wa'alaykum salam wr.wb

kalau menurutku anak butuh figur yg membuatnya berkiblat pada figur
itu. kalau selama ini yg dilihat adalah hal2 yg buruk dan dianggap
baik, maka secara alami, anak akan menganggap hal2 yg buruk itulah yg
baik. 

Namun..kalau lingkungan yg dilihat anak ada yg baik dan yg buruk,
insya Allah..anak dengan kejujurannya akan bisa menilai mana yg baik
dan mana yg buruk.

hmm..menurutku, bila kita tdk ingin anak mencontoh figur dari luar,
apalagi figur yg salah, alangkah baiknya kita menciptakan figur yg
baik dimatanya dalam rumah kita, bisa dari diri kita sendiri or orang2
sekitar rumah. 

hmm..mungkin intinya komunikasi 2 arah yg jangan lepas dari mereka,
mereka butuh juga teman untuk bicara dan menanggapi ceritanya, atau
memberikan solusi atas masalah yg dihadapinya di luar rumah.

hmm..aku sering merenung dari kasus2 yg aku dapat dari cerita2 anakku
di luar rumah. rasanya memang keluarga adalah gerbang pertama dalam
menjaga dan melindungi anak2nya. aku analogikan anak adalah seprangkat
komputer yg masih kosong dan belum terisi, maka kewajiban kita adalah
mengistall komputer itu dengan anti virus yg tercanggih dan mengikuti
perkembangan virus. dan pada saat kita sudah memasang anti virus pada
anak, maka otomatis apabila ada virus2 yg berusaha masuk ke dalam
dirinya, biasanya sinyalnya kuat untuk menolak dan tidak bisa menerima
virus itu untuk masuk ke dalam dirinya.

kadang aku bertanya sama anakku, kenapa nda ikutan pergi dengan
teman2nya, karena biasanya remaja lebih suka berkumpul dengan
teman2nya, jawabannya hanya malas dan nda pingin aja. Kalau aku
perhatikan keengganannya adalah pilihannya sendiri, atas apa yg selama
ini kita bicarakan dan diskusikan sama2 ttg susahnya pergaulan di luar
rumah. Andai orang tua dirumah lebih kuat mencover anaknya dalam
memenuhi apa yg selama ini dicarinya, maka insya Allah..anak tidak
akan lagi tertarik dengan figur2 diluar rumah.

hmm..kasus ini terjadi juga waktu kita remaja kan..?saat butuh seorang
untuk dijadikan figur, alhamdulillah kalau kita bertemu dengan figur
yg baik diluar rumah, lha..kalau ketemu figur yg tidak baik, bisa
rusak anak2 kita. Jadi intinya..buatlah diri kita menjadi figur yg
baik dan yg dicarinya selama ini, hingga figur di luar rumah tidak
lagi menarik hatinya untuk diikuti dan untuk figur yg jelek kita sudah
memasang anti virus pada mereka hingga akan langsung ditentang oleh
anak2 kita.

ini sharring aja..dan sesungguhnya figur yg baik untuk anak2 kita
adalah Rasulullah dan para sahabatnya..

salam 
hana





--- In [email protected], "kurnia wisesa" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Assalamu'alaikum
> 
> Suatu ketika saya berbincang dengan seorang kawan seputar sulitnya
> mendidik anak di zaman seperti ini.
> 
> Paling tidak ada dua hal yang kemudian bagi saya masih menjadi
perenungan
> 
> I. Ibu bekerja, anak dengan siapa?
> Ibu bekerja atau punya banyak aktivitas di luar rumah, tentu tidak ada
> yang melarang. Ada seorang kawan yang istrinya bekerja di luar rumah,
> sehingga anaknya dijaga oleh neneknya. Si nenek rupanya gak mau repot
> dengan cucunya, jadi si cucu diputerin TV...dengan channel favorit MTV..
> jadilah si anak yang masih kecil itu sudah hapal lagu lagu orang dewasa.
> Mungkin tidak masalah kalau si anak yang dititipkan ke nenek atau
pembantu
> yang memiliki pemahaman atau fikroh islam yang -minimal- sama dengan
sang
> ibu. Kalau tidak? Wah, bisa jadi jawara dangdut karena sering denger
lagu
> yang diputer pembantu...
> 
> 2. Anak Banyak, kontrol susah
> Ada lagi cerita tentang seorang ustad yang "curhat". anaknya banyak.
Anak
> nomor 1 - 4 hafalan Quran nya bagus. Anak ke 1 besar di pakistan,
> hafalannya bagus. Anak ke dua besar di mesir, hafalannya bagus. ke 3 dan
> ke 4 juga hafalannya bagus. Nah, anak ke 5 hafalannya Nidji, yang ke 6
> Samson.
> Ada juga ustad yang anaknya juga banyak. Mungkin karena salah
satunya ada
> yang "bandel" akhirnya masuk pesantren. Tapi di pesantren tetap aja
> "bandel" sampai sampai dia ngintip santri putri mandi.
> Kata ustad ustad tsb, kalau anak banyak..susah ngontrol satu satu. Yang
> awal-awal mungkin masih bagus. Tapi yang belakangan lahir, bisa jadi
> ngontrol nya juga makin sulit.
> 
> Zaman kaya gini...
> Memang sih kalo kita tinggalnya di Palestina, biar si ibu kerja dan
> anaknya banyak, semangatnya jihad melulu.
> Atau kalau satu kampung atau satu kota orang soleh semua, seperti
kondisi
> Madinah yang banyak sahabat nabi, hal itu gak masalah. Biar anak kita
> banyak, mereka mainnya sama anak anak orang soleh semua. Gak bakal deh
> dapat hapalan Peter Pan dari temennya. Ada juga dapat hapalan quran dari
> temennya. :)
> 
> Nah, ini dia dilema ...maksudnya ... perenungan saya.
> ada yang punya masukan. Siapa tahu bisa jadi tips menarik untuk
mendidik anak
> 
> 
> Terima Kasih
> 
> 
> ---------------------------------------------------
> This email was sent using SCTVNews Webmail.
> "get your free email" http://www.sctvnews.com/
>


Kirim email ke