Bab III

Tipu Daya Setan untuk Menghancurkan Keikhlasan Orang-Orang yang Beriman



 

Hingga hari pembalasan, setan telah berjanji untuk menyesatkan manusia, untuk 
mengajak mereka ke dalam barisannya. Sebagaimana dinyatakan Allah, "Setan telah 
menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah 
golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan 
yang merugi." (al-Mujaadalah [58]: 19) Setan telah berhasil membujuk mereka 
yang menafikan keberadaan Allah. Ia telah menjebak manusia dari segala sisi, 
membuat mereka lupa kepada Allah, dan memperoleh penghambaan yang mutlak dari 
mereka. Karena itulah, orang-orang ini masuk ke dalam barisan setan, sebagai 
makhluk yang mengajak orang lain kepada keingkaran, dosa, dan kejahatan.

Bagi mereka yang dengan ikhlas percaya kepada Allah, tentu saja berbeda halnya. 
Setan dapat langsung memengaruhi mereka yang menafikan Allah. Akan tetapi, 
terhadap mukmin sejati yang dengan teguh meyakini Allah, setan gagal 
memengaruhi mereka. Sebagai contoh, setan dengan cara apa pun tidak dapat 
mencegah mereka dari berjuang di jalan Allah. Ia tidak dapat mencegah mereka 
untuk mengamalkan perintah agama mereka, melaksanakan shalat, melakukan 
kebaikan dan berlaku jujur, menyebut nama Allah, dan mengorbankan diri mereka 
untuk berjuang dengan harta dan jiwa.

Menyadari hal itu, setan terpaksa mencari tipu daya yang lebih sulit untuk 
memengaruhi para mukmin sejati. Karena ia tidak dapat secara langsung 
menghalangi amal baik yang dilakukan karena Allah, ia berusaha mencampuradukkan 
kejahatan dalam niat baik mereka saat melakukan suatu perbuatan. Ini dilakukan 
untuk mengalihkan pandangan mereka selain kepada keridhaan Allah dan untuk 
mencegah mereka berpaling kepada Allah dengan tulus ikhlas, dengan cara 
menyerang keikhlasan mereka. Di dalam Al-Qur`an, tujuan setan hingga detik ini 
ditegaskan dengan kata-katanya sendiri. Ayat yang berhubungan dengan perkataan 
setan disebutkan sebagai berikut.



"Dan saya benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan 
angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong 
telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan 
saya suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka 
mengubahnya.’ Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, 
maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. Setan itu memberikan 
janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, 
padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka." 
(an-Nisaa` [4]: 119-120)



"Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar 
akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya 
akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari 
kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur 
(taat)." (al-A’raaf [7]: 16-17)



Sebagaimana ditunjukkan di dalam ayat tersebut, setan berusaha mengendalikan 
mereka dengan "membawa kepada kesesatan dan memenuhi mereka dengan 
harapan-harapan palsu", dengan "menyerang mereka di jalan Allah yang lurus", 
dan dengan "mendatangi mereka dari depan, belakang, dari kanan dan kiri mereka".

Ia menggunakan tipuan agar manusia melihat kebenaran sebagai kesalahan, 
kebaikan sebagai kejahatan, yang bagus sebagai kejelekan, dan kejahatan sebagai 
kebaikan. Ia berusaha mencegah manusia dari perbuatan baik karena Allah dengan 
menanamkan keraguan dan keinginan yang sia-sia di dalam hati mereka. Setan 
berusaha keras memikat orang-orang beriman untuk melakukan hal-hal yang 
bertentangan dengan akhlaq Al-Qur`an dengan memperindah dan menghiasinya agar 
terlihat lebih menarik.



Barisan Setan

Bila perlu, setan bergantung pada pertolongan mereka yang menjadi temannya dan 
menafikan Allah untuk mencapai tujuan yang disebutkan di atas. Ia menggunakan 
mulut mereka untuk berbicara dan perkataan mereka untuk mengungkapkan 
rencana-rencananya. Ini merupakan taktik yang lihai untuk menguasai orang-orang 
beriman.

Tentu saja setan tidak dengan terang-terang mengajak mereka untuk menafikan 
Allah dengan berbisik, "Jangan mengikuti Al-Qur`an, jangan memenuhi ridha 
Allah, patuhilah aku." Sebaliknya, ia mencoba menipu mereka dengan tipu 
muslihat, kelicikan, dan kebohongan. Ia berusaha mencegah mereka untuk berbuat 
ikhlas dan menanamkan berbagai macam keinginan dan nafsu di dalam hati mereka, 
dan membuat mereka lebih mencari pujian daripada mencari keridhaan Allah.

Misalnya saja, ia berusaha untuk menyisipkan keinginan untuk mendapatkan 
kerelaan manusia dalam niat seorang mukmin yang berusaha untuk melakukan 
perbuatan baik karena Allah. Setan mendorongnya untuk memuji kebaikan dirinya 
dan melambungkan egonya.

Dengan berbangga diri ketika melakukan perbuatan baik, ia terhalang untuk 
ikhlas dalam perbuatannya itu. Seharusnya, jika ia benar-benar memilih untuk 
melakukan suatu perbuatan yang mengorbankan dirinya, ia harus melakukannya 
untuk mendapatkan keridhaan Allah. Karena itulah, tidak perlu ia mengumumkan 
perbuatannya. Dengan cara apa pun, Allah melihat dan mendengarnya. Akan tetapi, 
setan menghadirkan keinginan itu dalam bentuk yang terlihat tidak salah, 
seperti alasan-alasan, "Mereka akan percaya dan lebih mencintaimu jika mereka 
tahu betapa berahklaq dan lurusnya dirimu dan betapa patuhnya engkau pada 
Al-Qur`an. Bagaimanapun juga, ini adalah keinginan yang benar-benar sah." Tentu 
saja ini adalah keinginan yang sah-sah saja dan dijalankan sesuai dengan 
Al-Qur`an jika ia mencari pengakuan Allah dan meninggalkan apa yang dikatakan 
masyarakat serta berpaling kepada Allah. Jika ia berbuat sebaliknya, ia akan 
berisiko untuk dikuasai oleh kesalahan yang ditolak oleh Al-Qur`an.
 Sikap-sikap tersebut menjadikan ibadah terlihat dan membuat seseorang merasa 
berbangga diri. Semua sikap tersebut berseberangan dengan keikhlasan dan 
kesucian. Sifat-sifat yang hanya dibutuhkan saat melakukan ibadah untuk 
semata-mata mencari keridhaan Allah.



Kelicikan Setan

Rencana setan untuk mengancam keikhlasan orang-orang beriman yang akan terus 
ada hingga hari pembalasan, dimulai sejak masa Adam a.s.. Ia mendekati Adam 
a.s. dengan strategi yang licik dan menipu serta mencoba membuatnya melihat 
kebaikan sebagai kejelekan dan kejelekan terlihat baik. Sebagaimana disebutkan 
di dalam Al-Qur`an, setan berhasil membujuk Adam a.s. dan pasangannya untuk 
tidak mengindahkan larangan Allah. Jadi, setan membuat mereka dikeluarkan dari 
surga. Peristiwa ini dijelaskan di dalam ayat-ayat Al-Qur`an sebagai berikut.



"Dan Kami berfirman, ‘Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan 
makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, 
dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang 
yang zalim.’" (al-Baqarah [2]: 35)



"Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, ‘Hai Adam, 
maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan 
binasa?’" (Thaahaa [20]: 120)



"Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada 
keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata, 
‘Tuhanmu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu 
berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam 
surga).’ Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, ‘Sesungguhnya, saya adalah 
termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua.’ Maka setan membujuk 
keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah 
merasai buah kayu itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah 
keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru 
mereka, ‘Bukankah aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku 
katakan kepadamu, ‘Sesungguhnya, setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu 
berdua?’" (al-A’raaf [7]: 20-22)



Setan tidak secara terang-terangan mengatakan kepada Adam dan Hawa untuk 
menentang perintah Allah. Bila dilakukan terang-terangan, tak ada satu pun 
mukmin yang mengikutinya. Jadi, ia merencanakan alasan lain yang lebih 
persuasif. Setan mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan menjadi malaikat 
dan hidup abadi jika mereka memakan buah pohon terlarang itu. Agar 
kebohongannya lebih meyakinkan, ia bahkan berani bersumpah atas nama Allah. 
Al-Qur`an memperingatkan para mukmin sejati agar melawan kelicikan yang 
dilakukan oleh setan ini.



"Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana 
telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari syurga, ia menanggalkan dari keduanya 
pakaiannya untuk memperhatikan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya, ia dan 
pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa 
melihat mereka. Sesungguhnya, Kami telah menjadikan setan-setan itu 
pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman." (al-A’raaf [7]: 27)



Mereka yang dibimbing oleh Al-Qur`an benar-benar dipersiapkan untuk melawan 
masalah-masalah yang tidak berdasar, keinginan yang semu, dan muslihat setan 
yang menipu. Sebagaimana dinyatakan dalam ayat, "Orang-orang yang beriman 
berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thagut, 
sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan 
itu adalah lemah," (an-Nisaa` [4]: 76) strategi yang dilancarkan setan 
sebenarnya lemah dan hanya terdiri atas tipuan yang palsu. Para mukmin sejati 
mamahami bahwa bisikan tersebut berasal dari setan. Mereka segera memohon 
perlindungan kepada Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat,



"Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. 
Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya, 
orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa waswas dari setan, mereka ingat 
kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya." 
(al-A’raaf [7]: 200-201)



Segera setelah mendapatkan perlindungan dari Allah, mereka dapat mengartikan 
peristiwa tersebut dengan cahaya Al-Qur`an. Mereka mendapatkan pemahaman yang 
menolong mereka untuk membedakan kebenaran dari kebatilan. Karena itulah, 
tuduhan setan yang sesat tergagalkan karena iman yang kuat dalam diri mukmin 
yang sejati.

Demikian pulalah, seperti yang digarisbawahi Al-Qur`an dalam ayat berikut, 
setan memainkan peranan kosong pada diri mukmin sejati yang meletakkan 
keyakinan dan iman mereka kepada Allah dan menjadikan Allah sebagai 
satu-satunya Pelindung mereka.



"Sesungguhnya, hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan 
cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga." (al-Israa` [17]: 65)



Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur`an, setan dapat memengaruhi mereka yang 
dikuasai olehnya dan mereka yang menjadikan hal lain sebagai tuhan selain Allah.



"Sesungguhnya, setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman 
dan bertawakal kepada Tuhannya." (an-Nahl [16]: 99-100)



Dinyatakan bahwa setan tidak dapat memengaruhi hamba-hamba yang tulus dan suci,



"Iblis berkata, ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku 
sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di 
muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba 
Engkau yang mukhlis di antara mereka.’" (al-Hijr [15]: 39-40)



Karena alasan inilah, mukmin yang ikhlas dan benar tidak perlu takut menghadapi 
kelicikan dan tipu daya jebakan yang dibuat oleh setan, karena mereka tahu 
pasti bahwa setan tidak memiliki kekuatan atas mereka. Mereka hanya takut 
kepada Allah. Mereka yang takut kepada setan adalah mereka yang berteman 
dengannya dan terperosok ke dalam perangkapnya. Hal ini diungkapkan di dalam 
Al-Qur`an,

"Sesungguhnya, mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) 
dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu 
takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang 
yang beriman." (Ali Imran [3]: 175)



Di dalam Al-Qur`an, Allah menyatakan bahwa setan akan meningkatkan usahanya 
untuk menanamkan keinginan-keinginan palsu dan penyimpangan di hati setiap 
manusia, termasuk hati para nabi. Ini adalah semacam cobaan yang diciptakan 
Allah untuk membedakan antara mereka yang memiliki penyakit di hatinya dan 
mereka yang beriman dengan tulus ikhlas. Mereka yang mendapatkan kesucian dan 
memiliki pengetahuan tidak dapat dipengaruhi oleh keinginan-keinginan palsu 
setan. Mereka benar-benar memahami bahwa setan tidak memiliki kekuatan sendiri. 
Ia sebenarnya diciptakan dan dikendalikan sepenuhnya oleh Allah. Setan tidaklah 
berkuasa untuk menyesatkan orang-orang beriman, menghalangi keikhlasan mereka, 
atau membawa mereka ke jalan yang sesat tanpa seizin Allah. Ketika setan 
berusaha untuk menempatkan keinginan-keinginan palsu di dalam hati mereka, 
seorang muslim percaya bahwa Al-Qu`an tidak diragukan lagi merupakan sebuah 
keberkahan yang nyata dari Allah sebagai penguat. Kebenaran ini
 ditunjukkan oleh ayat,



"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) 
seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun 
memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu. Allah menghilangkan apa yang 
dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha 
Mengetahui lagi Mahabijaksana, agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh 
setan itu sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit 
dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu benar-benar 
dalam permusuhan yang sangat, dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, 
meyakini bahwasanya Al-Qur`an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman 
dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk 
bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus." (al-Hajj [22]: 52-54)


       
---------------------------------
Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect.  Join Yahoo!'s user panel 
and lay it on us.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke