Kolom - Detail
Senin, 09/07/2007 16:22 WIB

Common enemy
oleh : Djony Edward
Wartawan Bisnis Indonesia

Suatu hari saya menelepon seorang mantan jenderal yang disegani dimasa
Presiden Megawati Soekarno Putri. Dalam percakapan dengan jenderal
tersebut sempat tercetus diskusi ringan, bagaimana pendapat Anda tentang
Partai Keadilan Sejahtera (PKS)? Terutama kaitannya dengan pencalonan
Gubernur DKI Jakarta.

Sang jenderal hanya menjawab singkat, "PKS common enemy (musuh bersama)."
Tanpa hendak bermaksud menjelaskan lebih jauh apa yang dimaksud common
enemy bagi PKS, sang jenderal mengalihkan pembicaraan dari A hingga Z
tentang perkembangan di tanah air.

Bagi penulis, pernyataan common enemy cukup menyentakkan. Karena
pernyataan itu seolah mengingatkan saya pada kemenangan Front Islamic
Salvation (FIS) di Aljazair dan Refa di Turki dalam pemilu setempat yang
kemudian kemenangan itu langsung dijegal oleh militer.

Indikasi serupa sempat muncul saat Nurmahmudi Ismail memenangkan pilkada
di Depok setelah mengalahkan calon incumbent Badrul Kamal. Karuan saja
setelah MA dan PN Jabar memenangkan kader PKS ini jegal melalui aksi-aksi
tak konstitusional, mulai dari demostrasi tak berkesudahan, aksi tak
simpatik anggota DPRD non PKS yang cenderung mendiskreditkan Nurmahmudi,
hingga aksi pengempesan ban mobil sang walikota dan pelemparan bom molotov
mobil kader PKS Depok.

Pernyataan itu juga mengingatkan ketika Zulkieflimansyah bersama
pasangannya Marissa Haque saat mencalonkan diri sebagai Gubernur dan Wagub
Banten. Dimana tiga parpol besar: PPP, PDIP dan Partai Golkar bersatu
untuk melawan kader dari PKS.

Tak kalah pentingnya saat pilkada bupati Bekasi dimana pasangan Sa'aduddin
dan M. Darip Mulyana yang sempat dinyatakan kalah, namun akhirnya
dimenangkan oleh PN Jabar.

Puncak gunung es relasi antara pernyataan sang jenderal tentang PKS adalah
common enemy saat calon PKS: Adang Daradjatun dan Dani Anwar harus
berhadapan dengan Fauzi 'Foke' Bowo dan Prijanto yang juga adalah sang
jenderal militer. Tak tanggung-tanggung Foke-Prijanto didukung 20 parpol
yang tergabung dalam Koalisi Jakarta.

Sintesa bahwa PKS adalah common enemy seolah menemukan justifikasi paling
nyata di pilkada DKI Jakarta. Ini juga yang mengonfirmasi mengapa pilkada
DKI Jakarta begitu gegap gempita, riuh rendah dan seolah memanas, padahal
kedua calon belum lagi memaparkan visi dan misi serta program kerja
mereka.

Pilkada DKI Jakarta begitu serius menyusul ada unsur PKS yang pada Pemilu
2004 menguasai pangsa suara sebanyak 1.057.246 suara atau jika dipresentir
menguasai pangsa suara warga DKI sebesar 22,32%, vis a vis dengan Koalisi
Jakarta yang merepresentasikan lebih dari 70% pemilih yang terhimpun di 20
parpol pendukung.

Praktis di atas kertas Foke harusnya menang, karena didukung oleh 20
parpol dengan menguasai pangsa suara melebihi syarat untuk menang. Berikut
al. parpol pendukung Foke: Partai Demokrat (20,23%), PDIP (14,02%), Golkar
(9,16%), PPP (8,16%), PAN (7,03%), PDS (5,34%), PBR (2,90%), PBB (1,45%),
maupun PKPB (1,83%).

Maksimalkan kemenangan

Jika mengamati besarnya dukungan atas Foke, maka praktis kemenangan putra
Betawi itu sudah di atas kertas. Tapi pertanyaannya, mengapa sebegitu
besar suara yang dibutuhkan Foke untuk menguasai Jakarta 1? Padahal untuk
sahnya seorang kandidat cuma membutuhkan dukungan suara 15% dari parpol
peserta pemilu 2004.

Tentu ada hidden story yang membuat Foke tak terlalu memedulikan aspek
pendidikan politik untuk provinsi tertinggi tingkat rasialnya sekaligus
ibukota negara. Foke ingin memaksimalkan kemenangan setelah sebelumnya
sempat ditolak oleh Ustad Hilmi Aminuddin.

Suatu hari, Ketua DPD RI Ginandjar Kartasasmita bertandang ke kediaman
Ustad Hilmi di bilangan Kali Malang. Setelah diterima dan ngobrol ngalor
ngidul, setengah jam kemudian Ginandjar mohon izin.

"Ustad, mohon maaf. Sebenarnya saya datang ke rumah Ustad dengan adik
saya," demikian papar mantan Mentamben dan Kepala Bappenas di masa
Presiden Soeharto.

"Siapa? Kok tak disuruh masuk?" ungkap Ustad Hilmi.

"Foke, Ustad," tambah Ginandjar.

Pendek kata, akhirnya Foke yang berkeliling setengah jam di gang-gang
sekitar Kali Malang meluncur ke rumah Ustad Hilmi. Singkat kata, dalam
obrolan itu Ginandjar dan Foke minta dukungan dari orang yang paling
disegani di PKS itu.

Apa jawaban Ustad Hilmi? Tentu jauh panggang dari api. Berikut petikannya,
"Wah permintaan dukungan ini telat. PKS sudah memiliki calon, yakni Adang
Daradjatun. Kalau begitu silakan saja berkompetisi secara sehat."

Itulah sekelumit kisah dimana Foke sempat juga meminta dukungan kepada
PKS, dimana Golkar sebagai inisiator bersama PPP cukup mendapat dukungan
PKS dan PDIP maka sudah mengusai pangsa suara lebih dari 51%. Artinya
tingkat konsolidasi akan lebih sederhana dan lebih mudah.

Namun dengan penolakan yang dilakukan Ustad Hilmi, yang juga
merepresentasikan penolakan PKS, maka hal ini membuat gelisah kubu
pendukung Foke. Maka untuk memastikan ketenangan dan memuluskan kemenangan
digalanglah Koalisi Jakarta yang melibatkan 20 parpol. Peduli setan dengan
aspek pendidikan politik, yang penting bagaimana memaksimalkan kemenangan.
Jadilah PKS sebagai common enemy bagi, paling tidak, elit politik di DKI.
Tapi belum tentu bagi rakyat DKI Jakarta.

Menurut hemat penulis, dinamika yang terjadi dalam proses pencalonan
Gubernur dan Wagub DKI ini, tak lepas dari sikap Koalisi Jakarta yang
menganggap PKS sebagai common enemy. Apalagi jejak rekam PKS yang telah
mengikuti hampir 250 pilkada di Indonesia (dari 297 pilkada yang pernah
digelar), kader PKS berhasil memenangkan di 77 titik pilkada atau lebih
dari 30%.

Kemenangan pilkada yang diikuti kader PKS ada yang dilakukan sendiri, ada
yang berkoalisi dengan elit politik lokal, maupun dengan birokrat dan
pengusaha setempat. Lepas dari semua itu, kiprah parpol yang memasuki
tahun ke-10 berpolitik di tanah air (maklum sebelumnya Cuma sibuk
berdakwah), sudah mampu tampil dengan daya pikat 30% di daerah pemilihan.

Itu sebabnya, bisa difahami jika terbentuk Koalisi Jakarta yang tak mau
menganggap enteng calon yang diusulkan PKS. Bukan semata-mata siapa
calonnya, tapi justru cara kerja mesin politik PKS yang mampu menembus
jantung hati rakyat.

Ada atau tidak ada pilkada ataupun pemilu, kader PKS terbilang rajin
menyapa atau bahkan berjibaku ikut larut dalam penderitaan yang dialami
rakyat. Fenomena banjir Jakarta, cuma PKS yang dengan sigap membangun 60
titik posko yang melibatkan ratusan, bahkan ribuan kadernya, serta bantuan
sukarela warga, untuk menolong mereka yang terendam banjir. Posko itu
dibentuk dari awal Jakarta terendam banjir hingga tetes banjir yang
terakhir.

Berbeda dengan parpol lain, yang mungkin ada juga yang turun ke lokasi
banjir, namun staminanya tidak selama PKS. Bahkan ada parpol besar yang
cuma memasang spanduk mengucapkan turut berduka atas banjir yang melanda
warga Jakarta.

Bahkan Pemda DKI Jakarta saja, baru meinggu kedua pasca banjir menurunkan
bantuan bertruk-truk sembako dan pakaian serta selimut. Suatu sikap yang
tidak buruk. Tapi jika dilihat dari aspek berlomba-lomba dalam kebajikan,
maka kader PKS lah yang maju dimuka.

Kedekatan PKS dengan warga inilah yang menggelisahkan lawan politik,
karena itu dibuatlah strategi common enemy dengan membentuk Koalisi
Jakarta. Penulis menduga, dinamika politik menjelang penentuan calon
seperti fenomena yang melanda para jenderal: Slamet Kirbiyanto, Djasri
Marin, maupun Agum Gumelar, belum lagi fenomena Rano Karno, Sarwono
Kusumaatmaja, tak lebih dari bagian dinamika yang memperkaya dan
mengarahkan PKS sebagai common enemy.

Plus minus

Oleh karena itu, pilkada DKI cuma memiliki dua calon, yakni pasangan
Foke-Prijanto dan Adang-Dani. Pasangan mana yang oleh banyak pengamat dan
mantan pejabat sebagai pasangan yang memiliki plus minus.

Karena itu muncul ide-ide calon independen guna menampung aspirasi
kelemahan dua kandidat tersebut. Namun kandidat PKS merasa tak keberatan
kalau memang dinginkan, namun kandidat Koalisi Jakarta menolak lantaran
tidak memenuhi kaidah dan ketentuan perundangan yang berlaku.

Foke sebagai calon incumbet, tentu sangat potensial memenangkan pilkada
DKI Jakarta. Karena selain didukung oleh 20 parpol, juga didukung
birokrasi yang saat ini dipimpinnnya. Tambahan pula Foke cuti setelah ada
kepastian Daftar Pemilih Tetap, hasil kerja Dukcapil yang nota bene masih
dikomandaninya.

Pada saat yang sama kader PKS, LSM, pengamat, mahasiswa, dan sejumlah
tokoh mencaci cara kerja penjaringan calon pemilih karena ditengarai
adanya ghost vooter lebi dari 1 juta. Tingkat diskusi pun menemui jalan
buntu, KPUD tetap jalan terus dengan data yang dimilikinya dari hasil
proses yang lemah sekali, kendati mendapat cap penyelenggara pilkada
paling buruk di Indonesia.

PKS tetap ngotot bahwa proses itu tidak aspiratif, arogan, dan menghalangi
kader-kadernya yang belum terdaftar. Kendati KPUD merasa sudah membuka
perpanjangan masa pendaftaran yang juga sebenarnya serba dibatasi oleh
waktu dan tempat pendaftaran.

Apa boleh buat, DKI ke depan harus dipimpin oleh kedua pasangan yang telah
ada, yang dilahirkan dari proses demokrasi yang rendah, bahkan mengarah
pada kartel kekuasaan.

Foke yang juga seorang doktor tata kota memiliki justifikasi akademis yang
memadai, selain kaya raya, dia juga dikenal penderma. Sejumlah organisasi
parpol, organisasi sosial dan olah raga diketuainya, atau setidaknya
menjadi penasihat, menunjukkan supelnya sang calon.

Kelihaiannya dalam melakukan lobby sangat mumpuni, terbukti 20 parpol
dengan sedikitnya didukung 70% pemilih pada 2004, dengan warna-warni
ideologi serta anutan, mampu disatukannya dalam upaya mendukung
pencalonannya.

Namun Foke bukanlah manusia super. Sebab pada saat dia menjadi Wakil
Gubernur dengan segala ilmu dan kepandaian, serta lobbynya, toh tak mampu
mencegah banjir, padahal dia ahli tata kota. Juga tak mampu membendung
meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran di DKI Jakarta, padahal
tekadnya menyejahterakan warga.

Paling tidak itulah hasil polling Lembaga Survei Indonesia (LSI) pimpinan
Saiful Muzani. Dimana dalam surveinya 70% kecewa kepada pasangan
Sutiyoso-Foke atas banjir yang melanda Jakarta, 90% kecewa karena
kemiskinan meningkat, dan 80% kecewa karena pengangguran naik.

Meskipun dalam dialog di Metro TV, Foke berapologi banjir yang melanda
semata-mata karena fenomena alam. Dia tak menjelaskan kenapa kemiskinan
dan pengangguran bertambah di Jakarta.

Sementara Adang Daradjatun tidak terlalu dikenal prestasinya saat menjabat
Wakapolri, ia berpendapat sebagian besarnya bertugas dibidang intelijen
Polri sehingga memang tak terlalu dikenal.

Namun ada yang bertanya, mengapa PKS mencalonkan mantan Wakapolri itu,
sementara sudah menjadi pengetahuan umum mulai dari polisi jalanan hingga
jenderal polisi sulit mencari orang yang bersih. Berbagai predikat buruk
tentang polisi, tiba-tiba saja harus berbaur dengan citra PKS yang bersih?

PKS sempat memberi penjelasan memang tidak ada orang yang suci, no body
perfect. Dengan merekrut Adang dari kepolisian diharapkan ke depan, itupun
kalau terpilih, paling tidak bisa melakukan reformasi kepolisian dari
dalam. Sebuah spekulasi yang memang harus diuji.

Sementara Prijanto yang merupakan pasangan Foke diketahui sebagai militer
aktif, namun prestasinya pun tak terlalu menonjol. Sedangkan Dani Anwar
adalah mantan ketua fraksi PKS di DPRD, paling tidak perjuangan sekolah
gratis yang diusungnya berhasil menjadi kenyataan, walaupun pelaksananya
Sutiyoso dan Foke.

Kekhawatiran sebagaian warga Jakarta bahwa jika kader PKS menang maka
perjudian dan bisnis hiburan akan diberangus, karena akan diterapkan
syariat Islam. Tuduhan itu dijawab oleh Dani, bahwa di 77 kabupaten,
pemkot dan pemprov dimana kader PKS memenangkan pilkada, tak satupun yang
otomatis diterapkan syariat Islam. Syariat Islam dengan sendirinya akan
terlaksana jika akidah warga dibenahi, dan proses pembenahan akidah
memerlukan waktu.

Lepas dari plus minus sang kandidat, berikut plus dan minus pelaksanaan
pilkada DKI Jakarta oleh KPUD, tanggal 8 Agustus warga harus tetap
memilih. Termasuk memilih golput merupakan satu pilihan, kendati maknanya
hampa sama sekali. Siapakah Gubernur DKI Jakarta ke depan, jawabnya ada
pada nurani Anda!!!


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.472 / Virus Database: 269.10.8/906 - Release Date: 7/17/2007
6:30 PM



No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.472 / Virus Database: 269.10.8/906 - Release Date: 7/17/2007
6:30 PM



[Non-text portions of this message have been removed]




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke