Buletin Gaul Islam 
      01 November 2007 - 10:48 
      Jangan Jadi Bunglon 
      gaulislam edisi 001/ tahun I (29 oktober 2007)
  
           Hilang sudah kesan islami sepanjang hari. Lenyap sudah suasana “kota 
santri” dadakan. Kesan islami sepanjang hari selama Ramadhan akhirnya harus 
hilang sesaat setelah Lebaran. Suasana “kota santri” pun yang sering kita 
pertunjukkan di saat Ramadhan, kini kembali ke selera asal setelah Idul Fitri. 
Lenyap sudah suasana tersebut dan berganti suasana kehidupan bebas tanpa batas 
seperti sediakala (adegan: merenung, geleng-geleng kepala dan menunjukkan sikap 
prihatin, terus berdesis: hmm…)
   
  Sobat muda muslim, waktu Ramadhan lalu, banyak di antara kita yang megenakan 
busana muslim/muslimah. Kita yang tergolong orang biasa dan mereka yang masuk 
kalangan seleb, semuanya punya pikiran dan perasaan: harus tampil islami. Meski 
hanya ditonjolkan lewat busana namun justru itulah cara termudah untuk 
‘mengelabui’ orang. Percaya atau nggak masih bisa diperdebatkan. Tapi yang 
jelas, aksi tampil beda saat Ramadhan bagi yang sebelumnya memang rada-rada 
“okem”, ya memang mencurigakan. Apalagi jika kemudian setelah Ramadahan berlalu 
kembali “okem”. Tul nggak sih?
   
  Okelah, soal niat dan motivasi cuma pelakunya yang tahu dan tentu Allah Swt. 
Tapi yang pasti perubahan “dadakan” di bulan Ramadhan itu bisa berdampak 
positif dan negatif sekaligus. Positifnya jelas. Tampilnya sebagian dari kita 
mengenakan busana muslim/muslimah dan maraknya syiar Islam di bulan suci yang 
lalu memberi kesan bahwa kita sadar betul dengan apa yang harus kita lakukan, 
yakni menghormati bulan Ramadhan sekaligus nunjukkin bahwa diri kita serius 
menghargainya dengan cara menjaga imej diri dan menyesuaikannya dengan ajaran 
Islam. Apalagi jika kemudian hijrah total dari kegelapan menuju cahaya Islam 
meski Ramadhan telah berlalu. Bukti riilnya ditunjukkan dengan tetap berbusana 
menutup aurat sesuai tuntunan syariat, juga perilaku yang ber-akhlaqul karimah 
selepas Ramadhan. Hmm.. semoga ya.
   
  Namun, selain berbuah sisi positif, ternyata juga dalam “perubahan dadakan” 
itu memunculkan sisi negatif. Apalagi jika kemudian setelah Ramadhan berlalu, 
kita balik lagi ke selera asal. Jadinya, kesan bahwa kita itu memanfaatkan 
situasi jadi kentara banget. Yup, memanfaatkan momen Ramadhan hanya untuk 
kepentingan sesaat. Motivasinya lebih karena ingin dianggap baik di hadapan 
manusia: berbusana yang sopan, bertutur kata yang baik, berperilaku yang sesuai 
ajaran Islam, bahkan para musisi juga rame-rame bikin album religi di bulan 
suci. But, selepas Lebaran hilang semua itu. Nggak ada bekasnya sama sekali. 
So, jangan salahkan orang lain yang risih dengan perilaku “bunglon” seperti 
ini, karena agama kayaknya dianggap sebagai komoditas untuk menjaga atau 
memoles citra diri. Duile… teganya… teganya… teganya…
   
  Busana sebagai alat komunikasi
Dulu, tahun 1891, seorang antropolog Jerman bernama Eugene Dubois melakukan 
perjalanan menelusuri jejak manusia purba di kawasan Jawa. Di buku sejarah 
ditulis kalo doi menemukan fosil manusia purba yang kemudian dinamai dengan 
Pithecanthropus Erectus or “erect-ape man” alias manusia kera yang berjalan 
tegak. Nah, tentu aja digambarkan tanpa busana. Karena jaman tersebut belum ada 
pakaian. Pada masa tersebut, busana belum menjadi alat komunikasi. Karena apa 
yang mau dikomunikasikan dan kepada siapa pesan itu ditujukan, iya nggak sih? 
Kalo pun ada pesan yang ingin disampaikan, tapi bukan dalam bentuk busana.
   
  Nah, waktu terus berjalan dan perkembangan manusia purba juga terus mengarah 
menuju kemajuan. Misalnya dalam berbusana. Bahkan ada film kartun yang dikemas 
dengan lucu yang menceritakan kehidupan “modern stone age”. Yup, film televisi 
yang diudarakan di Amrik antara tahun 1960-1966 besutan William Hanna dan 
Joseph Barbera itu diberi judul The Flintstones. Kamu pasti udah pada hapal kan 
dengan tokoh-tokohnya? Ada Fred, Wilma, dan tetangga mereka Barney Rubble.
   
  Di film itu, ‘manusia purba’ udah ‘dipakaikan’ busana. Busananya tentu bukan 
seperti jaman kita sekarang. Tapi busana yang dicocokkan dengan jaman batu 
tersebut. Meski itu sebagai hiburan yang kocak banget, tapi penataan setting 
cerita itu cukup detil, khususnya dalam busana. Busana yang ditampilkan di film 
kartun (dan juga di film layar lebar garapan Steven Spielberg tahun 1994) ingin 
mengkomunikasikan kepada penonton bahwa itulah busana di “modern stone age”. 
  Sobat, pakaian memang bukan sekadar alat untuk menutup bagian tubuh tertentu 
yang harus dilindungi dari sengatan sinar matahari, dinginnya musim salju, dan 
menghindari goresan pada kulit akibat gesekan dengan benda lain, tapi juga 
sebagai alat komunikasi.
   
  Ketika pakaian digunakan untuk mengkomunikasikan status sosial, maka ada 
pakaian kerajaan, ada pakaian yang khusus dikenakan para bangsawan, juga 
pakaian kaum proletar bin rakyak jelata. Di Eropa, kalo kamu baca buku-buku 
sejarah atau nonton film-film macam The Man in the Iron Mask yang dibintangi 
Leonardo Di Caprio atau dalam serial film Robin Hood, kita bisa bedain status 
sosial antara kaum proletar dengan kaum bangsawan adalah dari busana yang 
dikenakannnya.
   
  Busana juga kemudian berperan dalam membedakan profesi seseorang. Misalnya 
nih, kalo ada orang yang berpakaian jas putih, apalagi dilengkapi stetoskop, 
berdasarkan kesepakatan selama ini orang tersebut ‘dicap’ berprofesi sebagai 
dokter.
  Terus, pakaian juga bisa nunjukkin pesan untuk mengkomunikasi identitas. 
Misalnya pakaian untuk cowok dan cewek juga beda. Pakaian dari komunitas atau 
etnis tertentu juga pasti punya ciri khas. Bahkan pakaian berupa simbol-simbol 
keagamaan pun yang dikenakan oleh pemakainya adalah untuk mengkomunikasikan 
identitas mereka.
   
  Nah, kaitannya dengan busana yang sopan dan rapi yang dikenakan banyak orang 
saat Ramadhan, tentunya mereka punya tujuan untuk mengkomunikasikan pesan 
kepada khalayak--tanpa harus ngomong dan menuliskan dengan huruf gede-gede di 
spanduk--bahwa “ini lho saya!”, “Seperti inilah kepribadian saya!”. Jadi, 
busana memang sebagai alat komunikasi, gitu lho.
   
  Jangan (mudah) tertipu
Sobat muda muslim, dunia ini boleh dibilang kayak panggung sandiwara. Semua 
orang ingin memerankan apa yang disukainya dan tampak menarik di hadapan orang 
lain. Menarik di sini bisa sisi positif, bisa juga negatif. Sebab, kita harus 
ngakuin juga dong kalo ada orang yang tertarik dan sangat berminat di dunia 
kejahatan, maka ia akan ‘memerankan’ apa pun yang identik dengan ikon 
kejahatan. Begitu juga sebaliknya, jika seseorang tertarik di dunia kebaikan, 
maka ia akan memerankan apa pun yang identik dengan ikon kebaikan, sesuai 
dengan kesepakatan umum manusia maupun agama. Itu sebabnya barangkali orang 
ingin tampil bukan sekadar apa adanya, tapi harus ada apa-apanya agar bisa 
dilihat orang lain dan membuat orang lain tertarik dengan apa yang kita 
perankan.
   
  Maka, kalo kita menganggap bahwa bertutur kata santun, berpakaian sopan dan 
menjadi ikon kebaikan dalam pandangan masyarakat dan agama, maka kita akan 
melakukan semua hal itu. Harapannya, tentu agar orang lain menganggap dan 
menilai bahwa diri kita seperti yang ditampilkannya kepada khalayak ramai 
tersebut.
   
  Nah, ini pula yang menjadi kajian sosiolog kelahiran Manville, Kanada, 
bernama Erving Goffman. Kajiannya yang terkenal adalah tentang Self (Self 
Presentation). Bukunya yang sangat terkenal dan melambungkan namanya ditulis 
pada tahun 1956 dan tahun 1959 berjudul The Presentation of Self in Everyday 
Life. Menurut Goffman, interaksi (di antara manusia) dalam hidup ini dapat 
dibandingkan dengan drama. Ia menilai bahwa manusia itu suka berpura-pura dan 
munafik, atau setidak-tidaknya ia bertindak untuk mendukung kesan kewenangan 
serta gengsinya bila ia sedang menampilkan perannya yang sah (misalnya sebagai 
dokter). Bahkan jika seseorang memang dokter yang berwenang pada aspek 
penampilannya yang ekspresif, dan bukan semata-mata aspek fungsionalnya. 
(Ensiklopedi Psikologi, hlm. 132)
   
  Sobat, kalo pernyataan Erving Goffman ini kita simak dengan seksama maka kita 
bisa terapkan tuh untuk mengamati, mengkritisi dan menilai prilaku kita dan 
semua manusia yang bisa kita jumpai dalam kehidupan ini. Misalnya dalam kasus 
“berubahnya” penampilan kita pada momen-momen tertentu karena ingin memberikan 
kesan kepada orang lain bahwa “inilah kita” yang diinginkan oleh orang lain 
dengan standar norma masyarakat dan norma agama. Meskipun hakikatnya apa yang 
kita tampilkan ke hadapan semua orang sebenarnya bukan jatidiri kita. Halah, 
nipu dong?
   
  Hmm.. bisa jadi. Maka Erving Goffman pun pernah tertarik pada penggunaan 
status simbol yang penuh “tipu daya”. Ia berdalih bahwa: “simbol lebih cocok 
dengan persyaratan komunikasi daripada hak dan kewajibannya yang diartikan oleh 
simbol itu.” Tuh benar banget kan, bahwa sebenarnya kita menampilkan diri di 
hadapan orang lain lebih karena ingin mengkomunikasikan bahwa diri kita begini 
dan begitu melalui simbol yang kita kenakan. Bukan asli diri kita.
   
  Eiit.. jangan cemberut dulu. Kalo kamu nggak merasa niatannya tampil beda 
bukan karena ingin “memanfaatkan” simbol untuk menipu orang lain tentang kesan 
mereka terhadap diri kita ngapain musti ragu tampil beda. Iya nggak sih? 
Apalagi tampil beda kita punya standar, yakni Islam.
Sobat, setelah kamu tahu soal ini, maka jangan lagi mudah tertipu dengan 
penampilan luar dari orang lain ya. Sebab, penampilan seringkali berbeda (meski 
tidak selalu) dengan aslinya. Percayalah.
   
  Kepribadian Islam
Boyz and galz, nggak seru tentunya kalo kita nggak nengok cara Islam ngatur 
umatnya. Benar. Islam emang punya konsep tentang kepribadian manusia. Menurut 
Muhammad Muhammad Ismail dalam kitab al-Fikru al-Islamiy, dalam pandangan 
Islam, akidah Islamlah yang akan membentuk akliyah (pola pikir) dan nafsiyah 
(pola sikap) seorang muslim. Artinya, jika akidah islamnya kokoh, pastinya akan 
mampu membentuk akliyah dan nafsiyah yang oke juga. Kalo pun ada seorang muslim 
yang akliyah dan nafsiyahnya kedodoran, atau seenggaknya berkualitas rendah, 
maka bisa dinilai bahwa itu berbanding lurus dengan kualitas or level akidah 
islamnya.
   
  So, jangan terlalu kaget kalo ada seorang muslim yang udah punya nama islami, 
sering mengenakan simbol-simbol Islam untuk ditampilkan kepada orang-orang di 
sekitarnya, tapi ternyata masih gemar melakukan perbuatan yang dilarang ajaran 
Islam. Ini terjadi karena kurangnya pemahaman doi terhadap ajaran Islam. Tentu, 
sikapnya tersebut belum bisa dikatakan bahwa dirinya memiliki kepribadian yang 
islami. Sebab, Islam nggak menjadikan “penampilan” sebagai standar utama 
kepribadian seseorang, tapi ukuran kepribadian dalam Islam adalah apakah ia 
berpikir islami atau berperasaan islami. Itu aja.
   
  Oya, meski demikian, bukan berarti penampilan yang mencirikan jatidiri Islam 
dari seorang muslim nggak diperhatikan sama Islam, lho. Ada bagian di mana 
Islam ngasih konsekuensi, euy. Contohnya, kalo kita udah ngaku muslim, maka 
harus dong pikiran kita tuh Islam dan perasaan kita juga Islam. Terus dalam 
pengamalannya juga harus islami. Misalnya, mengenakan busana menutup aurat 
ketika keluar rumah sesuai dengan ketentuan yang diajarkan dalam Islam.
  
Singkat kata nih. Nggak nyambung banget kalo kita sebagai muslim hanya 
mengambil Islam sekadar simbol-simbolnya aja, sementara yang pokok seperti 
pikiran dan perasaan kita dibiarkan dijajah ide sekularisme, demokrasi, 
sosialisme, dan isme-isme lain di luar Islam.
   
  Jadi, nggak perlulah menipu diri sendiri dan juga orang lain dengan 
menampilkan kesan dari simbol yang kita kenakan untuk mengkomunikasikan bahwa 
diri kita begini dan begitu sesuai standar kebaikan manusia, padahal sejatinya 
kita tidaklah seperti gambaran yang kita buat. So, jangan jadi bunglon deh. 
Ingat, mungkin kita bisa menipu sebagian besar manusia, tapi tidak semua 
manusia bisa tertipu, apalagi menipu Allah Swt. Lagian, semua perbuatan kita 
akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. kelak. Waspadalah!
  
Firman Allah Swt.:
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ 
مَسْئُولاً 
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta 
pertanggungan jawabnya.” (QS al-Israa’ [17]: 36)
  
Yuk, biar nggak jadi bunglon, kita kaji Islam dengan benar dan baik. Jadikan 
Islam sebagai akidah dan syariat. Amalkan dalam kehidupan sehari-hari sembari 
terus mengkampanyekan dalam dakwah kita tentang wajibnya menjadikan Islam 
sebagai the way of life bagi kita dan seluruh kaum muslimin. Biar mantatap, 
gitu lho![solihin: [EMAIL PROTECTED] 

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke