Artikel Islami 
      04 Februari 2003 - 15:50 
      4 Orang Istri
  
       
           Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 orang 
istri. 
   
  Dia mencintai istri yang keempat, dan menganugerahinya harta dan kesenangan 
yang banyak. 
Sebab, dialah yang tercantik diantara semua istrinya. Pria ini selalu 
memberikan yang terbaik buat istri keempatnya ini. 

Pedagang itu juga mencintai istrinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan 
istrinya ini, dan selalu berusaha untuk 
memperkenalkan wanita ini kepada semua temannya. 
Namun, ia juga selalu khawatir kalau istrinya ini akan lari dengan pria yang 
lain. 

Begitu juga dengan istri yang kedua. Ia pun sangat menyukainya. Ia adalah istri 
yang sabar dan pengertian. 
Kapanpun pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pertimbangan 
istrinya ini. 
Dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya, 
melewati masa-masa yang sulit. 

Sama halnya dengan istri yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. 
Dia selalu membawa perbaikan bagi 
kehidupan keluarga ini. Dia lah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan 
usaha sangsuami. 
Akan tetapi, sang pedagang, tak begitu mencintainya. 
Walaupun sang istri pertama ini begitu sayang padanya, namun, pedagang ini tak 
begitu mempedulikannya. 

Suatu ketika, si pedagang sakit. Lama kemudian, ia menyadari, bahwa ia akan 
segera meninggal. 
Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati. "Saat ini, aku 
punya 4 orang 
istri. Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku 
harus hidup sendiri." 

Lalu, ia meminta semua istrinya datang, dan kemudian mulai bertanya pada istri 
keempatnya. "Kaulah yang paling 
kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah, sekarang, aku akan 
mati, maukah kau mendampingiku dan menemaniku? Ia terdiam. "Tentu saja tidak, 
"jawab istri keempat, dan pergi begitu 
saja tanpa berkata-kata lagi. 

Jawaban itu sangat menyakitkan hati. Seakan-akan, ada 
pisau yang terhunus dan mengiris-iris hatinya. 

Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiga. 
"Akupun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir. 
Maukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku? 
Istrinya menjawab, Hidup begitu indah disini. Aku akan 
menikah lagi jika kau mati. Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan ini. 
Badannya mulai merasa demam. 

Lalu, ia bertanya pada istri keduanya. "Aku selalu berpaling padamu setiap kali 
mendapat masalah. Dan kau selalu mau 
membantuku. Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau ku mati, maukah kau 
ikut dan mendampingiku? Sang istri menjawab pelan. "Maafkan aku," ujarnya "Aku 
tak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur 
saja. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu. 
Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang pedagang kini merasa putus asa. 

Tiba-tiba terdengar sebuah suara. "Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut 
kemanapun kau pergi. Aku, tak akan 
meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu. Sang pedagang lalu menoleh ke 
samping, dan mendapati istri pertamanya disana. Dia tampak begitu kurus. 
Badannya tampak seperti orang yang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang 
lalu bergumam, "Kalau saja, aku bisa merawatmu lebih baik saat ku mampu, tak 
akan kubiarkan kau seperti ini, istriku." 

Renungan : 

Teman, sesungguhnya kita punya 4 orang istri dalam hidup ini. 
Istri yang keempat, adalah tubuh kita. Seberapapun banyak waktu dan biaya yang 
kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan 
hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak ada keindahan dan 
kegagahan yang tersisa saat kita menghadap-Nya. 

Istri yang ketiga, adalah status sosial dan kekayaan. 
Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. 
Mereka akan berpindah, dan melupakan kita yang pernah memilikinya. 

Sedangkan istri yang kedua, adalah kerabat dan teman-teman. 
Seberapapun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan bisa bersama 
kita selamanya.
Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita. 

Dan, teman, sesungguhnya, istri pertama kita adalah jiwa dan amal kita. 
Mungkin, kita sering mengabaikan, dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan 
pribadi. Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk 
terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amal yang mampu 
menolong kita di 
akhirat kelak. 

  ================================================
Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak. Jangan 
sampai kita menyesal belakangan. 
  
Mumpung masih hidup 
Mumpung masih sehat 
Mumpung masih longgar 
Mumpung masih muda 
  Semoga Insya Allah 
======================================
  www.dudung.net

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke