Assalamualaikum Wr. Wb.

Tingkatan Kelima
Tingkatan ini adalah tempat bagi orang yang menjaga penuh waktu shalat,
wudhu, rukun-rukun, dan kekhusyukan. Orang ini juga menanggalkan hati dan
menyerahkannya sepenuh jiwa kepada Allah SWT. *Orang ini tidak lagi berada
didunia*. Ia ada bersama Allah. *Tidak lagi terkait dengan ikatan-ikatan
dunia*.* Ia tidak lagi melihat atau mendengar*. Inilah maksud ucapan
Rasulullah SAW, "Pucuk kebahagiaanku terletak di dalam shalat." Orang
semacam ini adalah orang istimewa yang dekat dengan Rabbnya.

Afwan  saya mau nanya nih....
Saya belum mengerti maksud dari kalimat *"Orang ini tidak lagi berada
didunia"* dan kalimat2 yang saya beri huruf tebal lainnya..
maksudnya orang ini sudah meninggal dunia atau karena saking khusu-nya
sehingga seolah2 tidak hidup didunia lagi hanya ada orang itu dan Allah SWT?

bagaimana sih batasan tentang khusu itu?  apakah khusu itu jadi tidak peduli
/sadar akan lingkungan nya ketika seseorang sedang sholat? atau gimana?

setahu saya, Nabi SAW ketika sedang sholat, Beliau masih bisa mendengar
ketika ada bayi yang menangis sehingga beliau mempercepat sholatnya..
Nabi pernah memperpanjang sujudnya karena digelantungi oleh cucu2 nya yang
bermain,  Nabi pernah mempersilakan tamunya masuk padahal Nabi sedang dalam
keadaan sholat dan sebagainya
padahal tentunya Nabi SAW adalah orang yang paling khusu dalam sholatnya.
tentunya untuk khusu dalam sholat kita harus berpatokan pada Sholatnya Nabi
SAW.

mohon maaf kalau saya salah pengertian.


On 6/6/07, clay day <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Tingkatan Manusia ketika Shalat
> Tingkatan manusia ketika shalat berbeda-beda. Ada lima tingkatan yang
> perlu Anda perhatikan sebagai tolok ukur, di tingkat manakah Anda berada.
> Dalam pengantar buku Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim rahimahullah
> mengatakan bahwa tidak akan ada yang bisa memahami dan merasakan nilai
> tingkatan-tingkatan ini kecuali orang-orang yang bergerak menaiki tingkatan
> itu. Tahukah Anda maksud saya?
> Tingkatan Pertama
> Di sinilah letak orang-orang yang tidak menjaga waktu shalat. Ia tidak
> menjaga wudhu, tidak juga rukun-rukun shalat yang zhahir serta kekhusyukan.
> Orang semacam ini akan mendapat hukuman atas shalatnya sebagaimana
> disepakati oleh semua ulama.
> Tingkat Kedua
> Disini terletak orang-orang yang menjaga waktu shalat, menjaga wudhu dan
> juga rukun-rukun shalat yang zhahir, namun ia melalaikan kekhusyukan. Orang
> seperti ini akan dihisab shalatnya dengan keras.
> Kebanyakan orang berada dalam tingkatan ini. Iya, kan?
> Saya lihat Anda mulai berpikir. Ini pertanda baik, sebab Anda mulai
> perhatikan pada diri sendiri.
> Tingkatan Ketiga
> Di tingkat ini terletak orang-orang yang menjaga waktu shalat, menjaga
> wudhu, dan juga rukun-rukun shalat yang zhahir, Ia tampak berjuang gigih
> melawan setan. Di awal-awal tampak ia bisa khusyuk, tapi kemudian setan
> berhasil mencurti perhatiannya. Ia kembali melawan, dan demikian seterusnya
> silih berganti. Orang seperti ini akan tertutup kekurangannnya.
> Ia berjuang gigih dalam shalatnya. Tentu ia akan mendapat dua pahala,
> pahala shalat di bagian mana ia berhasil khusyuk dan pahala perjuangan
> melawan setan.
> Tingkatan semacam ini sering terjadi. Sebab seseorang akan sering
> mengalami perubahan keadaan, dan setan pun terus berusaha untuk mendapatkan
> kesempatan menggoda.
> Tingkatan Keempat
> Ditingkat ini terletak orang-orang yang menjaga waktu shalat, menjaga
> wudhu, menjaga rukun-rukun shalat, dan melaksanakan shalat dengan khusyuk.
> Ini merupakan tingkatan yang sangat tinggi, sebab ia menang melawan setan
> setelah perjuangan yang amat gigih. Orang seperti ini akan mendapat pahala
> penuh.
> Anda tampak mengatakan, "Kalau begitu inilah tingkatan yang terakhir.
> Maka, yang tepat adalah empat tingkatan dan bukannya lima." Saudaraku,
> jangan terburu-buru. Simaklah sekarang tingkatan berikutnya:
> Tingkatan Kelima
> Tingkatan ini adalah tempat bagi orang yang menjaga penuh waktu shalat,
> wudhu, rukun-rukun, dan kekhusyukan. Orang ini juga menanggalkan hati dan
> menyerahkannya sepenuh jiwa kepada Allah SWT. Orang ini tidak lagi berada
> didunia. Ia ada bersama Allah. Tidak lagi terkait dengan ikatan-ikatan
> dunia. Ia tidak lagi melihat atau mendengar. Inilah maksud ucapan Rasulullah
> SAW, "Pucuk kebahagiaanku terletak di dalam shalat." Orang semacam ini
> adalah orang istimewa yang dekat dengan Rabbnya.
> Sebelumnya Anda telah mengira tidak ada lagi tingkatan setelah tingkatan
> keempat.
> Sungguh, kebaikan orang-orangh shalih masih merupakan kejelekan bagi
> orang-orang istimewa.
> Alangkah kasihan orang yang tidak mampu merasakan kemanisan ini.!
> Saudaraku tercinta, sekarang jawab pertanyaan berikut: "Di tingkat mana
> Anda berada?"
> Berdoalah kepada Allah, agar Ia menjadikan Anda golongan orang-orang
> istimewa. [*]
> *Ibadah Sepenuh Hati*
> Amru Khalid
>
>
> ---------------------------------
> Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story.
> Play Sims Stories at Yahoo! Games.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke