Terimakasih atas dukungan Bapak Rizqullah, saya yakin meskipun Bapak saat ini
sedang tidak terlibat secara langsung dalam pengelolaan unit usaha syariah
tetapi semangat Bapak tetap membara dalam mengembangkan ekonomi syariah. Semoga
semua aktivitas Bapak dalam mengembangkan ekonomi syariah saat ini baik melalui
media yang Bapak kelola maupun melalui corporate Bapak bertugas yang akan
mengembangkan usaha syariah lebih besar lagi mendapat ridho dari Allah SWT.
Bekerja di lembaga syariah bukanlah sebuah tantangan yang ringan. Betapa
banyak anak muda yang pada awalnya begitu semangat untuk membangun ekonomi
syariah dengan melamar bekerja ke lembaga syariah dengan konsekuensi
penghasilan yang diperoleh "mungkin" lebih kecil daripada di lembaga
konvensional. Mereka mempunyai kapasitas di atas rata-rata. Namun sayang,
sebagian mereka belum mempunyai "jiwa" yang tahan banting. Sedikit menghadapi
realita yang tidak sesuai dengan "bayangan" mereka yang sangat "idealis" mereka
langsung mundur. Untuk itu saya berharap kepada para pemegang otoritas baik di
lembaga perbankan syariah Bank Indonesia, Departemen Keuangan, dan lainnya
serta Dewan Syariah Nasional dapat melihat perkembangan lembaga keuangan
syariah di Indonesia tidak hanya yang terlihat di permukaan saja. Banyak
hal-hal yang harus digali lebih dalam lagi agar perkembangan lembaga syraiah di
Indonesia tidak layu sebelum berkembang. Kita harus sadari, bahwa tidak semua
orang
mempunyai motivasi yang sama dalam keterlibatan mereka pada perkembangan
lembaga keuangan syariah yang signifikan 7 tahun terakhir ini.
Sebagai orang kecil yang tidak punya bargaining apa-apa, saya hanya bisa
mengajak marilah kita semua bersatu padu membangun sebuah komunitas ekonomi
bernilai islam di tanah air tercinta. Dan, mari pula kita kurangi ego kita
untuk mencapai sebuah kehidupan umat yang lebih baik.
Mohon maaf atas segala salah dan khilaf.
Wassalam
MERZA GAMAL
Pengkaji Sosial Ekonomi Islami
ris rizqullah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamu'alaikum wr wb
Salam kenal kepada Pak Nizami. nama saya Rizqullah dan pernah mengelola unit
usaha syariah selama kurang lebih 3,5 tahun.
Saya ingin urun rembug saja terhadap apa yang sudah disampaikanoleh bapak dan
ditanggapi oleh Pak Merza (Salam Pak..:)).
Sebagai praktisi Pak Merza tahu persis bagaimana kondisi perbankan syariah kita
saat ini. Saya berpendapat bahwa untuk dpat mengembangan lembaga keuangan
syariah atau yg lebih luas lagi ekonomi syariah memerlukan proses, perjuangan
tiada henti secara istiqomah. Kita menyadari bahwa Lembaga Keuangan Syariah
(LKS) masih relatif baru dan kita pada umumnya berasal dari lulusan sekolah dan
lingkungan yang konvensional sehingga pemikiran2 kita juga tidak terlepas dari
cara berpikir konvensional (baca kapitalis). Pemikiran yang hanya mementingkan
kebendaan dan sangat duniawi sifatnya. Sementara ekonomi syariah berlandaskan
pada quran dan hadits yang menjadikan harta benda hanya sebagai sasaran antara
didunia ini untuk mencapai sasaran akhir di akhirat kelak. Oleh karenanya untuk
dapat mengembangkan ekonomi syariah kita harus pula mendidik masyarakat dan
semua pemangku kepentingan untuk memiliki landasan dan cara berpikir yang sama.
Misalnya, kita sering menuntut bank syariah untuk
berlaku adil dan transparan kepada nasabahnya, tetapi masih banyak orang yg
lupa bahwa nasabah sendiripun dituntut untk berlaku yang sama kepada banknya.
Tetapi didalam praktek tidak demikian halnya. Oleh karena itulah mengapa skim
pembiayaan mudharabah dan musyarakah yang banyak dibahas dalam literatur
sebagai karakteristik suatu LKS, belum berkembang dengan baik bukan hanya di
Indonesia tetapi juga dinegara-negara lain.
Kita pada umumnya juga masih lebih suka membahas hal-hal yang kurang
substansial karena memang tingkat pemahaman kita juga baru sampai disitu. Di
California ada suatu bank kecil bernama Bank of whittier yang sama sekali tidak
menggunakan label 'syariah atau islam' pada nama banknya atau nama produk2nya
atau bahkan SOP nya, tetapi bank tersebut menerapkan nilai2 islam yang
universal itu baik terhadap produk dan SOPnya sehingga bank tersebut diterima
bukan hanya oleh orang islam tetapi juga oleh orang yahudi dan kristen.
Barangkali masyarakat kita atau bahkan otoritas moneter kita belum bisa
menerima bank seperti itu untuk beroperasi disini karena memang suatu bank
yang menggunakan prinsip syariah dalam oeprasinya harus menggunakan nama
'syariah' pada nama bank tersbut. Kedepan hal ini perlu dibahas lebih jauh
karena islam tidak hanya untuk orang yg beragama islam, tetapi islam adalah
rahmatan lil'alamin.
Perjalanan dan perjuangan masih jauh dan berat, terlebih lagi karena industri
keuangan syariah hidup dan berkembang sendiri dan kurang mendapat dukungan dari
pemerintah segaimana yang terjadi dinegara-negara lain. Namun demikian, dengan
semangat para mujtahid seperti pak Nizami dan pak Merza, Insya Allah ekonomi
syariah akan terus berkembang walaupun perlahan tapi pasti. Wallahu 'lam
bissawab. Insya Allah disambung lagi.
Salam
A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
---------------------------------
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story.
Play Sims Stories at Yahoo! Games.
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
From: A Nizami <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wed, 3 Oct 2007 20:07:14 -0700 (PDT)
Subject: [ekonomi-nasional] Re: {ekonomi-syariah} Hasil Diskusi Bank Syari'ah
Vs Bank Ribawi
Wa'alaikum salam wr wb,
Saya juga orang biasa saja pak Merza. Jika kebetulan
jadi pengurus di MIFTA dan IBF itu terjadi karena
orang-orang di kedua organisasi itu saat ini nyaris
tidak ada yang mau jadi ketua. Jadi saya mau tak mau
harus mengemban tugas itu agar kedua organisasi itu
hidup.
Kadang saya pakai gelar Ketua MIFTA sebab ada teman
yang protes kok tidak pakai gelar apa2, nanti dikira
organisasi MIFTA tidak punya pemimpin. Saya memang
lebih suka pakai nama saja (A Nizami atau Agus Nizami)
tanpa embel2 apa2.
Saat ini saya belum berperan apa2 dalam mengembangkan
Ekonomi Syariah kecuali membuat tulisan kecil. Mungkin
karena tidak terjun langsung ke lapangan, jadi bisa
lebih kritis. Biasa, penonton kan lebih "jago"
ketimbang pemain dalam komentar.
Namun pada dasarnya saya ingin bahwa Ekonomi Syariah
itu benar2 bermanfaat dan memudahkan ummat. Bukankah "
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak
menghendaki kesukaran bagimu." [Al Baqarah:185]. Jadi
sholat saja bisa berdiri, bisa duduk, bisa berbaring,
karena Allah memang ingin memudahkan hambanya sesuai
kemampuan mereka.
Terus terang saya salut dgn konsep syarikat dan bagi
hasil dalam musyarokah dan mudlorobah karena tidak
memberatkan kedua pihak. Rugi dan untung sama2 dibagi.
Jika kemudian keuntungannya 100 x lipat dari bunga
Bank Konvensional, menurut saya kalau sebagai syarikat
dalam usaha itu wajar. Cuma untuk kasus pinjaman rumah
yang ceritanya "Jual-Beli" memang saya kurang sepaham
dgn sebagian teman2 di sini.
Seperti dikatakan rekan2 lain, Ekonomi Syari'ah
hendaknya tidak mencakup sektor keuangan seperti Bank,
Asuransi, dan Pasar Modal. Apalagi jika sekedar jadi
"imitasi" dari konsep ekonomi Neoliberal yang
menggunakan Pasar Uang dan Pasar Modal sebagai alat
spekulasi pemilik modal/uang.
Konsep2 keadilan seperti pemilikan bersama atas air,
padang/tanah, dan api (energi) seperti hadits di bawah
juga harus diperjuangkan pegiat ekonomi Syari'ah:
Manusia berserikat dalam tiga hal yaitu air, rumput,
dan api. (HR Imam Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Majah).
Sebagai contoh di Natuna Exxon menguasai gas alam kita
dan mendapat 100% hasilnya. Itu kan tidak adil.
Harusnya 240 juta rakyat Indonesia juga mendapat
hasilnya. Tak heran jika Exxon bisa mengeruk
keuntungan rp 360 trilyun, sementara rakyat Indonesia
banyak yang kelaparan dan makan nasi aking.
Pakar di DSN harus bisa mengkritik dan mengeluarkan
fatwa bahwa itu tidak benar. Jika tidak Indonesia
tidak akan makmur karena kekayaan alamnya hanya
dinikmati perusahaan asing.
Saya juga setuju dgn konsep pak Merza untuk lebih
mengembangkan sektor riel. Semoga BMT2 dan Bank
Syariah bisa mengembangkan sektor ini.
Insya Allah teman2 saya di MIFTA (Muslim IT
Association) tengah mengembangkan aplikasi untuk LAZ
dan BMT. Semoga ini bisa berhasil dan membawa manfaat.
Saya berdoa semoga perjuangan teman2 mewujudkan
Ekonomi Syariah benar2 berhasil dan memang bermanfaat
bagi ummat dan jadi rahmatan lil 'alamiin. Amiiin.
Wassalam
--- Merza Gamal <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Pak Nizami dan semua sahabat milis Ekonomi Syariah
>
> Saya salut dengan semangat Bapak Nizami dalam
> mengembangkan syariah di Tanah Air, terutama melalui
> keahlian TI yang Bapak miliki. Saya sangat bangga
> dengan semangat Bapak membangun TV komunitas muslim
> di tanah air. Izinkanlah saya yang juga punya
> semangat besar, namun tidak punya bargaining
> apa-apa, memberikan sedikit pendapat tentang tema
> yang Bapak usung beberapa minggu ini di milis
> ekonomi syariah.
>
> Lembaga keuangan syariah, tidak dapat dinafikan,
> bau berkembang signifikan pada awal milenium ini.
> Sebagai sesuatu yang baru berkembang, tentu saja
> banyak kekuarangan di dalamnya. Demikian pula dengan
> motivasi berbagai personal yang terdapat dalam
> perkembangan tersebut. Sebagai seorang pengkaji,
> izinkanlah, saya mengemukakan beberapa tantangan
> besar yang dihadapi di lapangan dalam
> mengaplikasikan syariah pada lembaga keuangan. Ada
> beberapa jenis tantangan yang saya kemukakan.
>
> A. Tantangan dari sisi Consumer
> Behaviors:
> 1. Pemahaman masyarakat terhadap lembaga
> keuangan Syariah semakin baik, namun minat untuk
> menggunakannya masih kurang;
> 2. Masyarakat yang telah menjadi nasabah lembaga
> keuangan Syariah sebagian besar masih memiliki
> rekening konvensional dengan berbagai alasan;
> 3. Return on investment masih sensitif pada
> sebagian nasabah syariah;
> 4. Kesesuaian dengan prinsip syariah bukan
> segalanya dalam memilih layanan lembaga keuangan
> syariah;
> 5. Faktor layanan dan kemudahan bertransaksi
> merupakan hal utama dalam bertransaksi dengan
> lembaga keuangan syariah.
>
> B. Tantangan dari sisi Infrastruktur:
> 1. Kebijakan pemerintah di bidang perpajakan,
> legal, akuntansi belum mengakomodasi pengembangan
> lembaga keuangan Syariah;
> 2. Pemahaman dan penerapan aplikasi
> prinsip-prinsip syariah berpotensi tidak sama antara
> satu pihak dengan pihak lain;
> 3. Perangkat jenis transaksi antar lemabag
> keuangan dengan sistem syariah relatif masih
> terbatas;
> 4. Perangkat investasi keuangan syariah masih
> terbatas dan terkendala oleh peraturan perundangan
> yang belum tersedia.
> 5. Tidak semua ulama besar mendukung perkembangan
> lembaga keuangan syariah di Indonesia, bahkan
> sebagian kadang-kadang menimbulkan kontra produktif.
>
> Namun demikian, ada hal-hal yang merupakan sebuah
> perkembangan yang cukup baik dari beberapa yang
> mendukung perkembangan lembaga keuangan syariah di
> Indonesia seperti:
> 1. Semakin banyak departemen teknis yang
> menggunakan produk keuangan syariah dalam
> pengembangan proyek pembangunan;
> 2. Perhatian Bank Indonesia terhadap
> perkembangan perbankan syariah lebih meningkat dari
> sebelumnya yang dibuktikan dengan mulai terlibatnya
> direktorat-direktorat lain pada BI, selain
> Direktorat Perbankan Syariah,
> 3. Kecenderungan yang positif di sektor
> non-keuangan/ekonomi, seperti sistem pendidikan,
> hukum dan lain sebagainya menunjang pengembangan
> ekonomi syariah nasional;
> 4. Pengembangan instrumen keuangan syariah
> yang dilakukan oleh berbagai pihak, diharapkan akan
> semakin menarik investor/pelaku bisnis masuk dan
> membesarkan industri keuangan syariah nasional.
>
> Dengan demikian, semoga Bapak dan semua sahabat di
> milis ini dapat mengerti, bahwa apa yang sedang
> dibangun oleh beberapa sahabat yang memang punya
> semangat memang masih jauh dari sempurna. Menurut
> saya, adalah tugas kita bersama memperkuatnya sesuai
> dengan posisi dan kondisi kita saat ini. Adalah
> sebuah hal yang tidak bijak jika kita menginginkan
> kesempurnaan, namun kita tidak mau ikut
> berkontribusi mengembangkannya walau hanya dengan
> sebuah saran. Sebentar lagi pemain asing akan
> semakin menancapkan kukunya dalam berbagai bidang,
> tidak ketinggalan dalam pengembangan lembaga
> keuangan syariah. Kita semua sudah faham, bahwa dari
> sisi soft resource mereka jauh di atas kita. Apakah
> kita hanya mau jadi penonton saja????? Semua kembali
> kepada diri kita masing-masing.
>
> Mohon maaf atas segala salah dan khilaf.
>
> Wabillahi wal taufik wal hidayah.
>
> Wassalam
> MERZA GAMAL
> (Seseorang yang memiliki kemampuan kecil, namun
> punya semangat besar ingin melihat sistem ekonomi
> syariah berjaya di Indonesia)
>
> A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Assalamu'alaikum wr wb,
>
> Berikut hasil diskusi yang saya coba rangkum dari
> pernyataan-pernyataan di milis.
> Semoga nanti Bank Syari'ah bisa berkembang lebih
> baik
> sesuai dengan ajaran Islam dan jadi rahmatan lil
> 'alamin.
>
> Tulisan selengkapnya ada di:
> http://syiarislam.wordpress.com
>
> Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam
> kesukaran,
> maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan
> menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih
> baik bagimu, jika kamu mengetahui. [Al Baqarah:280]
>
> Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah
> [Al
> Baqarah:276]
>
> Wassalam
>
> Hasil Diskusi
>
> Ada beberapa diskusi mengenai lebih besarnya
> pengembalian pinjaman kepada Bank Syariah ketimbang
> Bank Riba/Konvensional.
>
> Pernyataan
>
> Yang Halal memang lebih mahal dari yang haram.
> Contoh
> daging sapi dan daging kambing lebih mahal daripada
> daging babi. Oleh karena itu wajar jika besar
> pengembalian Bank Syariah lebih besar dari Bank
> Konvensional/Riba!
>
> Jawaban
>
> Dari yang dicontohkan Nabi, ternyata air yang
> sebelumnya dijual mahal oleh orang Yahudi, oleh Nabi
> dan Sahabat diberikan secara gratis. Air putih lebih
> murah ketimbang bir yang haram. Ke masjid lebih
> murah
> ketimbang ke Diskotik yang haram.
>
> Surat Al Baqarah ayat 276, Allah melarang riba
> karena
> memberatkan dan menyuruh kita sedekah karena itu
> meringankan. Bukan membuat Bank Syariah yang
> ternyata lebih memberatkan dari Bank Riba. Bank
> Syariah harusnya lebih ringan dan memudahkan
> ketimbang Bank Riba.
>
> Pernyataan
>
> Wajar Bank Syariah lebih mahal sebab masih baru!
> Nanti kalau sudah banyak nasabah dan peminjamnya
> baru
> bisa lebih murah.
>
> Jawaban
>
> Ini pendapat yang keliru. Nabi dan para Sahabat
> meski
> Islam lebih baru ketimbang pengusaha Yahudi yang
> sudah
> mapan dan makmur bisa memberikan alternatif yang
> gratis bahkan sedekah. Jadi sejak awal Islam sudah
> lebih baik dari sistem yang lain. Bukan dari awal
> lebih buruk dari sistem ribawi. Secara bisnis juga
> itu
> akan merugikan Bank Syariah (saya beri tanda
> kutip,
> karena Bank Syariah yang sejati pasti lebih baik
> dari
> Bank Ribawi) itu sendiri.
>
> Jepang bisa bersaing dengan AS dan Eropa di industri
> otomotif, elektronik, dsb karena pertama-tama harga
> mereka lebih murah/kompetitif. Meski secara kualitas
> kurang bagus, toh masyarakat lebih memilih produk
> Jepang. Akhirnya produk Jepang disukai dan
> kompetitif
> dari sisi kualitas dan harga. Produk Cina saat ini
> diminati karena harganya lebih murah. Kalau dari
> awal
> Jepang dan Cina memasang harga lebih tinggi, tentu
> tidak akan laku.
>
> Nah seharusnya Bank Syariah seperti itu. Jika besar
> pengembalian pinjaman Bank Syariah jauh lebih besar
> dari Bank Ribawi, tentu masyarakat lebih memilih
> yang
> lebih ringan. Bank Syariah tidak akan laku dan
> berkembang jika besar pengembalian pinjamannya jauh
> lebih besar dari Bank Ribawi. Apalagi orang meminjam
> uang itu kan karena dia kekurangan uang/susah. Bukan
> kelebihan uang.
>
> Allah melarang riba karena ingin meringankan orang
> yang berhutang. Jadi jika pegiat Bank Syariah
> membuat
> Bank Syariah yang lebih memberatkan dari Bank
> Ribawi,
> ini bertentangan dengan ajaran Allah.
>
> Pernyataan
>
> Bank Syariah meski pengembalian lebih besar dari
> Bank
> Riba tapi syarie karena merupakan jual-beli. Bukan
> riba
>
> Jawaban.
>
> Innamal amaalu bin niyaat Sesungguhnya amal itu
> tergantung niat (muttafaq alaihi). Jujur saja
> ketika
> orang ingin beli rumah dengan memakai kredit
> pinjaman,
> ketika dia ke Bank Syariah niatnya beli rumah dari
> Bank Syariah apa pinjam uang? Kemudian pemilik Bank
> Syariah ketika membuat Bank Syariah niatnya ingin
> memberikan pinjaman atau jual rumah? Mungkin kita
> bisa
> menipu manusia. Tapi Allah yang Maha Mengetahui
> tidak
> bisa ditipu seperti itu. Allah mengetahui niat kita.
>
> Pada saat kita meminjam uang ke Bank Syariah, meski
> itu disebut jual-beli kalau pengembaliannya lebih
> besar dari Bank Riba tetap saja itu riba. Karena
> riba
> adalah tambahan yang harus dibayar atas pokok
> pinjaman.
>
> Wal hasil, Bank Syariah hendaknya benar-benar
> merupakan Bank yang sesuai dengan syariat Islam,
> yaitu mempermudah masyarakat dan benar-benar
> merupakan
> rahmatan lil alamiin. Bukan lebih buruk dan
> memberatkan dari Bank Ribawi.
>
http://syiarislam.wordpress.com/2007/09/19/bank-syariah-harusnya-mempermudah-rahmatan-lil-alamiin/
>
> ===
> Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits?
> Kirim email ke:
> [EMAIL PROTECTED]
>
>
__________________________________________________________
> Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! -
> their life, your story. Play Sims Stories at Yahoo!
> Games.
> http://sims.yahoo.com/
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet
> in your pocket: mail, news, photos & more.
===
Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits?
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
__________________________________________________________
Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.
http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396545433
Ris Rizqullah
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books?
Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search.
---------------------------------
Got a little couch potato?
Check out fun summer activities for kids.
[Non-text portions of this message have been removed]