Assalamu'aakum 

Kesimpulannya tdk seperti itu akhi, mohon lihat lagi jawaban ana.

Syukron,
Gunawan

Setelah akal menemukan kebenaran yaitu Al Qur'an sebagai hudan-petunjuk, maka 
melalui timbangan akal pulalah kita harus terikat dengan isi Al Qur'an 
tersebut, kenapa demikian? Karena akal kita sesunguhnya terbatas, kemampuan 
indera dan otak kita terbatas sehingga tidak dapat menjangkau beberapa 
kejadian2 yang ada dlm Al Qur'an. Sikap kita dalam kondisi seperti ini adalah 
sami'na wa atho'na. Akal dapat membuktikan eksistensi sesuatu yang melahirkan 
keimanan, tapi akal tidak dapat membuktikan hakikat sesuatu karena keterbatasan 
indera kita.

  ----- Original Message ----- 
  From: NC Drilling - IND 
  To: 'gunawan' ; 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP' ; 
'[email protected]' 
  Sent: Tuesday, June 05, 2007 10:25 AM
  Subject: RE: [ FUPM-EJIP ] Benarkah Islam Hanya Agama, Bukan Ideologi?




  Wa'alaikum sallam Wr.Wb



  Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada 
padaku, dan tidak  aku mengetahui yang ghaib dan tidak  aku mengatakan kepadamu 
bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan 
kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka 
apakah kamu tidak memikirkan?"  ( Al-An'am ayat 50 )



  Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul , dan ulil 
amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, 
maka kembalikanlah ia kepada Allah  dan Rasul , jika kamu benar-benar beriman 
kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama  dan lebih baik 
akibatnya. ( An Nissa 59 )





  Al Qur'an adalah penolong dan yang di terim pertolongannya, dan penuntut yang 
di benarkan. Barang siapa yang menjadikan dia di mukanya , maka Al Qur'an akan 
menuntunnya ke jannah, dan barang siapa yang menjadikan Al Qr'an itu di 
belakangnya, Al Qur'an itu akan menghalaukannya ke neraka  (Hadits Riwayat Ibnu 
Hibban, Al -Maktabah As-Salafiyah, Madinah Al-Munawarah, cetakan I 1390 H./1790 
M. juZ I halaman 187 nomor 124)



  Berarti kalau menurut antum, aqidah itu harus rasional/masuk akal dan yang 
menjadi patokan adalah akal ( dalam kata lain bahwa yang paling utama adalah 
akal bukan wahyu dan kalau wahyu tidak sesua dengan akal berarti wahyu itu 
salah padahal menurut antum sendiri aqal itu memiliki keterbatasan ), padahal 
yang ana tahu, tidak semua yang di perintahkan dalam agama itu bisa rasional, 
dan memang kalau yang ana tahu, kalau yang namanya, agama Islam itu agama 
tauhid segala, segala sesuatunya, baik-buruknya, perintah dan laranganya, yang 
menetukan adalah Allah dan rasulnya,bukan akal kita, bahkan rasul sendiri tidak 
memerintahkan kepada kita kecuali berdasarkan wahyu dari Allah ( Al-An'am ayat 
50 )  dan kalau kita berbeda pendapat,atau menghadapi masalah harus 
dikembalikan kepada Allah dan rasulnya, ( An Nissa 59 ) bukan menggunakan akal 
kita, untuk memecahkan masalah, karena kalau akal kita yang memecahkan masalah, 
maka semakin berbeda Zaman, atau semakin berkembang kemampuan akal kitamaka 
solusi terhadap masalah itupun berbeda penyelesaiannya. Padahal kalau kita 
berdasrkan Allah dan rasul ( Agama ) maka sampai kapanpun akan tetap sama.

  Kalau untuk ideologi ana sendiri sependapat dengan antum, bahwa ideologi itu 
harus rasional karena ilmu yang ana tahu Ideologi  adalah pemikiran yang 
diturunkan dalam satu ilmu yang meliputi ekonomi, politik, hukum dan lain-lain

  Ciri-ciri dari ideologi: dilaectis ( dialectica logika ) pertarungan 
pemikiran yang terus menerus tanpa henti.

  Ciri khas dari ideologi adalah adanya :

  These : pemikiran / ilmu / teori baru

  Anti these : pendapat baru yang menentang pendapat baru tersebut ( these )

  Apabila sudah muncul anti these, maka akan muncul yang namanya these baru, 
dan ini akan terus menerus karena, idiologi adalah hasil pemikiran manusia 
dengan otak yang terbatas dan akan terus berubah seiring dengan waktu.

  Jadi ideologi itu bersifat subjectif dan relatif





  Wassalam



  Abu Aisyah







  -----Original Message-----
  From: gunawan [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
  Sent: 05 Juni 2007 8:08
  To: NC Drilling - IND; 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'
  Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] Benarkah Islam Hanya Agama, Bukan Ideologi?



  Assalamu'alikum Wr.Wb,



  Iyah, setelah terbukti dng kuat & tdk terbatahkan bahwa Islam adlh aqidah 
rasional & aqidah yg benar yg brbeda dng nasrani & yahudi (dng membuktikan 
kebenaran Al-Qur'an adlah kitab Allah yg haq bukan buatan manusia) maka sudh 
menjadi konsekwensi logis orang yg beriman & berakal u/ tunduk & pasrah thd 
sluruh isi yg terdapt dlm Al-Quran tanpa terbesit sedikitpun keraguan (terutama 
hal2x yg aqal kita memiliki keterbatasan u/ menjangkau hal yg tdk dapat 
diindra, dan pd kondisi tsb sikap yg harus dimunculkan adalh bersandar pd 
Al-Qur'an yg telah terbukti kebenarannya scr rasional sbg Kalamulloh . (afwan 
disingkat-singkat) mohon dikoreksi jika keliru, syukron.



  Wasalam 

  Gunawan  

    Assalamu'alaikum wr.wb



    Berarti kalau tidak rasional tidak bisa di jadikan ideologi (sesuai dengan 
artikel akhi sebelumnya ) atau artinya yang jadi patokan adalah rasio ( karena 
menurut artikel antum  " Pertanyaan berikutnya, apakah setiap akidah agama bisa 
menjadi ideologi? Jawabannya tidak, bergantung: Pertama, apakah akidahnya 
adalah akidah yang rasional atau tidak? Kedua, apakah akidah tersebut bisa 
memancarkan sistem (nizhâm) atau tidak? Jika dari kedua pertanyaan tersebut 
jawabannya ya, atau dengan kata lain merupakan akidah rasional yang bisa 
memancarkan sistem"



    Kira-kira seperti itu nggak ?







    -----Original Message-----
    From: gunawan [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    Sent: 04 Juni 2007 15:42
    To: 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'; NC Drilling - IND
    Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] Benarkah Islam Hanya Agama, Bukan Ideologi?





      Assalamu'alaikum wr. Wb, 



      Coba sedikit menjawab akhi, jika keliru mohon diluruskan



      Secara sederhana, rasional adalah kata serapan dari rational  yang 
maknanya rationable, capable of reasoning, dll.

      Dalam bahasa kita, rasional dapat dijelaskan dengan sesuatu yg masuk akal 
atau dapat dimengerti secara timbangan akal.

      Akal sendiri adalah kata serapan dari bahasa arab, yaitu aqal - termasuk 
bentuk "fi'il" bukan "isim", dengan kata lain akal adalah suatu proses 
aktivitas, yaitu proses aktivitas berfikir. Untuk menghasilkan pemikiran, 
proses ini melibatkan 4 faktor, otak, fakta, indera, dan informasi. 



      Proses berfikir merupakan sarana untuk memahami atau jembatan proses 
memahami sesuatu, termasuk mencari dan memahami kebenaran. Dengan demikian, 
akal berfungsi menjadi alat Ma'rifatullah, Ma'rifaturRosul, memahami hukum2 
dalam Al Qur'an dan Hadits, dll. 



      Setelah akal menemukan kebenaran yaitu Al Qur'an sebagai hudan-petunjuk, 
maka melalui timbangan akal pulalah kita harus terikat dengan isi Al Qur'an 
tersebut, kenapa demikian? Karena akal kita sesunguhnya terbatas, kemampuan 
indera dan otak kita terbatas sehingga tidak dapat menjangkau beberapa 
kejadian2 yang ada dlm Al Qur'an. Sikap kita dalam kondisi seperti ini adalah 
sami'na wa atho'na. Akal dapat membuktikan eksistensi sesuatu yang melahirkan 
keimanan, tapi akal tidak dapat membuktikan hakikat sesuatu karena keterbatasan 
indera kita. 



      Dengan sudut pandang ini, hanya orang2 berakal-lah atau rasional-lah yang 
telah beriman kepada ALLAH SWT, Rosulallah, Al Qur'an, Hari Akhir, Syurga, 
Neraka, tunduk dan memperjuangkan hukum Syara'....   



      Wassalamu'alaikum Warohmatulloh,



      Gunawan



      Wa'alaikum Salam Warohmatulloh



      Assalamu'alaikum wr.wb





      Mau tanya dikit  akhi



      Arti dari kata RASIONAL itu apa ya ?



      Kalau yang ana tahu artinya sesuai dengan rasio ( akal ) atau dengan kata 
lain masuk akal 

      Sama nggak ya pengertian akhi dengan pengertian ana



      Wassalam







      Abu Aisyah







      -----Original Message-----
      From: gunawan [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
      Sent: 02 Juni 2007 8:58
      To: [email protected]; Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan 
EJIP
      Subject: [ FUPM-EJIP ] Benarkah Islam Hanya Agama, Bukan Ideologi?



      Benarkah Islam Hanya Agama, Bukan Ideologi?
      Soal Jawab June 1st, 2007 

      Soal:



      Banyak pertanyaan seputar Islam sebagai agama dan ideologi. Ada yang 
menyatakan, Islam adalah agama, bukan ideologi. Ada juga yang menyatakan, Islam 
adalah agama sekaligus ideologis. Mana yang benar? 



      Jawab:

      Harus diakui, istilah ideologi adalah istilah baru, setelah munculnya 
ideologi dunia, seperti Kapitalisme dan Sosialisme. Bagi Islam dan kaum Muslim, 
istilah ideologi ini merupakan istilah serapan, seperti istilah 'aqîdah, 
dharîbah, dustûr (UUD) dan qânûn (UU) pada zaman masing-masing ketika istilah 
tersebut muncul pertama kali, dan diadopsi oleh kaum Muslim. Istilah 'aqîdah, 
misalnya, sekalipun tidak digunakan dalam nas-nas al-Quran dan as-Sunnah, pada 
akhirnya bisa diterima oleh kaum Muslim, setelah digunakan oleh para ulama 
ushuluddin pada pertengahan abad ke-6 H.1 Istilah ini merupakan padanan dari 
kata îmân, yang digunakan baik dalam al-Quran maupun as-Sunnah. Demikian halnya 
penggunakan istilah dharîbah, digunakan oleh para fukaha kaum Muslim kira-kira 
pada abad ke-8 H.2 Hal yang sama juga terjadi dalam kasus dustûr dan qânûn, 
yang digunakan pada abad ke-18 H, setelah negara-negara Eropa mulai bangkit 
serta membuat UUD dan peraturan perundang-undangan. Istilah UUD dan peraturan 
perundang-undangan ini kemudian diterjemahkan dalam bahasa Arab dengan istilah 
ad-dustûr wa al-qawânîn. Awalnya, istilah ini dipakai oleh para ulama bahasa 
untuk menulis buku yang berisi aturan bahasa, seperti kitab Dustûr al-Muntahâ 
atau Dustûr al-Mubtadi'.3 



      Dalam konteks penggunaan istilah ideologi, istilah ini kemudian digunakan 
dalam bahasa Arab dengan sebutan yang sama, yaitu idiyuluji, atau dengan 
sebutan yang berbeda, yaitu mabda'. Intinya adalah pemikiran paling mendasar, 
yang tidak dibangun dari pemikiran yang lain.4 Pemikiran seperti ini, menurut 
Muhammad Muhammad Ismail, hanya ada pada pemikiran yang menyeluruh tentang 
alam, manusia dan kehidupan; serta apa yang ada sebelum dan setelahnya; juga 
hubungan antara alam, manusia dan kehidupan dengan apa yang ada sebelum dan 
setelahnya.5 Bagi kaum Muslim, pemikiran seperti ini adalah akidah Islam itu 
sendiri. Sebab, akidah Islam adalah pemikiran yang menyeluruh tentang alam, 
manusia dan kehidupan; yaitu dari mana, untuk apa dan akan ke manakah alam, 
manusia dan kehidupan ini? Maka dari itu, tentu alam, manusia dan kehidupan itu 
tak lain merupakan ciptaan Allah, untuk mengabdi kepada-Nya, dan hanya 
kepada-Nyalah semuanya akan kembali. Manusia akan dibangkitkan dan dimintai 
pertanggungjawaban setelah kematiannya di dunia, sementara yang lain tidak. 
Karena itu, sebelum kehidupan ini, ada Allah, Zat Yang Maha Pencipta, dan 
setelah kehidupan ini akan ada Hari Kiamat, dan hisâb. Agar semua proses 
kehidupan manusia itu bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak, maka 
Allah menurunkan syariah (aturan) untuk kehidupan manusia, yang kelak juga akan 
dijadikan standar oleh Allah untuk meminta pertanggungjawaban mereka. Inilah 
pemikiran mendasar, yang juga disebut fikrah kulliyah Islam. Pemikiran mendasar 
inilah yang juga disebut mabda' atau idiyuluji. Inilah substansi ideologi, 
yaitu apa dan bagaimana ideologi itu sendiri. 

      Pertanyaan berikutnya, apakah setiap akidah agama bisa menjadi ideologi? 
Jawabannya tidak, bergantung: Pertama, apakah akidahnya adalah akidah yang 
rasional atau tidak? Kedua, apakah akidah tersebut bisa memancarkan sistem 
(nizhâm) atau tidak? Jika dari kedua pertanyaan tersebut jawabannya ya, atau 
dengan kata lain merupakan akidah rasional yang bisa memancarkan sistem, maka 
akidah tersebut bisa menjadi ideologi. Sebaliknya, jika tidak maka akidah 
tersebut pasti tidak akan bisa menjadi ideologi. Contohnya, akidah Yahudi 
maupun Nasrani. Kedua akidah ini tidak bisa menjadi ideologi, karena bukan 
merupakan akidah 'aqliyyah, yang bisa memancarkan nizhâm. Ini berbeda dengan 
akidah Islam. Akidah Islam adalah akidah rasional yang bisa memancarkan nizhâm, 
yang bukan hanya sistem peribadatan saja, melainkan juga sistem pemerintahan, 
ekonomi, sosial, pendidikan, dan semua sistem kehidupan yang lainnya. 

      Bukti lain bahwa Islam bisa menjadi ideologi adalah dari aspek keutuhan 
ajaran Islam, yang bukan hanya berisi gagasan, konsep atau pemikiran, yang 
disebut dengan fikrah (ide), tetapi juga berisi tharîqah (metode) bagaimana 
fikrah tersebut diterapkan, dipertahankan dan diemban ke seluruh dunia. Pada 
tataran konsep, misalnya, Islam bukan saja berisi akidah tentang keimanan 
kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat serta Qadha' dan Qadar-yang 
baik dan buruknya berasal dari Allah; tetapi juga seluruh aturan yang 
dibutuhkan oleh manusia, baik dalam konteks ubudiah, muamalah maupun untuk 
mengurus dirinya sendiri (akhlak, makanan dan pakaian). Semua itu hanya bisa 
diwujudkan kalau ada metode untuk mewujudkannya, yaitu adanya partai yang 
memperjuangkan terwujudnya fikrah tersebut, dan adanya negara yang 
menerapkannya. Demikian halnya, semua itu bisa dipertahankan jika ada sanksi 
hukum dan negara yang mempertahankannya, berikut peranan partai politik dan 
umat yang mengontrolnya. Begitu juga, semua itu akan bisa diemban ke seluruh 
dunia jika ada dakwah, jihad dan negara yang mengembannya.

      Karena itu, Islam bukan hanya agama, melainkan juga ideologi. Penggunaan 
ideologi ini untuk Islam tentu absah, dilihat dari substansinya; bukan dari 
aspek sumber, dari mana ideologi tersebut dihasilkan; akal atau wahyu? Sebab, 
pada aspek ini, persoalannya adalah persoalan sumber, bukan substansi. Artinya, 
dari aspek sumber ideologi, ideologi yang ada saat ini bisa dikategorikan 
menjadi dua: yaitu ideologi yang bersumber dari akal manusia dan ideologi yang 
bersumber dari wahyu. Islam adalah satu-satunya ideologi yang bersumber dari 
wahyu. Selain Islam, baik Kapitalisme, Solialisme maupun Komunisme adalah 
ideologi yang bersumber dari akal manusia. Hanya saja, sering ada kesengajaan 
untuk merancukan ideologi dari substansinya ke sumbernya. Akibatnya, Islam 
ditolak sebagai ideologi, dengan alasan, Islam adalah ajaran yang bukan 
bersumber dari akal manusia, melainkan dari wahyu Allah. Padahal konteks 
permasalahannya bukan disitu. Ini sebenarnya merupakan upaya penyesatan yang 
bertujuan untuk menolak Islam sebagai ideologi. Padahal dengan menolak Islam 
sebagai ideologi, sama saja dengan menolak Islam sebagai sistem pemerintahan, 
ekonomi, sosial, pendidikan, politik dalam dan luar negeri. Tentu itu 
bertentangan dengan akidah Islam dan kaum Muslim, apapun mazhabnya. 

      Kita tidak yakin ada orang Islam yang berani melakukan itu, apalagi 
sampai lancang mengatakan, bahwa ideologi Islam adalah sumber konflik. Sebab, 
risikonya jelas: melawan akidah yang diyakininya, bahkan menginjak-injak fikih 
yang dipelajari dan diajarkannya sendiri; kecuali, jika dia menjadi kepanjangan 
tangan kaum imperialis penjajah untuk sengaja melemahkan Islam dan kaum Muslim, 
demi mendapatkan secuil kenikmatan dunia, yang belum tentu didapatkannya. 
Wallâhu a'lam. d 




      Catatan Kaki:

        1.. Lihat, Lu'ayyi Shafi, Al-'Aqîdah wa as-Siyasah: Ma'âim Nazhariyyah 
'Ammah li ad-Dawlah al-Islâmiyyah, al-Ma'had al-'Alami li al-Fikr al-Islami, 
cetakan I, 1996, hlm. 51. 
        2.. Lihat, Imam as-Syafi'i, Al-Umm, Dar al-Ma'rifah, Beirut, cetakan 
III, 1393, IV/200. Beliau telah menggunakan istilah dharîbah tersebut untuk 
menyebut jizyah. Istilah ini kemudian digunakan oleh para fuqaha' berikutnya, 
dan setelah itu bukan hanya untuk menyebut jizyah, tetapi menjadi istilah 
tersendiri untuk praktik pemungutan uang yang ditetapkan oleh negara kepada 
rakyatnya. Ibn Taimiyah menjelaskan, bahwa istilah dharîbah ini tidak memiliki 
batasan tersendiri dalam konteks bahasa, tetapi dikembalikan pada penggunaan 
berdasarkan konvensi kaum atau umat tertentu. Lihat, Majmu' al-Fatawa, XIX/253. 
        3.. Lihat, Shadiq Hasan al-Qanuji, Abjad al-'Ulûm, Dar al-Kutub 
al-'Ilmiyyah, Beirut, 1978, III/259. 
        4.. Lihat, Muhammad Muhammad Ismail, Al-Fikr al-Islâmi, Maktabah 
al-Waie, Beirut, 1958, hlm. 9-10. 
        5.. Lihat, Ibid, hlm. 10. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke