bismi-lLah wa-lhamdu li-lLah wa-shshalatu wa-ssalamu 'ala rasuli-lLah
wa 'ala alihi wa ashhabihi wa ma-wwalah, amma ba'd, 
assalamu 'alaikum wa rahmatu-lLahi wa barakatuH,

Menurut saya, kisah tersebut mempunyai banyak hikmah. 
Jika ada orang yang sering beribadah, maka akan disebut atau dijuluki oleh 
orang lain sbg ahli ibadah, kyai, ustadz dll. Celakalah kalau kita 
menjuluki diri sendiri sebagai ahli ibadah, orang alim dsbnya.
Kita tidak pernah mengetahui seberapa banyak amal-amal kita, karena kita 
tidak tahu apakah amal-amal itu diterima oleh Allah swt. Apakah kita 
tahu..?
Kita tidak mengetahui seberapa banyak dosa-dosa kita, apakah kita tahu..?
Kita tidak tahu, bagaimana akhir hidup kita. Mungkin saja hari ini kita 
muslim, besok kita kafir. Hari ini di mesjid, besoknya di panti pijat. 
Maka berhati-hatilah dengan akhir hidup kita.
Setiap muslim selalu memohon kepada Allah swt, agar selalu diberi 
petunjuk, minimal 17x sehari semalam. Memohon agar petunjuk itu ditambah 
terus oleh Allah swt.
dan bagi para pendosa, janganlah pernah putus asa dari ampunan Allah, 
seberapa besarnya dosa kita, jika kita datang kpd Allah tanpa menyekutukan 
Allah dengan apapun, lalu memohon ampun kpdNya, insya Allah kita akan 
diampuni.

Ketika Abu Bakar ash Shiddiq menderita sakit, orang-orang berkata, "apa 
yang kau rasakan?".
Abu bakar menjawab, "aku merasakan dosa-dosaku,".
Subhanallah..orang semacam Abu bakar masih merasakan dosa-dosanya. Padahal 
dialah orang yang menggunakan harta, darah, air mata, ruh, jiwa, malam, 
dan siangnya untuk menegakkan la ilaha illallah. Dialah orang yang 
menemani Rasulullah saw di sebuah gua ketika orang2 kafir mengepung dan 
hendak membunuh mereka.
Lalu siapa kita? sementara diantara kita banyak yang meremehkan dosa-dosa, 
dan memandang tinggi amalan-amalan kita.

Berhati-hatilah dengan akhir hidup, saudaraku..


wa bi-lLahi-ttaufiq wa-lhidayah, subhanaka-lLahumma wa bihamdiKa
asyhadu alla Ilaha illa Anta, astaghfiruKa wa atubu ilaiK.
Wassalamu'alaikum,



-------------------------------------------------------------------------
haris subianto
Production engineering Dept
Yamaha Motor Parts Mfg Indonesia





"resva" <[EMAIL PROTECTED]> 
Sent by: [email protected]
06/21/2007 02:02 PM

To
"Seri Utami" <[EMAIL PROTECTED]>, <[email protected]>, 
<[EMAIL PROTECTED]>, <[EMAIL PROTECTED]>, 
<[EMAIL PROTECTED]>
cc

Subject
RE: [syiar-islam] Ketika Masjid dan Rumah Bordil Roboh






Assalamualaikum wr wbr..
Saya kok secara pribadi gak setuju dengan jalan cerita seperti ini.....
Sesuatu itu gak semata-mata dilihat hasil akhirnya...tapi harus juga
dilihat prosesnya...
Seperti kisah ini...menurut sy kecil kemungkinan seorang yg suadh jelas2
istiqamah berusaha dijalan yg baik , tiba2 berbalik semudah itu
melakukan maksiat padahal dia tahu akibat yg akan dirasakannya...apa dia
begitu bodohnya menyia-nyia semua apa yg telah ia kerjakan.
Begitupun sebaliknya....seseorang yg sudah tenggelam didunia maksiat
bertahun tahun lamanya , tiba-tiba dengan mudahnya berbalik bertobat...
(walaupun kisah ini sering terjadi didunia nyata)...

Walaupun kisah seperti ini bisa saja terjadi...tapi sy sangat
menyayangkan kalo memang bisa terjadi seperti itu,...
kecuali kisahnya menjadi seperti ini : sang kakak si ahli ibadah
berusaha mengajak adiknya bertobat...kemudian mereka bersama-sama
menjadi ahli ibadah.......kisah ini jadi lebih menarik....tidak pihak yg
dirugikan...alias happy ending...

Kesimpulannya menurut saya kita jangan terlampau terbuai dengan cerita2
yg kadang2 gak masuk logika...kecuali memang kisah itu memang kejadian
nyata yg sering kita dengar sebagai kisah2 luar biasa yg penuh dengan
hikmah.

Demikian
Wassalam




________________________________

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of Seri Utami
Sent: Wednesday, June 20, 2007 1:01 PM
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: [syiar-islam] Ketika Masjid dan Rumah Bordil Roboh

Ketika Masjid dan Rumah Bordil Roboh

ADA DUA LELAKI. Keduanya adalah saudara kandung. Lahir di dalam keluarga
yang taat beragama. Namun perilaku dua orang itu berbeda dan akhir hidup
mereka juga berbeda.

Yang tua, sejak kecil dikenal baik, alim dan ahli ibadah. Ia tidak suka
menyakiti orang lain. Tidak suka hura-hura. Tak pernah menyentuh gelas
minuman keras apalagi meminumnya. Waktu mudanya banyak dihabiskan di
masjid. Ia juga tidak suka bergaul dengan wanita yang bukan mahramnya.
Pernah ia dirayu seorang gadis cantik yang masih sepupunya, namun ia
teguh dalam keimanannya. Karena amal perbuatannya yang baik dan
akhlaknya ia dicintai oleh keluarga dan masyarakat.

Sedangkan adiknya, sangat berbeda dengan kakaknya. Sejak kecil ia
dikenal nakal. Sejak remaja sudah biasa masuk tempat maksiat. Rumah
bordil adalah tempat biasa ia mangkal. Hampir tiap hari ia mabuk dan
melakukan pelbagai macam maksiat di rumah bordil miliknya itu.
Kadang-kadang ia juga ikut gerombolan perampok, untuk merampas harta
orang lain. Saat merampok ia bahkan terkadang juga melakukan
pemerkosaan. Hampir segala jenis maksiat dan perbuatan yang menjijikan
telah ia lakukan untuk memuaskan hawa nafsunya. Perbuatan jahatnya itu
membuat dirinya dibenci oleh keluarga dan masyarakat.

Suatu ketika, sang kakak yang alim dan ahli ibadah merenung. Tiba-tiba
dengan halus sekali nafsunya berkata padanya, 

"Sejak kecil kau selalu berbuat kebaikan dan beribadah. Kau telah
mendapat tempat di hati masyarakat dan dikenal sebagai orang baik. Namun
kau tidak pernah merasakan nikmatnya hidup sedikitpun. Kenapa tidak
sesekali kau datang ke tempat adikmu menghibur diri di rumah bordilnya.
Sesekali saja. Setelah itu kau bisa tobat. Kau bisa membaca istighfar
ribuan kali dalam sholat tahujjud. Bukankah Allah itu Maha Pengampun ?"

Bujukan hawa nafsunya itu ternyata masuk dalam pikirannya. Setan pun
dengan sangat halus masuk melalui pori-pori dan aliran darah. Ia berkata
pada diri sendiri, "Benar juga. Kenapa aku tidak sesekali menghibur diri
? Hidup cuma sekali. Nanti malam aku mau menari dan bersenang-senang
bersama wanita cantik di rumah bordil adikku. Setelah itu aku pulang dan
bertobat kepada Allah Swt. Dia Maha Pengasih lagi Maha Pengampun."

Sementara di rumah bordil. Adiknya juga merenung. Ia merasa jenuh dengan
hidup yang dijalaninya. Nuraninya berkata, 

"Sudah bertahun-tahun aku hidup bergelimang dosa. Bermacam maksiat telah
aku lakukan. Apakah aku akan hidup begini terus? Keluarga membenciku
karena perbuatanku. Juga masyarakat, mereka memusuhiku karena
kejahatanku. Kenapa aku tidak mencoba hidup baik-baik seperti kakak. Ah,
bagaimanakah besok kalau aku telah mati. Bagaimana aku
mempertanggungjawabkan perbuatanku. Kalau begini terus kelak aku akan
masuk neraka. Hidup susah di akhirat sana. Sementara kakakku akan hidup
nikmat di surga. Tidak! Aku tidak boleh hidup dalam lembah maksiat
terus. Aku harus mencoba hidup di jalan yang lurus. Nanti malam habis
maghrib aku akan ke masjid tempat kakak beribadah. Aku mau tobat dan
ikut shalat. Aku mau kembali ke pangkuan Allah Swt. Aku mau beribadah
sepanjang sisa hidupku. Semoga saja Allah mau mengampuni dosa-dosaku
yang telah lalu."

Dan benarlah. Ketika malam datang kedua saudara itu melakukan niatnya
masing-masing. Usai shalat maghrib, sang kakak kembali ke rumah, ganti
pakaian dan bergegas menuju rumah bordil. Adapun sang adik, telah pergi
meninggalkan rumah bordil begitu mendengar suara azan maghrib. Jalan
yang diambil dua bersaudara itu tidak sama, sehingga keduanya tidak
berjumpa di tengah jalan.

Sampai di rumah bordil sang kakak mencari adiknya. Namun tidak ada.
Orang-orang yang ada di rumah bordil tidak ada yang tahu kemana adiknya
itu pergi. Meskipun adiknya tidak ada ia tetap melaksanakan niatnya.
Nafsu telah menguasai akal pikirannya. Ia pun menuruti segala yang
diinginkan nafsunya di rumah bordil itu bersama para penari dan pelacur.

Di tempat lain, sang adik sampai masjid tempat kakaknya biasa ibadah. Ia
sudah bertekad bulat untuk tobat meninggalkan semua perbuatan buruknya.
Ia mengambil air wudhu dan masuk ke dalam masjid. Ia mencari-cari
kakaknya, ternyata tidak ada. Padahal biasanya kakaknya selalu beritikaf
di masjid usai maghrib sampai isya. Ia bertanya pada penjaga masjid,
namun ia tidak tahu kemana perginya. Meskipun tidak ada kakaknya niatnya
telah bulat. Ia melakukan shalat dan beristighfar sebanyak-banyaknya
dengan mata bercucuran air mata.

Tiba-tiba bumi tergoncang dengan hebatnya.

"Awas ada gempa ! Ada gempa !" teriak orang-orang di jalan.

Orang-orang panik keluar dari rumah untuk menyelamatkan diri. Takut
kalau-kalau rumah mereka runtuh. Sang adik yang sedang larut dalam
kenikmatan tobatnya tidak beranjak dari dalam masjid. Ia tidak merasakan
ada gempa. Demikian juga sang kakak yang saat itu sedang terlena di
rumah bordil. Ia sama sekali tidak merasakan gempa. Goncangan gempa
malam itu cukup keras. Beberapa bangunan roboh. Termasuk masjid dan
rumah bordil.

Keesokan harinya. Sang kakak ditemukan tewas diantara reruntuhan rumah
bordil di samping mayat seorang penari wanita dalam keadaan yang
memalukan. Sedangkan adiknya juga ditemukan tewas di antara reruntuhan
masjid. Kedua tangannya mendekap sebuah mushaf di dada.

Masyarakat yang tahu ihwal kedua kakak beradik itu meneteskan air mata.
Mereka tidak habis pikir, orang yang selama ini dikenal ahli ibadah kok
bisa tewas dengan cara yang sedemikian tragisnya. Sedangkan adiknya yang
selama ini dikenal ahli maksiat kok bisa husnul khatimah. Dengan
peristiwa itu orang-orang diberi pelajaran yang sangat berharga. Bahwa
kematian bisa datang kapan saja. Hanya Allah yang tahu. Maka jangan
sekali-kali iseng menuruti hawa nafsu. Siapa tahu saat sedang menuruti
hawa nafsu itulah maut menjemput. Na'udzubillahi min dzalik. Bahwa niat
baik harus selalu dijaga, agar Allah Swt menganugerahkan akhir hidup
yang indah. Akhir hidup yang diridhai-Nya.

"Ya Allah, karuniakanlah kepada kami keteguhan dan keistiqomahan berada
dalam jalan-Mu. Karuniakanlah kepada kami husnul khatimah. Amin, ya
Rabbal 'Alamin."

Sumber Tulisan Oleh : Habiburrahman El Shirazy 

(Di Atas Sajadah Cinta, Penerbit Republika, Cetakan X, September 2006)

----------------------------------------------------------

Suatu nasihat tidak bisa memberi pengaruh sama sekali kepada hati yang
sudah keras laksana sebuah batu di dalam air yang tidak bisa lunak (Imam
Ghozali)

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]

 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke