Mungkin dalam negosiasi berhasil dicapai kesepakatan untuk tidak perlu
memperpanjang masalah cukup dengan pernyataan maaf. Saya pribadi justru
mencium pemuatan karikatur sebagai upaya supaya ummat ini sedikit demi
sedikit bisa berkompromi menjadi lebih pasifis ..? Pacifisme (Latin:
pacificus) adalah paham "oposisi terhadap perang dan segala bentuk
kekerasan dalam penyelesaian konflik" (Webster's Ninth New Collegiate
Dictionary, 845).

kalau kita mau merujuk kepada syariat, semestinya yang melakukan
harusnya dihukum mati.. tetapi sebagaimana Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam telah bersabda bahwasanya umat ini akan berpecah belah
berkelompok-kelompok dan bergolong-golongan. Dan bahwa umat ini akan
mengikuti cara-cara umat-umat sebelumnya selangkah demi selangkah,
beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda

"Artinya : Kalian benar-benar akan mengikuti tata cara umat-umat sebelum
kalian, selangkah demi selangkah hingga mereka memasuki lubang biawak
kalian pasti mengikutinya. "Para sahabat bertanya : Apakah yang engkau
maksudkan Yahudi dan Nashara ?" Beliau menjawab : Kalau bukan (mereka)
siapa lagi?" [Muttafaqun 'alaihi]

lebih kompromis dalam menghadapi perbedaan walaupun sudah ada contoh..
tetapi karena nilai-nilaii zaman sudah berubah jadi, nilai dalam Islam
harus berkompromi/berubah. coba simak artikel yang ada di situs liberal
dibawah ini...

Memperkuat Islam Pacifis

Oleh Sumanto al Qurtuby

21/05/2007

Karena didorong semangat anti-perang dan cinta damai, kaum pacifis dari
kedua agama ini, bersama pacifis Muslim, bekerja menciptakan iklim
kesejukan seperti organisasi Seeds of Peace di Palestina dan Israel.
Mereka sadar bahwa kekerasan yang terjadi di Timur Tengah lebih banyak
bermuatan politik-ekonomi daripada agama. Dalam banyak hal, agama
merupakan "penumpang" kesekian dari konflik. 

Pacifisme (Latin: pacificus) adalah paham "oposisi terhadap perang dan
segala bentuk kekerasan dalam penyelesaian konflik" (Webster's Ninth New
Collegiate Dictionary, 845). Istilah ini juga merujuk pada ide dan
gerakan perlawanan nirkekerasan sebagai kritik atas tirani, despotisme,
dan otoritarianisme para penguasa-baik politik maupun agama. Tidak
seperti kaum radikal yang memilih jalan kekerasan, kaum pacifists lebih
memilih aksi damai. Meski begitu, pacifism tak identik dengan
quietism-paham serba diam-seperti dituduhkan kelompok anti-pacifisme. 

Bagi lawannya, pacifisme diplesetkan jadi "pasivisme", yakni paham pasif
atau serba diam dalam menyikapi ketidakadilan. Kaum pacifis juga dituduh
menomersatukan perdamaian (peace) dan menomersekiankan keadilan
(justice). Tuduhan-tuduhan itu-yang disuarakan kaum radikal dan kelompok
pendukung perang-tidak berdasar, bias, dan "salah baca" (misreading)
atas pengertian dasar pacifisme. 

Salah satu pemikir dan pendukung pacifisme, Gene Sharp, sarjana senior
di Albert Einstein Institution di Boston, memberi klarifikasi mengenai
ide dan gerakan "tanpa-kekerasan" dalam bukunya, The Politics of
Nonviolent Action. Intinya, pacifisme tak berarti passivity atau tunduk
terhadap fakta ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Pacifisme tidak
berarti mengabaikan isu keadilan. 

Kaum pacifis sadar bahwa keadilan adalah unsur penting perdamaian.
Perdamaian tak bisa, atau minimal susah dicapai, jika isu ketidakadilan
(injustice) belum diselesaikan. Bagi mereka, perdamaian bukan hanya
ditandai absennya perang, tapi juga hadirnya keadilan. Karena itu,
kelompok ini bekerja pada dua level isu-peace and justice-sekaligus
lewat jalan yang oleh aktivis perdamaian muslim Thailand, Chaiwat
Satha-Anand (Quader Muheideen) disebut "active nonviolent resistance". 

Gerakan Anti-Perang dan Kekerasan

Kelompok pacifisme inilah yang jadi motor penggerak aksi-aksi melawan
"kebijakan" perang, penjajahan, kolonialisme, militerisme, dan kebijakan
menggunakan sarana kekerasan. Di AS, koalisi kelompok pacifis dari
berbagai agama menjadi elemen penting aksi melawan kebengalan
pemerintahan George Bush dalam war on terror. Unsur kelompok ini,
misalnya Christian Peacemakers, aktif menggalang kekuatan kontra perang
lewat demonstrasi, petisi massa, lobi, dan penyebaran pesan-pesan
anti-perang lewat TV, radio, dll. 

Dalam tradisi Kristen, paham pacifisme begitu kuat karena berakar pada
sosok Yesus yang anti-kekerasan dan memerintahkan pengikut-Nya untuk
mencintai musuh serta mendoakan orang-orang yang menyiksanya. Karena
itu, penolakan kekerasan, seperti dikatakan John Howard Yoder, teolog
kaum pacifis, merupakan "intrinsic element of Christian profession"
(Zimmerman 2007, 16). 

Dalam pandangan Kristen pacifis, orang-orang Kristen yang menjalankan
atau mendukung kekerasan (termasuk perang) merupakan penyeleweng
fundamental atas teologi kekristenan. Mereka mengkritik kebijakan Bush
dan pendukungnya (terutama dari gereja-gereja Kristen konservatif) yang
pro-perang. 

Tradisi pacifisme juga kuat berakar dalam agama Yahudi. Dalam teks-teks
rabinik misalnya, bertebaran ungkapan "Gadol Hashalom"-perdamaian adalah
nilai tertinggi. Dalam Hebrew Bible banyak pula dijumpai prinsip
perdamaian, keadilan, serta anti-kekerasan (misalnya, Jer. 16:5, Ps.
85:11). Prinsip-prinsip inilah yang antara lain mendorong gerakan
pacifisme Yudais seperti dilakoni Rabi Jeremy Milgrom, pendiri Clergy
for Peace. Milgrom adalah mantan tentara Israel yang tobat dan aktif di
gerakan perdamaian dan HAM yang menyokong proyek rekonsiliasi
Arab-Yahudi. 

Artinya, tradisi pacifisme di kedua agama ini kuat mengakar dalam
konsep-konsep teologi mereka. Karena didorong semangat anti-perang dan
cinta damai, kaum pacifis dari kedua agama ini, bersama pacifis Muslim,
bekerja menciptakan iklim kesejukan seperti organisasi Seeds of Peace di
Palestine dan Israel. Mereka sadar bahwa kekerasan yang terjadi di Timur
Tengah lebih banyak bermuatan politik-ekonomi daripara agama. Dalam
banyak hal, agama merupakan "penumpang" kesekian dari konflik. 

Pacifisme dalam Islam

Sebagaimana Yahudi dan Kristen, secara konseptual Islam juga tak bisa
dilepaskan dari tradisi pacifisme. Ajaran perdamaian dan keadilan sangat
ditekankan Alquran. Kata "Islam" sendiri seperti disebutkan The Hans
Wehr Dictionary of Modern Written Arabic, selain bermakna "ketundukan,
penerimaan, dan rekonsiliasi" (terhadap keinginan Tuhan) juga bermakna
"perdamaian, keselamatan, keamanan, kesejahteraan, dst." (Cowan, ed.,
1976: 425-426). 

Doktrin perdamaian sangat esensial dalam Islam karena berakar kuat pada
doktrin tauhid yang tak hanya berarti "keesaan Tuhan" (unity of Godhead)
tapi juga "kesatuan kemanusiaan" (unity of humanity), "kesatuan
penciptaan" (unity of creation), dan "kesatuan eksistensi" (unity of
existence atau wahdatul wujud). "Barat dan Timur adalah milik Allah,"
tegas Alquran ( Q.S. 2:115). Tauhid adalah "prinsip kesatuan" yang
merupakan lahan subur bagi spiritualitas dan keimanan Islam.

Karena prinsip "kesatuan" ini, Islam menganggap penting pluralitas,
harmoni, toleransi, dan inter-relasi, sebagai nilai-nilai fundamental
perdamaian antar-manusia. Prinsip "kesatuan" juga menegaskan bahwa
kehidupan manusia begitu "sakral" dan harus dirawat semua penduduk
planet ini. Alquran menyatakan, "...dan barang siapa membunuh seorang
manusia, dia seakan membunuh seluruh manusia. Dan barangsiapa
menyelamatkan nyawa seorang manusia, maka ia seperti menyelamatkan
seluruh kehidupan manusia" (QS. 5:32). 

Sadar akan substansi perdamaian, sampai wafat, Nabi Muhammad terus
melakukan dialog dan membangun hubungan sehat dengan orang Yahudi dan
Kristen seperti diriwayatkan para penulis biografi beliau, semisal Ibnu
Ishaq, Ibnu Hisyam, al-Baladhuri, atau al-Tabari. Dalam A History of
Jews of Arabia, Gordon Newby juga menandaskan hubungan harmonis Nabi dan
komunitas Yahudi. 

Bukti paling monumental adalah peristiwa Penaklukan Mekkah saat Nabi
menyerukan perdamaian dan rekonsiliasi dengan bekas musuh-musuhnya.
Ketika Mekkah "ditaklukkan", Nabi melarang pembersihan dan pengrusakan
simbol-simbol Yahudi dan Kristen, seperti dituturkan Martin Lings dalam
Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources. Teladan mulia Nabi itu
dilanjutkan generasi awal muslim seperti ditulis Nabia Abbot dalam
Studies in Arabic Literary Papyri. 

Sebagai "keluarga besar Islam," seharusnya kita melanjutkan teladan
beliau serta menjalankan pesan-pesan tauhid dalam pola hidup
berdampingan. Bukan sebaliknya, berteriak anti non-Muslim atau
anti-pluralisme lewat kekerasan, pengrusakan, vandalisme, terorisme,
dlsb. Perbuatan itu bukan hanya "immoral situation" seperti kata Syeikh
Mahmud Syaltut, tapi juga penyimpangan terhadap spirit Islam sebagai
agama damai! [] 

Referensi: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1256


________________________________

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of Hasbiyanto 
Sent: Tuesday, July 10, 2007 12:23 PM
To: A Nizami; padhang-mbulan; sabili; [email protected]
Subject: [syiar-islam] IAIN Dikuasai Islam Liberal? Re: [Saksi]Karikatur
Nabi Muncul di Buletin STAIN
 
 Kalau menurut saya sebaiknya STAIN tidak cuma sekedar minta maaf, enak
saja buat kesalahan yang fatal koq cuma dengan sekedar minta maaf
kemudian selesai begitu saja. Kalau menurut saya, sebaiknya buletin
STAIN itu di bredel saja. redaktur dan rektornya sebaiknya diberi sangsi
yang cukup berat. Saya tidak habis pikir, institusi agama, apalagi agama
islam, koq dengan se-enaknya melecehkan Rosul yang kita cintai ini.

Salam,
Hasbiyanto

>>> A Nizami <[EMAIL PROTECTED] <mailto:nizaminz%40yahoo.com> >
7/10/2007 11:47 AM >>>
Assalamu'alaikum wr wb,


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke