Alloh SWTberfirman Dalam Al-Quran : " Hai orang-orang yang beriman, apabila
diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu
kepada mengingat Alloh dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih
baik bagimu jika kamu mengetahui" (Al-Jumuah : 62 : 12)
Diriwiyatkan dari Abu Hurairah ra: Nabi saw bersabda: "Sebaik-baik hari dalam
peredaran matahari adalah hari Jum'at. Pada hari Jum'at itulah Adam diciptakan,
pada hari itulah Adam dimasukkan ke surga, pada hari itu pula Adam dikeluarkan
dari surga, dan hari kiamat akan terjadi pada hari Jum'at." (3:6-Shahih Muslim)
Dalam hadist lainnya Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya pada hari Jum'at
ada satu saat, apabila seorang muslim melakukan shalat lalu memohon suatu
kebaikan maka Alloh akan memenuhinya." Kapan satu saat itu? Diriwiyatkan Abu
Musa Al Asya'ari ra, Rasulullah saw bersabda: "....saat itu adalah antara
duduknya imam dan selesai shalat Jum'at."
Terlampir Semoga Bermanfaat.
Artikel Khutbah Jum'at : Membelakangi Al-Quran, Masalah Besar
Bacaan Khutbah Pertama
Åöäøó ÇáúÍóãúÏó áöáøóåö äóÍúãóÏõåõ æóäóÓúÊóÚöíúäõåõ æóäóÓúÊóÛúÝöÑõåú æóäóÚõæÐõ
ÈöÇááåö ãöäú ÔõÑõæúÑö ÃóäúÝõÓöäóÇ æóãöäú ÓóíøöÆóÇÊö ÃóÚúãóÇáöäóÇ¡ ãóäú íóåúÏöåö
Çááåõ ÝóáÇó ãõÖöáøó áóåõ æóãóäú íõÖúáöáúåõ ÝóáÇó åóÇÏöíó áóåõ. æóÃóÔúåóÏõ Ãóäú
áÇó Åöáóåó ÅöáÇøó Çááåõ æóÍúÏóåõ áÇó ÔóÑöíúßó áóåõ æóÃóÔúåóÏõ Ãóäøó ãõÍóãøóÏðÇ
ÚóÈúÏõåõ æóÑóÓõæúáõåõ. íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáäøóÇÓõ ÃõæúÕöíúßõãú æóÅöíøóÇíó ÈöÊóÞúæóì
Çááåö ÝóÞóÏú ÝóÇÒó ÇáúãõÊøóÞõæúäó. ÞóÇáó ÊóÚóÇáóì: íóÇ ÃóíøõåÇó ÇáøóÐöíúäó
ÁóÇãóäõæÇ ÇÊøóÞõæÇ Çááåó ÍóÞøó ÊõÞóÇÊöåö æóáÇó ÊóãõæúÊõäøó ÅöáÇøó æóÃóäÊõãú
ãøõÓúáöãõæúäó. ÞóÇáó ÊóÚóÇáóì: íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáäøóÇÓõ ÇÊøóÞõæúÇ ÑóÈøóßõãõ
ÇáøóÐöíú ÎóáóÞóßõãú ãøöäú äóÝúÓò æóÇÍöÏóÉò æóÎóáóÞó ãöäúåóÇ ÒóæúÌóåóÇ æóÈóËøó
ãöäúåõãóÇ ÑöÌóÇáÇð ßóËöíúÑðÇ æóäöÓóÂÁð æóÇÊøóÞõæÇ Çááåó ÇáøóÐöíú ÊóÓóÂÁóáõæúäó
Èöåö æóÇúáÃóÑúÍóÇãó Åöäøó Çááåó ßóÇäó Úóáóíúßõãú ÑóÞöíúÈðÇ. íóÇ ÃóíøõåóÇ
ÇáøóÐöíúäó ÁóÇãóäõæÇ ÇÊøóÞõæÇ Çááåó æóÞõæúáõæúÇ ÞóæúáÇð ÓóÏöíúÏðÇ. íõÕúáöÍú
áóßõãú ÃóÚúãóÇáóßõãú æóíóÛúÝöÑú áóßõãú ÐõäõæúÈóßõãú æóãóäú íõØöÚö Çááåó
æóÑóÓõæúáóåõ ÝóÞóÏú ÝóÇÒó ÝóæúÒðÇ ÚóÙöíúãðÇ.
ÃóãøóÇ ÈóÚúÏõº ÝóÅöäøó ÃóÕúÏóÞó ÇáúÍóÏöíËö ßöÊóÇÈõ Çááåó¡ æóÎóíúÑó ÇáúåóÏúíö
åóÏúíõ ãõÍóãøóÏò Õóáøóì Çááå Úóáóíúåö æóÓóáøóãó æóÔøóÑó ÇáÃõãõæÑö
ãõÍúÏóËóÇÊõåóÇ æóßõáøó ãõÍúÏóËóÉò ÈöÏúÚóÉñ æóßõáøó ÈöÏúÚóÉò ÖóáÇóáóÉñ æóßõáøó
ÖóáÇóáóÉò Ýöí ÇáäøóÇÑö. Çóááøóåõãøó Õóáøö æóÓóáøöãú Úóáóì äóÈöíøöäóÇ ãõÍóãøóÏò
æóÚóáóì Âáöåö æóÕóÍúÈöåö æóãóäú ÊóÈöÚóåõãú ÈöÅöÍúÓóÇäò Åöáóì íóæúãö
ÇáúÞöíóÇãóÉö.
Jamaah Jumat Rahimakumulloh
Al-Quran adalah kalamullah yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW
lewat Malaikat Jibril sebagai pedoman utama ummat Islam. Menjadi kewajiban bagi
ummat Islam untuk mengangkat Al-Quran sebagai landasan utama dalam mengamalkan
Islam di samping berpedoman pula kepada Hadits Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi
wasalam. Mengimani seluruh isi Al-Quran hukumnya wajib, sedang mengingkari satu
bagian dari ayat Al-Quran saja hukumnya murtad alias keluar dari Islam. Jadi
iman kepada seluruh ayat Al-Quran itu mutlak wajibnya. Dan keimanan itu harus
dibuktikan dengan amal. Sedang membaca Al-Quran itu sendiri nilainya adalah
ibadah.
Meskipun kedudukan Al-Quran itu demikian tingginya dalam Islam, namun belum
tentu orang yang mengaku dirinya Muslim mau memperhatikan kitab sucinya itu.
Padahal tidak memperhatikan kitab suci Al-Quran itu bukan masalah kecil, namun
merupakan masalah besar. Sehingga Nabi Muhammad n pun mengeluhkan akan ada
diantara kaumnya yang tidak memperhatikan Al-Quran; bahkan keluhan Nabi
Shalallaahu alaihi wasalam itu langsung difirmankan oleh Allah Subhannahu wa
Ta'ala :
Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini
suatu yang tidak diperhatikan." (terjemah Q.S.Al-Furqon ayat 30).
Siapakah yang rasa cinta kasihnya kepada ummatnya melebihi Nabi Muhammad
Shalallaahu alaihi wasalam yang berdoa untuk ummatnya sampai menangis, hingga
Allah mengutus Malaikat Jibril agar menanyakan kenapa Nabi Muhammad Shalallaahu
alaihi wasalam menangis? Nabi Shalallaahu alaihi wasalam lah yang sangat
mencintai ummatnya. Dalam hadits Shahih Muslim diriwayatkan:
Dari Abdullah bin Amru bin Ash bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam membaca
Firman Allah Azza Wa Jalla dalam (hal perkataan) Nabi Ibrahim: Ya Tuhanku
sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia,
maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk
golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha
Pengam-pun lagi Maha Penyayang. (Ibrahim/ 14:36). Dan seterusnya.
Dan berkata Isa : Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguh-nya mereka
adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al-Maaidah: 118). Lalu Nabi
Muhammad mengangkat kedua tangannya dan berkata: Ya Alllah, ummatku ummatku
dan beliau menangis. Maka Allah Azza Wa Jalla berfirman: Hai Jibril, temuilah
muhammad, sedang Tuhanmu lebih mengetahui, lalu tanyalah dia: apa yang
menjadikan kamu menangis? Lalu Jibril mendatangi Nabi n dan menanyainya. Maka
Rasulullah n memberi khabar pada-Nya dengan apa yang telah Nabi katakan, sedang
Dia mengetahui. Lalu Allah berfirman: Hai Jibril, temuilah muhammad, lalu
katakanlah padanya: Sesungguhnya Aku akan meridhoimu dalam ummatmu dan Aku
tidak menjadikanmu sedih. (HR Muslim dengan Syarah An-Nawawi no 346---202452).
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shohih Muslim mengemu-kakan bahwa sikap Nabi
Shalallaahu alaihi wasalam itu adalah merupakan kasih sayang Nabi Shalallaahu
alaihi wasalam sempurnanya terhadap ummatnya dan perhatiannya terhadap
kemaslahatan mereka, dan konsennya terhadap urusan ummatnya.
Lebih dari itu, siapakah yang lebih berperasaan kasih sayang terhadap seluruh
manusia melebihi Nabi Muhammad n yang menganjurkan:
ÇöÑúÍóãõæúÇ ãóäú Ýöí ÇúáÃóÑúÖö íóÑúÍóãúßõãú ãóäú Ýöí ÇáÓøóãóÇÁö [ ÇáÊÑãÐí¡ ÍÓä
ÕÍíÍ Ýí ÊÍÝÉ ÇáÃÍæÐí ÑÞã 1930].
Sayangilah orang yang di bumi niscaya kamu akan disayangi oleh (Allah)Yang di
langit. (Hadits Riwayat At-Tirmidzi, Hasan Shohih, dalam syarah Jamiut
Tirmidzi --Tuhfatul Ahwadzi-- nomor 1930).
Menurut kebiasaan manusia yang berperasaan mencintai, tingkah laku orang yang
dicintai selalu dipandang baik, dibela dan kalau ada kesalahan diusahakan untuk
dimaafkan dengan berbagai jalan. Kebiasaan ini pun dialami oleh Nabi Muhammad n
hingga betapa besar semangat Nabi Shalallaahu alaihi wasalam agar kerabatnya
yang dihormati masuk Islam. Karena bersemangatnya itu, sesuai dengan rasa
cintanya, karena memang kerabatnya ini (Abu Thalib paman nabi Shalallaahu
alaihi wasalam) membela Nabi dalam hal penyiaran Islam, namun Allah Subhannahu
wa Ta'ala menegurnya:
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu
kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan
Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qoshosh
: 56).
Tebalnya rasa kasih sayang Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam yang tiada
bandingannya itu ternyata masih dikalahkan oleh hati kerabatnya itu sendiri
(Abu Thalib, paman Nabi Shalallaahu alaihi wasalam) yang memang tidak mau masuk
Islam. Demikian pula kasih sayang Nabi Shalallaahu alaihi wasalam masih
dikalahkan oleh perbuatan kaumnya yang menjadikan Nabi sampai mengeluh kepada
Allah Subhannahu wa Ta'ala, lantaran kaumnya membelakangi Al-Quran, tidak
menggubris Al-Quran.
Sebenarnya, sikap kaum yang membelakangi Al-Quran itu keterlaluan. Betapa
tidak. Rasa kasih sayang, bahkan kesabaran Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi
wasalam bisa disimak dari sikapnya ketika dalam perang Uhud beliau berdarah
wajahnya, dan beliau mengusap darah di wajahnya itu sambil berkata:
Çóááøóåõãøó ÇÛúÝöÑú áöÞóæúãöíú ÝóÅöäøóåõãú áÇó íóÚúáóãõæúäó. [ÑæÇå ÇáÈÎÇÑí æ
ãÓáã].
Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa) kaumku karena sesungguh-nya mereka tidak
mengetahui. (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Sikap tidak menggubris Al-Quran, membelakangi, berpaling dari ayat-ayat Allah
itu sama sekali bukan kejahatan yang ringan dan mengaduhnya Nabi atas sikap
kaumnya yang tak menghiraukan Al-Quran itu, bukan berarti menunjukan
keputusasaan beliau. Tidak. Namun, sikap kaum yang membelakangi Al-Quran itulah
yang tak tahu diri. Terbukti, Nabi n tidak dipersalahkan mengaduh seperti itu.
Bahkan Allah sendiri mengecam keras terhadap orang-orang yang membelakangi
Al-Quran atau berpaling dari Al-Quran, dengan firmanNya, yang artinya: "Dan
siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan
ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang
telah dikerjakan oleh kedua tangannya?" (QS Al-Kahfi : 57)
Lima golongan yang membelakangi Al-Quran
Sikap mengabaikan Al-Quran yang sangat dikecam itu jelas disebut oleh Nabi
Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam sendiri dilakukan oleh kaumnya. Kaumnya itu
bukanlah hanya bangsa Arab, bukan hanya bangsa Quraisy, namun adalah kaum yang
ada ketika Nabi Muhammad n diutus dan sesudah itu.
Lantas, siapakah mereka yang termasuk jelas-jelas berpredi-kat menjadikan
Al-Quran di belakang punggungnya itu?
Menurut Ibnu Qoyim ada 5 jenis atau 5 macam orang yang termasuk berpaling dari
Al-Quran.
Lima macam orang yang membelakangi Al-Quran itu, menurut Ibnu Qoyim adalah:
* Berpaling dari mendengarkan dan mengimani Al-Quran
* Berpaling dari mengamalkan Al-Quran walaupun membaca dan
mengimaninya.
* Berpaling dari menegakkan dan menggunakan hukum-nya.
* Berpaling dari mengkaji dan memahami artinya.
* Berpaling dari berobat dan mengobati orang lain dengan
Al-Quran dalam seluruh penyakit hati. (Lihat Tafsir Mahaasinut Ta'wil 12/575).
Setelah kita mendapatkan penjelasan ayat-ayat Allah seperti ini, apakah kita
melupakannya lagi seperti yang telah diperingatkan Allah tersebut?
Kita tahu, bahwa Allah memberikan tuntunan kepada manusia adalah demi
kebahagiaan manusia itu sendiri di dunia dan akherat. Dan kita tahu, Allah
adalah Rouufur Rahiem, Maha kasih sayang yang amat sayang, hingga kepada umat
Islam diberi petunjuk-petunjuk komplit, sampai model pakaian untuk muslimah,
misalnya, itupun dengan sikap dan sifat kasih sayangNya Allah masih "sudi"
menunjuki, lewat Al-Quran. Maka pantas kalau Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi
wasalam mengeluh dengan sangat menyayangkan sikap sebagian kaumnya yang
berpaling dari Al-Quran, dan Allah pun menyebut kaum macam itu sebagai terlalu
zhalim. Dalam bahasa pergaulan manusia sehari-hari bisa disebut "disayangi tapi
malah tak tahu diri". Lebih-lebih kalau sampai berani mencari-cari alasan untuk
membenarkan sikap berpalingnya itu. Sikap semacam itu lebih dahsyat lagi hingga
Allah mengemukakan pertanyaan yang cukup dahsyat pula, yang artinya:
"Katakanlah (kepada mereka): "Apakah kamu akan mengajari Allah tentang agamamu
(keyakinanmu) padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada
di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (terjemah QS Al-Hujurat :
16).
Usaha Mengikis
Sikap berpaling dari Al-Quran yang telah dikeluhkan oleh Nabi dan dikecam oleh
Allah itu, bisa dikikis dengan berbagai usaha. Nan jauh di desa-desa pelosok
sana, betapa banyak masjid, musholla dan langgar yang setiap malamnya untuk
bertadarrus di bulan Ramadhan. Semangat mereka tetap tinggi, walau lampu-lampu
yang menerangi kadang-kadang sangat sederhana, bahkan minyaknya pun
tersendat-sendat. Sudahkah kita menyumbangkan sesuatu untuk mereka? Kitab-kitab
Mushaf Al-Quran yang mereka baca pun sudah rusak. Sudahkah kita pikirkan?
Sebaliknya, di masjid-masjid kota yang cukup terang benderang dan banyak
berjajar kitab Al-Qurannya, tekunkah kita membaca Al-Quran dan ber'iktikaf di
masjid-masjid itu? Dan di balik itu, anak-anak kita serba kita manjakan, apa
saja kemauannya kita turuti. Sudahkah kita didik mereka itu secara benar-benar
tentang Al-Quran?
Mungkin, seribu pertanyaan akan ditujukan pada kita, dalam saringan: apakah
kita termasuk golongan orang-orang yang membelakangi Al-Quran tersebut atau
tidak. Termasuk penyokong, pendukung bahkan pelopor yang membelakangi Al-Quran
atau tidak. Dan seberapa usaha kita untuk mengikis sikap membelakangi Al-Quran
itu. Semuanya akan dinilai. Dan Al-Quran pun menjadi saksi di akherat nanti.
Itulah yang perlu kita sadari sejak kini.
Mudah-mudahan kita, keluarga kita, dan ummat Islam pada umumnya terhindar dari
golongan orang-orang dzalim yang berpaling dari Al--Quran itu. Amien.
ÃóÞõæúáõ Þóæúáöíú åóÐóÇ ÝóÇÓúÊóÛúÝöÑõæÇ Çááåó Åöäøóåõ åõæó ÇáúÛóÝõæúÑõ
ÇáÑøóÍöíúãõ.
Bacaan Khutbah Kedua
Åöäøó ÇáúÍóãúÏó áöáøóåö äóÍúãóÏõåõ æóäóÓúÊóÚöíúäõåõ æóäóÓúÊóÛúÝöÑõåú æóäóÚõæÐõ
ÈöÇááåö ãöäú ÔõÑõæúÑö ÃóäúÝõÓöäóÇ æóãöäú ÓóíøöÆóÇÊö ÃóÚúãóÇáöäóÇ¡ ãóäú íóåúÏöåö
Çááåõ ÝóáÇó ãõÖöáøó áóåõ æóãóäú íõÖúáöáú ÝóáÇó åóÇÏöíó áóåõ. ÃóÔúåóÏõ Ãóäú áÇó
Åöáóåó ÅöáÇøó Çááåõ æóÍúÏóåõ áÇó ÔóÑöíúßó áóåõ æóÃóÔúåóÏõ Ãóäøó ãõÍóãøóÏðÇ
ÚóÈúÏõåõ æóÑóÓõæúáõåõ Õóáøóì Çááåõ Úóáóì äóÈöíøöäóÇ ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáöåö
æóÃóÕúÍóÇÈöåö æóÓóáøóãó ÊóÓúáöíúãðÇ ßóËöíúÑðÇ. ÞóÇáó ÊóÚóÇáóì: íóÇ ÃóíøõåÇó
ÇáøóÐöíúäó ÁóÇãóäõæÇ ÇÊøóÞõæÇ Çááåó ÍóÞøó ÊõÞóÇÊöåö æóáÇó ÊóãõæúÊõäøó ÅöáÇøó
æóÃóäÊõãú ãøõÓúáöãõæúäó. ÞóÇáó ÊóÚóÇáóì: {æóãóä íóÊøóÞö Çááåó íóÌúÚóá áøóåõ
ãóÎúÑóÌðÇ} æóÞóÇáó: {æóãóä íóÊøóÞö Çááåó íõßóÝøöÑú Úóäúåõ ÓóíøöÆóÇÊöåö
æóíõÚúÙöãú áóåõ ÃóÌúÑðÇ}
Ëõãøó ÇÚúáóãõæúÇ ÝóÅöäøó Çááåó ÃóãóÑóßõãú ÈöÇáÕøóáÇóÉö æóÇáÓøóáÇóãö Úóáóì
ÑóÓõæúáöåö ÝóÞóÇáó: {Åöäøó Çááåó æóãóáÇóÆößóÊóåõ íõÕóáøõæúäó Úóáóì ÇáäøóÈöíøö¡
íóÇ ÃóíøõåÇó ÇáøóÐöíúäó ÁóÇãóäõæúÇ ÕóáøõæúÇ Úóáóíúåö æóÓóáøöãõæúÇ ÊóÓúáöíúãðÇ}.
Çóááøóåõãøó Õóáøö Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáö ãõÍóãøóÏò ßóãóÇ ÕóáøóíúÊó Úóáóì
ÅöÈúÑóÇåöíúãó æóÚóáóì Âáö ÅöÈúÑóÇåöíúãó¡ Åöäøóßó ÍóãöíúÏñ ãóÌöíúÏñ. æóÈóÇÑößú
Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáö ãõÍóãøóÏò ßóãóÇ ÈóÇÑóßúÊó Úóáóì ÅöÈúÑóÇåöíúãó
æóÚóáóì Âáö ÅöÈúÑóÇåöíúãó¡ Åöäøóßó ÍóãöíúÏñ ãóÌöíúÏñ. Çóááøóåõãøó ÇÛúÝöÑú
áöáúãõÓúáöãöíúäó æóÇáúãõÓúáöãóÇÊö¡ æóÇáúãõÄúãöäöíúäó æóÇáúãõÄúãöäóÇÊö
ÇúáÃóÍúíóÇÁö ãöäúåõãú æóÇúáÃóãúæóÇÊö¡ Åöäøóßó ÓóãöíúÚñ ÞóÑöíúÈñ. Çóááøóåõãøó
ÃóÑöäóÇ ÇáúÍóÞøó ÍóÞøðÇ æóÇÑúÒõÞúäóÇ ÇÊøöÈóÇÚóåõ¡ æóÃóÑöäóÇ ÇáúÈóÇØöáó ÈÇóØöáÇð
æóÇÑúÒõÞúäóÇ ÇÌúÊöäóÇÈóåõ. ÑóÈøóäóÇ ÂÊöäóÇ Ýöí ÇáÏøõäúíóÇ ÍóÓóäóÉð æóÝöí
ÇáÂÎöÑóÉö ÍóÓóäóÉð æóÞöäóÇ ÚóÐóÇÈó ÇáäøóÇÑö. ÑóÈøóäóÇ åóÈú áóäóÇ ãöäú
ÃóÒúæóÇÌöäóÇ æóÐõÑøöíøóÇÊöäóÇ ÞõÑøóÉó ÃóÚúíõäò æóÇÌúÚóáúäóÇ áöáúãõÊøóÞöíäó
ÅöãóÇãðÇ. ÓõÈúÍóÇäó ÑóÈøößó ÑóÈøö ÇáúÚöÒøóÉö ÚóãøóÇ íóÕöÝõæúäó¡ æóÓóáÇóãñ Úóáóì
ÇáúãõÑúÓóáöíúäó æóÇáúÍóãúÏõ áöáøóåö ÑóÈøö ÇáúÚóÇáóãöíúäó.
æóÕóáøóì Çááåõ Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáöåö æóÕóÍúÈöåö æóÓóáøóãó. æóÃóÞöãö
ÇáÕøóáÇóÉó.
Oleh: H. Hartono Ahmad Jaiz
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana - Semoga bermanfaat
Billahit taufiq wal hidayah
Wassalamualaikum wr.wb
"Utamakan SELAMAT dan SEHAT untuk duniamu, Utamakan AKHLAK, SHOLAT dan ZAKAT
untuk akhiratmu"
____________
DISCLAIMER :
This e-mail may contain confidential or legally privileged information and/or
information subject to copyright. If you have received this e-mail in error you
are hereby notified that any dissemination, distribution, disclosure or copying
of this e-mail, or any part of it, is strictly prohibited and please notify the
sender by return e-mail and delete this message from your system.
[Non-text portions of this message have been removed]
Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Syiar Islam.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/