Romadhon رمضان
   
  
  
  Wahai orang-orang yang beriman! Kamu diwajibkan berpuasa sebagaimana 
diwajibkan atas orang-orang yang dahulu daripada kamu, 
  supaya kamu bertaqwa.
  (QS. Al-Baqoroh: 183)
   
  Ramadhan, Ramadan atau Romadhon (bahasa Arab:رمضان) adalah bulan kesembilan 
dalam penanggalan Hijriyah (sistem penanggalan agama Islam). 
  
Sepanjang bulan ini pemeluk agama Islam melakukan serangkaian aktivitas 
keagamaan termasuk di dalamnya berpuasa, shalat tarawih, peringatan turunnya Al 
Qur'an, mencari malam Laylatul Qadar, memperbanyak membaca Al Qur'an dan 
kemudian mengakhirinya dengan membayar zakat fitrah dan rangkaian perayaan Idul 
Fitri. 
   
  Kekhususan bulan Ramadhan ini bagi pemeluk agama Islam tergambar pada Al 
Qur'an pada surat Al Baqarah ayat 185 yang artinya:
   
  "bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur'an sebagai petunjuk 
bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. 
Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia 
berpuasa pada bulan itu..." 
   
   
  
   Etimologi
Ramadhan berasal dari akar kata ر م ﺿ , yang berarti panas yang menyengat atau 
kekeringan, khususnya pada tanah. Dari akar kata tersebut kata Ramadhan 
digunakan untuk mengindikasikan adanya sensasi panas saat seseorang kehausan. 
Pendapat lain mengatakan bahwa kata Ramadhan digunakan karena pada bulan itu 
dosa-dosa dihapuskan oleh perbuatan baik sebagaimana matahari membakar tanah. 
Lebih lanjut lagi hal itu dikiaskan dengan dimanfaatkannya momen Ramadhan oleh 
para penganut Islam yang serius untuk mencairkan, menata ulang dan 
memperbaharui kekuatan fisik, spiritual dan tingkah lakunya, sebagaimana panas 
merepresentasikan sesuatu yang dapat mencairkan materi.[1]
   
   
  
  
 Aktivitas keagamaan
 Suasana berbuka puasa bersama.
   
  
  Puasa Ramadhan
Artikel utama: Puasa (Islam)
Selama bulan Ramadhan, penganut agama Islam akan berpuasa setiap hari. 
Aktivitas muslim yang akan berpuasa dimulai dari sahur, yakni makan ringan 
sebelum waktu puasa (terbitnya fajar).[1] Setelah sahur, mereka yang berpuasa 
harus menahan diri dari makan, minum dan berhubungan seksual antara suami-istri 
hingga tiba waktu berbuka yakni saat terbenamnya matahari. Saat berbuka (atau 
dikenal dengan istilah iftar), yang juga ditandai dengan masuknya waktu shalat 
maghrib, mereka yang berpuasa akan berbuka dengan kurma[2] atau air putih[3].
   
  Dari Anas bin Malik ia berkata : “Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab 
(kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau 
berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau 
meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud) 
  
Nabi Muhammad Saw berkata : “Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah 
berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan 
air, maka sesungguhnya air itu suci.” 
  
Hadits di atas sering secara salah dipersepsi masyarakat sebagai anjuran 
Rasulullah untuk berbuka puasa dengan yang manis-manis. Padahal itu tidak 
tepat, dan berbuka puasa dengan makanan atau minuman manis justru merusak 
kesehatan.[3].
   
  

  
  Shalat tarawih
Artikel utama: Shalat Tarawih
Pada malam harinya, tepatnya setelah shalat isya, para penganut agama Islam 
melanjutkan ibadahnya dengan melaksanakan shalat tarawih. Shalat khusus yang 
hanya dilakukan pada bulan Ramadhan. Shalat tarawih, walaupun dapat 
dilaksanakan dengan sendiri-sendiri, umumnya dilakukan secara berjama'ah di 
masjid-masjid. Terkadang sebelum pelaksanaan shalat tarawih pada tepat-tempat 
tertentu, diadakan ceramah singkat untuk memberkali para jama'ah dalam 
menunaikan ibadah pada bulan bersangkutan.
   
  

  
  Turunnya Al Qur'an
Artikel utama: Nuzulul Qur'an
Pada bulan ini di Indonesia, tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan, (terdapat 
perbedaan pendapat para ulama mengenai tanggal pasti turunnya Al Qur'an untuk 
pertama kalinya[4]) diperingati juga sebagai hari turunnya ayat Al Qur'an 
(nuzulul qur'an) untuk pertama kalinya oleh sebagian muslim. Pada peristiwa 
tersebut surat Al Alaq ayat 1 sampai 5 diturunkan pada saat Nabi Muhammad SAW 
sedang berada di Gua Hira. Peringatan peristiwa ini biasanya dilakukan dengan 
acara ceramah di masjid-masjid.
   
  

  
  Laylatul Qadar
Artikel utama: Laylatul Qadar
Laylatul Qadar (malam ketetapan), adalah satu malam yang khusus terjadi di 
bulan Ramadhan. Malam ini dikatakan dalam Al Qur'an pada surat Al Qadar, lebih 
baik daripada seribu bulan. Saat pasti berlangsungnya malam ini tidak diketahui 
namun menurut beberapa riwayat, malam ini jatuh pada 10 malam terakhir pada 
bulan Ramadhan, tepatnya pada salah satu malam ganjil yakni malam ke-21, 23, 
25, 27 atau ke-29. Sebagian muslim biasanya berusaha tidak melewatkan malam ini 
dengan menjaga diri tetap terjaga pada malam-malam terakhir Ramadhan sembari 
beribadah sepanjang malam.[5]
  

  
  Umrah
Artikel utama: Umrah
Ibadah umrah jika dilakukan pada bulan ini mempunyai nilai dan pahala yang 
lebih bila dibandingkan dengan bulan yang lain. Dalam Hadits dikatakan "Umrah 
di bulan Romadhan sebanding dengan haji atau haji bersamaku." (HR: Bukhari dan 
Muslim).[6]
  

  
  Zakat Fitrah
Artikel utama: Zakat Fitrah
Zakat fitrah adalah zakat yang dikeluarkan khusus pada bulan Ramadhan atau 
paling lambat sebelum selesainya shalat ied. Setiap individu muslim yang 
berkemampuan wajib membayar zakat jenis ini. Besarnya zakat fitrah yang harus 
dikeluarkan per individu adalah satu sha' makanan pokok di daerah bersangkutan. 
Jumlah ini bila dikonversikan kira-kira setara dengan 3,1 liter atau 2,176 
liter beras. Penerima Zakat secara umum ditetapkan dalam 8 golongan (fakir, 
miskin, amil, muallaf, hamba sahaya, gharimin, fisabilillah, ibnu sabil) namun 
menurut beberapa ulama khusus untuk zakat fitrah mesti didahulukan kepada dua 
golongan pertama yakni fakir dan miskin. Pendapat ini disandarkan dengan alasan 
bahwa jumlah zakat yang sangat kecil sementara salah satu tujuannya 
dikeluarkannya zakat fitrah adalah agar para fakir dan miskin dapat ikut 
merayakan hari raya.
  

  
  Idul Fitri
Artikel utama: Idul Fitri dan Takbiran
Akhir dari bulan Ramadhan dirayakan dengan sukacita oleh seluruh muslim di 
dunia. Pada malam harinya (malam 1 syawal), yang biasa disebut malam 
kemenangan, mereka akan mengumandangkan takbir bersama-sama. Di Indonesia 
sendiri ritual ini menjadi tontonan yang menarik karena biasanya para penduduk 
(yang beragama Islam) akan mengumandangkan takbir sambil berpawai keliling kota 
dan kampung, terkadang dilengkapi dengan memukul beduk dan menyalakan kembang 
api.
  Esoknya tanggal 1 Syawal, yang dirayakan sebagai hari raya Idul Fitri, baik 
laki-laki maupun perempuan muslim akan memadati masjid maupun lapangan tempat 
akan dilakukannya Shalat Ied. Shalat dilakukan dua raka'at kemudian akan 
diakhiri oleh dua khotbah mengenai Idul Fitri. Perayaan kemudian dilanjutkan 
dengan acara saling memberi ma'af di antara para muslim, dan sekaligus 
mengakhiri seluruh rangkaian aktivitas keagamaan khusus yang menyertai Ramadhan.
  

  
  Penentuan awal Ramadhan
Artikel utama: hilal
Kalender Hijriyah didasarkan pada revolusi bulan mengelilingi bumi dan awal 
setiap bulan ditetapkan saat terjadinya hilal (bulan sabit). Metode penentuan 
saat terjadinya hilal yang digunakan saat ini adalah metode penglihatan dengan 
mata telanjang (dikenal dengan istilah rukyah) serta menggunakan metode 
perhitungan astronomi (dikenal dengan istilah hisab). Majelis Ulama Indonesia 
menggunakan kombinasi hisab dan rukyah untuk penentuan hilal. Nahdlatul Ulama 
(NU) menggunakan metode rukyah sementara Muhammadiyah dan Persatuan Islam 
menggunakan hisab sebagai sandaran penentuan hilal.[7] Perbedaan metode ini 
menyebabkan adanya kemungkinan perbedaan hasil penetapan kapan awal dan 
berakhirnya Ramadhan sebagaimana sempat terjadi pada tahun 1998 (1418 H).
  

  
  Aspek ekonomi
 Pemandangan tipikal sebuah Baazar Ramadhan di Kuala Lumpur, Malaysia.Bulan 
Ramadhan di Indonesia dan negara dengan penduduk mayoritas Islam pada umumnya 
dapat dihubungkan dengan meningkatnya daya beli dan perilaku konsumtif 
masyarakat akan barang dan jasa. Di Indonesia sendiri hal ini terkait erat 
dengan kebiasaan pemerintah dan perusahaan swasta untuk memberikan Tunjangan 
Hari Raya (THR) kepada para pegawainya. Peningkatan ini terjadi di hampir semua 
sektor dari transportasi, makanan, minuman hingga kebutuhan rumah tangga. 
Sehingga tidak jarang tingkat inflasi pun mencapai titik tertinggi pada periode 
bulan ini.[8] Fenomena ini secara kasat mata terlihat dengan menjamurnya para 
pedagang musiman yang menjajakan berbagai komoditas mulai dari makanan hingga 
pakaian, di ruang-ruang publik terutama di pinggir jalanan. Di samping juga 
maraknya penyelenggaraan bazaar baik yang disponsori oleh pemerintah, swasta, 
organisasi tertentu maupun swadaya masyarakat.
  

  
  Lain-lain
Pada bulan ini pada sebagian daerah di Indonesia, berkembang kebiasaan 
jalan-jalan sembari menunggu waktu berbuka, di Bandung kebiasaan ini dikenal 
dengan nama Ngabuburit, di Indramayu dikenal dengan nama Luru Sore (Cari Sore). 
Biasanya saat ini juga dimanfaatkan untuk membeli makanan dan minuman untuk 
dipergunakan saat berbuka puasa. 
  
Di Indonesia umummnya orang berbuka puasa dengan yang manis-manis, padahal 
hidangan yang mengadung gula tinggi justru akan mengakibatkan dampak yang buruk 
bagi kesehatan. Hal ini berasal dari kesimpulan yang tergesa-gesa atas sebuah 
hadits bahwa Rasulullah berbuka puasa dengan kurma. Karena kurma rasanya manis, 
maka muncul anggapan bahwa berbuka (disunahkan) dengan yang manis-manis. Pada 
akhirnya kesimpulan ini menjadi waham dan memunculkan budaya berbuka puasa yang 
keliru di tengah masyarakat[3]. 
   
  Peristiwa penting yang terjadi pada bulan Ramadhan
Perang Badar: 17 Ramadhan 2 AH - Adalah pertempuran pertama yang dilakukan kaum 
Muslim setelah mereka bermigrasi (hijrah) ke Madinah melawan kaum Quraisy dari 
Mekkah. Pertempuran berakhir dengan kemenangan pihak Muslim yang berkekuatan 
313 orang melawan sekitar 1000 orang dari Mekkah. 
  
Pembunuhan atas Ali bin Abi Thalib: 21 Ramadhan 40 H: Khulafaur Rasyidin 
keempat dan terakhir, dibunuh oleh seorang Khawarij yang bernama Abdurrahman 
bin Muljam. Beliau meninggal pada tanggal 23 Ramadhan tahun itu juga. 
Kematiannya menandai berakhirnya sistem kekhalifahan Islam, dan kemudian 
dimulai dengan sistem dinasti. 
  ======================================================
  Oleh Karena itu, saya atas nama pribadi mengucapkan Mohon maaf lahir bathin 
kepada semua rekan2 Milis.
   
  Selamat menunaikan Ibadah Shaum Romadhon, semoga amal ibadah kita diterima 
oleh Alah SWT dan kita diberi rizki yang banyak, halal berkah dan bermanfaat 
serta Meninggal dalam keadaaan KhusnulKhatimah. AMien
   
  Salam Hormat
   
  ttd.
   
  Hari
   
   
   
   
  


       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke