jawaban tepat dari bang Nidlol Masyhud tentang fitnah2 yg selama ini dilancarkan dalam tubuh salaf. perlu berbesar hati untuk menerima realita kenyataan umat yg berpecah. tapi penyebab perpecahan itu tidak bisa mengkambinghitamkan salaf.
salam hana --- In [EMAIL PROTECTED], "Nidlol Masyhud" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: --- In [EMAIL PROTECTED], "M. Ainul Yaqin" <l_nia69@> wrote: > > Untuk Semuanya > > Assalaamu'alaikum wr. wb. NM: Wa'alaikumussalam, Mas Ainul. Komentar Antum cukup menarik. Tapi agar tidak terjerumus terhadap apa yang Antum kritik sendiri, rasanya lontaran-lontaran ini perlu dievaluasi lebih lanjut. > > Virus Ashobiyah tampaknya memang telah banyak merasuki kelompok-kelompok Islam (harokah). Betapa tidak diantara mereka ada yang tega menuduh kelompok lain sebagai sesat menyesatkan, ahli bid'ah dsb. NM: Virus fanatisme memang harus kita koreksi dan kita perbaiki. Tapi sebuah fanatisme tidak bisa diukur dengan adanya tindakan menganggap sesat sesuatu kelompok atau menyebutnya sebagai ahli bid'ah. Para Ulama besar jaman dulu juga menganggap Jahmiyyah dan Muktazilah sebagai sesat dan bid'ah, tapi para ulama itu bukan "orang-orang fanatik". Mainstream di INSIST juga meganggap kelompok ISLIB sebagai sesat dan bid'ah, tapi tidak serta merta kita mengatakan bahwa orang-orang INSIST itu fanatik. Fanatisme yang tercela, IMHO, diukur dari eksklusifitas seseorang yang tidak atas dasar ilmu. Ketika seseorang itu teguh dan komitmen memperjuangkan sebuah prinsip dan ajaran yang dianutnya atas dasar ilmu dan argumen yang kuat, saya rasa itu tidak bisa disebut sebagai "virus 'ashabiyyah". Jadi tidak bisa digeneralisir. >> Contoh yang paling jelas adalah pada kelompok yang menamakan dirinya sebagai Salafi. Saya sebut kelompok ini sebagai neowahamisme, karena ide-ide yang dibawa sama dengan ide gerakan wahabiyah, tetapi cara-cara yang ditempuh lebih kasar dan fulgar dari gerakan wahabi. > Kelompok ini mengklaim dirinya sebagai pengikut salafushaleh, sebagai firqah annajiyah, thoifah alnamshurah, dan al-ghuraba'. NM: Bisa Anda sebut, siapa tokoh dari kelompok yang Anda maksud ini..? Kredo "dakwah salafiyyah" atau "kembali ke tradisi Salaf" adalah kredo lama yang sudah ada semenjak jamannya Abu Hanifah rahimahullah (saat beliau menentang Filsafat Yunani). Terma "gerakan wahabiyyah" itu juga mengacu pada seorang tokoh, yaitu Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab. Bisakah Anda menyebutkan secara kongkret ide-ide Syeikh Muhammad yang mana yang Anda kritik itu? Tanpa menyebutkan apa ide yang mereka bawa yang tidak sesuai dengan opini Anda, kritik Anda tidak akan punya nilai.. sebab hanya bicara di kulit dan permukaan. >> Dalam menyampaikan dakwahnya tidak segan-segan menyebut kelompok lain dengan sebutan ahli bid'ah, sesat dsb dan bahasa yang digunakan juga sangat kasar. padahal yang dituduhkannya seringkali masuk wilayah khilafiyah yang memang memungkinkan berbeda. > Contoh, artikel-artikel mereka sering diberi judul yang garang: "kesesatan Al-Qardlawi, "Kesesatan HizbutTahriri, dsb. Mereka juga Menyebut Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki yang merupakan Ulama yang banyak dihormati oleh kalangan Kiyai NU sebagai min kibari ahli bid'ah. NM: Setahu saya, tokoh-tokoh besar yang menyerukan dakwah salafiyyah (semisal Syekh Sa'dy, Syekh Utsaimin, Syekh Bin Baz, Syekh Albani, Syekh Bakr, Syekh 'Adawi, Syekh Muhammad Hassan, Syekh Husein Ya'qub, Syekh Ahmad Farid, Syekh Abdurrahman Abdul Khaliq, dll.) tidak pernah menulis buku-buku berjudul seperti ini. Kalau oknum awam sih mungkin saja. Atau orang akademis yang kebetulan memang fanatik. Tapi tentu saja, tindakan-tindakan oknum di lapangan tidak bisa kita seret secara generalisasi untuk menjadi pijakan dalam memberikan vonis penilaian. >> Banyak yang geram dengan kelompok ini, karena mereka menyebarkan brosur-brosur yang menghina dan merendahkan kelompok lain. Salah satunya yang beredar di Kota Jombang yang disebar di masjid-masjid yang mengatasnamakan ulama Jombang tapi isinya banyak menghasud dan meresahkan masyarakat. >> Tidak heran di Jember Kiyai Muhyidin Pengurus NU Jember sampai menantang dialog terbuka pada mereka. >> Tidak hanya itu, sampai-sampai Dr Said Rhamadhan al Buthi pun menulis buku Al-Salafiyah "Marhalal zamaniyah Mubarakah, la Madzhab Islami. NM: Kegiatan menghina dan merendahkan kelompok lain itu banyak terjadi karena virus fanatisme, dan itu terjadi di semua kelompok yang pernah bertikai, bukan hanya di kalangan oknum awam yang mengaku sebagai pengikut Muhammad bin Abdil Wahhab. Misalnya kalangan yang disebut Ahbasy (di negara-negara Syam) pengikut Abdullah Al-hariri. Mereka adalah orang-orang yang mengaku berhaluan Shufi-Asy'ari-Sya'fi'i. Tapi mereka getol mencela dan menghina (bahkan juga menyesatkan) Al-Qaradhawi, Amr Khalid, Nashiruddin Al-bani, Bin Baz, dan Said Ramadhan Buthi. Begitu juga dengan para pengikut Zahid Al-Kautsari yang mengaku berhaluan hanafiyyah-maturidiyyah tapi getol mensesatkan ulama-ulama besar semisal Imam Bukhari, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Taimiyyah, Adz-Dzahabi, dan Ibnul Qayyim. Obat dari virus fanatisme ini, menurut saya, adalah dengan mempelajari Islam secara serius dan mengajarkannya ke masyarakat. Sebab yang terpenting dari pergerakan, harakah, kelompok, dan organisasi yang ada ini adalah untuk mempelajari dan menyebarkan ajaran Islam yang benar. Nah, tolok ukur kebenaran itu tentunya bukan kelompok ini atau kelompok itu, bukan juga organisasi ini atau organisasi itu. Tapi tolok ukur kebenaran itu adalah kekuatan landasan argumentasi. Dalam ruang lingkup Islam, kekuatan argumentasi itu berarti Kitab Suci dan Seorang Nabi. Artinya: Firman Allah (Al-Quran) dan Ajaran Rasulullah (As-Sunnah). Segala tetek bengek perbedaan dan persengketaan (dari dan antara kelompok manapun) harus dikembalikan ke dua sumber epistemologi Islam ini. Ketika terbukti ada salah satu pandangan kita yang ternyata lemah, maka sebagai muslim yang baik kita harus mengalah dan mau beralih ke pandangan yang kuat. Ketika ternyata kelihatan sama-sama kuat dan sulit untuk ditentukan mana yang lebih kuat, saat itulah kita harus sama-sama menghargai dan menyerahkan segalanya kepada Allah. > > Saya merasa prihatin, betapa kita sedang menghadapi serangan bertubi-tubi dari Barat melalui liberalisme, kedalam kita menghadapi serangan saudara sendiri yang tidak lain ekstrim salafi. > > > Ainul Y NM: Perpecahan di antara sesama muslim memang sangat memperihatinkan dan harus segera diusahakan penyelesaiannya. Tapi kita juga sangat merasa prihatin jika sikap-sikap ekstrim fanatik berbau generalisasi itu juga disikapi dengan cara-cara yang sama. Semoga kita termasuk orang-orang beriman yang ditunjuki jalan yang cerah. Amin. Salam, Nidhol --- End forwarded message ---

