Menarik sekali !, terus terang saya sependapat dengan saudari 
Hana..., saya seringkali bertanya-tanya menyikapi realita kaum
pergerakan yang ada saat ini, mengapa kita harus mengorbankan "Tujuan"
demi sebuah "Alat" ?!

Bertindak akarkis, menimbulkan kekacauan serta ketidak nyamanan dan
sebagainya sering kita temukan mereka lakukan atas nama "Islam", suatu
agama yang sebenarnya mengajarkan dan menekankan mereka untuk berbuat
bijak dan lemah lembut dalam berdakwah dan membangun peradabannya.

Tujuan ?
Ya ! Tujuan itu adalah "muka bumi yang makmur dengan banyak dari
penghuninya menyembah kepada YME", saya menyebutnya "banyak" dan tidak
 berarti seluruhnya, karena memang itulah yang diinginkan YMK itu
sendiri. 

Dalam suatu ayat dengan jelas dikatakan pada kita, bahwa jika YME itu
menginginkan seluruh penduduk dunia menyembahNya adalah hal yang
mudah..jelas!!, namun bukanlah itu tujuan sebenarnya, melainkan
terciptanya kedamaian bagi semesta alam dengan kita sebagai "Juru
Rahmat"  (rahmatan lil a'lamin)

Bagaimana pun kebhinekaan itu adalah bagian sunnatullah yang harus
disikapi secara bijak, mengedepankan kepentingan golongan kita dengan
menafikan perasaan golongan yang lain, jelas potensial sekali merusak
tujuan yang sedikitnya sudah terwujud.

Alat ??
Ya ! dan alat itu bernama "syariah islam", sesuatu yang banyak dari
kita masih saja rancu dalam memahami dan menerapkannya!, mendadak,
tanpa membangun pondasi sebelumnya, keras memaksa, tanpa toleransi dan
sebagainya itu yang cenderung kita lakukan dan dilihat oleh umat
manusia di luar golongan kita. 

Ironis !!, karena bukan seperti itulah Islam membangun peradabannya di
masa lalu, dimanakah "mauidzah hasanah" itu ?, dimanakah figure
keteladanan dari sebuah umat yang menamakan dirinya muslim itu?? Sudah
sedemikian besarkah sumbangsih yang mereka berikan untuk lingkungan
dan peradaban sekitarnya???

Dulu dengan bimbingan seorang Nabi SAW kita bisa menjawab semua
pertanyaan tersebut? namun sekarang tidak ada lagi seorang Nabi, yang
ada adalah para "Ulama" pewaris perjuangan sang Nabi. Hingga kewajiban
para ulama-lah untuk mendidik umat agar dapat menjawab berbagai
pertanyaan itu.

Ulama harus segera menyadari posisinya ini, berdakwah secara bijak,
membangun "khilafah" dalam "inner self" umat Islam. Memang ini butuh
proses yang mengguras tenaga dan kesabaran, tapi begitu pondasi sudah
terbentuk, dan lingkungan pun turut mendukung karena kita sudah
mewarnai, Khilafah jelas bukan suatu yang mustahil untuk diwujudkan!.

Berdakwahlah tanpa kita sedikitpun merusak "tujuan Islam" yang sudah
terbangun dengan menggunakan alat yang benar sesuai dengan apa yang
dicontohkan Nabi SAW.

Saya pribadi telah semenjak lama mencari Alat itu dan menemukannya!,
ya ! telah menemukannya!! ,Alat itu bukanlah sesuatu yang asing di
telinga kita, Alat itu justru telah lama kita kenal, walau tak
sedikitpun waktu yang mau kita luangkan untuk berkenalan dengannya,
Alat itu merupakan hasil perjuangan para ulama kita di masa lalu,
sesuatu yang diandalkan tokoh-tokoh ulama besar kita sekaliber M.
Natsir, Buya Hamka, KH. Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo yang lain…

Alat itu adalah apa yang saya sebut dengan Piagam Madinahnya
Indonesia, atau yang disebut oleh buku-buku Pendidikan Kewarganegaraan
dengan PANCASILA…

Saya pernah membuat tulisan tentangnya, dan akan segera saya posting
disini…InsyaAllah…

Kalibata, 4 September 2007
"Khilafah adalah Solusi..Jelas!!, namun usaha kita dalam mewujudkannya
sudahkah bagian dari solusi??!..renungkanlah Saudara !"

Kirim email ke