Heboh, Pria Berjilbab di Pengajian Wanita di kota Malang

Fakta

04 Sep 07 - 4:26 am

Kota Malang kembali gempar. Kalau sebelumnya disebabkan karena segolongan
orang menghina Alquran, kini kejadian hampir sama terjadi di Masjid
As-salam Bendungan, Rian Kanan, Malang. Jamaah pengajian muslimah di
masjid tersebut gempar karena dimasuki laki-laki bercadar dengan
berpura-pura seperti wanita. Bagaimana hal itu terjadi? Apa motifnya?
Berikut liputannya.

AHAD (15/4) sekitar pukul 10.00 Wib, seperti biasa jamaah pengajian
muslimah Masjid Assalam melakukan kegiatan rutin. Jamaah pengajian yang
diasuh Ustad Abdullah Said Alhadromy sebenarnya berlangsung seperti biasa.
Namun, pagi itu ada peristiwa yang cukup unik tetapi membahayakan bagi
kerukunan umat beragama. Ada seorang laki-laki berjilbab dan mengenakan
cadar ikut hadir di tengah-tengah pengajian Ahad pagi itu.

"Para jamaah perempuan curiga karena tingkah lakunya sangat aneh. Ketika
ditanya, suaranya pelan dan mirip suara laki-laki. Dan pandangannya
tertuju ke semua tempat. Pokoknya sangat mencurigakan begitulah," ujar
Ustad Abdullah. Namun, para jamaah perempuan itu tak lantas melapor ke
para jamaah laki-laki. Namun, mereka saling membicarakan mengenai sosok
jamaah yang tak dikenal ini dengan sesama jamaah.

"Para jamaah perempuan ini sebetulnya masih belum tahu kalau sebenarnya
penyusup ini sebenarnya seorang laki-laki," tegasnya. :foto

PENYUSUPAN
Memang saat itu ada penyusupan yang dilakukan Thomas Prasetyo, WNI
keturunan yang tinggal di Bareng Selatan, Malang. Dari identitasnya
diketahui bahwa laki-laki ini beragama Kristen. Pengajian yang digelar
setiap hari Ahad, pukul 08.00 s.d. 10.00 Wib itu berjalan lancar
sebagaimana semestinya. Ustad Abdullah dengan gamblang menerangkan
materi-materi pengajian. Sampai akhirnya pengajian usai, Thomas yang
melakukan penyusupan ini dengan cepat keluar. Melihat gelagat yang sangat
mencurigakan, sebagian jamaah perempuan kemudian melakukan inisiatif
melapor ke jamaah laki-laki. Setelah mendapat laporan akan hadirnya jamaah
yang mencurigakan, jamaah laki-laki kemudian membuntuti dari belakang.

Kecurigaan itu semakin kuat setelah diketahui bahwa penyusup itu ternyata
memakai sepatu laki-laki. Kegiatan penyusupan itu terkuak ketika Thomas
tidak lantas pulang. Thomas kembali masuk masjid tanpa melepas sepatunya.
Dengan melihat keanehan itu akhirnya para jamaah menangkap Thomas dan
membuka kerudung dan cadar yang dikenakan.

"Jamaah baru tahu setelah kerudung dan cadarnya dibuka. Ternyata dia
laki-laki," tegasnya. Melihat kenyataan seperti itu, para jamaah pun
berang. Keributan kecil terjadi. Untunglah, para jamaah asuhan Ustad
Abdullah ini dapat menahan diri. Ustad Abdullah sendiri bersama jamaah
lain membawa Thomas ke pihak yang berwajib.

"Ya begitulah kronologi kejadiannya. Kami tidak tahu apa sebenarnya motif
melakukan semua ini. Namun, saat ditanya oleh jamaah dia bilang kalau
ingin belajar Islam," kata Ustad Abdullah.

PAKAI CADAR
Terkuaknya penyusupan yang dilakukan Thomas Prasetyo ini tentu saja
membuat masyarakat Muslim, khususnya kota Malang kembali harus mengerutkan
dahi. Pasalnya, persoalan penistaan agama yang dilakukan oleh sekelompok
orang di Hotel Asida, Batu, Malang itu kini belum selesai. Kasusnya masih
dalam proses pihak kejaksaan setempat, kini harus ditambah masalah baru.

Rentetan kejadian ini tentu saja membuat berbagai pihak bertanya-tanya,
apa motif di belakang semua ini. Apakah perbuatan Thomas ini hanya
sepenggal kejadian yang ingin belajar tentang Islam? Ataukah perbuatanya
itu bagian kecil dari grand design yang dilakukan kelompok tertentu?

Menurut Mashud, pakar Kristolog asal Sidoarjo, apa yang dilakukan Thomas
Prasetyo ini merupakan bagian dari skenario besar yang dilakukan oleh
kelompok-kelompok non-Islam.

"Mereka ingin membuat kota Malang jadi tidak tenang. Dan ketentraman
antarumat beragama yang selama ini terjalin sangat kuat di kota Malang itu
jadi pudar. Itu yang mereka inginkan," kata Mashud menganalisis. Oleh
sebab itu, kata Mashud, pengakuan Thomas Prasetyo yang ingin belajar Islam
tidak bisa begitu saja dibenarkan.

JARINGAN INTERNASIONAL
Memang pengakuan Thomas yang ingin belajar Islam ternyata harus diabaikan.
Secara logika dengna melihat fakta-fakta yang ada sulit sekali alasan
ingin belajar Islam dibenarkan.

"Kalau seandainya dia ingin betul-betul belajar Islam, lalu kenapa harus
menyamar jadi perempuan dengan memakai kerudung dan cadar? Padahal di sana
itu ada jamaah laki-laki," tegas Mashud.

Tidak hanya itu saja. Saat dilakukan penggeledahan, para jamaah juga
menemukan ponsel Thomas yang isinya berbahasa Inggris. Dalam SMS yang
berbahasa Inggris itu lebih banyak memberikan pesan untuk penyebarkan
ajaran Yesus. Dari bukti-bukti SMS ini membuat pengakuan Thomas yang ingin
belajar Islam semakin menipis. Menurut Mashud, penyusupan yang dilakukan
Thomas ini ada kaitannya dengan kasus VCD training doa yang dilakukan oleh
LPMI di Hotel Asida Batu.

"Keduanya sangat erat dengan agenda jaringan Kristiani internasinal," ujar
Mashud. Bukti-bukti adanya permainan internasional ini secara kasat mata
bisa dilihat. Munculnya SMS berbahasa Inggris dengan isi tentang misi-misi
ajaran Yesus. Juga diketahui bahwa Thomas adalah seorang aktivis Katholik
yang mengadakan persekutuan doa keliling.

"Melihat semua ini kami menyarankan umat Islam, terutama umat Islam yang
ada di kota Malang harus hati-hati. Mereka ingin membuat umat Islam marah
dan kemudian melakukan onar dengan membakar gereja-gereja. Ini bagian dari
misi mereka," urai Mashud. 04/lis

sumber : http://www.tabloidnurani.com/RUBRIK/335/serambi.html

PRIA KATHOLIK BERCADAR MENYUSUP DI MAJELIS TA'LIM SALAFY
Hari senin sore (16 April 2007), isteri saya yang baru pulang dari co-ass
dari RSSA memberitahukan kepada saya, bahwa teman-teman akhowat isteri
saya menceritakan kepadanya bahwa pada hari Ahad (15 April 2007) di Masjid
As-Salam (Jl. Bendungan Sigura-gura, Malang) yang sedang berlangsung
majelis ta'lim yang diasuh oleh al-Ustadz Abdulloh Hadhromi
hafizhahullahu, disusupi seorang pria yang menyamar jadi akhowat. Berita
ini -kata isteri saya- masuk di koran Radar Malang (Jawa Post Group).

Beberapa hari kemudian, seorang ikhwan yang hadir di pengajian,
mengirimkan kepada saya rekaman kejadian yang diambil dengan Handphone via
email. Saya juga mendapatkan kronologis kejadian dan analisis yang disusun
oleh seorang ikhwan terkait kejadian tersebut.

Beberapa waktu sebelumnya, di Batu - Malang, di sebuah hotel terjadi kasus
penghujatan kitab suci Al-Qur'an yang dilakukan oleh kalangan Nasrani yang
'aneh'-nya mereka semua berpakai pakaian layaknya kaum muslimin. Kasus ini
sempat keluar sekilas di media massa dan elektronik dengan pemberitaan
seadanya dan dinyatakan bernuansa SARA. Saya melihat sempat rekaman
kejadian ini pada saat saya berkunjung ke wisma as-Sunnah Malang.

Pria katolik yang tertangkap ini, mengaku bahwa dirinya sengaja menyusup
karena ingin belajar dan mendalami Islam. Namun, banyak
kejanggalan-kejanggalan dari pengakuannya, sebagaimana diberitakan oleh
para ikhwan yang hadir di majelis ta'lim tersebut.

Di antara kejanggalan tersebut adalah :

1. Sekiranya ia ingin belajar Islam, mengapa ia harus menyusup ke barisan
akhowat. Kenapa tidak langsung hadir saja ke tempat ikhwan.

Ketika diinterogasi -waktu tertangkap dan juga sebagaimana termuat di
koran-, ia beralasan bahwa ia sengaja menyamar jadi wanita bercadar agar
tidak ada teman-temannya yang mengetahuinya. Oleh karena itu ia menyamar
jadi wanita bercadar agar tidak ada yang mengenalnya.

Alasannya ini ditampik, karena ada saksi yang melihat bahwa ia datang
digonceng oleh seorang pria, menurunkannya di Masjid lalu pria tersebut
pergi. Jika ia beralasan khawatir diketahui teman-temannya yang kristiani,
lantas mengapa ia datang dalam keadaan dibonceng?!

2. Ketika pengajian berlangsung, ia sibuk dengan handphonenya. Para saksi
melihat bahwa ia sibuk menulis sms dan suara ketikan sms-nyapun sampai
terdengar. Apabila ia ingin belajar Islam, mengapa ia tidak mendengarkan
kajian namun malah sibuk dengan sms.

3. Ketika tertangkap, salah seorang ikhwan berhasil memback-up isi
handphonennya. Di dalamnya penuh dengan sms berbahasa inggeris dan
ucapan-ucapan yang bernuansa kristiani. [Lihat lampiran analisis di
bawah].

4. Ia memiliki kartu pujian gereja, yang menunjukkan bahwa ia adalah
aktivis gereja. Bahasa sms-nya juga menunjukkan akan hal ini.

5. Persiapannya di dalam menyusup, menunjukkan bahwa dia harus sampai
perlu mempersiapkan dan membeli baju akhowat lengkap dengan cadarnya.

6. Banyaknya bon-bon dan hasil penarikan uang di ATM dalam jumlah besar.
Seakan-akan ada sindikat terorganisir yang berada di belakangnya yang
membiayai aktivitasnya. Dll.

Wallohu a'lam, akan kebenaran pasti motif si pria ini menyusup ke dalam
pengajian. Namun yang penting di sini, umat Islam harus waspada dan
berhati-hati. Karena upaya kristenisasi dan pemurtadan memang lagi sangat
marak, dan aktivitas 'mata-mata' yang menyusup untuk mencari-cari berita
kaum muslimin telah terjadi semenjak dahulu.

Dalam masalah ini kaum muslimin juga harus berhati-hati. Jangan mudah
terpancing emosi dan main hakim sendiri. Kaum muslimin harus tenang dan
menyerahkan masalah ini kepada ahlinya : para asatidzah, ulama dan umara'.
Jangan bertindak sendiri-sendiri dengan main hakim sendiri. Kaum muslimin
tetap harus menggunakan akal sehat, taktik dan strategi di dalam
menghadapi masalah-masalah seperti ini.

Kita harus sadar, bahwa kejahatan kristenisasi kini dilengkapi dengan
kenyataan yang sangat berbahaya, diantaranya dengan cara perkosaan
terhadap kaum muslimah. Di dalam "Dialog" (Jum'at. 6 Agustus 1999)
sebagaimana dinukil oleh selebaran LPPI, diberitakan bahwa seorang murid
Madrasah Aliyah di Padang, Khairiyah Enisnawati alias Wawah (17 thn)
pelajar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Gunung Pangilun, Padang, Sumatera
Barat adalah salah satu dari 500 orang Minang yang dimurtadkan. Gadis
berjilbab itu diculik, diperkosa dan dipaksa keluar dari agamanya lewat
misi rahasia yang dijalankan sekelompok orang Kristen, di rumah Salmon
seorang Jemaat Gereja Protestan di Jl. Bagindo Aziz Chan, Padang tempat
memaksa Wawah untuk membuka jilbab dan masuk Kristen.

Gereja itu dipimpin Pendeta Willy, sedang Salmon adalah jemaat yang juga
karyawan PDAM Padang. (lihat Dialog Jumat, 6 Agustus 1999). Dengan aneka
kelicikan, kebrutalan dan bahkan pemerkosaan seperti tersebut di atas,
jumlah orang Kristen di Indonesia makin menanjak secara drastis. Dari
hanya 2,8% pada tahun 1931 menjadi 7,4% pada 1971 dan hampir 10% pada
1990. Kebrutalan dan kebiadaban mereka itu menimbulkan aneka konflik pula
secara bertubi-tubi. Diantaranya kerusuhan antara Muslimin dan Nasrani di
Dili Timor Timur (1994), Maumere NTT (1995), Surabaya dan Situbondo Jatim
(1996), Tasikmalaya (1997), Ketapang dan Kupang, serta Ambon dan Sambas
(1999).

Pertemuan 300 pimpinan gereja dari 50 negara di Singapura, Januari 1989,
kemudian pada 6 Januari 1991 dilancarkan apa yang disebut Dekade
Evangelisasi, yakni "Manifestasi Kristus kepada gentiles (non Kristen)".
Berdasarkan interpelasi angka Gereja dari 5.100.000.000 penduduk dunia
dewasa ini, orang Kristen berjumlah 1.665.000.000. Berarti ada sekitar
3.435.000.000 penduduk dunia yang harus dikristenkan, menurut mereka.
(Media Dakwah, Agustus 1999, hal. 16)

Dari memperkosa muslimah lalu memurtadkan, sampai mengamen di bus-bus kota
dengan lagu Gerejani telah mereka gencarkan.

Maka benar dan terbuktilah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : "Orang-orang
Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti
agama mereka". (Q.S. Al-Baqarah 120).

Maka waspadalah wahai kaum muslimin!!!

Untuk yg bisa buka internet bisa link ke bawah ini
http://forum.swaramuslim.com/more.php?id=4244_0_24_0_M


Suasana saat Interogasi


       
---------------------------------
Pinpoint customers who are looking for what you sell. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke