Di Balik Wajah Teduh Itu   
  27 Jun 07 16:39 WIB
   
   
   
  Oleh Faradays Muhammad
   
   
  Hari itu seperti biasa, dia yang terbungkus pakaian putih itu sedang duduk di 
sajadahnya. Mulutnya bergerak-gerak melantunkan dzikir kepada Tuhan-Nya. 
Wajahnya pun sama seperti hari-hari sebelumnya. Putih bersih, bercahaya... 
Menggambarkan kebeningan hatinya. Kau tahu apa yang paling kusenangi untuk 
dilakukan saat melihatnya seperti itu? Aku akan berbaring dan meletakkan 
kepalaku di pangkuannya. Sambil menengadah melihat wajah teduhnya yang 
menenangkan. Enak sekali rasanya saat itu, sulit diungkapkan. Terlebih saat ia 
berdoa untuk kebaikan diriku.
   
  Dan setelah dia menyelesaikan doanya, aku akan segera mencium tangannya, juga 
kedua pipinya. Hhm... Wangi sekali. Dan seperti biasanya dia hanya akan 
tersenyum, apalagi jika kugoda dengan ucapan, ” cantik sekali hari ini. ” Ingin 
tertawa rasanya jika mengingat wajahnya saat itu. Oya, dia memang jarang 
berbicara, karena dia tidak bisa berbahasa Indonesia. Dia hanya bisa berbahasa 
jawa. Dia adalah nenekku...
   
  Umurnya sudah mencapai 1 abad, melebihi umur bangsa ini jika dimulai dari 
kemerdekaannya. Sehingga dia termasuk saksi hidup pergiliran generasi di negeri 
ini, sejak zaman penjajahan, hingga zaman reformasi. Tapi kujamin jika kau 
lihat langsung dirinya, kau akan terkagum-kagum dibuatnya. Bagaimana tidak? 
Dengan umur segitu, fisiknya masih bagus. Dia tidak memerlukan tongkat atau 
kursi roda untuk berjalan. Dia bahkan mencuci beberapa pakaiannya sendiri. 
Penglihatan dan pendengarannya juga masih bagus. 
   
  Dia bisa mengenali delapan cucunya dengan baik, tanpa tertukar. Begitu juga 
ingatannya. Dia masih bisa bercerita tentang masa kecilku, yang membuatku 
tersenyum karenanya. Dia senang sekali mengulang-ulang perkataan yang 
seringkali kuucapkan saat kecil jika aku melakukan sebuah kesalahan, ” Ga 
sengaja.. ga sengaja kok. ” Dan yang paling hebat adalah, dia bisa menyebutkan 
satu persatu hari kelahiran (hari jawa, seperti sabtu pon dan sebagainya) 
cucunya dengan baik. Tidak cuma delapan cucunya dari ibuku, karena ibuku adalah 
anak bungsu. Semua cucu-cucu dari semua anak-anaknya! Jumlahnya mungkin 
mencapai sekitar 25-an.
   
  Tapi itu semua tidak terlalu menakjubkan bagiku, dibandingkan hal ini. Dia 
suka sekali bersedekah. Uang yang didapat dari cucu-cucunya selalu ia simpan 
dengan rapi. Hanya digunakan seperlunya saja, untuk dibelikan jamu atau balsem 
kesukaannya. Sebagian besar dia sedekahkan. Seringkali dia menitipkan uang 
untuk kusedekahkan ke masjid atau ke orang-orang yang memerlukan, dengan 
mewanti-wanti supaya aku tidak menceritakannya kepada ibuku. 
   
  Dia juga suka melakukan shaum (puasa) sunnah. Begitu juga shalat malam, 
bahkan membuatku malu sebagai laki-laki yang masih kuat dan sehat. Biasanya 
saat bangun tengah malam, dia akan mandi terlebih dahulu, dengan air panas di 
termos yang sudah disediakan kakak perempuanku, yang diletakkan di dekat tempat 
tidurnya.
   
  Mungkin pola hidup seperti itulah yang membuatnya tetap sehat di usianya. 
Ditambah satu rahasia lagi, yang baru kutemukan belakangan: hatinya selalu 
tulus, dia tidak pernah mendengki terhadap orang lain. Tak pernah kudengar 
ucapannya terhadap orang lain (dalam Islam disebut ghibah). Itu membuatnya 
menikmati hidup. Selalu tersenyum dan tidak pernah bermasalah dengan orang 
lain. Bahkan semua orang menyukainya.
   
  Aku sempat berangan-angan dulu, untuk mengenalkannya dengan pasanganku kelak. 
Walaupun juga ada kekhawatiran, mengingat usianya yang sudah sangat tua. Ah, 
betapa bahagianya jika bisa menjalani hidup dengan wanita-wanita hebat dan 
kukagumi: nenek, ibu dan isteriku, begitu pikirku saat itu. Tapi takdir Allah 
telah mendahului keinginanku. Dia dipanggil sekitar 3 tahun yang lalu. 
Meninggalkan kenangan indah dan banyak pelajaran bagi diriku, dan kami, 
keluarga yang ditinggalkannya.
   
  eramuslim.com

  
---------------------------------
Looking for earth-friendly autos? 
 Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.  

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke