MessageIya juga siy: 
"Mungkin di beberapa hal kita sudah mengaktualisasikan keutamaan Allah,tapi 
pada kebanyakan hal kita masih belum memiliki kesanggupan, ilmu dan keberanian 
untuk menyelenggarakan 'La Ilaha' di dalam praktek hidup kita. 
Belum becus ber-La Ilaha, kita sudah sibuk, mantap, GR dan sombong seakan-akan 
sudah memasuki tahap Illallah yang sungguh-sungguh". 
(Pesan ini juga buat diri saya sendiri untuk kembali bercermin).

Afwan, ada yang ingin memberikan komentar...?



Memunafikkan La Ilaha Illallah oleh EMHA AINUN NAJIB 

diambil dari Buku KAFIR LIBERAL (Cak Nun)

Pada suatu malam salah satu yang hadir di "Kenduri Cinta" Jakarta
adalah seorang pemuda yang berpidato memperkenalkan kelompoknya yang
dinamakan "Jaringan Kafir Liberal. Ia berpidato berapi-api,
mengkritisi berbagai kenyataan kehidupan kaum Muslimin serta kehidupan
bangsa Indonesia pada umumnya yang penuh kemunafikan. Intinya ia
melakukan penolakan-penolakan frontal terhadap berbagai trend nilai
yang sedang berlangsung. Dalam bahasa Islam: ia melakukan "kekufuran"
atau sikap kafir terhadap sangat banyak hal, termasuk pandangan
ketuhanan dan theologi yang populer.

Cukup segar dan lucu caranya berbicara, tetapi membuat merah telinga
banyak hadirin yang tidak siap terhadap kekafiran pembicara. Sejumlah
orang Islam tidak tahan hati mendengar kata "kafir", dan salah tingkah
menghadapi orang yang menamakan dirinya "kafir", apalagi membuat
semacam organisasi yang terang-terangan memakai idiom "kafir" sebagai
identitasnya.

Hampir terjadi ketegangan di antara hadirin, sorot mata sejumlah
pemuda menjadi sangat tajam dan mengundang ancaman -sampai akhirnya
saya terpaksa maju untuk memuji dan menjunjung-junjung penampilan dari
Jaringan Kafir Liberal ini.

"Saudara-saudaraku yang lembut hati, seluruh yang ia kemukakan tadi
bisa Anda temukan di dalam wilayah penghayatan La Ilaha, yaitu bagian
awal dari syahadat Muslim yang bermakna Tidak ada Tuhan. Sebelum
seorang Muslim memiliki keberanian untuk mengucapkan Illallah (hanya
Allah), maka terlebih dulu ia harus mengenali persis La Ilaha. Yang
bukan Tuhan yang mana saja. Yang tidak dinomorsatukan apa saja. Kalau
Anda sudah menemukan dan meyakini bahwa dalam kehidupan ini tak ada
yang pantas dituhankan, baik itu Raja, Presiden, Ulama, atau
tokoh-tokoh apapun, termasuk uang, harta benda dan kekuasaan maka Anda
menemukan kehidupan ini sunyi. Semuanya lemah sebagaimana Anda. Batu,
pepohonan, segala makhluk, termasuk kita, semuanya lemah, sehingga
tidak memiliki kepantasan untuk dituhankan. Tidak memiliki kelayakan
untuk dijunjung paling tinggi, untuk dibela sampai mati. Dengan itu
Anda menemukan Illallah, hanya Allah, yang memiliki kedudukan,
kekuatan dan fungsi semacam itu. Jadi, saudara-saudaraku, Jaringan
Kafir Liberal adalah tahap awal dari Islam yang sejati.."

Insya Allah berdasarkan keterbatasan persepsi ilmu pengetahuan saya,
kita semua ini masih terpuruk pada keadaan yang sangat parah diukur
dari hakekat La Ilaha Illallah.

Di dalam mengerjakan kehidupan, di dalam berekonomi, berkebudayaan,
berpolitik, di dalam banyak sekali urusan, di dalam menjalankan
peradaban kemanusiaan sampai abad milenium ini: kita masih sangat jauh
dari kenyataan 'Illallah'. Kita masih belum menemukan kenomor-satuan
Allah dalam perilaku kehidupan kita sebagai individu, apalagi sebagai
anggota peradaban globalisasi.

Mungkin di beberapa hal kita sudah mengaktualisasikan keutamaan Allah,
tapi pada kebanyakan hal kita masih belum memiliki kesanggupan, ilmu
dan keberanian untuk menyelenggarakan 'La Ilaha' di dalam praktek
hidup kita.

Belum becus ber-La Ilaha, kita sudah sibuk, mantap, GR dan sombong
seakan-akan sudah memasuki tahap Illallah yang sungguh-sungguh. Ya
kita orang biasa, ya kita pejabat, ya kita ustadz, ya kita ulama,
bahkan habib dan huffadhul Qur'an.

Sesungguhnya, saya berhusnudzhan, yang dilawan oleh teman-teman
Jaringan Kafir Liberal bukanlah Allah SWT -melainkan suatu parodi,
ironi dan sarkasme perlawanan terhadap perilaku kehidupan beragama
kita yang penuh kemunafikan. Terutama memunafikkan konteks antara La
Ilaha dan Illallah.[]


 




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke