Dari tulisannya kelihatan Gunawan kalau tidak atheis ya masuk dalam kelompok JIL (Jaringan Islam Liberal).
Gunawan hanya melihat "kekerasan" Islam di Iraq dan Afghanistan. Tapi Gunawan tidak mampu melihat kekerasan para penjajah seperti Uni Soviet yang menjajah Afghanistan atau AS beserta Nato yang menggempur dan membantai penduduk Afghanistan. Gunawan juga tidak mampu melihat serangan AS dan sekutunya ke Iraq di mana saat ini menurut BBC 650 ribu warga Iraq tewas sejak pendudukan AS. Jika ummat Islam membela diri terhadap serangan itu, maka orang2 macam Gunawan ini akan melihatnya sebagai "kekerasan" ummat Islam Melihat banyaknya tulisan Gunawan, saya tidak heran kalau dia senang ada orang Atheis...:) --- Setyo Budiantoro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > TEMPO > Edisi. 23/XXXIIIIII/30 Juli - 05 Agustus 2007 > Catatan Pinggir > > > Atheis > > > Agama akan tetap bertahan dalam hidup manusia, tapi > layakkah ia dibela? > > Christopher Hitchens baru-baru ini menarik perhatian > ketika bukunya terbit dengan judul God Is Not Great: > Religion Poisons Everything. Penulis Inggris > iniyang > yakin bahwa Tuhan tidak akbar dan bahwa agama adalah > racuntak bersuara sendirian di awal abad ke-21 ini. > Di tahun 2004 terbit The End of Faith, oleh Sam > Harris, yang tahun lalu mempertegas posisinya dengan > menyerang agama Kristen dalam Letter to a Christian > Nation. Yang juga terkenal adalah karya Richard > Dawkins, seorang pakar biologi, The God Delusion, > yang > mengutip satu kalimat pengarang lain: Bila > seseorang > menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila > banyak orang menderita waham, gejala itu akan > disebut > agama. > > Saya belum khatam membaca buku-buku itu, tapi saya > telah merasa setengah terusik, tersinggung, > berdebar-debar, terangsang berpikir, tapi juga > gembira. Baiklah saya jelaskan kenapa saya gembira: > kini datang beberapa orang atheis yang sangat fasih > dengan argumen yang seperti pisau bedah. Dengan > analisa yang tajam mereka menyerang semua agama, > tanpa > kecuali, di zaman ketika iman dikibarkan dengan rasa > ketakutan, dan rasa ketakutan dengan segera diubah > jadi kebencian. Dunia tak bertambah damai karenanya. > Maka siapa tahu memang dunia menantikan Hitchens, > Harris, dan Dawkins. Siapa tahu para atheis inilah > yang akan membuat kalangan agama mengalihkan fokus > mereka dan kemudian berhenti bermusuhan. > > Apalagi ada benarnya ketika Christopher Hitchens > bicara tentang iman dan rasa aman. Sepekan sebelum > 11 > September 2001, hari yang bersejarah itu, ia ditanya > dalam sebuah wawancara radio: Bayangkan Anda berada > di sebuah kota asing di waktu senjakala, dan > sejumlah > besar orang datang ke arah Anda. Akan lebih merasa > amankah Anda, atau justru merasa kurang aman, bila > Anda tahu orang-orang itu baru selesai berkumpul > untuk > berdoa? > > Hitchens, yang pernah berada di Belfast, Beirut, > Bombay, Beograd, Bethlehem, dan Baghdad, menjawab, > Kurang aman. > > Ia tak bicara dari khayal. Ia telah menyaksikan > permusuhan antara orang Katolik dan Protestan di > Ulster; Islam dan Kristen di Beirut dan Bethlehem; > orang Katolik Kroasia dan orang Gereja Ortodoks > Serbia > dan orang Islam di bekas Yugoslavia; orang Sunni dan > Syiah di Baghdad. Beribu-ribu orang tewas dan cacat > dan telantar. > > Maka bagi Hitchens, agama adalah sebuah pengganda > besar, an enormous multiplier, kecurigaan dan > kebencian antarpuak. > > Tapi menarik bahwa Hitchens tak menyatakan agama > sebagai sumber sikap negatif itu. > > Dalam hal ini ia berbeda dari Sam Harris. Bagi > Harris, > konflik antara umat Katolik dan Protestan yang > berdarah di Irlandiayang bermula baru di abad > ke-17bersumber pada teks Alkitab, tak ada > hubungannya > dengan politik pertanahan di wilayah kekuasaan > Inggris > masa itu. Harris tak melihat endapan sejarah dalam > tiap tafsir atas akidahdan dalam hal ini ia mirip > seorang fundamentalis Kristen atau Islam. > Pandangannya > yang menampik sejarah akan bisa mengatakan bahwa > doktrin Quran itulah yang membuat sejumlah orang > menghancurkan Menara Kembar New York dan membunuh > hampir 3.000 manusia pada 11 September 2001. Harris > tak akan melihat bahwa hari itu Islam identik > dengan > amarah karena ada kepahitan kolonialisme di Timur > Tengah, Afrika, dan Asia, dan kekalahan dunia Arab > di > Palestina. > > Dari sini, memang ada benarnya apologi yang terkenal > itu: bukan agamanya yang salah, melainkan > manusianya. > > Tapi persoalan tak selesai di situ. Orang-orang > atheis > semacam Hitchens akan bertanya: Jika faktor manusia > yang menyebabkan keburukan tumbuh dalam suatu umat, > berarti tak ada peran agama dalam memperbaiki umat > itu. Jika demikian, jika akidah ditentukan oleh > sejarah, dan bukan sebaliknya, apa guna agama bagi > perbaikan dunia? > > Mungkin sebuah nol. Bahkan melihat begitu banyak > pembunuhan dilakukan atas nama agama hari-hari ini, > orang memang mudah sampai kepada atheisme Hitchens > dan > kesimpulannya: agama meracuni segala hal. > > Tapi kita dapat juga sampai pada kesimpulan yang > lain: > jangan-jangan agama memang tak punya peran bagi > perbaikan dunia. Perannya memang bisa lain sama > sekaliterutama bila dilihat dari awal lahirnya > agama-agama. > > Dalam ceramahnya yang diselenggarakan oleh MUIS > (Majlis Ugama Islam Singapura) bulan Juni yang lalu, > Karen Armstrong mengatakan sesuatu yang tak lazim: > agama lahir dari sikap jeri (recoil) atas kekerasan. > Juga Islam, yang kini tak urung dihubungkan dengan > bom > bunuh diri, konflik berdarah di Irak, Afganistan, > dan > Pakistan. Agama ini hadir sebagai pembangun > perdamaian > di sekitar Mekah, di tengah suku-suku Arab yang > saling > galak. > > Tapi mungkin juga Karen Armstrong bisa menelusurinya > lebih jauh: jika agama memang lahir dari rasa jeri > akan kekerasan, rasa jeri itu bertaut dengan > kesadaran > akan ketakberdayaan. Agama sebab itu tak merasa > kuasa > untuk memperbaiki dunia; ia justru berada di kancah > yang tersisih, menemani mereka yang daifsebuah > posisi > yang kian tampak dalam keadaan manusia teraniaya. > > Tapi kini, dalam mencoba menyaingi gagahnya > modernitas, agama cenderung melupakan empati > asali-nya sendiri. Orang-orang Islam merayakan > Hijrah > bukan dengan rasa setia kawan dan bela rasa kepada > mereka yang diteror, walaupun Hijrah bermula dari > nasib sekelompok minoritas yang dikejar-kejar. Orang > merayakan Hijrah lebih sebagai kemenangan. Mungkin > dengan tendensi itu, pengalaman kedaifan sendiri > terlupa: pekan lalu atas nama Islam orang-orang > mengancam para biarawati Karmel yang hendak > berkumpul > untuk berdoa di lembah Cikanyere di wilayah Cianjur. > > > Dalam keadaan lupa kepada yang tak berdaya itulah > agama bisa jadi tenaga yang dahsyat. Tapi ia juga > bisa > jadi tenaga yang tak tahu batas. Di saat seperti > itu, > bukankah para atheis perlu datang dan bersuara? > > Goenawan Mohamad > > > > > ____________________________________________________________________________________ > Looking for a deal? Find great prices on flights and > hotels with Yahoo! FareChase. > http://farechase.yahoo.com/ > === Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits? Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] ____________________________________________________________________________________ Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story. Play Sims Stories at Yahoo! Games. http://sims.yahoo.com/

