ISU TERORISME HILANG, DENSUS 88 DITINGGAL AMERIKA 
Fitra Uskandar - Okezone

JAKARTA - Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri tengah berjaya karena dipakai 
untuk memerangi terorisme. Namun, jika persoalan terorisme redup, korps 
antiterror itu akan bernasib seperti TNI yang dicampakan Amerika dan akan 
dibrondong tuduhan melanggar HAM. 

"Densus 88 akan bernasib seperti TNI. Dulu Amerika sangat berkepentingan 
mensuport TNI menghalau Komunisme. Setelah tidak ada komunis, Amerika menyerang 
TNI dengan tuduhan macam-macam, seperti sekarang ini," ungkap aktivis Hizbut 
Tahrir Indonesia (HTI) yang juga mantan ketua YLBHI  Munarman kepada okezone, 
Rabu (20/6/2007). 

Munarman meyakini, ada simbiois mutualisme antara polisi dan Amerika dalam 
penanganan terorisme. Dukungan finansial yang diberikan AS terhadap Densus 88 
menurutnya dimanfaatkan sebagai proyek oleh oknum polisi untuk kenaikan 
pangkat, kekayaan. 

"Pemberantasan terorisme itu proyek untuk kenaikan pangkat dan mencari 
kekayaan," tandas Munarman. 

Lebih dari itu, Munarman mencurigai berbagai persoalan teroris yang muncul 
kepermukaan tak lebih dari sebuah skenario, untuk meningkatkan daya tawar agar 
mengucurkan bantuan asing. Hal tersebut menurutnya terbukti dengan adanya sosok 
Nasir Abbas. Anggota Jamaah Islamiyah (JI) yang tercatat sebagai warga Malaysia 
itu banyak melatih orang Indonesia menjadi teroris, namun tidak ditangkap. 
Mirisnya, Nasir malah justru bekerja untuk kepolisian. 

Bukti lain adalah pernyataan pemerintah Australia yang mendahului Mabes Polri 
yang menyebutkan Yusron adalah Abu Dujana. 

"Polisi sedang dipermainkan asing. Itu juga bukti pemberantasan teroris hanya 
pesanan asing," pungkasnya.(fit) 

Sumber : 
http://www.okezone.com/index.php?option=com_content&task=view&id=28095&Itemid=67
 (Rabu, 20/06/2007 15:54 WIB) 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke