Alloh SWTberfirman Dalam Al-Qur’an : " Hai orang-orang yang beriman, apabila 
diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu 
kepada mengingat Alloh dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih 
baik bagimu jika kamu mengetahui" (Al-Jumuah : 62 : 12)

Diriwiyatkan dari Abu Hurairah ra: Nabi saw bersabda: "Sebaik-baik hari dalam 
peredaran matahari adalah hari Jum'at. Pada hari Jum'at itulah Adam diciptakan, 
pada hari itulah Adam dimasukkan ke surga, pada hari itu pula Adam dikeluarkan 
dari surga, dan hari kiamat akan terjadi pada hari Jum'at." (3:6-Shahih Muslim)

Dalam hadist lainnya Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya pada hari Jum'at 
ada satu saat, apabila seorang muslim melakukan shalat lalu memohon suatu 
kebaikan maka Alloh akan memenuhinya." Kapan satu saat itu? Diriwiyatkan Abu 
Musa Al Asya'ari ra, Rasulullah saw bersabda: "....saat itu adalah antara 
duduknya imam dan selesai shalat Jum'at."

 

  

Terlampir Semoga Bermanfaat.

Artikel Khutbah Jum'at : Membelakangi Al-Quran, Masalah Besar

Bacaan Khutbah Pertama 


Åöäøó ÇáúÍóãúÏó áöáøóåö äóÍúãóÏõåõ æóäóÓúÊóÚöíúäõåõ æóäóÓúÊóÛúÝöÑõåú æóäóÚõæÐõ 
ÈöÇááåö ãöäú ÔõÑõæúÑö ÃóäúÝõÓöäóÇ æóãöäú ÓóíøöÆóÇÊö ÃóÚúãóÇáöäóÇ¡ ãóäú íóåúÏöåö 
Çááåõ ÝóáÇó ãõÖöáøó áóåõ æóãóäú íõÖúáöáúåõ ÝóáÇó åóÇÏöíó áóåõ. æóÃóÔúåóÏõ Ãóäú 
áÇó Åöáóåó ÅöáÇøó Çááåõ æóÍúÏóåõ áÇó ÔóÑöíúßó áóåõ æóÃóÔúåóÏõ Ãóäøó ãõÍóãøóÏðÇ 
ÚóÈúÏõåõ æóÑóÓõæúáõåõ. íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáäøóÇÓõ ÃõæúÕöíúßõãú æóÅöíøóÇíó ÈöÊóÞúæóì 
Çááåö ÝóÞóÏú ÝóÇÒó ÇáúãõÊøóÞõæúäó. ÞóÇáó ÊóÚóÇáóì: íóÇ ÃóíøõåÇó ÇáøóÐöíúäó 
ÁóÇãóäõæÇ ÇÊøóÞõæÇ Çááåó ÍóÞøó ÊõÞóÇÊöåö æóáÇó ÊóãõæúÊõäøó ÅöáÇøó æóÃóäÊõãú 
ãøõÓúáöãõæúäó. ÞóÇáó ÊóÚóÇáóì: íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáäøóÇÓõ ÇÊøóÞõæúÇ ÑóÈøóßõãõ 
ÇáøóÐöíú ÎóáóÞóßõãú ãøöäú äóÝúÓò æóÇÍöÏóÉò æóÎóáóÞó ãöäúåóÇ ÒóæúÌóåóÇ æóÈóËøó 
ãöäúåõãóÇ ÑöÌóÇáÇð ßóËöíúÑðÇ æóäöÓóÂÁð æóÇÊøóÞõæÇ Çááåó ÇáøóÐöíú ÊóÓóÂÁóáõæúäó 
Èöåö æóÇúáÃóÑúÍóÇãó Åöäøó Çááåó ßóÇäó Úóáóíúßõãú ÑóÞöíúÈðÇ. íóÇ ÃóíøõåóÇ 
ÇáøóÐöíúäó ÁóÇãóäõæÇ ÇÊøóÞõæÇ Çááåó æóÞõæúáõæúÇ ÞóæúáÇð ÓóÏöíúÏðÇ. íõÕúáöÍú 
áóßõãú ÃóÚúãóÇáóßõãú æóíóÛúÝöÑú áóßõãú ÐõäõæúÈóßõãú æóãóäú íõØöÚö Çááåó 
æóÑóÓõæúáóåõ ÝóÞóÏú ÝóÇÒó ÝóæúÒðÇ ÚóÙöíúãðÇ. 
ÃóãøóÇ ÈóÚúÏõº ÝóÅöäøó ÃóÕúÏóÞó ÇáúÍóÏöíËö ßöÊóÇÈõ Çááåó¡ æóÎóíúÑó ÇáúåóÏúíö 
åóÏúíõ ãõÍóãøóÏò Õóáøóì Çááå Úóáóíúåö æóÓóáøóãó æóÔøóÑó ÇáÃõãõæÑö 
ãõÍúÏóËóÇÊõåóÇ æóßõáøó ãõÍúÏóËóÉò ÈöÏúÚóÉñ æóßõáøó ÈöÏúÚóÉò ÖóáÇóáóÉñ æóßõáøó 
ÖóáÇóáóÉò Ýöí ÇáäøóÇÑö. Çóááøóåõãøó Õóáøö æóÓóáøöãú Úóáóì äóÈöíøöäóÇ ãõÍóãøóÏò 
æóÚóáóì Âáöåö æóÕóÍúÈöåö æóãóäú ÊóÈöÚóåõãú ÈöÅöÍúÓóÇäò Åöáóì íóæúãö 
ÇáúÞöíóÇãóÉö. 

Jamaah Jum’at Rahimakumulloh

Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW 
lewat Malaikat Jibril sebagai pedoman utama ummat Islam. Menjadi kewajiban bagi 
ummat Islam untuk mengangkat Al-Quran sebagai landasan utama dalam mengamalkan 
Islam di samping berpedoman pula kepada Hadits Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi 
wasalam. Mengimani seluruh isi Al-Quran hukumnya wajib, sedang mengingkari satu 
bagian dari ayat Al-Quran saja hukumnya murtad alias keluar dari Islam. Jadi 
iman kepada seluruh ayat Al-Quran itu mutlak wajibnya. Dan keimanan itu harus 
dibuktikan dengan amal. Sedang membaca Al-Quran itu sendiri nilainya adalah 
ibadah. 

Meskipun kedudukan Al-Quran itu demikian tingginya dalam Islam, namun belum 
tentu orang yang mengaku dirinya Muslim mau memperhatikan kitab sucinya itu. 
Padahal tidak memperhatikan kitab suci Al-Quran itu bukan masalah kecil, namun 
merupakan masalah besar. Sehingga Nabi Muhammad n pun mengeluhkan akan ada 
diantara kaumnya yang tidak memperhatikan Al-Quran; bahkan keluhan Nabi 
Shalallaahu alaihi wasalam itu langsung difirmankan oleh Allah Subhannahu wa 
Ta'ala : 

Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini 
suatu yang tidak diperhatikan." (terjemah Q.S.Al-Furqon ayat 30). 

Siapakah yang rasa cinta kasihnya kepada ummatnya melebihi Nabi Muhammad 
Shalallaahu alaihi wasalam yang berdo’a untuk ummatnya sampai menangis, hingga 
Allah mengutus Malaikat Jibril agar menanyakan kenapa Nabi Muhammad Shalallaahu 
alaihi wasalam menangis? Nabi Shalallaahu alaihi wasalam lah yang sangat 
mencintai ummatnya. Dalam hadits Shahih Muslim diriwayatkan: 

Dari Abdullah bin Amru bin Ash bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam membaca 
Firman Allah ‘Azza Wa Jalla dalam (hal perkataan) Nabi Ibrahim: “ Ya Tuhanku 
sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, 
maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk 
golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha 
Pengam-pun lagi Maha Penyayang.” (Ibrahim/ 14:36). Dan seterusnya. 

Dan berkata Isa : “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguh-nya mereka 
adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya 
Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Maaidah: 118). Lalu Nabi 
Muhammad mengangkat kedua tangannya dan berkata: “Ya Alllah, ummatku ummatku” 
dan beliau menangis. Maka Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman: Hai Jibril, temuilah 
muhammad, sedang Tuhanmu lebih mengetahui, lalu tanyalah dia: apa yang 
menjadikan kamu menangis? Lalu Jibril mendatangi Nabi n dan menanyainya. Maka 
Rasulullah n memberi khabar pada-Nya dengan apa yang telah Nabi katakan, sedang 
Dia mengetahui. Lalu Allah berfirman: Hai Jibril, temuilah muhammad, lalu 
katakanlah padanya: Sesungguhnya Aku akan meridhoimu dalam ummatmu dan Aku 
tidak menjadikanmu sedih.” (HR Muslim dengan Syarah An-Nawawi no 346---202452). 

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shohih Muslim mengemu-kakan bahwa sikap Nabi 
Shalallaahu alaihi wasalam itu adalah merupakan kasih sayang Nabi Shalallaahu 
alaihi wasalam sempurnanya terhadap ummatnya dan perhatiannya terhadap 
kemaslahatan mereka, dan konsennya terhadap urusan ummatnya. 

Lebih dari itu, siapakah yang lebih berperasaan kasih sayang terhadap seluruh 
manusia melebihi Nabi Muhammad n yang menganjurkan: 

ÇöÑúÍóãõæúÇ ãóäú Ýöí ÇúáÃóÑúÖö íóÑúÍóãúßõãú ãóäú Ýöí ÇáÓøóãóÇÁö [ ÇáÊÑãÐí¡ ÍÓä 
ÕÍíÍ Ýí ÊÍÝÉ ÇáÃÍæÐí ÑÞã 1930]. 

“Sayangilah orang yang di bumi niscaya kamu akan disayangi oleh (Allah)Yang di 
langit. (Hadits Riwayat At-Tirmidzi, Hasan Shohih, dalam syarah Jami’ut 
Tirmidzi --Tuhfatul Ahwadzi-- nomor 1930). 

Menurut kebiasaan manusia yang berperasaan mencintai, tingkah laku orang yang 
dicintai selalu dipandang baik, dibela dan kalau ada kesalahan diusahakan untuk 
dimaafkan dengan berbagai jalan. Kebiasaan ini pun dialami oleh Nabi Muhammad n 
hingga betapa besar semangat Nabi Shalallaahu alaihi wasalam agar kerabatnya 
yang dihormati masuk Islam. Karena bersemangatnya itu, sesuai dengan rasa 
cintanya, karena memang kerabatnya ini (Abu Thalib paman nabi Shalallaahu 
alaihi wasalam) membela Nabi dalam hal penyiaran Islam, namun Allah Subhannahu 
wa Ta'ala menegurnya: 

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu 
kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan 
Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qoshosh 
: 56). 

Tebalnya rasa kasih sayang Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam yang tiada 
bandingannya itu ternyata masih dikalahkan oleh hati kerabatnya itu sendiri 
(Abu Thalib, paman Nabi Shalallaahu alaihi wasalam) yang memang tidak mau masuk 
Islam. Demikian pula kasih sayang Nabi Shalallaahu alaihi wasalam masih 
dikalahkan oleh perbuatan kaumnya yang menjadikan Nabi sampai mengeluh kepada 
Allah Subhannahu wa Ta'ala, lantaran kaumnya membelakangi Al-Quran, tidak 
menggubris Al-Quran. 

Sebenarnya, sikap kaum yang membelakangi Al-Quran itu keterlaluan. Betapa 
tidak. Rasa kasih sayang, bahkan kesabaran Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi 
wasalam bisa disimak dari sikapnya ketika dalam perang Uhud beliau berdarah 
wajahnya, dan beliau mengusap darah di wajahnya itu sambil berkata: 

Çóááøóåõãøó ÇÛúÝöÑú áöÞóæúãöíú ÝóÅöäøóåõãú áÇó íóÚúáóãõæúäó. [ÑæÇå ÇáÈÎÇÑí æ 
ãÓáã]. 

Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa) kaumku karena sesungguh-nya mereka tidak 
mengetahui. (HR Al-Bukhari dan Muslim). 

Sikap tidak menggubris Al-Quran, membelakangi, berpaling dari ayat-ayat Allah 
itu sama sekali bukan kejahatan yang ringan dan mengaduhnya Nabi atas sikap 
kaumnya yang tak menghiraukan Al-Quran itu, bukan berarti menunjukan 
keputusasaan beliau. Tidak. Namun, sikap kaum yang membelakangi Al-Quran itulah 
yang tak tahu diri. Terbukti, Nabi n tidak dipersalahkan mengaduh seperti itu. 
Bahkan Allah sendiri mengecam keras terhadap orang-orang yang membelakangi 
Al-Quran atau berpaling dari Al-Quran, dengan firmanNya, yang artinya: "Dan 
siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan 
ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang 
telah dikerjakan oleh kedua tangannya?" (QS Al-Kahfi : 57) 

Lima golongan yang membelakangi Al-Quran 
Sikap mengabaikan Al-Quran yang sangat dikecam itu jelas disebut oleh Nabi 
Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam sendiri dilakukan oleh kaumnya. Kaumnya itu 
bukanlah hanya bangsa Arab, bukan hanya bangsa Quraisy, namun adalah kaum yang 
ada ketika Nabi Muhammad n diutus dan sesudah itu. 

Lantas, siapakah mereka yang termasuk jelas-jelas berpredi-kat menjadikan 
Al-Quran di belakang punggungnya itu? 

Menurut Ibnu Qoyim ada 5 jenis atau 5 macam orang yang termasuk berpaling dari 
Al-Qur’an. 

Lima macam orang yang membelakangi Al-Quran itu, menurut Ibnu Qoyim adalah: 

*                     Berpaling dari mendengarkan dan mengimani Al-Quran 

*                     Berpaling dari mengamalkan Al-Quran walaupun membaca dan 
mengimaninya. 

*                     Berpaling dari menegakkan dan menggunakan hukum-nya. 

*                     Berpaling dari mengkaji dan memahami artinya. 

*                     Berpaling dari berobat dan mengobati orang lain dengan 
Al-Quran dalam seluruh penyakit hati. (Lihat Tafsir Mahaasinut Ta'wil 12/575).

 

Setelah kita mendapatkan penjelasan ayat-ayat Allah seperti ini, apakah kita 
melupakannya lagi seperti yang telah diperingatkan Allah tersebut? 

Kita tahu, bahwa Allah memberikan tuntunan kepada manusia adalah demi 
kebahagiaan manusia itu sendiri di dunia dan akherat. Dan kita tahu, Allah 
adalah Rouufur Rahiem, Maha kasih sayang yang amat sayang, hingga kepada umat 
Islam diberi petunjuk-petunjuk komplit, sampai model pakaian untuk muslimah, 
misalnya, itupun dengan sikap dan sifat kasih sayangNya Allah masih "sudi" 
menunjuki, lewat Al-Quran. Maka pantas kalau Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi 
wasalam mengeluh dengan sangat menyayangkan sikap sebagian kaumnya yang 
berpaling dari Al-Quran, dan Allah pun menyebut kaum macam itu sebagai terlalu 
zhalim. Dalam bahasa pergaulan manusia sehari-hari bisa disebut "disayangi tapi 
malah tak tahu diri". Lebih-lebih kalau sampai berani mencari-cari alasan untuk 
membenarkan sikap berpalingnya itu. Sikap semacam itu lebih dahsyat lagi hingga 
Allah mengemukakan pertanyaan yang cukup dahsyat pula, yang artinya: 
"Katakanlah (kepada mereka): "Apakah kamu akan mengajari Allah tentang agamamu 
(keyakinanmu) padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada 
di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (terjemah QS Al-Hujurat : 
16). 

Usaha Mengikis 
Sikap berpaling dari Al-Quran yang telah dikeluhkan oleh Nabi dan dikecam oleh 
Allah itu, bisa dikikis dengan berbagai usaha. Nan jauh di desa-desa pelosok 
sana, betapa banyak masjid, musholla dan langgar yang setiap malamnya untuk 
bertadarrus di bulan Ramadhan. Semangat mereka tetap tinggi, walau lampu-lampu 
yang menerangi kadang-kadang sangat sederhana, bahkan minyaknya pun 
tersendat-sendat. Sudahkah kita menyumbangkan sesuatu untuk mereka? Kitab-kitab 
Mushaf Al-Quran yang mereka baca pun sudah rusak. Sudahkah kita pikirkan? 
Sebaliknya, di masjid-masjid kota yang cukup terang benderang dan banyak 
berjajar kitab Al-Qurannya, tekunkah kita membaca Al-Quran dan ber'iktikaf di 
masjid-masjid itu? Dan di balik itu, anak-anak kita serba kita manjakan, apa 
saja kemauannya kita turuti. Sudahkah kita didik mereka itu secara benar-benar 
tentang Al-Quran? 

Mungkin, seribu pertanyaan akan ditujukan pada kita, dalam saringan: apakah 
kita termasuk golongan orang-orang yang membelakangi Al-Quran tersebut atau 
tidak. Termasuk penyokong, pendukung bahkan pelopor yang membelakangi Al-Quran 
atau tidak. Dan seberapa usaha kita untuk mengikis sikap membelakangi Al-Quran 
itu. Semuanya akan dinilai. Dan Al-Quran pun menjadi saksi di akherat nanti. 
Itulah yang perlu kita sadari sejak kini. 

Mudah-mudahan kita, keluarga kita, dan ummat Islam pada umumnya terhindar dari 
golongan orang-orang dzalim yang berpaling dari Al--Quran itu. Amien. 

ÃóÞõæúáõ Þóæúáöíú åóÐóÇ ÝóÇÓúÊóÛúÝöÑõæÇ Çááåó Åöäøóåõ åõæó ÇáúÛóÝõæúÑõ 
ÇáÑøóÍöíúãõ. 




Bacaan Khutbah Kedua 

Åöäøó ÇáúÍóãúÏó áöáøóåö äóÍúãóÏõåõ æóäóÓúÊóÚöíúäõåõ æóäóÓúÊóÛúÝöÑõåú æóäóÚõæÐõ 
ÈöÇááåö ãöäú ÔõÑõæúÑö ÃóäúÝõÓöäóÇ æóãöäú ÓóíøöÆóÇÊö ÃóÚúãóÇáöäóÇ¡ ãóäú íóåúÏöåö 
Çááåõ ÝóáÇó ãõÖöáøó áóåõ æóãóäú íõÖúáöáú ÝóáÇó åóÇÏöíó áóåõ. ÃóÔúåóÏõ Ãóäú áÇó 
Åöáóåó ÅöáÇøó Çááåõ æóÍúÏóåõ áÇó ÔóÑöíúßó áóåõ æóÃóÔúåóÏõ Ãóäøó ãõÍóãøóÏðÇ 
ÚóÈúÏõåõ æóÑóÓõæúáõåõ Õóáøóì Çááåõ Úóáóì äóÈöíøöäóÇ ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáöåö 
æóÃóÕúÍóÇÈöåö æóÓóáøóãó ÊóÓúáöíúãðÇ ßóËöíúÑðÇ. ÞóÇáó ÊóÚóÇáóì: íóÇ ÃóíøõåÇó 
ÇáøóÐöíúäó ÁóÇãóäõæÇ ÇÊøóÞõæÇ Çááåó ÍóÞøó ÊõÞóÇÊöåö æóáÇó ÊóãõæúÊõäøó ÅöáÇøó 
æóÃóäÊõãú ãøõÓúáöãõæúäó. ÞóÇáó ÊóÚóÇáóì: {æóãóä íóÊøóÞö Çááåó íóÌúÚóá áøóåõ 
ãóÎúÑóÌðÇ} æóÞóÇáó: {æóãóä íóÊøóÞö Çááåó íõßóÝøöÑú Úóäúåõ ÓóíøöÆóÇÊöåö 
æóíõÚúÙöãú áóåõ ÃóÌúÑðÇ} 
Ëõãøó ÇÚúáóãõæúÇ ÝóÅöäøó Çááåó ÃóãóÑóßõãú ÈöÇáÕøóáÇóÉö æóÇáÓøóáÇóãö Úóáóì 
ÑóÓõæúáöåö ÝóÞóÇáó: {Åöäøó Çááåó æóãóáÇóÆößóÊóåõ íõÕóáøõæúäó Úóáóì ÇáäøóÈöíøö¡ 
íóÇ ÃóíøõåÇó ÇáøóÐöíúäó ÁóÇãóäõæúÇ ÕóáøõæúÇ Úóáóíúåö æóÓóáøöãõæúÇ ÊóÓúáöíúãðÇ}. 
Çóááøóåõãøó Õóáøö Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáö ãõÍóãøóÏò ßóãóÇ ÕóáøóíúÊó Úóáóì 
ÅöÈúÑóÇåöíúãó æóÚóáóì Âáö ÅöÈúÑóÇåöíúãó¡ Åöäøóßó ÍóãöíúÏñ ãóÌöíúÏñ. æóÈóÇÑößú 
Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáö ãõÍóãøóÏò ßóãóÇ ÈóÇÑóßúÊó Úóáóì ÅöÈúÑóÇåöíúãó 
æóÚóáóì Âáö ÅöÈúÑóÇåöíúãó¡ Åöäøóßó ÍóãöíúÏñ ãóÌöíúÏñ. Çóááøóåõãøó ÇÛúÝöÑú 
áöáúãõÓúáöãöíúäó æóÇáúãõÓúáöãóÇÊö¡ æóÇáúãõÄúãöäöíúäó æóÇáúãõÄúãöäóÇÊö 
ÇúáÃóÍúíóÇÁö ãöäúåõãú æóÇúáÃóãúæóÇÊö¡ Åöäøóßó ÓóãöíúÚñ ÞóÑöíúÈñ. Çóááøóåõãøó 
ÃóÑöäóÇ ÇáúÍóÞøó ÍóÞøðÇ æóÇÑúÒõÞúäóÇ ÇÊøöÈóÇÚóåõ¡ æóÃóÑöäóÇ ÇáúÈóÇØöáó ÈÇóØöáÇð 
æóÇÑúÒõÞúäóÇ ÇÌúÊöäóÇÈóåõ. ÑóÈøóäóÇ ÂÊöäóÇ Ýöí ÇáÏøõäúíóÇ ÍóÓóäóÉð æóÝöí 
ÇáÂÎöÑóÉö ÍóÓóäóÉð æóÞöäóÇ ÚóÐóÇÈó ÇáäøóÇÑö. ÑóÈøóäóÇ åóÈú áóäóÇ ãöäú 
ÃóÒúæóÇÌöäóÇ æóÐõÑøöíøóÇÊöäóÇ ÞõÑøóÉó ÃóÚúíõäò æóÇÌúÚóáúäóÇ áöáúãõÊøóÞöíäó 
ÅöãóÇãðÇ. ÓõÈúÍóÇäó ÑóÈøößó ÑóÈøö ÇáúÚöÒøóÉö ÚóãøóÇ íóÕöÝõæúäó¡ æóÓóáÇóãñ Úóáóì 
ÇáúãõÑúÓóáöíúäó æóÇáúÍóãúÏõ áöáøóåö ÑóÈøö ÇáúÚóÇáóãöíúäó. 
æóÕóáøóì Çááåõ Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáöåö æóÕóÍúÈöåö æóÓóáøóãó. æóÃóÞöãö 
ÇáÕøóáÇóÉó. 

Oleh: H. Hartono Ahmad Jaiz

 

 

Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana - Semoga bermanfaat

 

Billahit taufiq wal hidayah

Wassalamualaikum wr.wb

 

 

 "Utamakan SELAMAT dan SEHAT untuk duniamu, Utamakan AKHLAK, SHOLAT dan ZAKAT 
untuk akhiratmu"

 

 

 

 

 

____________
DISCLAIMER :
This e-mail may contain confidential or legally privileged information and/or 
information subject to copyright. If you have received this e-mail in error you 
are hereby notified that any dissemination, distribution, disclosure or copying 
of this e-mail, or any part of it, is strictly prohibited and please notify the 
sender by return e-mail and delete this message from your system.
  


[Non-text portions of this message have been removed]



Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Syiar Islam.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke