Sunat Perempuan, Perlu Nggak Sih?
Oleh: Nur Aulia Solihah*)
Girls, kali ini kita membahas tentang sunat (khitan) perempuan. Pembahasan
yang jarang diangkat dipermukaan karena dianggap tabu. Perempuan emang
bawaannya malu membedah hal-hal yang sensi beginian. Berbeda dengan khitan
laki-laki yang dianjurkan dirayakan. Sunat perempuan cenderung tertutup. Meski
tertutup, bukan berarti kita sama sekali tidak tahu bukan?
Di Mesir sekarang ini sedang hangat mengemuka pelarangan sunat perempuan.
Bahkan seorang syekh Al Azhar pun pernah turut mendukung keputusan Departemen
Kesehatan untuk melarang sunat perempuan. Alasannya, aktivitas sunat
perempuan terkategori tindakan kekerasan terhadap perempuan dan kriminal yang
melanggar hak asasi manusia. Girls, ini rasanya aneh sekali. Sunat perempuan
sudah dilaksanakan sejak masa putri-putri masyarakat Mesir kuno. Orang-orang
Naubah dan Negara Sudan sering menyebutnya Al Khitan Al Firauni.
Sebagaimana orang-orang Arab sebelum datang ajaran Islam juga telah melakukan
tradisi khitan perempuan.
Dalam buku Syaikh MuhammadAs Sayyid Asy Syinnawi tentang bahaya tidak
mengkhitan perempuan dikatakan pelarangan sunat perempuan di Mesir jelas-jelas
murni hasil rekayasa Amerika Serikat. Syaikh menulis Kantor Berita Washington
DC, jurbir kementrian luar negeri Amerika Serikat John Mayer meminta kepada
pemerintah Mesir untuk kembali mewajibkan pelarangan sunat perempuan di sana.
Wah, sampai segitunya Amerika, hingga persoalan sunat perempuan pun juga
turut campur. So, Whats behind in the case? Girls, penasaran kan?
Girls beberapa waktu lalu Indonesia juga digoyang opini pelarangan sunat
perempuan. Surat Kabar Nasional menurunkan wacana seputar sunat perempuan.
Didalamnya mengisahkan trauma Sarah yang merasakan sakit bertubi-tubi akibat
obat bius tak bekera optimal ketika disunat. Disajikan pula data hasil
penelitian tentang female genital mutilation selama tiga tahun (2001-2003) di
sejumlah daerah seperti Padang Pariaman, Serang, Sumenep, Kutai Kartanegara,
Gorontalo, Makassar, Bone dan Maluku dimana 72 persen sunat perempuan dilakukan
dengan cara berbahaya seperti sayatan, goresan dan pemotongan sebagian atau
seluruh ujung klitoris.
So, bagaimana pandangan Islam sesungguhnya mengenai sunat perempuan? Girls,
mari kita kupas bersama? Nah, di buku Syaikh Syinnawi dijelaskan beberapa ulama
mewajibkan sunat perempuan dan beberapa lainnya mensunahkan saja, namun tak ada
satu pun yang melarang. Para Imam Madzhab berbeda pendapat dalam masalah Khitan
untuk perempuan. Imam Malik, Syafi'i dan Ahmad menyatakan wajib, sedangkan Imam
Hanafi menyatakan sunnah. Imam Ahmad berkata: Apabila dua khitan bertemu, maka
wajib baginya mandi. (HR. Muslim dalam riwayat Qatadah). Kemudian Imam
Ahmad bin Hambal melanjutkan, Dari sini jelas bahwa para perempuan juga
dikhitan seperti lelaki.
Girls, prosesi sunat perempuan tak seperti sunat laki-laki yang dipangkas
habis bagian sensi-nya. Hal ini berlandaskan pada sabda Nabi Muhammad Saw.
Beliau memerintahkan kepada Ummu Athiyyah, tukang khitan perempuan di Madinah:
"Jangan berlebihan, karena hal itu adalah bagian kenikmatan perempuan dan
kecintaan suami." Dalam riwayat lain disebutkan: "Sentuh sedikit saja dan
jangan berlebihan, karena hal itu penyeri wajah dan bagian kenikmatan suami."
(HR Abu Daud). Sunat perempuan cukup dengan sekadar membasuh atau mencolek
ujung klitoris dengan jarum. Tentu saja, khitan perempuan juga dilakukan sesuai
prosedur medis yang sangat memperhatikan keselamatan perempuan. Bila seorang
juru khitan melakukan kesalahan, maka sangsi yang harus dipertanggungjawabkan
dalam Islam bisa berupa qishas, iwadh (ganti) dan diyat (tebusan).
Tahukah girls, dari sisi pandangan medis, sunat perempuan memudahkannya
pertemuan antara khitan dengan khitan sehingga peluang kehamilan lebih
tinggi. Disamping memudahkan perempuan membersihkan kotoran-kotoran tersembunyi
yang menyebabkan bakteri-bakteri hidup subur di area tersebut. Pertumbuhan
penduduk benua Afrika mencapai 301 persen setiap tahunnya. Hal ini, karena
Benua Afrika paling banyak penduduknya melakukan khitan perempuan. Upaya
pelarangan sunat perempuan di negri muslim berarti juga upaya pembatasan
pertumbuhan penduduk umat Islam.
Girls, khitan juga membantu perempuan menjaga dan mengontrol gairah sex-nya.
Jika tidak disunat, perempuan tak pernah merasakan kepuasaan hubungan dengan
satu laki-laki (suami), yang selanjutnya mendorongnya berselingkuh dan
melakukan perzinahan. Lalu gils bisa menebak, bagaimana keadaan keharmonisan
perkawinan selanjutnya? Girls lebih tahu jawabannya.....
Sabili, Edisi Minggu ke tiga Juli 2007
Kemajuan mustahil terjadi tanpa perubahan. Dan, mereka yang tak bisa mengubah
pemikirannya tak bisa mengubah apa pun. (George Bernard Shaw, 1856-1950)
pustaka tani
kampusku
nuraulia
Griyaku, Griya Female Reader: Gabung yuk! : [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------
Ready for the edge of your seat? Check out tonight's top picks on Yahoo! TV.
[Non-text portions of this message have been removed]