Intelektualitas dalam Islam
AR Damyati
Mahasiswa S2, Jurusan Akidah dan Pemikiran Islam, Universiti Malaya
Malaysia, Peneliti INSISTS
Benak masyarakat telah terbiasa untuk menyebut intelektual sebagai
cerdik-cendekia lulusan universitas, lebih-lebih universitas asing,
seperti McGill, Harvard, Leaden, dan sebagainya. Bahkan, seorang
inteletual adalah mereka yang lantang, vulgar menentang arus,
menghujat kemapanan, dan mengritik, biar pun itu kebenaran, semisal
menghujat wahyu.
Di lain pihak, para ulama dan para santri yang melakukan studinya
secara non-formal di pesantren-pesantren, jarang menikmati sebutan
intelektual. Jarang kita temukan, kalau tidak sama sekali, seorang
kiai yang dengan sabarnya mendidik santri-santrinya dengan kitab
klasiknya yang unik disebut intelektual, walaupun ia kerapkali juga
menyuarakan kebenaran di depan penguasa setempat. Lalu apa sebenarnya
pengertian inteletual? Tampaknya penjelasan Syamsuddin Arif, seorang
peneliti INSISTS sekaligus dosen di Universitas Islam Antarbangsa,
Malaysia, pantas untuk dikemukakan. Ia menyampaikan uraiannya tentang
intelektual dalam sebuah diskusi di antara serangkaian
diskusi-diskusi yang digelar INSISTS Kuala Lumpur, Malaysia, selama
Ramadan kali ini.
Asal istilah
Melihat sejarahnya, kata intelektual muncul pada tahun 1898, ketika
seorang perwira berpangkat kapten keturunan Yahudi dipecat dari Dinas
Ketentaraan Perancis karena dicurigai bekerja sebagai mata-mata pihak
asing. Namanya Albert Dreyfus. Kasus Dreyfus inilah kemudian
menjadikan masyarakat Prancis terbelah dua; yang membela dan yang
mengutuknya. Menariknya, yang membela Dreyfus ini disebut sebagai les
intellectuels dan deracines oleh yang mengutuk. Para pembelanya
antara lain Emile Zola, Emile Durkheim, dan Anatole France. Nah, dari
kasus inilah kemudian sebutan intelektual lebih merupakan pemburukan
daripada sanjungan, yang berlaku tidak hanya di Perancis, tapi juga
di Inggris dan Amerika. Setelah kasus Dreyfus, kemudian, muncullah
secara beruntun para sarjana yang mengembangkan istilah intelektual ini.
Jika disimpulkan dari karya-karya para sarjana yang mengembangkan
istilah intelektual, maka akan ditemukan beberapa ciri-ciri
intelektual di Barat. Ciri-ciri itu adalah non-committal (tak terikat
dari segi ide), independen (tak terikat dari segi aksi),
non-sektarian, non-partisan, tidak memihak; pantang menyerah,
cenderung memberontak; menentang arus, berani berbeda, dan
menunjukkan perlawanan. Bagaimana dengan intelektual di dalam Islam?
Jika di dunia Barat istilah intelektual sudah mempunyai akar umbinya
sejak sekitar abad ke-18, maka di dunia Islam baru-baru ini saja
dikenal, dan itu masih berupa 'barang impor' dari peradaban lain,
seperti halnya kata falsafah. Oleh karena itu mesin worldview Islam
sangat berperan untuk memprosesnya. Istilah intelektual, dengan
konteks masyarakat Barat yang sudah disinggung di awal tulisan ini,
tidak bisa serta-merta dipindah ke dalam Islam.
Selama ini, cendekiawan-cendekiawan Muslim di Indonesia sangat
memaksakan penggunaan istilah itu dengan segala motifnya. Sebagai
contoh, ketika muncul kasus Ahmadiyah, tampillah pembela Ahmadiyah
dengan mengatasnamakan kaum intelektual dan pembela HAM. Ketika
kalangan modernis atau liberalis dengan lantangnya menggugat otoritas
Alquran, Al Hadis, dan ulama, mereka mengatasnamakan intelektual. Nah
itu sikap yang sangat Barat dan tidak bijak serta terburu-buru
menggunakan istilah asing.
Kalau diperhatikan, ada makna universal dalam istilah intelektual,
seperti memperjuangkan keadilan dan kebenaran, pendirian kuat, tidak
mudah terbawa arus, dan yang lainnya. Makna universal ini ada di
mana-mana, tidak saja di Barat, tapi juga di Islam. Masalah kemudian
muncul ketika makna universal itu diterapkan ke sesuatu yang
partikular. Istilah 'menentang arus' sebagai misal, di dunia Kristen
tidak akan sama dengan 'menentang arus' dalam konteks di dunia Islam.
'Membela kebenaran' dalam konteks dunia Barat tidak sama dengan
'membela kebenaran' dalam konteks dunia Islam. Dengan demikian,
dengan melepaskan makna partikulernya dan mengambil makna
unversalnya, maka makna-makna universal itu terdapat pula dalam
Islam. Ternyata, cendekiawan dan intelektual sejati itu dalam Islam
ada pada profil para Nabi dan waratsat al ambiya' (pewaris para nabi)
beserta penerus risalah profetiknya.
Perspektif Islam
Intelektual dalam khazanah Islam mempunyai dua tipe, mengikut sejarah
dan konteks keislaman, yaitu intelektual profetik dan intelektual
diabolik. Intelektual profetik adalah para nabi dan waratsat
al-ambiya. Merekalah para pembela kebenaran, sebagaimana kebenaran
yang terkonsep dalam Alquran. Sedangkan cendekiawan diabolik adalah
iblis dan para pengikutnya.
Kalau diamati lebih jauh, karakter Iblis yang terpaparkan dalam
Alquran sangat relevan dengan konteks intelektual versi Barat; yang
tidak mau terikat dengan aturan Allah (non-committal, independen),
tidak mau menyerah , memberontak, menentang arus, dan seterusnya.
Kemudian ciri-ciri itu melebur dalam beberapa terma seperti takabur
(sombong), asiyy (pembangkang), marid (setan berwatak jahat, liar,
dan kurang ajar), dan sebagainya.
Contoh-contoh cendekiawan diabolik ini sangat banyak sekali dalam
sejarah. Contohnya, Kan'an putra nabi Nuh yang menolak naik ke atas
perahu, Haman sebagai the intellectual in the service of tyrant,
Fir'aun, Musa Samiri sebagai cendikiawan yang membuat tuhan dari
patung lembu, kaum kuffar dari ahlu kitab di zaman Nabi Muhammad
sebagai para-pakar yang kafir, dan juga yang lain.
Sendangkan contoh cendekiawan profetik adalah seperti para nabi,
sahabat, dan ulama. Dari para nabi, sebut saja Nabi Ibrahim yang
menentang kuasa Namrudz. Nabi Luth juga intelektual yang menentang
arus kaumnya yang masyoritas lesbi dan guy. Dari kalangan sahabat,
Abu Darda' disebut sebagai intelektual yang berani mengatakan
kebenaran dengan lantang di depan Muawiyah, penguasa tirani waktu
itu. Dari kalangan ulama, seperti Hasan al-Basri, Imam Syafii, Ibnu
Taimiyah, Imam Ahmad bin Hambal, berani melantangkan kebenaran di
depan penguasa.
Kita juga bisa menyebut beberapa nama cendekiawan profetik dalam
konteks keindonesiaan. Dalam kategori ini kita bisa menyebut Buya
Hamka, Mohammad Natsir, juga Syeh Yusuf Al Makasari. Mereka adalah
tokoh yang juga berani menyuarakan kebenaran dan merelakan diri untuk
menghadapi risiko yang terus mengancam.
Kalau boleh ditarik benang merahnya, inteletual dalam Islam cukup
dikenali dengan tiga cirinya. Pertama, ia tidak ada rasa takut
menyuarakan kebenaran (la khaufun alaihim wa la hum yahzanun). Kedua,
tidak ditunggangi kepentingan-kepentingan pribadi, kelompok, partai,
dan lain-lain (la yas alukum alaihi ajran wahum muhtadun). Ia hanya
ditunggangi kepentingan misi Tuhannya. Ketiga, ia adalah agent of
change alias agen perubahan, dan bukan subject of change atau pihak
yang diubah oleh lingkungannya.
Ikhtisar
- Barat telah mengembangkan istilah intelektual sejak abad ke-18
dengan ciri khusus yang cocok dengan lingkungannya.
- Baru belakangan Islam mengembangkan istilah serupa dengan
mengadopsi konteks Barat yang berbeda dari konteks Islam.
- Perspektif Islam mengenal pemilahan intelektual diabolik dan
intelektual profetik.
- Intelektual profeik mewakili para nabi dan pewarisnya, sedang
intelektual diabolik merupakan representasi dari karakter iblis.
---------------------------------
Don't let your dream ride pass you by. Make it a reality with
Yahoo! Autos.
[Non-text portions of this message have been removed]
--- End forwarded message ---