Antara Zionisme dan Yahudi 

 
<http://www.pesanharunyahya.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&i
d=370> 

 
<http://www.pesanharunyahya.com/index2.php?option=com_content&task=view&;
id=370&pop=1&page=0&Itemid=302> 

 
<http://www.pesanharunyahya.com/index2.php?option=com_content&task=email
form&id=370&itemid=302> 

 

Harun Yahya

Musim panas tahun 1982 menjadi saksi atas kebiadaban luar biasa yang
menyebabkan seluruh dunia berteriak dan mengutuknya dengan keras.
Tentara Isrel memasuki wilayah Lebanon dalam suatu serbuan mendadak, dan
bergerak maju sambil menghancurkan sasaran apa saja yang nampak di
hadapan mereka. Pasukan Israel ini mengepung kamp-kamp pengungsi yang
dihuni warga Palestina yang telah melarikan diri akibat pengusiran dan
pendudukan oleh Israel beberapa tahun sebelumnya. Selama dua hari,
tentara Israel ini mengerahkan milisi Kristen Lebanon untuk membantai
penduduk sipil tak berdosa tersebut. Dalam beberapa hari saja, ribuan
nyawa tak berdosa telah terbantai.

Terorisme biadab bangsa Israel ini telah membuat marah seluruh
masyarakat dunia. Tapi, yang menarik adalah sejumlah kecaman tersebut
justru datang dari kalangan Yahudi, bahkan Yahudi Israel sendiri.
Profesor Benjamin Cohen dari Tel Aviv University menulis sebuah
pernyataan pada tanggal 6 Juni 1982: 

Saya menulis kepada anda sambil mendengarkan radio transistor yang baru
saja mengumumkan bahwa 'kita' sedang dalam proses 'pencapaian
tujuan-tujuan kita' di Lebanon: yakni untuk menciptakan 'kedamaian' bagi
penduduk Galilee. Kebohongan ini sungguh membuat saya marah. Sudah jelas
bahwa ini adalah peperangan biadab, lebih kejam dari yang pernah ada
sebelumnya, tidak ada kaitannya dengan upaya yang sedang dilakukan di
London atau keamanan di Galilee...Yahudi, keturunan Ibrahim.... Bangsa
Yahudi, mereka sendiri menjadi korban kekejaman, bagaimana mereka dapat
menjadi sedemikian kejam pula? ... Keberhasilan terbesar bagi Zionisme
adalah de-Yahudi-isasi bangsa Yahudi. ("Professor Leibowitz calls
Israeli politics in Lebanon Judeo-Nazi" Yediot Aharonoth, July 2, 1982)

Benjamin Cohen bukanlah satu-satunya warga Israel yang menentang
pendudukan Israel atas Lebanon. Banyak kalangan intelektual Yahudi yang
tinggal di Israel yang mengutuk kebiadaban yang dilakukan oleh negeri
mereka sendiri.

Pensikapan ini tidak hanya tertuju pada pendudukan Israel atas Lebanon.
Kedzaliman Israel atas bangsa Palestina, keteguhan dalam menjalankan
kebijakan penjajahan, dan hubungannya dengan lembaga-lembaga semi-fasis
di bekas rejim rasis Apartheid di Afrika Selatan telah dikritik oleh
banyak tokoh intelektual terkemuka di Israel selama bertahun-tahun.
Kritik dari kalangan Yahudi sendiri ini tidak terbatas hanya pada
berbagai kebijakan Israel, tetapi juga diarahkan pada Zionisme, ideologi
resmi negara Israel.

Ini menyatakan apa yang sesungguhnya terjadi: kebijakan pendudukan
Israel atas Palestina dan terorisme negara yang mereka lakukan sejak
tahun 1967 hingga sekarang berpangkal dari ideologi Zionisme, dan banyak
Yahudi dari seluruh dunia yang menentangnya.

Oleh karena itu, bagi umat Islam, yang hendaknya dipermasalahkan adalah
bukan agama Yahudi atau bangsa Yahudi, tetapi Zionisme. Sebagaimana
gerakan anti-Nazi tidak sepatutnya membenci keseluruhan masyarakat
Jerman, maka seseorang yang menentang Zionisme tidak sepatutnya
menyalahkan semua orang Yahudi.

Asal Mula Gagasan Rasis Zionisme

Setelah orang-orang Yahudi terusir dari Yerusalem pada tahun 70 M,
mereka mulai tersebar di berbagai belahan dunia. Selama masa 'diaspora'
ini, yang berakhir hingga abad ke-19, mayoritas masyarakat Yahudi
menganggap diri mereka sebagai sebuah kelompok masyarakat yang
didasarkan atas kesamaan agama mereka. Sepanjang perjalanan waktu,
sebagian besar orang Yahudi membaur dengan budaya setempat, di negara di
mana mereka tinggal. Bahasa Hebrew hanya tertinggal sebagai bahasa suci
yang digunakan dalam berdoa, sembahyang dan kitab-kitab agama mereka.
Masyarakat Yahudi di Jerman mulai berbicara dalam bahasa Jerman, yang di
Inggris berbicara dengan bahasa Inggris. Ketika sejumlah larangan dalam
hal kemasyarakatan yang berlaku bagi kaum Yahudi di negara-negara Eropa
dihapuskan di abad ke-19, melalui emansipasi, masyarakat Yahudi mulai
berasimilasi dengan kelompok masyarakat di mana mereka tinggal.
Mayoritas orang Yahudi menganggap diri mereka sebagai sebuah 'kelompok
agamis' dan bukan sebagai sebuah 'ras' atau 'bangsa'. Mereka menganggap
diri mereka sebagai masyarakat atau orang 'Jerman Yahudi', 'Inggris
Yahudi, atau 'Amerika Yahudi'.
Namun, sebagaimana kita pahami, rasisme bangkit di abad ke-19. Gagasan
rasis, terutama akibat pengaruh teori evolusi Darwin, tumbuh sangat
subur dan mendapatkan banyak pendukung di kalangan masyarakat Barat.
Zionisme muncul akibat pengaruh kuat badai rasisme yang melanda sejumlah
kalangan masyarakat Yahudi.

Kalangan Yahudi yang menyebarluaskan gagasan Zionisme adalah mereka yang
memiliki keyakinan agama sangat lemah. Mereka melihat "Yahudi" sebagai
nama sebuah ras, dan bukan sebagai sebuah kelompok masyarakat yang
didasarkan atas suatu keyakinan agama. Mereka mengemukakan bahwa Yahudi
adalah ras tersendiri yang terpisah dari bangsa-bangsa Eropa, sehingga
mustahil bagi mereka untuk hidup bersama, dan oleh karenanya, mereka
perlu mendirikan tanah air mereka sendiri. Orang-orang ini tidak
mendasarkan diri pada pemikiran agama ketika memutuskan wilayah mana
yang akan digunakan untuk mendirikan negara tersebut. Theodor Herzl,
bapak pendiri Zionisme, pernah mengusulkan Uganda, dan rencananya ini
dikenal dengan nama 'Uganda Plan'. Kaum Zionis kemudian menjatuhkan
pilihan mereka pada Palestina. Alasannya adalah Palestina dianggap
sebagai 'tanah air bersejarah bangsa Yahudi', dan bukan karena nilai
relijius wilayah tersebut bagi mereka.

Para pengikut Zionis berusaha keras untuk menjadikan orang-orang Yahudi
lain mau menerima gagasan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan
agama mereka ini. Organisasi Yahudi Dunia, yang didirikan untuk
melakukan propaganda masal, melakukan kegiatannya di negara-negara di
mana terdapat masyarakat Yahudi. Mereka mulai menyebarkan gagasan bahwa
orang-orang Yahudi tidak dapat hidup secara damai dengan bangsa-bangsa
lain dan bahwa mereka adalah suatu 'ras' tersendiri; dan dengan alasan
ini mereka harus pindah dan bermukim di Palestina. Sejumlah besar
masyarakat Yahudi saat itu mengabaikan seruan ini.

Dengan demikian, Zionisme telah memasuki ajang politik dunia sebagai
sebuah ideologi rasis yang meyakini bahwa masyarakat Yahudi tidak
seharusnya hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain. Di satu sisi,
gagasan keliru ini memunculkan beragam masalah serius dan tekanan
terhadap masyarakat Yahudi yang hidupnya tersebar di seluruh dunia. Di
sisi lain, bagi masyarakat Muslim di Timur Tengah, hal ini memunculkan
kebijakan penjajahan dan pencaplokan wilayah oleh Israel, pertumpahan
darah, kematian, kemiskinan dan teror.

Banyak kalangan Yahudi saat ini yang mengecam ideologi Zionisme. Rabbi
Hirsch, salah seorang tokoh agamawan Yahudi terkemuka, mengatakan: 

'Zionisme berkeinginan untuk mendefinisikan masyarakat Yahudi sebagai
sebuah bangsa .... ini adalah sesuatu yang menyimpang (dari ajaran
agama)'. (Washington Post, October 3, 1978)

Seorang pemikir terkemuka, Roger Garaudy, menulis tentang masalah ini:

Musuh terbesar bagi agama Yahudi adalah cara berpikir nasionalis, rasis
dan kolonialis dari Zionisme, yang lahir di tengah-tengah (kebangkitan)
nasionalisme, rasisme dan kolonialisme Eropa abad ke-19. Cara berpikir
ini, yang mengilhami semua kolonialisme Barat dan semua peperangannya
melawan nasionalisme lain, adalah cara berpikir bunuh diri. Tidak ada
masa depan atau keamanan bagi Israel dan tidak ada perdamaian di Timur
Tengah kecuali jika Israel telah mengalami "de-Zionisasi" dan kembali
pada agama Ibrahim, yang merupakan warisan spiritual, persaudaraan dan
milik bersama dari tiga agama wahyu: Yahudi, Nasrani dan Islam. (Roger
Garaudy, "Right to Reply: Reply to the Media Lynching of Abbe Pierre and
Roger Garaudy", Samizdat, June 1996)

Dengan alasan ini, kita hendaknya membedakan Yahudi dengan Zionisme.
Tidak setiap orang Yahudi di dunia ini adalah seorang Zionis. Kaum
Zionis tulen adalah minoritas di dunia Yahudi. Selain itu, terdapat
sejumlah besar orang Yahudi yang menentang tindakan kriminal Zionisme
yang melanggar norma kemanusiaan. Mereka menginginkan Israel menarik
diri secara serentak dari semua wilayah yang didudukinya, dan mengatakan
bahwa Israel harus menjadi sebuah negara bebas di mana semua ras dan
masyarakat dapat hidup bersama dan mendapatkan perlakuan yang sama, dan
bukan sebagai 'negara Yahudi' rasis.

Kaum Muslimin telah bersikap benar dalam menentang Israel dan Zionisme.
Tapi, mereka juga harus memahami dan ingat bahwa permasalahan utama
bukanlah terletak pada orang Yahudi, tapi pada Zionisme.
 

 

(c) 2005 Harun Yahya International. Hak Cipta Terpelihara. Semua materi
dapat disalin, dicetak dan disebarkan dengan mencantumkan sumber situs
web ini www.harunyahya.com/indo <http://www.harunyahya.com/indo>  

 

 

KETUT JUNAEDI

PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk.

Unit Pertambangan Tanjung Enim

ASI & Uji Material Perawatan

Phone : (0734) 451096, Ext. 2627

 

 

 

 

 

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke