Oleh Adi J. Mustafa

"'Di... coba lihat, itu yang di depan
menawarkan apa...?" Mamah meminta saya
untuk memeriksa ketika terdengar
seseorang menjajakan sesuatu di depan
rumah. Saya pun segera beranjak ke
depan, lalu bertanya kepada si bapak
di depan, apa yang dijualnya. Setelah
itu kembali ke dalam rumah.

"'Mah... Bapak itu menawarkan gula
merah."

"Oh, si Bapak yang itu... Beli tiga
bungkus," kata Mamah. Mamah sepertinya
sudah hapal dengan si bapak penjual
itu.

"Mamah, kita kan masih ada gula merah.
Kemarin Adi lihat masih ada beberapa
bungkus di dapur," ujar saya. Di rumah
saya memang memanggil nama diri
sendiri ketika bercakap-cakap dengan
orang tua.

"Meuli wae, 'Di, deudeuh... Si  Bapak
keur panas montereng kieu ngider nawar-
nawarkeun daganganna. Meureun can aya
nu meuli..." Mamah tetap meminta saya
membelinya.*)

Akhirnya meskipun saya masih bertanya-
tanya dengan cara berpikir Mamah, saya
pun ke depan lagi dan membeli tiga
bungkus gula seperti Mamah minta.
Mamah juga sempat ke depan dan menyapa
si bapak penjual gula, sambil
menawarkan air untuk minum. Bapak
penjual gula berterima kasih, tapi dia
memilih segera pergi untuk kembali
menjajakan gulanya.

***

Kejadian di atas tertanam kuat pada
benak saya. Perlu beberapa lama untuk
menyerap dan memahami dorongan
kejiwaan apa yang ada di lubuk hati
Mamah, untuk membeli barang yang
sebetulnya tidak dibutuhkannya.
Pembelian yang semata didasarkan pada
rasa kasihan kepada penjual itu.

Saya pernah mendengar Mamah di masa
anak-anaknya sudah mesti membantu Abah
dan Embah (panggilan saya kepada Kakek
dan Nenek yang  sekarang sudah tiada)
dengan berjualan. Barangkali tempaan
kehidupan seperti itu termasuk bagian
yang membentuk jiwa yang lembut
menyayangi orang lain.

Ah... saya jadi malu. Mungkin secara
keilmuan saya lebih tahu daripada
Mamah tentang arti al-itsar atau
mendahulukan orang lain daripada diri
sendiri. Satu kondisi puncak seseorang
dalam membuktikan persaudaraan dalam
keimanan; Barangkali saya lebih tahu
juga sifat Nabi Muhammad saw. yang
diriwayatkan tak pernah menolak
seseorang yang meminta sesuatu kepada
beliau. Kalau perlu beliau membantu
dengan meminjam dahulu kepada orang
lain. Barangkali juga saya lebih hafal
ayat "dan barangsiapa dipelihara dari
kekikiran jiwanya, maka merekalah
orang-orang yang beruntung" (QS. al-
Hasyr:9). Akan tetapi hikmah itu
rupanya lebih dahulu dimiliki Mamah.
Ah... ternyata rasionalitas yang ada
di kepala saya amat tipis perbedaannya
dengan sikap tidak ber-empati  kepada
orang lain.

Dan sekarang saya masih terus mendidik
jiwa untuk semakin meresapi indahnya
bersikap dermawan. Sikap ini juga yang
coba saya bagi kepada isteri dan anak-
anak. Atau mungkin malah isteri saya
yang lebih dahulu menangkap hikmah ini
dan saya belajar darinya.

***

Sebuah keluarga, seorang ayah, ibu dan
empat orang anak, mampir di sebuah
rumah makan pada perjalanan pulang
mudik lebaran. Suasana pulang mudik
mudah terlihat dari isi mobil mereka.
Berbagai oleh-oleh dari orang tua
memenuhi mobil mulai peuyeum ketan,
opak sampai sekarung beras yang
dipanen dari sepetak kecil sawah orang
tua.

Di tengah suasana makan nampak seorang
bapak tua menghampiri meja makan
mereka. Bapak itu membawa wadah besi
ukuran satu liter yang biasa dipakai
para penjual beras di pasar. Bapak itu
pun menawarkan berasnya untuk dibeli,
seraya menyebutkan kualitas berasnya
bagus dan tidak mahal  pula.

"Beras Cianjur asli, Pak...?" tanya
ayah empat orang anak itu setelah
menghentikan suapan-suapan makannya.

"Sumuhun, Cep...," jawab si bapak
membenarkan.

"Gimana 'Bu...?" Si ayah mengalihkan
pandangannya kepada isterinya. Si
isteri menjawab tatapan mata suaminya
dengan penuh pengertian.

"Pak, punten dibungkus lima kilo,
nya." Si isteri langsung menyampaikan
pesanan pembelian kepada si bapak.

"Hatur nuhun, Neng. Bapak bawa beras
dan timbangannya ke sini ya...?" kata
bapak penjual beras.

"Teu kedah, Pak. Ditimbang di tempat
Bapak aja. Nanti beras yang sudah
ditimbangnya dibawa ke sini," giliran
si ayah menimpali.

Anak-anak di keluarga itu
memperhatikan dengan seksama apa yang
dilakukan orang tua mereka. Barangkali
di benak mereka ada keheranan, mengapa
ayah dan ibu membeli beras, sementara
di mobil ada sekarung beras dari kakek
mereka...

Chiba, 19 Ramadhan  1427

===

*) "Beli aja, 'Di, kasihan... Si Bapak
sedang panas terik begini ke sana ke
mari menawar-nawarkan dagangannya.
Mungkin belum ada yang beli..."







       
---------------------------------
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke