Taliful Qulub Al-Ikhwan.net | 3 June 2007 | 18 Jumadil Awal 1428 H | Hits:
815
Abu Zaki Al-Kalimantany, Lc.
Ruh-ruh itu adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, yang telah saling
mengenal maka ia (bertemu dan) menyatu, sedang yang tidak maka akan saling
berselisih (dan saling mengingkari). (HR. Muslim)
Inilah karakter ruh dan jiwa manusia, ia adalah tentara-tentara yang selalu
siap siaga, kesatuaannya adalah kunci kekuatan, sedang perselisihannya adalah
sumber bencana dan kelemahan. Jiwa adalah tentara Allah yang sangat setia, ia
hanya akan dapat diikat dengan kemuliaan Yang Menciptakanya,. Allah berfirman
yang artinya:
Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu
membelajakan semua (kekayaan) yang berada dibumi, niscaya kamu tidak dapat
mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.
Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 8:63)
Dan tiada satupun ikatan yang paling kokoh untuk mempertemukannya selain
ikatan akidah dan keimanan. Imam Syahid Hasan Al Banna berkata:Yang saya
maksud dengan ukhuwah adalah terikatnya hati dan ruhani dengan ikatan aqidah.
Aqidah adalah sekokoh-kokoh ikatan dan semulia-mulianya. Ukhuwah adalah
saudaranya keimanan, sedangkan perpecahan adalah saudara kembarnya kekufuran.
(Risalah Talim, 193)
Sebab itu, hanya dengan kasih mengasihi karena Allah hati akan bertemu, hanya
dengan membangun jalan ketaatan hati akan menyatu, hanya dengan meniti di jalan
dakwah ia akan berpadu dan hanya dengan berjanji menegakkan kalimat Allah dalam
panji-panji jihad fi sabilillah ia akan saling erat bersatu. Maka sirami taman
persaudaraan ini dengan sumber mata air kehidupan sebagai berikut:
1. Sirami dengan mata Air Cinta dan Kasih sayang
Kasih sayang adalah fitrah dakhil dalam jiwa setiap manusia, siapapun
memilikinya sungguh memiliki segenap kebaikan dan siapapun yang kehilangannya
sungguh ditimpa kerugian. Ia menghiasi yang mengenakan, dan ia menistakan yang
menanggalkan. Demikianlah pesan-pesan manusia yang agung akhlaqnya menegaskan.
Taman persaudaraan ini hanya akan subur oleh ketulusan cinta, bukan sikap basa
basi dan kemunafikan. Taman ini hanya akan hidup oleh kejujuran dan bukan sikap
selalu membenarkan. Ia akan tumbuh berkembang oleh suasana nasehat menasehati
dan bukan sikap tidak peduli, ia akan bersemi oleh sikap saling menghargai
bukan sikap saling menjatuhkan, ia hanya akan mekar bunga-bunga tamannya oleh
budaya menutup aib diri dan bukan saling menelanjangi.
Hanya ketulusan cinta yang sanggup mengalirkan mata air kehidupan ini, maka
saringlah mata airnya agar tidak bercampur dengan iri dan dengki, tidak keruh
oleh hawa nafsu, egoisme dan emosi, suburkan nasihatnya dengan bahasa empati
dan tumbuhkan penghargaannya dengan kejujuran dan keikhlasan diri. Maka niscaya
ia akan menyejukkan pandangan mata yang menanam dan menjengkelkan hati
orang-orang kafir (QS.48: 29).
2. Sinari dengan cahaya dan petunjuk jalan
Bunga-bunga tamannya hanya akan mekar merekah oleh sinar mentari petunjuk-Nya
dan akan layu karena tertutup oleh cahaya-Nya. Maka bukalah pintu hatimu agar
tidak tertutup oleh sifat kesombongan, rasa kagum diri dan penyakit merasa
cukup. Sebab ini adalah penyakit umat-umat yang telah Allah binasakan. Dekatkan
hatimu dengan sumber segala cahaya (Alquran) niscaya ia akan menyadarkan hati
yang terlena, mengajarkan hati yang bodoh, menyembuhkan hati yang sedang sakit
dan mengalirkan energi hati yang sedang letih dan kelelahan.
Hanya dengan cahaya, kegelapan akan tersibak dan kepekatan akan memudar
hingga tanpak jelas kebenaran dari kesalahan, keikhlasan dari nafsu, nasehat
dari menelanjangi, memahamkan dari mendikte, objektivitas dari subjektivitas,
ilmu dari kebodohan dan petunjuk dari kesesatan. Sekali lagi hanya dengan sinar
cahaya-Nya, jendela hati ini akan terbuka. Maka apakah mereka tidak
merenungkan Al Quran ataukah hati mereka telah terkunci. (QS. 47:24)
3. Bersihkan dengan sikap lapang dada
Minimal cinta kasih adalah kelapangan dada dan maksimalnya adalah itsar (
mementingkan orang lain dari diri sendiri) demikian tegas Hasan Al Banna.
Kelapangan dada adalah modal kita dalam menyuburkan taman ini, sebab kita akan
berhadapan dengan beragam tipe dan karakter orang, dan siapapun yang mencari
saudara tanpa salah dan cela maka ia tidak akan menemukan saudara inilah
pengalaman hidup para ulama kita yang terungkap dalam bahasa kata untuk menjadi
pedoman dalam kehidupan.
Kelapang dada akan melahirkan sikap selalu memahami dan bukan minta dipahami,
selalu mendengar dan bukan minta didengar, selalu memperhatikan dan bukan minta
perhatian, dan belumlah kita memiliki sikap kelapangan dada yang benar bila
kita masih selalu memposisikan orang lain seperti posisi kita, meraba perasaan
orang lain dengan radar perasaan kita, menyelami logika orang lain dengan
logika kita, maka kelapangan dada menuntut kita untuk lebih banyak mendengar
dari berbicara, dan lebih banyak berbuat dari sekedar berkata-kata. Tidak
sempurna keimanan seorang mukmin hingga ia mencintai saudaranya seperti ia
mencintai dirinya. ( HR. Bukhari Muslim)
4. Hidupkan dengan Marifat
Hidupkan bunga-bunga di taman ini dengan bermarifat kepada Allah dengan
sebenar-benar marifat, marifat bukanlah sekedar mengenal atau mengetahui
secara teori, namun ia adalah pemahaman yang telah mengakar dalam hati karena
terasah oleh banyaknya renungan dan tadabbur, tajam oleh banyaknya dzikir dan
fikir, sibuk oleh aib dan kelemahan diri hingga tak ada sedikitpun waktu
tersisa untuk menanggapi ucapan orang-orang yang jahil terlebih menguliti
kesalahan dan aib saudaranya sendiri, tak ada satupun masa untuk menyebarkan
informasi dan berita yang tidak akan menambah amal atau menyelesaikan masalah
terlebih menfitnah atau menggosip orang.
Hanya hati-hati yang disibukkan dengan Allah yang tidak akan dilenakan oleh
Qiila Wa Qaala (banyak bercerita lagi berbicara) dan inilah ciri kedunguan
seorang hamba sebagaimana yang ditegaskan Rasulullah apabila ia lebih banyak
berbicara dari berbuat, lebih banyak bercerita dari beramal, lebih banyak
berangan-angan dan bermimpi dari beraksi dan berkontribusi. Diantara ciri
kebaikan Keislaman seseorang adalah meninggalkan yang sia-sia. ( HR. At
Tirmidzi).
5. Tajamkan dengan cita-cita Kesyahidan
Pasukan yang tidak punya tugas, sangat potensial membuat kegaduhan inilah
pengalaman medan para pendahulu kita untuk menjadi sendi-sendi dalam kehidupan
berjamaah ini. Kerinduan akan syahid akan lebih banyak menyedot energi kita
untuk beramal dari berpangku tangan, lebih berkompetisi dari menyerah diri,
menyibukkan untuk banyak memberi dari mengoreksi, untuk banyak berfikir hal-hal
yang pokok dari hal-hal yang cabang. Dan barang siapa yang meminta kesyahidan
dengan penuh kejujuran, maka Allah akan menyampaikanya walaun ia meninggal
diatas tempat tidurnya. ( HR. Muslim)
Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah
bersatu berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepadaMu, bertemu untuk taat
kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru (dijalan)-Mu, dan berjanji setia untuk
membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, abadikanlah
kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahay-Mu yang tidak
pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal
kepada-Mu, hidupkanlah dengan marifat-mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid
di jalan-mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik
penolong.
Amin
---------------------------------
Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel.
[Non-text portions of this message have been removed]