Putus Asa
  

Oleh : Hidayatul Karomah 


  Manusiawi apabila seseorang merasakan sedih atau kecewa atas sesuatu. 
Rasulullah SAW pun demikian, dalam doanya beliau senantiasa memohon supaya Abu 
Tholib, sang paman yang amat dicintai, dibukakan pintu hidayah untuk beriman 
dan memeluk Islam. Namun apa mau dikata, hingga ajal menjemput sang paman tidak 
juga mengucap syahadat sebagai ikrar seorang Muslim.
   
   
  Segala daya upaya telah dilakukan diiringi doa telah dipanjatkan pula, namun 
apa yang diharapkan tak juga menjadi kenyataan. Namun, tentu tidak tepat 
apabila memvonis usaha kita sia-sia.
   
   
  ''Katakanlah, Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka 
sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah 
mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi 
Maha Penyayang.'' (QS Az-Zumar [39]: 53).
   
   
  Di tengah upaya yang kita rasa telah maksimal, alangkah bijak apabila 
senantiasa menata batin menghadapi segala kemungkinan yang akan kita dapatkan. 
Kemungkinan terbaik maupun terburuk, kemungkinan berhasil maupun tidak 
berhasil. Ingatlah, ''Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik 
bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk 
bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.'' (QS Al Baqarah 
[2]: 216).
   
   
  Menata hati untuk bisa menerima apa yang tengah kita hadapi, akan lebih 
berarti daripada berlarut-larut dalam kesedihan yang bisa membuat jatuh dalam 
keputusasaan.
   
   
  Apabila seseorang telah jatuh dalam keputusasaan, pikiran menjadi kosong, 
hidup terasa hampa dan tak berguna lagi. Hal ini memudahkan setan menjerumuskan 
dalam tindakan yang sangat fatal dan berbahaya. Fatal dunia dan akhirat. 
Na'udzubillahi min dzalik.
   
   
  Dengan menerima secara legowo dan senantiasa berpikir positif akan membuka 
pikiran mencari solusi, mengurai berbagai masalah atau cobaan. Karena 
sesungguhnya berputus asa tak mendatangkan manfaat apa pun kecuali tumpukan 
kerugian demi kerugian.
   
   
  Bagaimana mengatasi keputusasaan yang telanjur datang? Ingatlah selalu Allah 
tidak akan menimpakan cobaan di luar kesanggupan hamba-hamba-Nya. Apa yang kita 
terima, mungkin terasa berat di awalnya, namun kita tak tahu hikmah apa yang 
terkandung di dalamnya, yang mungkin justru akan menjadi 'penyelamat' kita di 
kemudian hari. Jadi, optimislah, karena Allah selalu beserta kita. 
   
   
  Republika.co.id

 
---------------------------------
Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for Mobile and 
always stay connected to friends.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke