**Kalau di Indonesia, revolusi/ perjuangan kemerdekaan melawan penjajah
nasrani dinyalakan & diperjuangkan oleh kaum muslimin yg umumnya
dipimpin oleh para ulama' tapi hasilnya dipetik oleh kelompok pengecut
sekuler-liberal dan nasrani yg jauh sblm kemerdekaan telah hidup bersama
& dibina oleh kolonial nasrani Belanda. Sampai saat ini pun keadaannya
relatif tdk berubah. Hanya saja peran Belanda sudah digantikan oleh AS &
Israel.

 

Salam,

Zulfadhli

 

Fase Emas untuk Revolusi Palestina 

M. Badruddin Madukh

 

"Revolusi diletuskan oleh kaum spekulan... diperjuangkan oleh para
revolusioner...tapi hasilnya dipetik kelompok pengecut" "revolusi
diletuskan oleh pemimpin dengan bahan bakar rakyat kecil ... hasilnya
dipetik kelompok pengecut" "Revolusi diletuskan oleh kaum
tertindas...dinyalakan oleh pahlawan nasional... hasilnya dipetik
kelompok pengecut" Ungkapan-ungkapan dari mulut yang berbeda-beda namun
kesimpulan sama "hasilnya dipetik kelompok pengecut.  

 

Ini bukan ayat Al-Quran atau hadis Nabi saw. yang tidak boleh diralat
dan harus diterima. Ia ungkapan manusia biasa yang bisa salah bisa
benar. Namun realitasnya dalam sejarah terbukti kebenaran ungkapan itu
meski relative. 

 

Sejarah modern membuktikan, orang-orang yang memimpin revolusi di dunia
Arab dan Islam melawan kolonialisme namun bukan mereka yang memetik
hasilnya. Kelompok pengecut yang kerjanya bermalas-malasan dengan
bantuan kaum penjajah yang menjadi pemimpin dan mendapatkan legalitas
perjuangan. Revolusi akhirnya menjadi debu di mata. 

 

Kita kenal Abdul Kadir di Aljazair, Umar Al-Mukhtar, Al-Khotobi,
Izzuddin Al-Qassam, Hasan Al-Banna, Haji Amin Husaini, dan masih banyak
lagi. Kita mengenal mereka sebagai kaum revolusioner dan kaum
perlawanan. Namun tak ada pengikut dan penerus perjuangan mereka menjadi
pemimpin. Tapi kelompok lain yang merebut legalitas mereka dengan
bantuan kaum penjajah. Bukan hanya itu, pejuang revolusi itu yang legal
dipinggirkan, ditangkap, disiksa dan dituding sebagai antek-antek
penjajah.  

 

Inilah realitas Arab dalam sejarah modern dan ini pula yang direncanakan
untuk revolusi Palestina. Padahal para pejuang Palestina sudah mencapai
fase terdekat dengan tujuan mereka. 

 

Pihak musuh dan anteknya yang pengecut ingin memanen hasil jeripayah
orang lain. Namun kali ini mereka di Palestina menemukan para pejuang
revolusi pejuang perlawan sangat tangguh sehingga mereka kalangkabut. 

 

Apa yang terjadi di Jalur Gaza setelah Hamas menguasainya secara
keamanan adalah kudeta hakiki, bukan terhadap legalitas Palestina tapi
terhadap kaki tangan musuh dan kolonial. 

 

Saya ingat ketika berada di negara Barat, sebagian pemikir Islam
mendatangi kami, dan kami katakan selalu kepada mereka, sampai kapan
gerakan Islam yang menanam dan orang lain memetiknya? Gerakan Islam yang
kami maksud adalah semua insan atau kelompok yang berjuang melawan
kedlaliman dan penjajahan melalui titik tolak yang legal (sah) dan
Islami. Para pemikir itu kebanyakan biasanya tidak memberikan jawaban
yang memuaskan. Semua nama pejuang revolusi adalah nama-nama ulama dan
tokoh yang lahir dari rahim gerakan Islam dan rahim masjid. Sementara
nama pemimpin tidak mengenal agama kecuali hanya namanya dan tidak
mengenal Al-Quran kecuali tulisannya. 

 

Kami di Palestina tidak perlu mengkloning system pemerintahan Arab yang
baru, namun kami membutuhkan system pemerintah yang menolak realitas
atau mengubahnya. Meski kita Palestina masih bagian dari pemimpin Arab
yang pernah menjadi jajahan, apakah termasuk bijak jika kita mengulang
langkah mereka? 

 

Saya menilai apa yang dilakukan Hamas di Jalur Gaza adalah langkah yang
memang seharusnya dilakukan untuk mengarah kasus Palestina kepada
porosnya yang benar dan sesuai dengan hukum sejarah dan hukum alam.
Sejarah akan mencatat gerakan Hamas sebagai gerakan cerdas dan unik
dalam mengambil pelajaran revolusi-revolusi masa lalu. Revolusi
Palestina hari ini - Alhamdulillah - berada di tangan-tangan yang
amanah. Sejarah nanti akan berterimakasih terhadap gerakan ini karena
telah mengembalikan revolusi kepada revolusinya. 

 

Kita ingat Shalahuddin Al-Ayyubi, ia tidak mungkin menang terhadap kaum
salib di Palestina dan mengusir mereka dari sana seandainya ia tidak
memerangi pemerintahan-pemerintahan Arab yang loyal kepada kaum salib.
Bahkan Shalahuddin terlibat perang berkali-kali melawan pasukan antek
Salib yang jumlahnya 60.000 personel dengan pimpinan Amir Halb yang
didukung kaum Salib. Terkadang perang itu sangat keras namun Shalahuddin
sadar bahwa langkah ini tidak bisa dihindari demi membebaskan tanah kaum
muslimin.  

 

Saya ulang sekali lagi, isu Palestina saat ini melewati fase paling baik
sejak Israel menjajah Palestina. Sebab kelompok-kelompok yang ada di
Palestina mulai kelihatan tujuan dan orientasinya. Perpecahan yang ada
adalah perpecahan untuk membedakan bukan untuk saling menjauhi atau
bersaing merebut kursi seperti sangkaan sebagian orang. Seperti halnya
yang terjadi pada perpecahan perbedaan pada perang Uhud di zaman
Rasulullah, orang-orang beriman tetap bersama Rasulullah sementara orang
munafik mundur. Perpecahan ini akan berbuah kemenangan bukan berbuah
kekalahan. Yang kalah adalah sebagian orang mukmin yang sibuk mencari
dunia dari pada akhirat "Sebagian kalian ingin dunia dan sebagian kalian
ingin akhirat" (h-atb)

http://www.palestine-info.com/ms/



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke