Perniagaan Rasulullah saw dengan harta Khadijah ra dan pernikahannya dengan
Khadijah ra
Oleh : Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy
Khadijah, menurut riwayat Ibnul Atsir dan Inu Hisyam adalah seorang wanita
pedagang yang mulia dan kaya. Beliau sering mengirim orang kepercayaannya untuk
berdagang. Ketika mendengar kabar tentang kejujuran Nabi saw dan kemuliaan
akhlaknya. Khadijah mencoba memberi amanat kepada Nabi saw dengan membawa
dagangannya ke Syam (sekarang Palestina, Syria, Lebanon, dan Yordania).
Khadijah membawakan barang dagangan yang lebih baik dari apa yang dibawakan
kepada orang lain. Dalam perjalanan dagang ini Nabi saw ditemani Maisarah,
seorang kepercayaan Khadijah. Muhammad saw menerima tawaran ini dan berangkat
ke Syam bersama Maisarah meniagakan harta Khadijah. Dalam perjalanan ini Nabi
berhasil membawa keuntungan yang berlipat ganda, sehingga kepercayaan Khadijah
bertambah terhadapnya.
Selama perjalanan tersebut Maisarah sangat mengagumi akhlak dan kejujuran
Nabi.
Semua sifat dan perilaku tersebut dilaporkan Maisarah kepada Khadijah.
Khadijah tertarik pada kejujurannya, dan ia pun terkejut oleh keberkahan yang
diperolehnya dari perniagaan Nabi saw. Kemudian Khadijah menyampaikan hasratnya
untuk menikah dengan Nabi sawa dengan perantaraan Nafisah binti Muniyah. Nabi
saw menyetujuinya, kemudian Nabi menyampaikan hal itu kepada paman-pamannya.
Setelah itu, mereka meminang Khadijah untuk Nabi saw dari paman Khadijah, Amr
bin Asad. Ketika menikahinya, Nabi berusia dua puluh lima tahun, sedangkan
Khadijah berusia empat puluh tahun.
Sebelum menikah dengan Nabi saw, Khadijah pernah menikah dua kali. Pertama
dengan Atiq bin Aidz at-Tamimi, dan yang kedua dengan Abu Halah at-Tamimi;
namanya Hindun bin Zurarah. 1
Mengenai kedudukan dan keutamaan Khadijah dalam kehidupan Nabi saw,
sesungguhnya ia tetap mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Rasulullah
sepanjang hidupnya. Telah disebutkan di dalam riwayat Bukhari dan Muslim, bahwa
Khadijah adalah wanita terbaik pada zamannya.
Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Ali ra pernah mendengar Rasulullah
bersabda : Sebaik-baik wanita (langit) adalah Maryam binti Imran, dan
sebaik-baik wanita (bumi) adalah Khadijah binti Khuwailid. 2
Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata : Aku tidak
pernah cemburu kepada istri-istri Nabi saw kecuali kepada Khadijah, sekalipun
aku tidak pernah bertemu dengannya. Adalah Rasulullah ketika menyembelih
kambing, ia berpesan, Kirimkan daging kepada teman-teman Khadijah. Pada suatu
hari aku memarahinya, lalu aku katakana, Khadijah? Kemudian Nabi bersabda,
Sesungguhnya aku telah dikaruniai cintanya. 3
Ahmad dan Thabrani meriwayatkan dari Masruq dari Aisyah ra, ia berkata :
Hampir tidak pernah Rasulullah keluar rumah sehingga menyebut Khadijah dan
memujinya. Pada suatu hari Rasulullah menyebutnya, sehingga menimbulkan
kecemburuanku. Lalu aku katakana, Bukankah ia hanya seorang tua yang Allah
telah menggantikannya untuk kakanda orang yang lebih baik darinya? Kemudian
Rasulullah marah seraya bersabda, Demi Allah, Allah tidak menggantikan untukku
orang yang lebih baik darinya. Dia beriman ketika orang-orang ingkar, dia
membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, dia membela dengan hartanya
ketika orang-orang menghalangiku, dan aku dikaruniai Allah anak darinya,
sementara aku tidak dikaruniai anak sama sekali dari istri lainnya.
Sehubungan dengan pernikahan Rasulullah saw dengan Khadijah, kesan yang
pertama kali didapatkan dari pernikahan ini ialah, bahwa Rasulullah sama sekali
tidak memperhatikan faktor kesenangan jasadiah. Seandainya Rasulullah sangat
memperhatikan hal tersebut, sebagaimana pemuda seusianya, niscaya beliau
mencari orang yang lebih muda, atau minimal orang yang tidak lebih tua darinya.
Nampaknya, Rasulullah menginginkan Khadijah karena kemuliaan akhlaknya diantara
kerabat dan kaumnya, sampai ia pernah mendapatkan julukan Afifah Thahirah
(wanita suci) pada masa jahiliyah.
Pernikahan itu berlangsung hingga Khadijah meninggal dunia pada usia enam
puluh lima tahun, sementara itu Rasulullah telah mendekati lima puluh tahun,
tanpa berfikir selama masa ini untuk menikah dengan wanita atau gadis lain.
-
1 Diriwayatkan oleh Ibnu Sayyidin-Nas dalam Uyunul Atsar, Ibnu Hajar dalam
al-Ishabah dan lainnya.
2 Kata ganti di dalam kata nisaiha seperti ditunjukkan oleh riwayat Muslim
kembali kepada langit untuk yang pertama (Maryam) dan kepada bumi untuk yang
kedua (Khadijah). Berkatalah ath-Thaibi: kata ganti yang pertama kembali kepada
umat di masa Maryam hidup., yang kedua kembali kepada umat ini. Lihat Faithul
Bari, 7/91.
3 Muttafaq Alaih, lafazh ini bagi Muslim.
(Sumber : Sirah Nabawiyah, Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam
di Masa Rasulullah SAW)
www.tauziyah.com
---------------------------------
Park yourself in front of a world of choices in alternative vehicles.
Visit the Yahoo! Auto Green Center.
[Non-text portions of this message have been removed]