Tanggapan AGBNielsen di http://mediacare.blogspot.com/.



Sekedar untuk menambah informasi

Tabik,

OChan



=============================================================

*From: Andini Wijendaru**
E-mail: **andini.wijendaru@ id.agbnielsen.
net*<http://mediacare.blogspot.com/[EMAIL PROTECTED]>
* *


Menanggapi artikel Saudara "Steven Sterk" dalam artikelnya yang berjudul
"Rating Palsu AC Nielsen", rasanya banyak sekali hal yang perlu dijernihkan.


Steven 
Sterk<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/people/Steven%20Sterk%21overlay>
:

Ibaratnya sebuah hakim , rating adalah kata penentu kemenangan atau kekalahan
dalam dunia pertelevisian
di<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>
Indonesia. Hidup atau matinya sebuah program televisi sangat tergantung oleh
angka rating yang bagus. Kalau sebuah program televisi mendapat rating yang
tinggi, maka dapat diasumsikan akan ada banyak pendapatan dari iklan yang
akan masuk ke televisi tersebut. Namun sebaliknya bila rating sebuah program
turun, televisi tersebut kehilangan pemasukan iklan.

Dengan demikian rating adalah TUHAN bagi para pekerja televisi. Mereka rela
berjumpalitan kerja siang malam demi memperoleh angka rating tersebut.
Di<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>
Indonesia ,SATU- SATUNYA jasa penyedia rating adalah AC nielsen, perusahaan
dari Amerika ini praktis menjadi tumpuan utama atau MONOPOLI bagi semua
stasiun televisi , biro iklan dan semua produsen pemasang iklan.

*AGBNielsen:*

*Benarkah rating menjadi penentu hidup matinya suatu program atau stasiun
TV? Apakah rating juga menjadi acuan bagi industri TV dan periklanan?
Kenyataannya, rating cuma satu dari sekian banyak analisis yang dihasilkan
dari Survei Kepemirsaan TV yang digunakan oleh industri dalam menjalankan
bisnisnya. Dalam industri TV, penyelenggara survei kepemirsaan TV
di<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>
Indonesia adalah AGB Nielsen Media Research (bukan AC Nielsen), yang
berkantor pusat
di<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>Milan
(Italia) dan Buochs serta
Lugano (Swiss), bukan
di<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>Amerika.
Survei kuantitatif ini berjalan secara berkesinambungan, tidak
hanya di 
Indonesia<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/tidak-hanya-di-indonesia%21overlay>,
tetapi juga di 
<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>lebih
dari 30 negara lainnya. Sebagai potret dari kepemirsaan TV, data yang
dihasilkan dari survei ini menjadi mata uang ( currency) yang berlaku secara
global sebagai nilai tukar
di<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>dalam
industri. Hasil dari survei ini diperlukan oleh industri untuk
mengetahui jumlah pemirsa, profil pemirsa, berapa biaya dalam beriklan untuk
menjangkau sejumlah pemirsa tertentu, dan sebagainya. Dengan miliaran rupiah
yang dihabiskan setiap tahunnya untuk program dan iklan TV, informasi atas
kepemirsaan TV tentunya diperlukan untuk mengevaluasi dan memaksimalkan
efektivitas investasi tersebut. *

*Semua standar pelaksanaan survei AGBNielsen ini disusun berdasarkan panduan
" Global Guidelines for Television Audience Measurement" (GG TAM), yang
dipublikasikan pada tahun 1999 dan berlaku secara internasional. Standar
global atas pengoperasian TAM ini penting karena semakin banyak perusahaan
media, pengiklan dan agensi periklanan yang mendunia dan membutuhkan
informasi kepemirsaan TV yang berstandar internasional,
di<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>mana
perhitungan angka 1 rating
di <http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>
Indonesiasama dengan 1 rating
di <http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay> Italia dan
Afrika, misalnya. Seiring dengan konsolidasi yang terus berjalan dalam
industri periklanan TV, dan semakin banyak perusahaan yang menciptakan jejak
global, kebutuhan akan riset kepemirsaan multinasional yang homogen tentunya
juga akan terus tumbuh. Dengan pelaksanaannya yang berlangsung
di<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>banyak
negara, Survei Kepemirsaan TV ini diawasi dan diaudit oleh kantor
pusat AGBNielsen untuk memastikan compliance terhadap standar internasional
yang ditetapkan sehingga segala penyimpangan yang mungkin terjadi akan
segera terdeteksi.*

*Meski hasil survei ini menjadi mata uang dalam industri, informasi yang
dihasilkan dari survei ini bukanlah satu-satunya acuan bagi kelangsungan
bisnis penyiaran dan periklanan. Tentunya setiap metode memiliki kelemahan
dan kelebihan. Namun baik kualitatif dan kuantitatif merupakan metode yang
bisa saling melengkapi untuk memperkaya penelitian. **AGBNielsen sendiri
memfokuskan riset kepemirsaan TV ini pada penelitian kuantitatif. Dan
penelitian kuantitatif ini tidak terkait dengan kualitas program. Tentu saja
karena metodenya kuantitatif, hal-hal yang menyangkut alasan menonton untuk
menggali kualitas program tidak bisa diungkap. Hasil riset ini semacam
"pisau bedah" yang bisa dipilih oleh pengguna data, mau ditelan mentah2 atau
mau digunakan secara bijaksana. Untuk memperkaya hasil survei AGBNielsen
yang sifatnya kuantitatif, industri juga melakukan survei kualitatif untuk
mengetahui di 
<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>antaranya
apa yang diinginkan oleh pemirsa TV dari program TV, apa alasan
pemirsa menonton program tertentu, bagaimana perilaku membeli konsumen, gaya
hidup, dsb. Informasi yang tentunya tidak bisa diperoleh dari survei
kuantitatif. Karena sekali lagi, Survei Kepemirsaan TV yang dilakukan oleh
AGBNielsen hanya memotret kebiasaan menonton dari pemirsa
di<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>10 kota
besar
di <http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay> Indonesia.*

Steven Sterk:

Selama 14 tahun terakhir ini AC Nielsen juga selalu berhasil menampik semua
tudingan yang mempertanyakan keabsahan penelitiannya, maupun validitas data
responden yang telah ditebarnya. Namun sebenarnya jaminan mutu internasional
itu hanyalah lip servis semata. Kenyataannya sungguh jauh dari tampilan make
up luarnya.

*AGBNielsen:*

*Validitas data AGBNielsen bisa dibuktikan dari Tingkat Kepercayaan
(Confidence Level)
dan Margin of Error yang berlaku dalam dunia statistik untuk menggambarkan
keterwakilan sampel terhadap populasi, dalam hal ini populasi TV. Tingkat
kepercayaan yang ditolerir oleh AGBNielsen sebagai gambaran keterwakilan
sampel terhadap populasi adalah sebesar 95%. Sementara Tingkat Kepercayaan
sampel AGBNielsen
di<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>10 kota
besar
di <http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>
Indonesiaadalah sebesar
98.89%. Artinya kepercayaan bahwa sampel mewakili populasi TV hampir
mencapai 100%. *

Steven Sterk:

Yang pertama AC Nielsen Indonesia tidak memiliki tenaga handal profesional
yang direkrut dari luar negeri demi menjaga kerahasiaan sistem mereka,  seperti
yang selalu diklaimnya. AC Nielsen Indonesia yang sekarang banyak ditangani
oleh para pekerja Indonesia , yang sebagian besar dari mereka adalah fresh
graduated ( sebagian besar adalah  lulusan statistik dan matematika ).
Sehingga kerahasiaan sistem mereka sebenarnya tidak benar- benar seperti
benda suci yang selalu mereka jaga kerahasiaannya. Mereka banyak merekrut
tenaga dari dalam negeri dengan anggapan bahwa tenaga dari Indonesia adalah
jauh lebih murah dibanding mempekerjakan tenaga dari negara mereka yang
sudah berpengalaman. Bahkan hampir setengah dari tenaga lapangan AC Nielsen
adalah para mahasiswa yang belum lulus dengan hitungan tenaga magang.
Sehingga dengan tujuan efisiensi pada sumber daya manusia , mereka dapat
lebih banyak mendapat keuntungan.

Yang Kedua dengan banyak merekrut tenaga kerja baru lulus kuliah dan mahasiswa
magang, AC Nielsen banyak memberikan toleransi kesalahan data. Terutama
data- data yang ada
di<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>lapangan.
Sering sekali saya alami penyimpangan
data terjadi hanya karena keteledoran SDM semata- mata.

*AGBNielsen:*

*Untuk memperoleh tenaga handal profesional, tidak harus dari luar negeri.
Tenaga lokal pun memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan tenaga asing.
Semua tenaga yang direkrut oleh AGB Nielsen melalui proses seleksi yang
sangat ketat. Khususnya mengenai keberadaan panel, bahkan statusnya pun
dirahasiakan dari karyawan AGBNielsen yang tidak berkepentingan langsung
dengan panel tersebut. Kerahasiaan panel ini sangat dijunjung tinggi untuk
menghindari kemungkinan intervensi dari pihak-pihak lain, khususnya pelaku
industri, yang nantinya justru akan mempengaruhi survei itu sendiri. *

*Survei ini juga melalui beberapa tahapan kendali mutu ( quality control/QC)
untuk meminimalisir kemungkinan kesalahan yang bisa terjadi. QC dilakukan
sebanyak 5 kali dalam tujuh tahapan survei, yang mencakup QC pada saat
Establishment
Survey (untuk menentukan populasi TV), QC pada saat Rekrutmen Panel, QC pada
tahap pemasangan alat Peoplemeter dan penarikan data, dan QC pada tahap
produksi data. Para petugas yang terlibat
di<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>bagian
operasional, termasuk petugas lapangan (Technical
Field Officer), d** iko**ntrol performa kerjanya melalui standar KPI (Key
Performance Indicator ),
di<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>mana
para petugas dengan KPI
di <http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay> bawah
standar akan mengalami Pemutusan Hubungan Kerja.*

Steven 
Sterk<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/people/Steven%20Sterk%21overlay>
:

Yang Ketiga Untuk pemilihan demografis responden rating televisi cenderung
dilakukan dengan asal – asalan. Dan tidak diusahakan pemerataan pada sebaran
datanya Misalnya , untuk mengetahui berapa kecendrungan pemirsa untuk
tayangan televisi A, mesti diambil jumlah responden yang seimbang misalnya
untuk kelas ekonomi atas 33,3%, kelas ekonomi menengah 33,3 %, untuk kelas
ekonomi bawah 33,3%, sehingga total 100%. Sehingga angka rating yg didapat
adalah lebih obyektif. Namun pada prakteknya , AC Nielsen Indonesia banyak
mengambil data responden sebagian besar dari kelas ekonomi rendah. Profil
mereka sebagian besar adalah : ekonomi kelas rendah, berpendidikan rendah,
tidak mempunyai pekerjaan, bekerja sebagai pembantu rumah tangga, pedagang
kaki lima, karyawan toko, buruh pabrik, dan lain- lain. Hal ini menjelaskan
mengapa sebagian besar tayangan televisi nasional yang memiliki rating
tinggi justru yang memiliki cita rasa rendah dan apresiasi seni yang rendah.
Seperti musik dangdut, tayangan gosip artis, tayangan mistik, film- film hantu,
dan sinetron – sinetron picisan.

Tayangan –tayangan televisi yang justru bersifat mendidik dan mencerdaskan
akan selalu mendapat nilai rating yang rendah dari AC Nielsen. Kebijakan ini
diambil AC Nielsen karena ia tidak mau membayar uang imbalan untuk
respondennya. Sehingga responden yang diambil adalah kebanyakan dari kaum
ekonomi bawah agar bisa dibayar murah. Yang Keempat Untuk pemilihan
responden secara geografis juga dilakukan dengan tidak merata. Sebaran data
yang diambilnya tidak pernah dilakukan dengan distribusi yang sama rata
secara nasional, melainkan sekitar lebih
dari<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/lebih-dari%21overlay>60%
datanya hanya terkumpul dari
Jakarta saja.

*AGBNielsen:*

*Survei AGBNielsen mencakup 10 kota besar, yaitu
Jakarta<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/yaitu-jakarta%21overlay>,
Surabaya, Medan,
Semarang<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/semarang%21overlay>,
Bandung, Makassar, Yogyakarta,
Palembang<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/palembang%21overlay>,
Denpasar, dan Banjarmasin. Tingkat penyebaran panel didasarkan pada survei
awal atau Establishment Survey (ES)
di<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>10 kota
tersebut untuk menetapkan dan mengidentifikasi profil demografi
penonton TV. Dari ES, akan didapatkan jumlah rumah tangga (berusia 5 tahun
ke atas) yang memiliki TV yang berfungsi dengan baik atau disebut populasi
TV. *

*Hal yang sama juga berlaku dalam hal penyebaran panel berdasarkan target
pemirsa, misalnya Status Ekonomi Sosial (
SES<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/se%21overlay>),
pendidikan, pekerjaan, dsb. Sama dengan penyebaran panel per area yang telah
dijelaskan diatas, pembagian panel per
SES<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/se%21overlay>juga
didasarkan atas ES. Jika dari ES tergambar bahwa populasi TV
Jakarta sejumlah 19% berasal dari
SES<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/se%21overlay>A,
maka panel
SES <http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/se%21overlay> A yang
direkrut pun sebanyak 19% dari total panel Jakarta. Demikian pula,
penyebaran panel secara keseluruhan pun didasarkan atas proporsi
di<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>tingkat
populasi yang persentasenya tentu tidak merata antara kelas atas
(26%), menengah (51%), dan bawah (23%). Dengan demikian, penyebaran panel
tidak bisa disamaratakan dengan proporsi masing-masing 33,3% karena yang
akan terjadi nantinya justru sampel tidak mewakili populasi. Pemilihan panel
ini juga tidak ada kaitannya dengan uang imbalan yang harus dikeluarkan
untuk membayar para responden. GGTAM juga mengatur mengenai 'imbalan' yang
diberikan kepada panel, yang bentuknya tidak berupa uang. *

*Tayangan TV tidak mendapat nilai rating dari AGBNielsen. Sekali lagi,
AGBNielsen hanya memotret kebiasaan alami menonton pemirsa
di<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>10 kota
besar. Analisa terhadap data ini memang harus disikapi secara
cerdas, tidak semata-mata ditelan mentah-mentah, karena data-data yang
dihasilkan dari survei ini akan memberikan gambaran yang berbeda-beda antara
target pemirsa yang satu dengan yang lain. Program-program yang ditonton
oleh anak-anak tentunya berbeda dengan program-program yang ditonton oleh
orang dewasa, sehingga untuk program yang sama, ratingnya akan berbeda
berdasarkan target pemirsa yang dianalisa. Besar kecilnya rating juga sangat
relatif karena tergantung pada potensi pemirsa yang tersedia pada jam tayang
program tertentu. Misalnya, rating 3,7
di<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>sore
hari mungkin sudah termasuk tinggi, tapi untuk malam hari, rating
tertinggi bisa mencapai 9,0 atau bahkan lebih.*

Steven 
Sterk<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/people/Steven%20Sterk%21overlay>
:

Yang Kelima sebagai imbalan ( honor ), responden rating hanya mendapat
souvernir
senilai Rp 30,000 s/d Rp 50,000,- saja per bulannya. Sehingga responden
cenderung ogah- ogahan untuk menjaga integritasnya.

*AGBNielsen:
Apresiasi atas partisipasi rumahtangga sebagai responden AGBNielsen
diberikan dalam bentuk poin setiap bulannya. Panel dapat memilih hadiah –
yang berupa perabot rumahtangga, seperti timbangan, setrika, tea set, dinner
set, kompor, blender, dsb – dari katalog AGBNielsen berdasarkan poin yang
dikumpulkan. Semakin lama waktu kerjasama, semakin besar poin yang bisa
dikumpulkan. Nilai nominal hadiah yang diberikan tergantung pada jumlah poin
tersebut. *

*Masing-masing panel diberikan edukasi untuk menekan tombol riset ketika
menonton TV (tombol khusus diberikan untuk masing-masing anggota rumah
tangga, misalnya tombol 1 untuk ayah, 2 untuk ibu, dsb). Ketidakdisiplinan
mereka dalam menekan tombol akan terpantau oleh tim manajemen panel, baik
dalam bentuk 'uncovered viewing' (jeda waktu antara TV menyala dengan
penekanan tombol riset) maupun 'lazy viewing' (TV menyala terus tanpa ada yg
menekan tombol riset). Kami memberikan batasan terhadap banyaknya
kepemirsaan uncovered viewing dan lazy viewing,
di<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>mana
ketika levelnya
di <http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay> suatu rumah
tangga panel melebihi tingkat toleransi, data kepemirsaannya tidak akan
diproduksi lebih lanjut. Untuk mencegah hal ini terjadi berlarut-larut, tim
lapangan bertugas melakukan edukasi terhadap panel. Jika re-edukasi tidak
berhasil mendisiplinkan panel, maka panel tersebut akan diganti oleh panel
lain dengan kriteria yang sama. *

Steven 
Sterk<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/people/Steven%20Sterk%21overlay>
:

Yang Keenam Idealnya sebuah keluarga atau sebuah rumah yang menjadi responden
televisi menjadi reponden selama 6 bulan saja atau maksimal selama 1 tahun.
Setelah itu AC Nielsen harus mencari responden baru. Secara statistik hal
itu perlu dilakukan demi menjaga obyektifitas data. Agar secara psiko logis
, mood responden tidak mempengaruhi data selanjutnya. Namun pada
kenyataannya, seorang responden kebanyakan bisa menjadi responden selama 7
TAHUN LEBIH. Untuk hal ini adalah murni dikarenakan kemalasan dari manajemen
AC Nielsen untuk melakukan pemeriksaan ke lapangan.

*AGBNielsen:
Lamanya sebuah rumahtangga menjadi panel adalah maksimal 2 tahun, namun
penggantian panel tidak dilakukan secara serentak. Berhentinya suatu
rumahtangga sebagai panel secara normal adalah 20-25% dari rumahtangga yang
terpasang alat setiap tahunnya. Tidak ada penggantian yang dipaksakan dalam
keadaan normal. *

*Penggantian panel diakibatkan beberapa alasan. Penggantian panel bisa
terjadi secara alami karena penolakan panel rumahtangga untuk meneruskan
kerjasama, panel tidak memperbolehkan semua TV-nya dipasangi alat, perubahan
pada kondisi/keadaan anggota rumah tangga, pindah rumah/renovasi, dsb. Namun
penggantian panel juga bisa terjadi secara paksa jika panel menolak
mengikuti aturan, tidak kooperatif, tidak disiplin dalam menekan tombol
handset, perangkat TV-nya rusak, dsb. Perubahan panel ini bisa terjadi
sekitar 4% setiap bulan. *

*Selain itu, penggantian panel juga mungkin terjadi untuk menjaga
komposisi panel
balance yang disesuaikan dengan komposisi populasi TV hasil Establishment
Survey terbaru.*

Steven 
Sterk<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/people/Steven%20Sterk%21overlay>
:

Yang Ketujuh para responden rating AC Nielsen sama sekali tidak mempunyai
integritas. Dengan demikian , beberapa oknum televisi beserta oknum AC
Nielsen dapat memberikan "pesanan" kepada ratusan responden sekaligus agar
"memanteng " program televisi tertentu, agar hitungan rating program
tersebut menjadi tinggi. Biasanya jumlah yang diajak adalah sekitar 100 s/d
700 orang dari total 3,500 responden. dengan 700 orang berarti program
tersebut diharapkan sudah memegang rating 1/5 dari total rating. Biasanya
tiap satu kali "memanteng" ( demikian sebutannya ) tiap responden meminta
bayaran Rp 100,000,-. Sehingga dengan 700 orang x Rp 100,000,-, oknum pihak
televisi tersebut hanya mengeluarkan uang Rp 70,000,000 saja per satu kali
"manteng". Dengan begitu angka rating dapat dimanipulasi dengan mengeluarkan
biaya yang relatif murah sebenarnya bagi para stasiun televisi.

*AGBNielsen:*

*AGBNielsen adalah perusahaan independen yang beroperasi
di<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>lebih
dari 30 negara,
di <http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay> mana survei
ini merupakan bisnis kepercayaan. Melakukan pengukuran kepemirsaan TV
berdasarkan pesanan pihak tertentu berisiko tinggi yang bisa berdampak pada
kredibilitas AGBNielsen, termasuk
di<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>negara-negara
lain. Hubungan tertutup dengan kelompok kepentingan ter
tentu akan menimbulkan prasangka atas data yang dihasilkan, yang pada
akhirnya akan mencegah penerimaannya sebagai mata uang. *

*Di <http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay> lain sisi,
survei ini juga menekankan azas confidentiality (kerahasiaan) atas para
responden, di <http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>mana
responden diminta untuk merahasiakan statusnya sebagai responden
dengan
menandatangani perjanjian kerahasiaan. **Hal ini merupakan standar yang
berlaku global untuk menghindari campur tangan industri terhadap responden,
yang pada akhirnya berkemungkinan besar mempengaruhi kemurnian data
kepemirsaan TV. *

Klarifikasi ini perlu kami sampaikan untuk meluruskan kesalahpahaman yang
berlarut-larut mengenai analisa rating. Mudah-mudahan informasi ini bisa
membuka mata berbagai pihak mengenai Survei Kepemirsaan TV yang dijalankan
oleh AGBNielsen; dan tentunya menjadi lebih bijaksana dalam menanggapi
informasi-informasi yang menyesatkan .

Mohon informasi ini juga disebarluaskan pada teman, saudara, keluarga
ataupun rekan kerja yang terlibat atau tertarik dengan penggunaan hasil
Survei Kepemirsaan TV
di<http://mediacare-tagging.jiglu.com/tags/topics/di%21overlay>
dalam industri pertelevisian dan periklanan agar tidak lagi terjadi salah
paham terhadap survei ini. Kami yakin rekan-rekan milis cukup cerdas dan
dewasa dalam menyikapi dan menyaring informasi yang beredar.

Salam,

*Andini Wijendaru*
*AGB Nielsen Media Research*

-- 
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang


[Non-text portions of this message have been removed]



Bagi yang ingin menyumbang untuk pendirian TV Komunitas Madani Depok bisa 
transfer ke:
Bank Syariah Mandiri KCP Margonda Depok.  No. Rek. 0670010778 a.n BURSA AMAL 
MADANI
Mohon konfirmasi nama, besar sumbangan, tanggal ke: [EMAIL PROTECTED]
Contact Person: pak Hafiz 021 92805591 / 08128508057, Al Qudwah, Jl Beringin 
No. 1, Jl. Margonda Raya Depok
http://islamicbroadcasting.wordpress.com 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke