Tauhid
Sabtu, 17 Maret 2007 - 10:46 WIB Janji Allah Tidak Boleh Jadi Rebutan Oleh: Ahmad Abu Lailah Al Qodar Islam adalah wahyu Allah, yang mengatur urusan dunia juga membahas akhirat. Ia berbicara masalah ilmu, ia juga menuntut amal. Ia menjanjikan pahala, dan juga menjelaskan konsekuensi dosa dan siksa, baik di dunia maupun di akhirat. Ia mengajarkan do'a, ia juga membicarakan qital (peperangan). Ia memerintahkan shalat dan zakat, ia juga mewajibkan jihad. Ajaran Islam bersifat sempurna. Ia tidak perlu lagi mengadopsi dan mengambil manhaj (aturan) dari suatu sistem kuffar. Ia tidak memerlukan lagi sistem Barat, Timur, Utara, maupun prinsip Selatan. Ia mengatur segala masalah dan urusan, dari masalah kecil hingga masalah besar. Firman Allah: "Dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (al-Qur`an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat & kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri." (QS. An-Nahl: 89) Abu Bakar as-Shidiq pernah berkata: "Seandainya aku kehilangan tali unta niscaya akan kutemukan masalahnya di dalam al-Qur`an". Seluruh aspek di dalam ajaran Islam merupakan syari'at yang saling melengkapi dan menyempurnakan, sehingga dalam pelaksanaannya tidak boleh diambil "kepalanya" dan dibuang "ekornya", dipakai "tangannya" dan dipotong "kakinya", tetapi syari'at Islam harus diperjuangkan dan diamalkan secara menyeluruh (kaffah). Islam adalah aturan hidup (manhaj al hayah/way of life) yang luhur, terjaga dan mulia, tidak ada lagi aturan atau sistem yang menyamai dalam keagungan dan kesempurnaannya apalagi melampauinya. Kekuasaan: Janji Bersyarat Manusia diciptakan oleh Allah Sub-hanahu wa Ta'ala agar mereka (manusia) tunduk, patuh dan ta'at kepada (syari'at)-Nya. Mereka diperintahkan untuk menegakkan syari'at tersebut dalam kehidupan di dunia dan mengaktualkan "bayang-bayang" surga di muka bumi ini dengan benar-benar mengaplikasikan Al-Qur'an yang mulia dengan petunjuk pelaksanaan-nya di dalam sunnah Rasulullah Shallal-lahu 'alaihi wa sallam. Tetapi di antara ma-nusia ada yang beriman dengan benar kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan ada pula yang kafir kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (Al-Qur'an) yang mulia, agar ia menyeru manusia untuk mentauhidkan Allah saja dan memenangkan syari'at-Nya atas aga-ma (aturan) yang lainnya. "Dialah (Allah) yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang Musyrik benci."(QS. Ash-Shaf: 9) Pada perjalanannya, untuk menegakkan syari'at Islam pasti akan didapatkan rintangan yang menghalangi, bara fitnah yang membakar dan badai ujian yang menerpanya. Dari ujian inilah manusia mulai berfikir dan mencari, meraba dan berhitung serta memutar otaknya seolah-olah Islam tidak memberikan jawaban-nya. Seolah-olah Islam tidak menunjuk-kan solusinya. Akibatnya pada masa-masa belakangan, sebagian muslimin mengang-gap bahwa kekuasaan harus diraih dulu, legitimasi dan pengakuan publik harus direbut dulu, sehingga Islam akan mudah untuk ditegakkan. Padahal Allah Subha-nahu wa Ta'ala telah memberikan janji-Nya dalam surat An-Nur ayat 55: "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diatara kamu dan me-ngerjakan amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi me-reka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada da-lam ketakutan menjadi aman sentosa. Mere-ka tetap mengibadahi-Ku dengan tiada menyekutukan apapun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik" Jika kita mau mencermati ayat di atas, jelas bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala, menunjukkan kepada kita bahwa kekuasaan adalah satu pemberian bersya-rat. Ia dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada orang yang benar-benar beriman dan beramal shaleh. Tidak dijan-jikan kepada orang-orang yang hanya beriman dalam pengakuan saja. Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak menjajikan kekuasaan kepada orang-orang yang memperebutkannya. Dia akan memberikan kekuasaan (mulk) kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya, dan Ia akan mencabut kekuasaan (mulk) dari orang-orang yang dikehendaki-Nya pula. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Katakanlah, "Wahai Tuhan pemilik kera-jaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Kau kehendaki dan Engkau cabut kera-jaan dari orang yang Kau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Kau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Kau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan se-sungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali-Imran : 26) Patut kita renungkan tarikh perjalan-an da'wah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau tidak menjadikan kekuasaan sebagai tujuan dan tidak pula sebagai sa-rana/alat yang diutamakan dalam penye-baran dakwahnya. Ketika ditawari kekua-saan ia menolaknya. Bukan hanya karena syarat yang mengharuskan beliau mening-galkan da'wah. Tapi karena da'wah de-ngan kekuasaan dan paksaan hanya akan menghasilkan keterpaksaan dan pemaksa-an untuk memeluk Islam. Hal ini bahkan dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Laa ikraha fiddin !" Raja Najasi pun tidak diperintahkan menjadikan kedudukannya sebagai sarana untuk memaksa rakyatnya agar mereka mengikuti jejaknya. Seandainya penggunaan kekuasaan dianjurkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentu Najasi tidak akan meninggalkan sunnah ini. Khalifah Umar bin Khattab menasi-hati wali (gubernur)-nya agar tidak me-maksa seorang warganya yang beragama Yahudi untuk menjual tanahnya. Padahal tanah itu diperlukan dalam proyek reno-vasi dan pelebaran masjid. Mengapa Ami-rul Muminin menasihati walinya seolah-olah walinya tidak mempunyai hak untuk membangun dan memperbesar masjid ? apakah walinya tidak mempunyai kekua-saan terhadap rakyat (ro'iyah)-nya, Apalagi dia seorang Yahudi? Hal itu berarti tidak diperbolehkannya penggunaan kekuasaan sebagai alat untuk memaksa dan atau menzholimi ummat. Para sahabat tetap berdakwah dan berjihad, meski eksistensi mereka masih didustakan, kedudukan mereka masih di-ragukan dan sebagian manusia masih me-nolak bahkan memerangi mereka. Abdul-lah ibnu Ruwahah berkata kepada para sahabat lain ketika memerangi orang-orang musyrik dan kemusyrikannya: "Demi Allah kita memerangi mereka bukan karena kita banyak bilangannya, memiliki persenjataan dan kekuatan tetapi kita meme-rangi mereka disebabkan oleh agama ini (Is-lam) yang dengan memeluknya kita telah di-muliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala" Takhtim Kekuasaan yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala hanya akan diberikan pada orang-orang yang benar-benar ber-iman, bukan diperuntukan bagi orang-orang yang hanya mengaku beriman. Di-peruntukkan bagi mukmin yang beramal shalih bukan untuk mereka yang selalu menyalahi al-Qur'an dan as-Sunnah yang suci. Kekuasaan telah dijanjikan di dalam Al-Qur'an (baca QS. A-Nur: 55) serta di dalam kitab-kitab samawi lainnya. "Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Za-bur, sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mah-fudz, bahwa bumi ini dipusakai oleh hamba-hambaku yang shaleh". (QS. Al-Anbiya: 105) Terima kasih Yayan. H NC Drilling CMKS (I) ext 101 [Non-text portions of this message have been removed]

