kepada Allah perlahan akan meringankan beban dan tidak 
menimbulkan stress.


12.  Doa.

Berdoalah selalu kepada Allah Swt. dalam menyelesaikan masalah. Sebab, hanya 
Allahlah yang paling mengerti apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Doa akan 
menguatkan kita dalam menghadapi masalah seberat apapun. 

Wallâhu a‘lam biash-shawâb. [Zulia Ilmawati; Psikolog, Pemerhati Masalah Anak 
dan Keluarga]  



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke